SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 75


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan jam 12 dini hari waktu Italia. Namun Michael masih bertahan duduk di atas pasir pantai. Bersama pelat malam, merasai dinginnya malam dan desiran angin pantai.


"Tuan?" panggil Jack menunduk sopan di belakangnya. "Sebaiknya kita kembali ke hotel." ucap Jack. "Kita harus mempersiapkan diri untuk pencarian besok. Tengah malam begini tidak akan mempermudah kita untuk mendapatkan Nyonya muda. Tidak mungkin Nyonya muda berkeliaran tengah malam begini."


Merasa penjelasan Jack benar, Michael berdiri tanpa berkata sepatah katapun. Menarik nafas dalam, membuangnya perlahan dengan tatapan lurus ke tengah laut.


Berbalik ke samping dan melangkahkan kakinya meninggalkan pasir dimana ia tadi melihat sosok Chania berjalan.


Jack, Dimitri dan tiga pengawal lainnya mengikuti langkah Michael kembali ke hotel. Sepanjang langkah, semua mata menoleh kanan dan kiri. Selain untuk menjaga keamanan bos mereka, juga berharap menemukan sosok yang sempat di lihat Michael.


Michael telah kembali ke kamarnya, tidak langsung merebahkan tubuhnya. Melainkan berjalan kembali ke balkon. Memastikan apa yang ia lihat tidaklah salah.


Menyisir rambut kasar, berdecih kesal dan mengumpati dirinya sendiri. Michael terlihat begitu frustasi dengan keadaan ini.


"Tidak mungkin jika itu hanya halusinasi!"


***


Disisi lain, Chania tengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur kecil miliknya. Mencari posisi yang nyaman untuk dia bisa tidur dengan lelap.


Kehamilan kembar membuat perutnya lebih besar dari kehamilan tunggal. Sehingga, meskipun baru enam bulan, ia sudah merasakan sulitnya mencari posisi untuk tidur.


Memiringkan badan ke kiri, menghadap tembok bercat biru yang sudah mulai usang. Ia mengingat kejadian beberapa saat lalu.


Saat mencari udara segar di pesisir pantai, ia melihat seorang wanita yang memiliki gestur seperti dirinya. Hanya saja rambutnya lebih panjang di bandung darinya. Berjalan seorang diri di atas pasir dan membiarkan kakinya di tabrak oleh ombak - ombak yang berdebur.


"Apa dia sama sepertiku?" gumamnya lirih. "Hamil tanpa di dampingi suami bahkan siapapun." lanjutnya tersenyum miris. "Semoga nasibmu tidak seburuk nasibku, Nyonya."


"Cukup aku yang seperti ibuku.."


Chania mengusap perutnya dengan lembut. Kemudian beranjak dari tempatnya duduk, karena waktu semakin malam. Berjalan pelan dan sendirian, meninggalkan pesisir pantai.


Namun baru lima langkah kakinya berayun, samar - samar ia mendengar seseorang memanggilnya dengan nama aslinya dengan suara yang yang sangat familiar di telinga.


Chania...


Dengan cepat Chania menoleh ke belakang, ke arah pantai. Jantungnya berdetak cepat. Mungkinkah itu suara Michael Xavier?


Terlepas dari kenyataan pahit yang ia ketahui. Michael adalah seseorang yang sampai detik ini masih ia cintai. Seseorang yang ingin ia peluk, saat dinginnya malam merasuki pori - pori.


' Apa mungkin Michael mencariku? '


Suara itu sangat nyata terdengar di telinganya. Namun saat sepasang mata Chania melihat ke belakang, ternyata tak ada siapapun di sana.


' Pasti aku hanya berhalusinasi! '

__ADS_1


Batin Chania kecewa miris, karena merasa tak pernah di cari saat dia menghilang. Namun di sisi lain ia merasa lega, setidaknya nyawa nya beserta dua calon bayi nya akan tetap selamat.


Menghela nafas, "Jangan berkhayal, Chania!" lirihnya tegas. Dan kembali mengayunkan kakinya lebih cepat menuju rumah ternyaman untuk saat ini.


Mengelus perut buncitnya, merasai kembali rasa rindu yang menyiksa. Namun lagi - lagi rasa kecewa menghujam jantungnya.


"Kalian tau, Nak? siapapun Daddy kalian, tetap saja terkadang Mommy ingin sekali mendapatkan perhatian dari Daddy di saat seperti ini." ucapnya lirih. Namun tanpa di sangka air mata menetes begitu saja. Tubuhnya meremang. Merasakan kesedihan yang teramat dalam.


