
' Haruskah aku bilang kamu cantik? '
Gumam Jio dalam hati. Ingin sekali berucap. Tapi rasa malu dan ragu belum juga lenyap dari hatinya. Sepasang sorot mata melihat wajah Virginia yang masih menunggu jawaban pasti darinya.
"Kamu cantik!" ucapnya tanpa sadar.
Tubuh gadis 18 tahun seketika menegang. Namun ia belum berani berbangga hati. Bisa saja Jio hanya menggodanya.
"Bullshit..." jawab Virginia menjulurkan sedikit lidahnya.
"Sejak dulu kamu yang paling cantik di mataku." jawab Jio menatap lekat Virginia. Dari segi ekspresi, ia sangat serius dengan pengucapannya.
"Bohong!" Virginia masih belum bisa menerima pujian itu dengan mudah. Meski dalam hati rasanya ia ingin melompat girang.
"Aku tidak pernah berbohong..." jawab Jio dengan nada yang masih serius.
Virginia mulai salah tingkah. Ada desiran yang sangat sulit di artikan. Ada rasa malu, namun juga ada hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Bibir ingin tersenyum, namun sangat malu jika senyum itu terlihat sang pemuda.
Akhirnya wajah putih mulus itu memerah, seperti kepiting rebus yang sangat menggiurkan untuk di incipi. Karena ia pun takut untuk berbesar hati menerima pujian dan tatapan sedemikian lekat dari Jio.
Virginia membuang muka ke sisi kanan, mencari objek lain untuk mengalihkan perhatiannya. Agar wajah merah merona yang malu - malu itu tak terlihat oleh pemuda tampan di sampingnya.
Melihat aksi salah tingkah Virginia membuat Jio ingin tersenyum. Ia serius dalam berucap. Hanya saja ia tak bisa menciptakan suasana romantis.
"Kenapa?" tanya Jio.
Tentu sebenarnya ia tau apa yang di rasakan Virginia. Ia pun sebenarnya sama, hanya saja diri sudah terlatih untuk menutupi segala rasa yang berkecamuk di dalam dada.
Virginia hanya diam saja tak menjawab. Bibir sudah tak sanggup menahan senyuman. Jika ia menjawab, pasti Jio akan tau jika bibirnya tengah tersenyum malu - malu. Tentu saja ia tak mau Jio tau akan hal itu.
"Hey!" panggil Jio, namun gadis itu tetap enggan menoleh. "Kenapa diam saja..." Jio menarik pelan lengan Virginia.
Namun Virginia tetap keukeh untuk tidak menoleh pada Jio yang berhasil membuatnya seperti tersangka pencurian yang di intimidasi pihak berwajib. Ia hempaskan pelan tangan Jio. Memberontak dengan cara yang lembut.
"Hey?" panggil Jio lagi. Kali ini ia memanggil dengan sedikit gelak tawa.
"Lepas!" ucap Virginia berusaha melepas tangan Jio di lengannya.
"Kamu malu?" tanya Jio. "Hai... Lihat aku .."
"Tidak!" jawab Virginia cepat. "Kamu pembohong!" elak bibir Virginia.
__ADS_1
Ya, hanya bibir saja yang mengatakan jika Jio berbohong. Dalam hati ia tau jika Jio tengah mencoba serius. Hanya saja ia masih belum berani untuk berbesar hati.
Mendapat jawaban itu, membuat Jio semakin menarik lengan Virginia dengan gelak tawa lucu dan gemas.
"Kamu memang cantik, Nia.. Tiada dua..!"
Tentu saja kalimat itu membuat sang gadis semakin gugup. Hingga membuat Virginia oleng, dan...
Hap!
Virginia, gadis cantik yang menjadi idola Nikki itu oleng ke kiri, dan jatuh terjerembab di dada Jio. Jio yang menyadari jika Virginia akan jatuh, tentu saja sudah sigap untuk menangkap tubuh sang gadis.
Dada Virginia jatuh tepat di dada Jio. Sedang wajah merah merona jatuh tepat di pundak sebelah kanan. Sepasang mata tepat berada di bawah telinga Jio. Bibir tepat berjarak dua senti meter saja dari leher sang lelaki.
Sementara Jio yang sebelumnya tergelak, seketika terdiam. Gelak tawa untuk menggoda Virginia lenyap begitu saja tanpa jejak. Menjadikan dirinya membeku bagai patung es di bawah terik matahari. Bahkan hembusan nafas yang mendarat di rambut pirang keemasan sang gadis pun terasa tak beraturan.
Dua jantung anak manusia yang saling berdekatan, berdetak sedemikian hebat di antara dada menempel sempurna. Sama - sama bisa merasakan betapa cepat dan kuat detaknya.
Udara yang semula keluar masuk paru - paru seolah menghilang begitu saja. Membuat dada terasa semakin sesak. Padahal mereka tengah berada di pantai yang luas. Dimana mereka bisa dengan bebas menghirup oksigen.
