SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 218


__ADS_3

Hari terus berlalu, karena jarum jam juga terus berputar. Hingga tanpa terasa, ini adalah hari kedua dan menuju malam ketika hubungan Jio dan Virginia resmi berubah menjadi berpacaran.


๐Ÿ“ž "Aku sudah di jalan, Nia..." ucap Jio melalui saluran telepon.


๐Ÿ“ž "Iya, Jio. Aku sudah siap." jawab Virginia yang saat ini sudah ada ruang tamu untuk menunggu di jemput oleh Jio.


๐Ÿ“ž "Wait me for 10 minutes!" ucap Jio.


๐Ÿ“ž "Okay!" seru Virginia antusias.


๐Ÿ“ž "See you... My Lady..."


Sontak sebutan itu membuat wajah Nona Brown bersemu merah. Belum pernah sekalipun ada yang memanggilnya seperti itu.


๐Ÿ“ž "See you soon... Jio..." jawab Virginia masih malu - malu untuk memanggil Jio dangan sebutan khusus.


Panggilan sudah berakhir, tapi senyum malu - malu masih belum di hilangkan oleh Virginia dari bibirnya. Bahkan ia masih berfikir, bagaimana jka Jio nanti datang, dan ia masih belum bisa menghilangkan senyum bahagia di bibirnya?


Baru juga dua menit telepon berakhir, tiba - tiba pintu utama rumah keluarga Brown sudah di buka oleh seorang pelayan dari luar. Membuat Virginia menoleh ke arah pintu dengan birbir yang masih tersenyum menghadap layar ponsel.


Dan sosok yang sedang ia tunggu tiba - tiba sudah berada di belakang pelayan itu. Kejutan yang luar biasa untuk Virginia. Sontak Virginia terbelalak dan semakin guguplah ia, karena jelas Jio melihat ia tengah senyum - senyum sendiri di sofa ruang tamu dengan ponsel di depannya. Cepat - cepat gadis berambut emas itu berdiri tegak dengan gugup yang belum juga lenyap. Kedua tangan bertaut di depan tubuhnya.


"Jio!" pekiknya dengan tenggorokan yang tercekat.


"Silahkan, Tuan Xavier..." ucap seorang pelayan yang mengantar Jio untuk masuk ke dalam rumah.


"Ya, terima kasih." jawab Jio mengangguk ramah.


Jio memang jauh berbeda dengan masa muda sang Ayah. Jika saat saja ini Jio adalah seorang Michael Xavier, sudah pasti ia akan datang dengan menggunakan mobil Limousine, dan memasuki rumah siapa pun tanpa mengucap salam ataupun mengucap terima kasih pada seorang pelayan yang membuka kan pintu.


Toh meskipun begitu kelakuan seorang Michael Xavier, tak satu pun orang di sekitarnya yang berani mengatakan Michael sombong dan sebagainya. Karena harta, tahta dan rupa memang bisa membius banyak orang tanpa harus susah payah belajar tata krama.


Setelah seorang pelayan menutup pintu kembali, Jio berjalan mendekati Virginia yang tampak sangat gugup melihat langkahnya. Jio yang pandai membaca ekspresi tentu tau, apa yang sedang terjadi dengan sang gadis jelita.


Siang itu ia masih menggunakan celana jeans berwarna biru tua dari brand kenamaan Lee Cooper, dan kemeja berwarna biru muda bergaris putih, dengan tulisan dari brand Balenciaga yang terpampang nyata di bagian punggung. Kemudian kaki kokohnya di balut dengan sepatu sport berwarna putih.


Begitulah penampilan sang putra mahkota jika memasuki perusahaan sang Ayah. Tanpa jas resmi seperti Daddy Michael. Juga tanpa sepatu kerja resmi. Apalagi tas kerja. Ia lebih suka menggunakan tas kuliahnya untuk membawa laptop kerja miliknya.


Ya, Ia baru saja pulang dari kantor sang Ayah, untuk menyelesaikanย  urusan dan rapat yang tak bisa ia tinggalkan. Sampai ia harus membolos kuliah. Begitulah Jio jika sibuk di kantor maka ia akan membolos kuliah. Toh kuliah sama sekali tidak mempengaruhi kemampuan seorang Georgio.


Berbeda dengan Virginia, yang mana gadis itu baru saja pulang kuliah, dan langsung bersiap diri, karena sang kekasih mengatakan akan menjemputnya untuk makan siang berdua, di...


Sampailah langkah Jio di depan sang gadis. Jarah hanya tersisa dua langkah saja. Jio menatap wajah cantik kekasihnya dengan sangat intim. Bahkan ia hanyut di dalam mata bulat sang Nona muda Brown.


