
Jemari Jio kembali bekerja, jika baru saja ia menemukan kenyataan jika ponsel Jia dan seseorang yang sedang dekat sang saudara kembar ternyata berada di lokasi yang sama, bahkan berada sangat dekat.
Maka kini ia menemukan jejak ponsel kekasih yang terlacak tengah berada di pantai yang baru saja di tinggalkan oleh sang gadis.
"Bukannya mereka sudah pulang?" gumam Jio mengerutkan keningnya, sedangkan mata memicing tajam. Kepala kian nut-nut menghadapi dua gadis yang menjadi penguasa perhatiannya itu.
"Dia kembali... Atau ponselnya tertinggal?"
"Tch!"
Menyambar ponsel dan langsung mencari nomor ponsel Flo. "Flo! Coba hubungi Virginia, di mana dia sekarang? Dia tidak pulang!"
"What!" pekik Flo. "Baiklah, tunggu!"
Sementara menunggu kabar dari Flo, Jio kembali mencari jejak nomor ponsel laki-laki yang menjadi kekasih adiknya.
"Kita harus segera bertemu!" desisnya lirih...pelan...dan penuh ancaman, saat melihat ponsel yang di lacak kini sedang dalam perjalanan. Entah menuju rumah, atau kembali ke perusahaan. Yang jelas, ponsel itu sudah meninggalkan restauran. Di mana ponsel Jia tampak masih terdeteksi di lokasi awal.
Dalam sambungan telepon...
"Hmm?"
"Virginia sudah dalam perjalanan kembali pulang, Jio..." ucap Flo dari sebrang.
"Kemana dia?"
"Katanya dia kembali ke pantai karena sesuatu tertinggal..."
"Apa yang tertinggal?"
"Entahlah! Mungkin kenangan kalian! Hihihi!" Kikik Flo.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Flo!" ujar Jio.
"Ya.. Ya... Sorry Mr. Xavier!" Flo memutar bola matanya malas dan gemas dengan dua anak manusia ini.
"Hmmm!"
Jio langsung mengakhiri sepihak panggilan telepon Flo. Sedangkan Flo terpaku heran dengan Jio yang tak biasanya seperti ini.
***
Menjelang malam...
Virginia duduk di meja belajar yang ada di kamarnya. Menatap sebuah foto di mana banyak yang bilang jika itu adalah foto dirinya dengan sosok Jio. Mahasiswa Teknik Informatika yang juga berada di dalam video yang masih ia simpan sampai saat ini.
"Jika memang kita pernah sedekat itu... Kenapa aku tidak mengingatmu sama sekali?" lirihnya terdengar sangat pilu, dan penuh dengan frustasi.
__ADS_1
"Bahkan kapan foto ini di ambil... Aku pun tak ingat sama sekali!" gumamnya mengusap foto itu.
Virginia menghela nafas panjang dan kasar, benci dengan dirinya sendiri yang harus mengalami situasi semacam ini.
"Bahkan Flo sudah membawa ku ke pantai yang katanya menjadi lokasi cinta kita mulai di bangun... Tapi potongan ingatan itu hanya bagai bayangan yang tidak masuk akal dan tidak tau seperti apa kelanjutannya."
Terdiam dalam lamunan ketika mengingat apa yang ia lakukan hari ini di pantai, Virginia teringat dengan pemuda yang tadi berkenalan dengan dirinya di pantai itu.
"Dia memang tidak setampan si Jio itu... Tapi dia memiliki tatapan mata yang menyejukkan siapa saja yang melihatnya."
Gumamnya memuji tanpa di niati.
"Siapa tadi namanya?" gumamnya berganti melamunkan sosok yang baru saja ia kenal.
Namun sekian lama mengingat, ia tak kunjung ingat siapa nama pemuda yang bertemu dengannya tadi.
Menyebikkan bibirnya. "Ingatan mu memang payah, Nia!"
# # # # # #
Malam telah larut... Jio berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Menatap diri dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sebagai anak laki-laki tertua di keluarga Xavier sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga Jia, selaku anak perempuan satu-satunya di keluarga Xavier.
Apapun alasannya, tak ingin jika sang saudara kembar sampai jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Contohnya laki-laki yang hanya menjadikan Jia pelarian semata. Atau laki-laki yang datang hanya untuk mengejar harta yang di miliki keluarga Xavier saja.
Dan lebih dari itu, Jia tidak bisa mencintai sembarang laki-laki. Karena keluarga Xavier bukan sembarang keluarga seperti pada umumnya. Ada dunia gelap, hitam dan pekat yang menyelimuti. Dimana tidak semua orang tau akan siapa mereka di balik nama besar Sebastian Group.
"Ok! Untuk satu ini aku tau kamu bisa di andalkan!" gumam Jio.
Jia butuh laki-laki yang tidak akan menentang dunia hitam keluarganya.
"Ok! Kau pun lolos dari syarat satu ini. Karena kau pun bagian dari pasukan setia Daddy!"
Jia butuh laki-laki yang setia dan bertanggung jawab.