"Walaupun mungkin perhatian dari Daddy kalian itu hanya palsu. Tetap saja Mommy hanyalah wanita lemah, yang akan tetap terlena dengan kelembutan seorang pria."


Air mata keperihan kembali menetes bertubi - tubi. Membasahi pipi mulus yang selalu menjadi saksi akan malangnya kehidupan seorang Chania Renata saat ini.


"Maafkan Mommy yang bodoh ini, Nak." ucapnya di tengah isakan. "Karena kebodohan Mommy, kalian harus tumbuh di rahim seorang wanita menyedihkan seperti Mommy." tersenyum miris, dan tak henti telapak tangannya mengusap setiap sisi dari perutnya.


"Sekali lagi maafkan Mommy..."


Chania semakin sesenggukan. Membayangkan kehidupan selanjutnya.


Menjalani kehamilan sebatang kara. Melahirkan tanpa pendamping. Merawat dua bayi kembar seorang diri. Di tambah keuangan yang sempit.


Mampukah ia menghadapi semua itu seorang diri?


Air mata mengalir semakin deras. Isakan demi isakan menghiasi kesunyian di dalam rumah sempit nan rapuh.


Dinding - dinding kamar yang warnanya sudah tak cantik lagi adalah penghangat terbaik baginya. Selimut tebal satu - satunya adalah teman paling setia yang ia miliki.


***


🍄 Di sisi lain dari Italia . . .


"Aku harus tidur, sayang! besok ada meeting dengan Sebastian Company." ucap seorang pria pada wanita yang baru saja bertukar keringat dengannya di atas ranjang.


"Baiklah, sayang... aku besok juga harus mengurusi putri ku di rumah sakit." jawab wanita itu sembari menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos nya.


"Hemm.. semoga Frederick tidak membuat rumit bisnis baru kami nanti!"


"Frederick?" pekiknya, "bukankah kamu harusnya meeting dengan Michael Xavier?"


"Harusnya iya. Tapi aku dengar dia sedang keluar negeri untuk berlibur!"


"Berlibur?" gumamnya mengerutkan keningnya.


"Yes, Baby... memangnya kenapa?" tanya pria itu sembari mendekap tubuh wanita di sampingnya.


"Tidak apa.. hanya saja tidak biasanya dia berlibur sampai harus di gantikan oleh Frederick!"

__ADS_1


"Mungkin dia butuh libur yang panjang!" sahut pria yang seumuran dengan pemilik nama yang mereka bicarakan.


Wanita setengah abad itu tampak berfikir. Ada apa gerangan dengan Michael Xavier.


' Apa mungkin Michael dan Chania melangsungkan pernikahan diam - diam dan sekarang mereka berbulan madu? '


' Jika iya, berarti Frederick dan Michael bersekongkol! '


' Brengsek! '


' Pantas saja Chania bisa melunasi hutangnya! '


Batin wanita yang tak lain adalah Deborah itu bergejolak sedemikian rupa.


"Come on Baby... ada apa dengan mu?" tanya pria yang menjadi penghangat ranjang Deborah itu bertanya sembari mencari kenikmatan dari tubuh Deborah.


"Tidak ada apa - apa." jawabnya tersenyum smirk.


"Ekspresi mu berubah saat aku menyebut nama Frederick."


"Tidak ada, aku hanya teringat tentang Madalena." bohong Deborah.


"Sahabat mu yang sekarang gila itu?"


"Iya..."


Tersenyum culas, "untuk apa memikirkan orang gila? lebih baik memikirkan posisi bercinta seperti apa yang nikmat untuk menyambut besok pagi, Baby..." melirik nakal.


"Hahaha! semua posisi itu enak, Sayang!" ucap Deborah dengan gaya nakalnya.


"Hemmm.. kamu benar! asal itu denganmu."


"Hahaha! tentu saja! jika dengan istrimu yang cacat itu, pasti rasanya beda!"


"Hah! kamu ada - ada saja. Mana mungkin wanita cacat itu bisa memberiku kepuasan secara sempurna di atas ranjang, Sayang!" ucap pria itu.


"Thanks for tonight, Frank!" ucap Deborah mengecup dada pria bernama Frank itu.


"Me too!" jawab Frank mendaratkan kecupan di bibir Deborah.


' Aku harus mencari tau, kemana Michael dan Chania! '


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2