Virginia menggunakan dress santai yang tidak terlalu formal, namun terlihat sangat anggun di kenakan oleh seorang Virginia. Menggunakan dress berwarna baby pink dari brand Louis Vuitton dengan lengan yang menggembung di atas siku, dan rok bagian bawah membentuk line A sampai di atas lutut. Sementara bagian leher dan dada cukup terbuka. Sehingga menambah kesan seksi pada sang gadis.


Sebuah tas kulit kecil berwarna ivory bertulisan Chanel menggantung di pundak kirinya. Sedangkan untuk rambut emasnya, di biarkan tergerai bebas. Hanya sebuah jepit rambut kecil berbentuk kupu - kupu yang mengunci rambut di bagain kepala sebelah kiri.


"Hai, Jio..." sapa Virginia dengan sangat kikuk. Tentu ia masih malu karena ketahuan senyum - senyum sendiri pasca sambungan telepon mereka berakhir.


"Hai, Nia..." balas Jio tersenyum menawan, menatap lekat wajah Nia yang siang itu terlihat sangat cantik natural.


"Kamu cepat sekali sampainya?" tanya Virginia bingung mencari topik pembicaraan.


"Sebenarnya saat telepon tadi aku sudah sampai di depan rumah kamu. Sedang menunggu security membuka pagar."


"What?"pekik Nia. "Pantas saja tiba - tiba sudah di depan pintu."


Jio mengukir senyum di wajah tampan nan rupawan, "Kamu cantik!" ucapnya tiba - tiba.


Sontak darah sang gadis terasa membeku. Senyum malu - malu pun kini terlihat lebih nyata. DI sertai dengan rona merah d pipinya.


"Are you ready?" tanya Jio yang paham jika sang kekasih tengah salah tingkah.


"Hm.." Virginia mengangguk pelan.

__ADS_1


Dan saat Jio mengulurkan tangan untuk menggandeng Nona muda Brown, suara langkah menuruni tangga terdengar oleh Jio. Meski tangga sudah berlapis karpet persia terbaik. Nyatanya tak mampu meredam semua suara dari telinga sensitif Jio.


"Jio?" sapa Nyonya Brown saat tiba di tengah - tengah tangga.


"Selamat siang, Aunty!" sapa Jio mendongak ke atas tangga.


"Siang, Jio..." jawab Nyonya Brown dengan senyum mengembang. Sembari menghampiri dua anak muda yang kini tanpa sadar sudah bergandengan tangan. "Sudah siap berangkat?" tanyanya lembut.


"Yes, Mom!" jawab Virginia dengan senyum bahagia.


Nyonya Brown menatap Jio yang masih berdiri dengan gagah dengan tangan kiri yang sudah bertaut dengan tangan kanan Virginia.


"Aunty mewakili Papanya Virginia ingin mengucapkan terima kasih sama kamu, Jio..." ucap Nyonya Brown tiba - tiba.


"Untuk apa, Aunty?"


"Karena kamu sudah membahagiakan putri Aunty satu - satunya," ucap Nyonya Brown dengan sangat tulus. "Sudah banyak pengorbanan yang kamu lakukan demi anak kami. Salah satunya menyelamatkan Nia dari Alex. Kami belum sempat berterima kasih malam itu."


"Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, Aunty! Saya akan menjaga Virginia dengan nyawa saya!" ucap Jio serius dan terdengar sangat meyakinkan.


Nyonya Brown tersenyum haru, "Aunty harap kamu tidak akan meninggalkan Virginia apapun yang terjadi, Jio." ucap Nyonya Brown dengan lirih. "Aunty sebagai Ibunya, tentu tau, jika dia sangat mencintai kamu."


"Tentu, Aunty!" jawab Jio yakin.


Nyonya Brown mengangguk, "Pergilah... hati - hati, ya? titip putri Aunty."


"Ya, Aunty!"


"Ya, Ma!"


Nyonya Brown menatap punggung sepasang kekasih yang terlihat sangat serasi. Bibir menyungging senyum bahagia. Saat melihat tangan yang terus bergandengan hingga menghilang di balik pintu utama rumahnya.


' Semoga apa yang aku lihat hari ini tidak akan berubah, saat ... '


***


Hari dimana Jio dan kekasihnya makan siang bersama, juga adalah hari yang sama dimana Gerald kembali ke sekolah dan bertemu dengan Jenia. Gadis incaran baru yang satu kelas dengannya.


"Jenia?" panggil Gerald pada Jenia yang masih duduk di kursinya di jam istirahat pertama. Sedangkan Gerald sudah pindah duduk di bangku depannya. Tentu saja untuk mensejajari Jenia.


"Hm?' jawab Jenia masih asyik dengan sebuah pensil di tangannya, dan selebar kertas putih.


"Kenapa kamu tidak pernah keluar bersama yang lain?"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu tidak lapar, atau sekedar ingin jajan begitu?"


Jenia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Gerald benar - benar merasa seperti lelaki tampan yang tak berguna untuk Jenia. Di saat banyak gadis mencuri pandang padanya, justru Jenia benar - benar membuang muka darinya.


