SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 58


__ADS_3

"Uukg!" Chania beranjak dari ranjang dan berlari ke walk in closed.


Michael yang masih tidur, reflek terbangun akibat gerakan dan suara Chania yang seolah ingin muntah. Saat membuka mata, pandangannya menangkap Chania yang sudah membuka pintu walk in closed dengan buru - buru. Segera ia turun dan mengikuti gerakan cepat Chania.


Clek!


Tanpa bertanya ataupun memanggil sang istri, Michael langsung mengikuti Chania masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa, baby?" tanya Michael menghampiri Chania yang berjongkok dan memuntahkan isi perutnya di closed.


Tak bisa menjawab, Chania hanya menggelengkan kepalanya pelan. Air mata menetes dari sepasang mata lentiknya akibat rasa sakit yang timbul saat muntah.


Michael sebisanya memijat tengkuk leher Chania dengan lembut. Chania mencoba menyingkirkan tangan Michael, agar pria itu menjauh. Ia khawatir akan menimbulkan rasa jijik untuk Michael. Namun Michael terlihat santai dan tak peduli dengan gerakan tangan Chania.


Justru beberapa pertanyaan menyeruak di dalam pikirannya. Sampai akhirnya Chania mendudukkan tubuhnya di lantai kamar mandi dengan tubuh yang lemas.


Michael dengan sigap mengambil handuk kecil dan membasahinya lalu mengusap mulut Chania.


"Sudah lebih baik?"


"Hm." Chania hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Kembali ke kamar?" tawar Michael.


Chania kembali mengangguk, dan Michael langsung mengangkat tubuhnya. Membawanya keluar dari kamar mandi.


*


Hari menjelang pagi, Chania yang terlelap dalam dekapan sang suami, merasakan sesuatu yang tidak nyaman dari perutnya. Ada sesuatu yang menggelitik perut dan tenggorokannya, hingga membuat dirinya ingin muntah saat baru saja tersadar dari tidurnya.


Dengan cepat ia lepaskan tangan kekar Michael yang mendekap tubuhnya dari punggung, dan menyingkap selimut tebal lalu turun dan berlari ke kamar mandi yang berada di dalam walk in closed.


Michael yang indera pendengarannya cukup sensitif pun dapat dengan mudah merasakan pergerakan di sekitarnya. Termasuk pergerakan istrinya yang tak biasa.


Secepat kilat ia mengikuti Chania dengan rundungan rasa penasaran. Pasalnya baru kali ini, gadis yang ia nikahi itu mendadak ingin muntah pagi - pagi begini.


Setelah berhasil membawa Chania kembali ke ranjang, ia segera mengambil sesuatu yang bisa menurunkan rasa mual dari kotak P3K. Meskipun ia tak paham betul kegunaannya, tapi ia yakin itu mampu mengurangi rasa mual.

__ADS_1


"Aku akan meminta dokter pribadi untuk memeriksa mu." ucap Michael hendak beranjak dari sisi ranjang tempatnya duduk di samping tubuh Chania yang berbaring.


"Jangan!" cegah Chania menarik tangan Michael.


Ia tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Tak lain dan tak bukan karena efek dari kehamilan tri semester pertama yang sensitif.


Namun karena belum melakukan test, dan tidak ingin Michael mengetahui semua itu lebih awal, Chania memilih untuk tidak mau di periksa oleh siapapun. Apalagi di depan Michael. Pria yang jelas - jelas menolak memiliki keturunan. Ia belum siap jika harus di buang pagi itu juga.


Ia akan menyembunyikan, sampai berhasil membujuk Michael agar mau menerima kehadiran seorang bayi di tengah - tengah mereka.


Soal ia yang mungkin harus angkat kaki dari hidup Michael jika tak mampu membuat Michael jatuh cinta, akan pikirkan belakangan.


Tak masalah baginya, jika harus meninggalkan Michael suatu hari nanti. Karena takdir memang berkata seperti itu. Tapi setidaknya Michael tau, dan menerima darah dagingnya sendiri.


Ia pun tak ingin anaknya lahir tanpa tau siapa Papa nya. Ia bahkan sempat membayangkan anaknya kelak akan bangga memiliki sosok Papa sekuat dan setampan Michael Xavier. Meskipun dunia gelap menyelimutinya.


"Kenapa?" tanya Michael kembali duduk di sisi Chania.


