SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 186


__ADS_3

Pukulan demi pukulan di terima Jio tanpa pembalasan sedikitpun darinya. Ia biarkan wajah dan tubuhnya menjadi pelampiasan seorang Lussio Lee tanpa ada niatan untuk menghindar. Membiarkan ujung bibirnya mulai terasa berdarah. Nyeri merasuki tulang.


Berulang kali Lussio menggunakan genggaman tangan juga jejakan dari kedua kaki untuk melukai Jio.


Namun Jio hanya diam. Sepasang matanya hanya terus menatap Virginia dari jarak sekian meter. Ia tak ingin jika sampai tombol ON pada remote yang di pegang oleh anak buah Lussio di tekan. Yang mana akan meledakkan bom di punggung Virginia.


Tentu semua tau apa yang akan terjadi pada gadis itu jika sampai bom meledak.


Goresan kecil di wajah, hingga sayatan di lengan mulai mengeluarkan tetesan darah. Namun sama sekali tak membuat Jio tumbang atau bahkan sekedar goyah. Perih yang di timbul sama sekali tak di rasakan oleh Jio.


Ia sudah terbiasa dengan luka tubuh. Mempertahan diri di dalam ring pertempuran ilegal pun sudah berulang kali ia lakukan untuk menempa kekuatan lebih dalam lagi.


Sementara Virginia hanya bisa menangis tanpa suara. Bukan ia yang berdarah, tapi ia yang merasakan perih di sekujur tubuhnya.


Menatap sedih pada wajah Jio yang di penuhi luka. Setiap air mata yang menetes, hanya bisa ia iringi do'a agar ada keajaiban yang datang. Entah itu pertolongan dari Klan Black Hold, ataupun keajaiban alam.


Tuhan tidak akan pernah tidur saat melihat pengorbanan seseorang yang tulus, bukan?


Melihat darah yang menetes di ujung bibir Jio. Membuat sang gadis semakin gemetar. Dadanya bergemuruh. Ingin ia berlari, dan memeluk pemuda yang tengah menjadi tontonan musuh Klan Black Hold itu. Ia ingin berdua, berbagi perih yang menyelinap di setiap pukulan.


Tapi kedua tangannya bahkan di pegang erat oleh seorang anak buah Lussio. Belum lagi selendang yang menjadi pengikat bom. Apalagi di sampingnya ada Paman Lussio yang berwajah nyaris seperti hantu. Belum lari pun pasti gadis itu akan di tarik kencang oleh dua lelaki itu.


Bosan Lussio menghajar Jio menggunakan tangan dan kakinya, kini ia mengambil sebuah tongkat baseball.


"Ini adalah senjata awalku, Jio!" seru lussio menepukkan tongkat di telapak tangan kirinya. "Semakin lama aku akan memberimu senjata terbaikku!" lanjutnya tersenyum sinis.


Jio tersenyum miring, "aku tidak menyangka, kau hanya bisa melawanku menggunakan sebuah ancaman!" desis Jio dengan nada mengejek.


"F*ck!" umpat Lussio menatap benci pada Jio.


"Kau harusnya bercermin, Lussio! Apa pantas lelaki lemah seperti mu di sebut sebagai pemimpin Klan?" tanya Jio sinis. "Kau bukan petarung yang hebat! Kau hanyalah Tuan Besar licik!" ucap Jio licik.


"Hahaha!" gelak Lussio enteng, "tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kekuatan, Jio!" jawab Lussio sinis. "Jika kelicikan bisa menyelesaikan masalah, untuk apa harus mengeluarkan banyak tenaga dan kekuatan pasukan untuk mengalahkan musuh?"


"Apa kau pernah mendengar kabar berita tentang pemimpin klan tewas karena sedang tidak berada di kandangnya? Atau pemimpin Klan tewas saat tidak ada penjagaan anak buahnya?" tanya Jio sinis.


Lussio tampak mengingat ingat, apa pernah ada berita seperti itu?


