SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 43


__ADS_3

Michael berbaring di sofa yang berada di ruang pribadinya di pelabuhan itu.. Lengan kanan pria itu tengah di obati oleh Rudolf. Dokter pribadi yang di hubungi oleh salah satu anak buah Michael yang tidak mendapat jatah musuh tadi.


Maka ketika pertarungan berakhir, Rudolf sudah memarkirkan mobilnya di pelabuhan.


Raganya memang tengah berada di kantor dermaga, namun pikiran Michael tak berada di sana. Melainkan pada Chania yang secara terang - terangan telah di incar seseorang. Dan Michael bisa menduga siapa yang mengincar Chania.


"Luka seperti ini tidak mau ke rumah sakit! dasar mafia gila!" gerutu Rudolf, yang akhirnya menjahit luka Michael dengan alat seadanya yang dia bawa.


Michael bergeming, bahkan pria itu merasa tak ada satu orangpun yang berada di ruangannya. Selain dirinya sendiri bersama Chania di dalam pikirannya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rudolf setelah menjahit lengan kanan Michael. Lalu menutupnya dengan perban.


Michael lah yang memerintahkan dari awal agar di tutup dengan perban. Ia khawatir Chania akan histeris melihat jahitan di lengannya itu.


' Jika benar ini semua rencana mu, aku tidak akan memberi mu ampunan wanita tua! '


Ucap Michael dalam hati dengan gigi yang mengerat. Namun ia memejamkan matanya kemudian. Mengingat dari awal memang bukan untuk menikah dengan Chania. Bahkan dengan wanita manapun.


"Kau memikirkan sekretaris seksi mu itu?" tanya Rudolf sengaja memancing perhatian Michael dengan membicarakan Chania.


"Sekali lagi kau mengatakan sesuatu yang menjijikkan di telinga ku tentang Chania, aku akan membongkar susuan syaraf mu!"


Bukannya jawaban yang di terima Rudolf. Melainkan pistol Glock dari tangan kiri Michael, yang mengarah pada kepalanya. Bahkan tanpa sang mafia membuka mata.


Rudolf menelan ludahnya dengan cukup susah. Apalagi saat mendengar pelatuk yang di tarik oleh Michael.


"Aa...Tuan muda Mafia.. janganlah suka mengeluarkan senjata seperti ini. Ini bukan senjata mainan, Tuan muda." rayu Rudolf. "Kita kan teman!" lanjutnya tersenyum kikuk mendorong pistol Michael agar kembali turun. Rudolf bernafas lega saat Michael kembali menutup pelatuknya.


"Ingat! hanya aku yang boleh melihat Chania! jaga matamu itu jika tidak ingin aku keluarkan!" ucap Michael membuka mata.


Rudolf kembali menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Tapi dia kan bisa di lihat secara tidak sengaja oleh siapa saja! termasuk mataku!" jawabnya mencoba mencairkan suasana. Berharap bukan hanya dia yang mendapat ancaman.


"BERHENTI MEMBICARAKAN ISTRIKU!" bentak Michael dengan nada tinggi.

__ADS_1


Rudolf reflek menutup matanya karena kaget. Namun seketika membuka matanya lebar saat Michael menyebut kata istriku.


"Apa maksudmu? apa dia istrimu? kalian sudah menikah? kapan?" Rudolf memberondong pertanyaan untuk mewakili rasa penasaran.


"Dia ISTRI ku!" jawab Michael penuh penekanan pada kata istri. "Jangan coba - coba melirik atau bahkan melihatnya!"


"Wah! rupanya benar aku sudah punya ipar! kapan kalian menikah?"


"Sudah lama!" jawabnya. "Ingat! jaga mulutmu! jangan katakan pada siapapun, termasuk Papa! anggap saja kau tak tau apa - apa! itu kalau kau dan keluarga mu tetap ingin hidup tenang!" ancam Michael.


Untuk kesekian kali Rudolf menelan ludahnya dengan kesulitan. Namun di sisi lain, ia merasa senang dan kagum. Karena seorang Michael Xavier pada akhirnya menikahi seorang gadis yang di bawanya pulang. Tidak hanya untuk di tiduri, lalu di buang saat sudah bosan.


"Selamat Tuan muda Xavier, aku turut bahagia atas pernikahanmu. Aku akan menjaga rahasia ini, seperti aku menjaga nyawaku!" ucap Rudolf yakin.


"Hm! bagus!"


Bagaimanapun juga, Rudolf orang yang dekat dengan Mafia. Sedikit banyak dia tau, bahaya nya menjadi istri seorang Mafia. Apalagi Mafia sekelas Black Hold. Klan Mafia terbesar dengan kekayaan melimpah ruah.