Sama - sama lemah, sama - sama luluh oleh satu cinta. Tapi tak ada yang berani berucap lebih dulu. Semua hanya di rasakan, tanpa ada ikatan pasti. Sehingga tak ada yang berhak memiliki akan jantung yang berdetak di dalam tubuh lawannya.
Tatapan Virginia yang menunduk, perlahan mulai mendongak. Melihat wajah tampan yang hanya berjarak 2 senti meter saja. Terlihat bibir merah alami Jio begitu indah. Semakin ia melihat ke atas, semakin kencang jantungnya berdetak. Dimana sorot mata sang pemuda mulai terlihat olehnya.
Di pantai Mediterania yang membentang luas, dimana banyak sekali wisatawan, namun sama sekali tak ada yang terlihat aneh jika dua sosok pemuda tengah berpelukan di bawah payung pantai, di atas selembar kain berwarna merah.
Mereka semua menganggap itu adalah hal lumrah, walau mereka akan berakhir dengan ciuman sekalipun.
Ciuman? Oh no! Rasanya untuk saat ini tidak akan terjadi. Tapi siapalah kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.
Jarak wajah yang sangat dekat, dengan jantung yang berdetak sedemikian hebat. Jio, sebagai pemuda normal tentu ada rasa ingin menyentuhkan bibir di titik tertentu. Apalagi wajah di depan mata sangat cantik nan rupawan. Wajah yang ia mimpikan setiap malam selama tinggal di kuil selama tujuh tahun.
Deru nafas semakin memperlihatkan jika keduanya gugup. Tangan Jio perlahan bergerak menarik tubuh Virginia untuk semakin dekat.
Tiga senti meter lagi bibir Jio akan sampai di bibir Virginia. Virginia pun sama sekali tidak memberontak. Ia seolah pasrah akan apa yang terjadi di antara mereka. Diri sudah hanyut oleh suasana. Untuk apa lagi ia menepi. Toh ia mencintai pemuda itu. Biarlah ciuman pertama mereka terjadi sebelum ada ikatan yang pasti.
Dua senti meter lagi, bibir Jio mengecup bibir mungil di depan mata. Namun bersamaan dengan itu, suara menyebalkan membuyarkan konsentrasi sekaligus kesempatan.
Ya, suara dering ponsel Jio. Suara dering ponsel yang seolah tak bisa di tunda lagi itu terdengar cukup nyaring di telinga keduanya.
Sontak Jio menghela nafas berat. Benar - benar situasi yang tidak menguntungkan. Namun saat ia kembali pada posisi awal, pikirannya kembali bekerja. Memang tidak seharusnya ia mencium gadis yang bukan miliknya.
__ADS_1
Sedang Virginia seketika menunduk malu. Sangat jelas terlihat jika ia tak bisa menahan diri sebelum ini.
Secepat kilat keduanya kembali ke posisi awal. Virginia duduk menghadap pantai, tanpa berani lagi melihat wajah Jio. Bedanya kali ini ia terlihat lebih rileks dari yang tadi.
Sedang Jio segera mengambil ponselnya, dna menggeser tombol hijau.
ð "Halo?"
ð "Kak..." suara Jia di seberang yang di barengi suara isakan, membuat Jio terkesiap.
ð "Ada apa dengan mu, Jia?" seketika wajah Jio menegang dan serius.
ð "Jia dan Xiaoli mengalami kecelakaan, Kak..." lirih Jia.
ð "Apa sebodoh itu dia menjagamu, hah!" bentak Jio dengan tangan mengepal erat. "Sepertinya dia belum mengenalku!"
Virginia pun reflek menoleh Jio di sampingnya. Ekspresi marah Jio membuat Virginia menatap serius sang lelaki. Ekspresi itu baru hilang beberapa jam lalu, dan kini kembali muncul.
ð "Bukan Xiaoli yang salah, Kak! Tapi Jia..." ucapnya sembari menangis.
ð "Apa maksud kamu, Jia?"
ð "Datanglah, Kak! Aku di rumah sakit! Aku takut menghubungi Daddy! Aku takut Daddy akan menembak kepala Xiaoli. Padahal ini kesalahan Jia.."
ð "Baiklah, aku akan datang!"
Panggilan pun berakhir, Jio segera mengemasi barang - barangnya.
"Ada apa, Jio?"
Jio berhenti dari aktivitasnya, dan menatap lekat Virginia.
"Kita pulang sekarang. Jia mengalami kecelakaan. Aku janji kapan - kapan aku akan membawamu ke pantai lagi."
"Itu tidak penting! Ayo , sekarang kita temui Jia!" jawab Virginia segera ikut berkemas.
***
Selesai berganti pakaian, Jio dan Virginia cepat berada di dalam Bugatti Divo milik Jio. Dengan menekan pedal gas dalam, mobil sport mewah itu melaju dengan kecepatan di atas rata - rata.
Satu yang ada di dalam benak Jio. Menginterogasi Jia dan Xiaoli.
__ADS_1
...ðŠī Happy Reading ðŠī...