"Jangan terlalu di pikirkan, Lussio! Karena berita itu memang tidak pernah ada!" sahut Jio. "Karena apa? Karena mereka semua jauh lebih hebat dari anak buahnya! Semua pemimpin Klan adalah lelaki terhebat dari semua pasukan yang mereka miliki!" lanjut Jio.

__ADS_1


"Kai hanya perlu membuktikan! Kalau kau bukan pecundang! Lawan aku! Dan lepaskan Virginia!"


Lussio memicingkan matanya. Ia sangat benci di ejek di depan seluruh pasukan miliknya.


"Baiklah! Lepaskan ikatan gadis itu!" perintah Lussio melirik anak buahnya.


"Baik, Tuan!"


Dalam hitung menit, Virginia terbebas dari ikatan. Ia pun bisa berlari cepat mendekati Jio yang wajahnya tampak lebih lega dari sebelumnya. Meski tak mengurangi aura dingin dari pemuda itu.


Melihat bom di punggung Virginia kini berada di tangan anak buah Lussio, Jio merasa memiliki kesempatan untuk menghabisi musuh.


Sepasang mata segera menyisir sekitar, memperkirakan ada berapa orang yang harus ia habisi. Terakhir pandangannya terpaku pada Virginia yang berlari ke arahnya masih dengan sisa selendang yang terikat di pinggangnya.


Menatap sendu tubuh ramping sang gadis yang sedang berlari sembari mengusap air matanya. Gadis tak bersalah yang terpaksa menjadi tawanan musuh. Sama sekali tidak ia duga.


Seharusnya ia tak meminta bodyguard pulang, melainkan harus ikut memasuki area kampus. Dan berjaga di depan pintu kelas. Ia sama sekali tak menduga, jika musuh ternyata sudah ada di dalam kampus.


"Jio!" Virginia menubruk tubuh pemuda yang baru kemarin ia temukan kembali.


Ia lingkarkan tangan di tubuh Jio. Ia hempaskan wajahnya pada dada sang pemuda. Air mata semakin deras mengalir. Sejak kemarin ia ingin memeluk tubuh itu. Tapi sama sekali tak memiliki alasan untuk bisa memeluk seerat ini.


Kini ia dengan leluasa memeluk tubuh lelaki itu. Membiarkan dirinya menempel sempurna pada tubuh sang lelaki. Detak jantung Jio terdengar cukup keras oleh telinga Virginia.


Jio membalas pelukan Virginia tak kalah erat. Membiarkan darah merah mengotori baju sang gadis. Begitu tenang pelukan gadis itu, hingga ia pejamkan matanya, untuk mencari kedamaian lebih dari apa yang ia rasakan sekarang.


Ah, ingin rasanya ia mencium puncak kepala gadis itu. Tapi ia belum berani melakukan itu. Ada sesuatu yang harus ia jaga.


"Tunggulah di mobil, jangan keluar sebelum aku datang..." bisik Jio di atas kepala sang gadis.


"Tapi, aku takut kamu terluka lebih parah dari ini, Jio!" Virginia mendongak, menatap melas pada sang pemuda.


"Aku akan baik - baik saja, Nia..." ucap Jio lirih meyakinkan sang gadis. "Masuklah ke dalam mobil!" lanjutnya sembari mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Virginia.


Namun gadis itu tak kunjung beranjak. Ia masih membiarkan tangannya melilit erat tubuh Jio. Dan tatapannya masib menatap lekat sang pemuda.


"Hemm!" Jio mengangguk meyakinkan kembali bahwa tidak akan ada lagi luka yang tergores pada tubuhnya.


"Oh... Ayolah! Bosan sekali melihat drama tidak jelas seperti ini!" seru Lussio mencibir. Tentu ia merasa risih dengan apa yang di lakukan Virginia dan Jio yang ia anggap norak. Karena ia tak pernah jatuh cinta.

__ADS_1


"Masuklah..." ucap Jio melepas lilitan tangan Virginia di punggungnya. "Kunci dari dalam, jangan biarkan anak buah Lussio bisa membukanya!"


