SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 254


__ADS_3

Kedua Kakaknya tengah ribet dengan urusan masing - masing. Sedangkan Gerald, di bocah tengil itu justru asyik memikirkan cara untuk bisa memberikan satu box kalung BTS pada Jenia Mezzaluna.


Gadis pujaan yang berada satu kelas dengan dirinya. Tapi sangat sulit mengambil simpatinya.


Sejauh ini ia mengobrol di tanggapi dengan baik oleh sang gadis saja sudah bagus dan bangga.


Kali ini ia memutuskan fokus untuk mendapatkan kesempatan agar bisa memberikan box itu pada Jenia dengan cara yang romantis. Hingga ia memilih untuk tidak mendatangi Chloe sampai berhasil memberikan box itu pada Jenia.


"Kenapa aku tidak boleh main ke rumah mu?" tanya Gerald ketika keduanya berada di kelas.


"Daddy ku bisa membunuhmu kalau kamu berani mendatangi ku ke rumah, dan menghadap beliau!" ucap Jenia dengan nada yang di buat mengerikan.


Gerald tersenyum miring, ingin sekali menertawai kalimat Jenia yang menurut Gerald hanya sebuah alasan untuk menakut - nakuti dirinya.


' kamu belum tau saja siapa Daddy ku, Jenia! Kalau kamu tau siapa Daddy ku, aku yakin kamu tidak akan berucap demikian! '


Desis Gerald dalam hati. Bibirnya tersenyum miring menahan rasa gemas pada Jenia yang ada saja alasan yang bisa di ucapkan.


' Kamu bahkan tidak tau, jika aku dan saudaraku di rancang dan di latih hanya untuk membalas dendam. Dan membunuh manusia lain yang mengganggu hidup kami. Hanya saja aku tidak sanggup menjalani kehidupan di kuil. '


Batin Gerald ingin sekali tertawa. Tapi setengah mati ia menahan dengan segala rasa gemas yang ada.


"Memangnya Daddy mu Mafia?" tanya Gerald seolah - olah takut dengan kata Mafia. Meski pada dasarnya dirinya sendirilah yang merupakan anak Mafia.


"Kamu gila!" sembur Jenia. "Keluargaku masih waras! untuk apa berurusan dengan dunia Mafia?" tanya Jenia sedikit menghentak.


"Memangnya kenapa dengan dunia Mafia?" tanya Gerald.


"Dunia Mafia adalah dunia yang gelap untuk di lakoni orang awam seperti kita, Gerald! apa kamu tidak tau? Mafia itu kejam?" tanya Jenia menoleh pada Gerald yang duduk di bangku sampingnya.


"Tidak..." jawab Gerald memasang wajah pura - pura bodohnya mengenai dunia Mafia.


Karena dengan begitu ia tau Jenia akan mulai menjelaskan dan membuat dirinya seperti mendapat perhatian dari sang gadis. Biarlah untuk sesaat ia di anggap pemuda polos yang baru keluar dari kerak Bumi.

__ADS_1


"Mereka  tidak akan segan membunuh siapa saja yang berurusan dengan mereka. Siapa saja yang mencari masalah dengan keluarganya, pasti habis!" jawab Jenia.


"Kamu takut dengan mereka?"


"Tentu saja aku takut!" jawab Jenia cepat. "Memangnya kamu tidak takut berurusan dengan Mafia? Mereka punya  banyak cara untuk membuat musuh mereka bertekuk lutut. Atau bahkan mati di tempat!" lanjut Jenia masih dengan nada dingin dan sengaja menakut - nakuti Gerald.


"Dari mana kamu tau?"


"Dari novel yang aku baca!" jawab Jenia sarkas. "Dan menurut mereka, mereka juga tidak akan segan membunuh anak - anak dan memperkosa wanita!Hiiii.... mengerikan!" Jenia bergidik ngeri sembari menatap tajam Gerald.


Gerald mengangguk, tentu saja hanya untuk berpura - pura paham dan percaya. Meski perutnya merasa tengah di gelitik sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum, tergelak, atau bahkan tertawa.