"Aku belum tau tentang hal ini!" gumamnya menatap matanya sendiri. "Tapi berani mengkhianati cinta keluarga Xavier, bukan hanya dengan darah untuk membayarnya. Tapi juga nyawa!" desisnya.
"Satu kesalahanmu, Xiaoli Chen..." lirihnya semakin angker. "Berhubungan diam-diam dengan saudara kembarku adalah salah satu bentuk pengkhianatan yang tidak akan aku maafkan."
Tangan Jio terkepal kuat dan sangat erat, ketika mengingat bau parfum orang lain di kamar saudara kembarnya. Dan ia sangat geram ketika sang adik tidak berani mengakui. Dan ia pun teringat akan setiap pesan chat yang di bicarakan oleh dan Xiaoli Chen.
"Kau bermain-main denganku!" desisnya mengepal satu tangan lainnya di depan dada dengan sangat kuat.
Jia tidak hanya butuh laki-laki tampan yang pandai merangkai kalimat cinta maupun kalimat yang penuh akan janji. Jia butuh laki-laki yang menepati setiap janjinya.
"Mari kita... buktikan!" desis Jio.
***
__ADS_1
Dengan baju santai nya, yakni celana pendek, kaos putih lengan pendek pula, Jio melangkahkan kaki meninggalkan kamar mewah miliknya.
Menuruni tangga dengan langkah yang sangat cepat, tatapan matanya hanya lurus dan tajam ke arah depan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Semua penghuni istana Michael sudah tidur dalam lelap. Bahkan Jia pun sudah sempat ia intip secara diam-diam apa yang sedang di lakukan di dalam kamar. Dan hanya nafas lelap sang gadis yang terdengar.
Lampu di beberapa titik ruangan telah padam, dan Jio langsung keluar meninggalkan rumah melalui pintu belakang.
Di belakang sana, bangunan mess bodyguard terlihat temaram, namun suara-suara dari penjaga malam masih terdengar jelas di telinga Jio. Salah satunya suara bodyguard yang akan menjadi targetnya pun masih jelas terdengar walau tidak terlalu sering terdengar berbicara.
Sedang gedung yang biasa di gunakan untuk rapat pasukan dan latihan tembak juga bela diri tampak redup dan sepi.
Tatapan Jio hanya mengarah pada bangunan gedung yang teramat cukup besar itu. Bagai bangunan sekolah dengan beberapa kelas yang terbagi menjadi dua lantai.
Langkah Jio semakin cepat ketika mendekati mess bodyguard. Xiaoli yang memiliki pendengaran cukup tajam pun sudah bisa mendengar derap langkah seseorang mendekati mess, meski yang lain belum menyadari. Tentu saja Jio juga tau akan hal ini.
Jio tau, jika Xiaoli memiliki indera pendengaran yang cukup tajam. Namun ia juga memiliki kelebihan untuk menghilangkan suara langkah kakinya. Untuk menghindari deteksi musuh dengan telinga sensitif seperti Xiaoli Chen.
Hanya saja malam ini ia butuh pelampiasan. Sehingga ia biarkan sang bodyguard mendengar langkah kakinya, dan menyadari kedatangannya dengan kondisi emosi yang tidak baik.
Begitu Jio melintas, maka semua yang masih membuka mata di area mess segera berdiri dan menyapa dengan menunduk hormat. Tak terkecuali Xiaoli Chen yang langsung bisa membaca jika ada yang tidak beres dengan emosi sang Tuan Muda.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan Muda?" sapa Andreas selaku bodyguard utama paling senior yang sedang ada di sana. Andras mengikuti langkah Jio dengan menjaga jarak aman.
Tak menjawab, Jio hanya terus melangkah menuju gedung latihan, yang mana gedung itu sudah menjadi tugas Xiaoli untuk menjaganya ketika Jack tidak ada di tempat.
Malam ini Jio benar-benar jauh berbeda dengan biasanya. Padahal sang pemuda selama ini di anggap sangat ramah. Jauh berbeda dengan sang Ayah yang terkenal dingin, keras, bengis dan jauh dari kata ramah.
Dan itu membuat beberapa bodyguard bertanya-tanya dalam hati.
Tapi malam ini?
Semua sudah bisa menyimpulkan jika sang Tuan Muda sedang tidak baik-baik saja.
Andreas segera menoleh pada Xiaoli dan memberi kode sang bodyguard muda untuk segera mengikuti langkah Jio yang menuju gedung latihan.
"Hm!" Xiaoli mengangguk dengan tegas, dan langsung mengejar langkah Jio yang cukup cepat di banding dengan biasanya.
Tubuh tegap Jio melangkah dengan dingin dan menguarkan aura yang sangat dingin untuk di rasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Xiaoli sendiri merasakan dirinya tengah terancam nyawanya.
"Silahkan, Tuan Muda!" ucap Xiaoli setelah membuka pintu masuk gedung latihan yang pernah di gunakan oleh Nyonya besar untuk latihan menembak secara diam-diam di masa lalu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
✍️ Haduuh... kira-kira apa yang akan terjadi di dalam sana?
__ADS_1
Perhitungan seperti apa yang akan di rundingkan oleh Jio pada laki-laki yang mengaku mencintai saudara kembarnya itu?