Chania menggelengkan kepalanya, "aku yakin hanya masuk angin biasa. Aku pasti baik - baik saja setelah ini."


"Kamu yakin?" Michael memicingkan matanya.


"Baiklah, kalau begitu kamu istirahat saja. Jangan keluar kamar. Aku akan meminta kepala pelayan untuk mengantarkan sarapan kita ke sini saja nanti."


"Terima kasih, Honey!" ucap Chania meraih jemari kekar milik seorang Michael Xavier.


Perasan bangga pada dirinya yang berhasil menikah dengan seorang Michael Xavier kembali membuncah di dalam dadanya. Meski dunia tak mengetahui, setidaknya hatinya tau, jika ia bisa mencium seluruh tubuh pangeran di depannya itu kapan saja ia mau.


Chania mengecup telapak tangan Michael, lalu mengecup punggung tangannya juga. Mencium aroma keindahan ciptaan Tuhan yang tak tertandingi di matanya.


Pagi itu pun di lalui dengan begitu syahdu bagi seorang Chania Renata. Bagaimana tidak, sang Bos Mafia, pria berhati iblis itu justru menurunkan ego dan menyuapinya sarapan dengan begitu lembut. Ia bahkan memilih menyuapi Chania lebih dulu sebelum memakan sarapannya.


Sepertinya Dewi Fortuna memang tengah berpihak pada sosok gadis kecil itu.


' Aku sakit setiap hari juga OK Ok aja! '


Batin Chania seolah menantang takdir.

__ADS_1


Bagaimana jika takdir benar - benar membuatnya sakit setiap hari dan Michael justru meninggalkannya?


Ah, pikiran manusia yang sedang di mabuk cinta mana mungkin sampai kesana.


# # # # # #


🍄 Malam harinya . . .


Setelah Chania yang tertidur lebih awal dari biasanya, Michael memilih untuk menemui sang Mama di kamarnya. Sebuah kamar yang di desain sesuai keinginan Mamanya saat masih muda dulu.


Clek!


Pintu ia buka tanpa permisi. Terlihat sang Mama duduk bersandar di atas tempat tidur. Dan seorang suster tampak duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur sang Mama.


Melihat sang Tuan muda masuk ke dalam kamar, suster itu segera beranjak dari kursi, dan berpamitan untuk keluar kamar. Memberikan waktu pribadi untuk Nyonya besar dan Tuan mudanya.


Michael duduk di kursi yang semula di duduki oleh suster Mamanya. Menatap sendu sang Mama yang tak kunjung menoleh padanya sejak ia masuk ke dalam kamar mewah itu.


"Mom?" panggil Michael lirih.


Madalena bergeming. Bahkan tatapan matanya tampak kosong ke arah jendela.


"Mom?" Michael menyentuh tangan Mamanya dengan lembut. Menggunakan tangan kekar yang biasa di gunakan hanya untuk menyentuh senjata, pedang, dan .... ah sudahlah.


"Mom? Michael tidak tau harus bicara apa." lirih Michael. "Saat mendapatkan kabar jika Mama kembali mau bangun dari tempat tidur, rasanya tak ada kabar bahagia lagi yang ingin Michael dengar dari luar sana." ucap Michael mencium tangan Mamanya.


"Mom? Mama tau kan, tak pernah sekalipun Michael membawa seorang gadis pulang ke rumah Michael. Namun saat melihat Chania, entahlah, dunia serasa berhenti saat itu juga." ucapnya tersenyum tipis, mengingat pertama kali melihat senyum Chania yang membuatnya berkedip. Karena tak sanggup melihat keindahan nyata di depan matanya.


"Melihat senyumnya..seperti melihat Mama 21 tahun yang lalu." lanjutnya. "Begitu indah dan teduh."


"Mom? Michael akui, untuk pertama kali Michael kalah dengan permainan Michael sendiri."


Michael menunduk dalam, memejamkan mata cukup dalam. Meresapi kecerobohan yang ia lakukan. Yang pada akhirnya membuat dirinya terjebak akan lingkaran permainan yang ia ciptakan.


"Mom, bolehkan Michael jatuh cinta padanya?" lirih Michael ragu.


Seketika Madalena, wanita yang sakit sejak beberapa tahun yang lalu itu menoleh sang putra dengan tatapan uang sulit di artikan.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2