SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 191


__ADS_3

Jio menarik tangan Virginia untuk mendatangi area parkir. Meninggalkan tiga orang yang baru saja ia hakimi. Juga meninggalkan Nikki yang hanya bisa melongo saat melihat ia menarik tangan Virginia meninggalkan taman belakang kampus. Tanpa menoleh pada dirinya sedikitpun.


Demi kenyamanan hati dan pikirannya, Jio sepakat dengan diri sendiri untuk tidak kuliah di hari itu.


Termasuk membuat Virginia bolos tanpa bertanya pada gadis itu setuju membolos atau tidak. Meski begitu, nyatanya tak sedikitpun Virginia menolak atau mengajak Jio untuk kembali ke kampus.


"Kita mau kemana, Jio?" tanya Virginia yang duduk di jok penumpang samping Jio.


"Aku hanya tidak ingin melihat mereka untuk saat ini.." jawab Jio melajukan mobil sport nya meninggalkan area kampus.


"Iya, tapi kemana?"


"Entahlah!" jawab Jio datar. "Kita ikuti saja kemana roda mobil ini akan membawa kita!" lanjutnya enteng.


Virginia terkekeh, "itu namanya bukan mengikuti roda! Tapi mengikuti kamu! Kan kamu yang mengarahkan roda mobil ini kemana! Hahah!" ucap Virginia tergelak renyah.


Jio menoleh Virginia di sampingnya. Melihat gadis itu tertawa, membuat emosi yang semula masih terasa membakar dada, kini kian meredup.


Wajah cantik yang mengagumkan selalu terukir indah di dalam hatinya. Memberikan efek tenang yang luar biasa.


"Kalau kamu mau kemana?" tanya Jio, "coba katakan..."


"Emm..." Virginia tampak berfikir. Ia kerucutkan bibirnya. Matanya melirik ke arah luar jendela. Kemudian berganti melirik Jio di sampingnya. "Bagaimana kalau kita ke pantai..." usul Virginia.


"Pantai mana?"


"Em...Mediterranea?"


"Bagus?"


"Lumayan..."


"Baiklah! Hari ini aku akan menjadikan mu Ratu! Aku akan menuruti apapun yang kamu mau!" ujar Jio tersenyum menoleh Virginia.

__ADS_1


Menghibur diri dengan membuat hati sang gadis bahagia, akan menjadi hiburan terbaik untuk dirinya yang baru saja terbakar amarah.


Menekan pedal gas lebih dalam, Bugatti Divo milik Jio membelah keramaian jalan raya kota Roma. Roda berputar cepat, menunjukkan betapa lihai si pengemudi di balik setir bundarnya.


Jika di dalam Bugatti ada Tuan Muda Xavier bersama Nona Muda Brown menuju pesisir pantai.


Maka di dalam Mini Cooper merah ada Nona Muda Xavier yang seolah sedang menguji nyalinya bersama salah satu bodyguardnya, Xiaoli Chen.


Namun yang lebih parah di sini bukan nyali Jia, melainkan nyali Xiaoli. Dimana pemuda bertanggung jawab penuh atas keselamatan Nona Muda Xavier.


Bukan ia takut mati karena ulah Nona Muda yang keras kepala. Tapi melindungi Nona Muda untuk selamat sampai kembali ke rumah adalah sumpah yang tak bisa lagi di tawar.


"Nona... saya mohon, biarkan saya saja yang membawa mobilnya..." ucap Xiaoli memohon dengan sangat. Menatap melas pada Nona Muda Xavier yang justru tersenyum renyah sembari membelokkan mobil untuk memasuki jalan raya.


Lemas sudah tulang belulang Xiaoli di dalam tubuhnya. Jantung Berpacu dengan rasa khawatir yang bergemuruh. Ingin memaksa, tapi siapalah dirinya. Bahkan jika Jia menodongkan pistol ke kepalanya sekalipun, ia tak berhak untuk menghindar.


Ia telah berdusta pada Michael Xavier. Ia telah melanggar aturan yang sebelumnya telah di buat Michael. Yakni tidak membiarkan Virginia untuk mengemudi di jalan raya saat hari pertama belajar.


Meski Jia melajukan mobilnya sangat pelan dan hati - hati, tetap tidak menutup kemungkin banyak pengendara lain yang melajukan mobil dengan ugal - ugalan.