Baiklah! Gerald tidak akan semudah itu untuk menyerah.


"Kamu suka BTS?"


Jenia hanya menjawab dengan mengangkat kedua alisnya satu kali, sebagai wakil dari kata iya.


Gerald mengangguk dengan senyum tipis, bahwa ia mengerti maksud Nona Jenia Mezzaluna.


' Kalau begitu box berisi tujuh kalung anggota boyband BTS itu lebih baik aku simpan. Akan aku berikan pada Jenia di waktu yang tepat, dan tentunya harus dalam suasana romantis! '


Pikiran Tuan Muda kecil itu benar - benar masih labil. Sekotak hadiah yang ia pinta dari sang Kakak laki - laki untuk Chloe, ternyata kini bukan lagi untuk di berikan pada gadis itu. Itu semua karena gadis lain yang di rasa cukup menantang di banding Chloe.


Dan hari itu juga, ia tak lupa untuk menepati janjinya. Yaitu menemui Chloe di sekolah. Dimana ternyata kelas 8C yang di tempati Chloe ada di lantai 4.

__ADS_1


Setelah membatalkan untuk bertemu di jam istirahat pertama, kin Gerald mengiyakan untuk bertemu di jam istirahat kedua.


Taman belakang, menjadi lokasi pertemuan pertama Gerald dengan Chloe. Gadis yang empat tahun lalu di anggap Gerald sangat cantik.


Duduk di taman menunggu sang gadis sembari memainkan ponselnya, perhatian Gerald di alihkan oleh sosok gadis yang sedang berjalan sendiri ke arahnya.


Jauh di sana, berjarak sekitar 15 meter, seorang gadis berkulit putih dengan rambut yang di cat abu - abu, berpakaian seragam sekolah dengan rok mini kotak - kotak yang khas. Berjalan ke arah dimana dirinya kini tengah menganga tak percaya.


' 14 tahun yang indah ... '


Gumam Gerald dalam hati, mengagumi sosok bidadari yang baru berusia 14 tahun. Tapi dengan apa yang ia kenakan, sudah menampakkan jika gadis itu cukup... Seksi.


Sepasang mata Tuan Muda kecil sampai lupa untuk sekedar berkedip. Saking indahnya pemandangan yang sedang mendekat.


Di wajah cantik itu, terlukis senyuman ramah yang menggugah kelaki - lakiannya.


"Hai, Gerald!" sapa gadis itu tiba - tiba duduk di sampingnya.


"H..Hai..." jawab Gerald tergagap.


Matanya masih fokus pada pemilik wajah oriental di sampingnya. Bibir tipis dengan warna merah muda yang bergerak, sungguh menarik matanya dengan begitu kuat.


"Kamu kenapa?"


"Ha?" Gerald tersadar dari lamunannya. "Oh, tidak apa - apa!" jawab Gerald. "Kamu benar Chloe?"


"Yes!" jawab Chloe dengan senyum cantik miliknya.


"Kamu semakin cantik!" ucap Gerald begitu saja.


Tersenyum manis dan malu - malu, "terima kasih!" ucapnya.


Gerald masih asyik mengamati wajah cantik Chloe, kemudian turun ke leher jenjang sang gadis. Semakin turun hingga melihat bagian dada.


Ah! Bagian itu sudah menarik perhatian remaja 14 tahun itu!


Semakin turun mata Jio saat mengamati, hingga sampai di bagian paha yang hanya tertutup setengah rok mini saja.


Pemandangan yang biasa saja sebenarnya. Karena semua siswi berpakaian semacam itu. Semua hanya memakai rok setengah paha. Tak terkecuali Jenia.


Namun kulit putih di paha Chloe terlihat berbeda. Sangat menarik perhatian Gerald yang matanya seperti mata sang Ayah.


Namun perhatiannya teralihkan, saat melihat ponsel di tangan Chloe.


"Kamu suka BTS?" tanya Gerald saat melihat bagian belakang case ponsel Chloe terdapat gambar tujuh anggota boyband, BTS.


"Hemm..." jawab Chloe tersenyum melihat case ponselnya.


' Wait! Kenapa semua suka BTS? '


Gumam Gerald dalam hati.


' Lalu siapa yang harus aku beri satu box kalung BTS? '


Hmm .... otak Casanova muda sepertinya sedang di buat pusing. Hanya memiliki satu box. Namun dua gadis yang menarik perhatiannya sama - sama suka BTS.


' Atau aku minta di belikan lagi saja pada Kak Jio? Tapi alasan apa yang bisa aku pakai? '


' Dua - dua nya sangat menantang untuk di dekati! '


Gerald menelan ludahnya begitu mengingat dua gadis yang mencuri perhatiannya.


Jenia atau Chloe?


...๐Ÿชด Bersambung ... ๐Ÿชด...

__ADS_1


__ADS_2