Bisa - bisa nyawa Chania akan menjadi taruhan. Apalagi dunia mafia tidak mengenal ampun dan dosa. Bisa saja Chania akan di jadikan ajang perebutan saat saling balas dendam.


Rudolf teringat kisah Mama Michael, belasan tahun silam. Kala itu ia baru dalam masa pergantian dengan sang ayah. Untuk meneruskan posisi sebagai dokter pribadi keluarga Sebastian, Klan Black Hold.


Jam lima pagi, dengan di antar oleh Dimitri dan Jack, Michael kembali ke rumahnya. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah, hendak menuju kamar utama.


Rasa sakit di lengan kanannya tak membuat Michael meringis berlebihan. Mungkin terkalahkan dengan rasa rindu pada istrinya.


Ah, apa yakin itu rindu? Michael sendiri bahkan belum menyadari jika ia tengah di landa rindu yang mendalam. Akibat cinta yang tak di sadari.


"Tuan muda, kenapa lengan anda?" tanya Oliver yang sedang mengawasi para maid bekerja di ruang tengah.


"Bukan urusanmu!" jawab Michael acuh, bahkan tanpa menoleh pada Oliver sedikit pun.


"Tapi, Tuan! luka seperti itu harus di rawat insentif!" Oliver mengejar Michael yang menaiki tangga.


"Turun!" bentak Michael menoleh Oliver dan menusuk Oliver dengan tatapan tajam miliknya.

__ADS_1


Seketika gadis itu berhenti dan menarik nafas panjang mendengar bentakan Michael. Namun matanya tidak lepas dari lengan Michael yang tak tertutup kain. Karena Michael hanya memakai sleeveless hitam saja.


Mau tidak mau Oliver memutar badan dan melangkah turun dengan hati penuh kekecewaan. Ia berharap dengan luka di lengan Michael, bisa membuatnya dekat dengan cara membantu merawatnya. Namun ia lupa, bahwa Michael tak lagi membutuhkan sosok perempuan lain di hidupnya. Karena ada Chania di kamar pria tampan itu.


Michael kembali melangkahkan kakinya dnegan cepat menaiki tangga. Menuju pintu dimana ada dua penjaga yang silih berganti setiap 12 jam sekali.


"Chania keluar?" tanya Michael pada dua penjaga.


"Tidak, Tuan muda. Nona Chania masih di dalam!" jawab salah seorang penjaga, seraya menunduk.


Tanpa bertanya lagi, Michael masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Kamar yang semula ia tinggal dalam keadaan gelap, kini terang benderang. Ia yakin Chania sempat bangun tadi.


Sorot matanya langsung menangkap Chania yang tertidur di ranjang, dengan posisi yang tak biasa dan sudah terlihat memakai lingerie lagi. Michael tersenyum samar menatap wajah cantik Chania. Lebih tepatnya wajah yang ia rindukan.


Ia berjalan mendekati ranjang, mengamati istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian melihat ponsel di tangannya, ia yakin Chania tertidur saat melihat ponsel.


Michael mengambil ponsel Chania, dan membuka kuncinya. Ia sudah hafal kunci ponsel Chania. Karena Chania memasang tanggal pernikahan mereka.


Michael sedikit terkejut, karena layar masih menunjukkan pesan chat yang tertuju padanya. Ia bahkan lupa tak membuka ponsel sama sekali. Setelah membaca pesan Chania untuknya, Michael meletakkan ponsel di atas nakas.


Kemudian menatap wajah cantik Chania. Mengusap bibir yang ternyata membuatnya merasa kecanduan. Seperti halnya nikotin yang selama ini membuatnya sulit terlepas dari rokok.


Michael mendaratkan kecupan di sana beberapa kali. Namun nyatanya tidur Chania tak terganggu. Michael tersenyum lebih lebar. Kemudian mengecup bibir, hidung, dahi dan pipi.


Gadis itu sedikit menggeliat. Michael kembali pada posisi duduk. Kemudian membelai rambut Chania yang berantakan di wajahnya. Dan saat itulah, tangannya tertangkap oleh Chania yang mungkin kaget ada yang menyentuhnya.


Namun di luar dugaan, gadis itu justru langsung bangkit dan memeluknya erat. Michael yang sesungguhnya juga sangat merindukan gadis itu, membalas pelukan Chania dengan hangat, sembari mencium daun telinga Chania.


Michael merasakan kesejukan, saat ia merasakan jika Chania sebenarnya dalam keadaan khawatir padanya.


Apalagi saat Chania melihat lengannya yang di perban. Chania benar - benar terlihat khawatir, bahkan air mata menetes dari sepasang mata lentik.


' Seperti inikah rasanya ketika ada yang mengkhawatirkan keselamatan kita? '


Michael merasa begitu teduh. Baru kali ini hatinya setenang ini.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy Reading 🌹🌹🌹


__ADS_2