Apalagi di jalanan itu banyak sekali mobil sport yang berlalu lalang. Rata - rata mereka lebih suka menekan pedal gas lebih dalam, di banding harus pelan - pelan. Karena memang mobil sport untuk melaju kencang di jalan raya.


"Ya ampun, Xiaoli! Aku tak menyangka bisa semudah ini belajar mengemudi!" seru Jia bahagia.


Kebahagiaan Jia adalah penderitaan Xiaoli untuk saat ini. Ia tak bisa memberi jawaban atas seruan Nona mudanya. Yang ada dalam benaknya hanya bagaimana caranya ia bisa segera duduk di balik kemudi bundar menggantikan Jia.


"Nona, saya mohon!" ucap Xiaoli kembali. "Kita bertukar tempat! Saya bisa mati kalau Tuan Besar tau Nona muda melajukan mobil di jalan raya hari ini.."


"Tenaang... kalau memang ketahuan Daddy, aku akan bicara pada Daddy! Kalau aku yang memaksa kamu untuk tidak membantah aku!" jawab Jia dengan entengnya.


Enteng bagi Jia, bukan berarti enteng pula untuk Xiaoli.


"Tidak semudah itu, Nona!" jawab Xiaoli terdengar sangat serius. "Ada sumpah yang harus saya tepati!"

__ADS_1


"Hiiihhh!!" rengek Jia kesal, sangat kesal. "Baiklah! Kita tukar tempat!" seru Jia menekan rem dalam secara mendadak, hingga mobil berhenti mendadak, dan Xiaoli yang tidak menggunakan sabuk pengaman terdorong ke depan dan nyaris menubruk dashboard.


"Sorry!" pekik Jia merasa bersalah.


"Tidak masalah, Nona!" jawab Xiaoli menoleh Jia.


Jia membuka seat belt nya. Bersamaan dengan itu, Xiaoli yang hendak turun dari mobil menoleh ke belakang karena merasa ada pergerakan yang tidak benar dari arah sana.


Sepasang mata membelalak lebar, manakala melihat sebuah mobil kontainer melaju sangat kencang dengan jarak hanya tersisa beberapa meter saja. Xiaoli paham, memang tidak seharusnya mobil Jia berhenti di badan jalan.


Tanpa berpikir panjang ia kembali membalikkan badan. Sebisa mungkin ia harus melindungi Nona Muda Xavier. Jangan sampai ada darah menetes dari kulit sang Nona muda.


Jia yang tidak sadar akan bahaya yang mengancam, terkejut akan apa yang di lakukan Xiaoli.


Xiaoli mendekap tubuhnya erat. Sementara punggung Xiaoli menempel pada kemudi mobil. Untuk menghindari tubuh Jia terbentur bagian depan mobil.


Ini kali pertama ada lelaki asing yang memeluknya selain Jio dan Gerald. Ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdetak sedemikian kencang. Ada desiran aneh yang membuat buku kuduknya hampir berdiri.


BRRAAAKKK!!


Belum selesai Jia mencerna apa yang di lakukan Xiaoli padanya, tiba - tiba suara dua benda keras bertabrakan terdengar sangat kencang di telinganya. Bersamaan dengan suara itu, tubuhnya tergoncang sangat kuat dan membuatnya semakin terkejut.


Mini Cooper merah yang baru saja di belikan sang Daddy itu terdorong paksa beberapa ratus meter ke depan. Hingga separuh body mobil ringsek tak beraturan.


"Akkkhh!" pekik Jia saat merasakan punggungnya terdorong ke depan.


Jika tidak ada Xiaoli di depan tubuhnya, sudah bisa di pastikan ia akan merengsak maju, dan menghantam kemudi bundar. Entah akan seperti apa rasa sakit yang akan ia rasakan.


Saat ini saja tulang di tubuhnya serasa remuk tak beraturan. Hantaman keras di punggung membuatnya memejamkan matanya dalam. Meskipun punggungnya terlindung jok mobil, tetap saja rasanya sangat menyakitkan.


Lalu bagaimana dengan Xiaoli yang pasti jauh lebih sakit karena punggung menghantam kemudi, dan kepala menghantam pintu mobil di sisi kemudi.


Segera Jia menguatkan dirinya untuk bergerak.

__ADS_1


"Xiaoli..." lirih Jia.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2