Perlahan tangan Virginia terlepas, menghela nafas berat Virginia menatap sendu sepasang mata Jio. Kemudian sesuai perintah Jio, ia berjalan mendekati mobil Jio, dengan berulang kali menoleh ke belakang. Dimana Jio masih melihatnya. Memastikan dirinya masuk ke dalam mobil dengan aman.


Virginia di anggap lebih aman dari sebelumnya. Sehingga fokus Jio kini hanya satu. Yaitu menghabisi Lussio dan seluruh pasukannya.


Jio mengambil kembali pedang pusaka miliknya yang sempat ia lempar ke paving. Dimana Lussio juga melakukan hal yang sama. Sama - sama memegang pedang, dua pemuda seumuran siap untuk berperang. Saling unjuk kekuatan.


Sarung pedang sudah menggantung di punggung masing - masing, sedang pedang sudah di tangan kanan dua pemuda itu. Tangan kiri Jio ada sebilah pisau yang menjadi andalannya. Sementara di sebelah tangan kiri Lussio ada golok besar peninggalan sang Ayah.


Dua pemuda berjalan ke sisi kanan, membentuk lingkaran. Sama - sama mengambil posisi kuda - kuda untuk pertempuran perdana keduanya. Sama - sama menyungging senyum, sama - sama merasa harus menang.


"Haaak!" Lussio berlari maju dengan mengarahkan pedang andalannya. Jio dengan sigap menahan serangan menggunakan pedang pula. Sehingga suara pedang bertubrukan terdengar nyaring di telinga para penonton.


Sama - sama kuat, sama - sama memiliki kelebihan. Membuat pertarungan berlangsung cukup sengit.


Detik demi detik berganti menjadi menit hingga menit terus berlalu. Dua tubuh gagah pemuda mulai terluka.


Jio tertancap pedang di bagian lengan. Sedang Lussio di bagian paha. Bedanya luka Lussio lebih dalam. Sehingga darah yang mengucur dari pahanya lebih banyak.


Jio sama sekali tak merasakan sakit di lengannya. Ia terus merangsek ke arah Lussio yang mulai pincang. Tentu hal itu membuat kubu Lussio ketar ketir. Berbagai persiapan mereka lakukan.


Dan...


Sebuah pisau berakhir dengan tertancap tepat di pergelangan tangan Lussio. Membuat pedangnya jatuh ke tanah. Di susul satu pisau lagi yang tertancap di pergelangan tangan kiri Lussio, membuat golok besar di tangannya ikut jatuh.


Keahliannya untuk bisa bergerak secara senyap, sangat berguna untuk Jio saat berhadapan dengan musuh seperti ini.


"Apa lagi rencanamu, hah!" tanya Jio menatap sinis Lussio yang terduduk di tanah.


Namun seketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Saat Paman Lussio berucap.


"Hentikan!" teriaknya.


Sontak Jio berhenti menyerang. Melihat Lussio sudah tak berdaya, berhenti sesaat sepertinya tak masalah.


Tersenyum sinis, Paman Lussio berucap, "selendang yang masih melingkar di perut gadis itu masih tersisipi bom kecil!" ucapnya dengan tersenyum sinis. "Dia di dalam mobil seorang diri. Tidak akan semudah itu bisa melarikan diri dalam hitungan detik!" lanjutnya mengangkat sebuah remote di tangannya. Senyum kemenangan terpancar dari bibir Lussio dan Pamannya.


"Kami bukan orang - orang bodoh seperti yang kau pikirkan, Jio!" seru Lussio melawan rasa sakit di tubuhnya.

__ADS_1


Sementara Virginia di dalam mobil dalam keadaan tertutup rapat. Mesin mobil menyala untuk ia tetap bisa bertahan di dalam mobil. Namun kaca tertutup sangat rapat. Gadis itu tidak akan mendengar apa yang di ucapkan Paman Lussio. Sehingga tak mungkin baginya untuk mengerti agar melepas selendang di pinggangnya.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2