"Kalau dengan anak nya Mafia?"


"Apa maksud kamu?" tanya Jenia tidak paham.


"Ya... kalau dengan anak Mafia apa kamu juga takut?"


"Mafia mana peduli dengan anaknya! " jawab Jenia.


"Dari yang aku baca, Mafia itu berhati kejam. Wanita hanya di gunakan untuk pelampiasan saja. Setelah memperkosa atau meniduri wanita tersebut, mereka akan pergi setelah melempar uang ke muka wanita itu. Jadi mana mungkin mereka memiliki anak!"


Kali ini Gerald memiringkan bibirnya, sembari menggigit bibirnya yang bagian dalam. Mengulum senyum yang sudah sangat sulit untuk di tahan.


"Padahal Mafia juga bisa punya anak, dan menyayangi anak - anak mereka melebihi nyawa mereka sendiri!" jawab Gerald. "Sepertinya kamu salah baca novel!" ejek Gerald.


"Kenapa salah?"


"Kalau Mafia berani membunuh manusia dengan mudah, apalagi yang berurusan dengan nya. Berarti daddy kamu juga seorang Mafia! Dan justru Daddy mu adalah Mafia unggul."


"Apa maksud mu?" tanya Jenia merasa tidak terima dengan kalimat Gerald.


"Kalau ada pemuda yang datang ke rumah mu untuk menemui kamu lalu di bunuh oleh Daddy mu, itu berarti Daddy mu lebih unggul dari Mafia di sana. Dan lebih kejam! karena membunuh hanya karena alasan sepele." jawab Gerald.

__ADS_1


"Itu hanya perumpamaan, Gerald!" geram Jenia menatap tajam Gerald yang tersenyum miring.


"Kalaupun bukan perumpamaan, aku tidak akan pernah takut menemui Daddy mu, Jenia..." desis Gerald dengan sangat lirih dan dingin.


Senyum di bibirnya sudah lenyap begitu saja. Sorot matanya menatap dalam pada kedua mata Jenia yang seketika tak mampu berkedip. Hanyut ke dalam bola mata berwarna coklat gelap milik seorang Gerald Xavier Sebastian.


Bibir Jenia tertutup rapat, tanpa bisa berucap apapun juga. Gadis itu membeku dengan menatap wajah tampan dan biasa selalu bersikap manis dan lucu yang berubah menjadi sangat serius.


Mereka hanya berdua di kelas, dan kini kelas itu terasa hening dan sepi. Karena dua anak manusia tengah membeku dalam diam. Dengan dua pasang sorot mata yang bertemu dalam garis lurus, kemudian menghantarkan sesuatu yang sulit untuk di artikan.


Hingga....


Jenia membuang pandang, menatap lembar kertas putih di atas meja yang sudah di penuhi oleh coretan hasil karyanya. Nafas menggebu, detak jantung terasa begitu cepat hingga menyedot semua nafas yang ia hirup.


Gadis itu seolah baru saja terkena sihir yang bisa menjungkir balikkan hati dan hidupnya. Gadis 14 tahun yang tak bisa mengartikan apa yang dia rasakan setelah untuk pertama kali menatap mata gerald lebih dari satu menit. Sesuatu itu, adalah hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Selama ini ia selalu mengacuhkan Gerald. Berbicara tanpa pernah menatap matanya sama sekali, kecuali hanya sekilas. Tak lebih dari satu detik, yang mana hasilnya hanya membuat dirinya kesal. Kemudian bersikap acuh tak acuh pada Gerald yang tak pernah bosan mengganggunya.


***


Setelah kelas usai, Jia yang biasanya pergi ke kantin untuk makan siang bersama teman - temannya, tentu saja kali ini memilih untuk menemui sang kekasih yang menunggu di tempat parkir. Ia tak akan menyia - nyiakan satu detik pun waktu yang ia miliki untuk bisa berduaan dengan sang bodyguard.


Melangkah cepat ke tempat parkir, Jia sampai dengan nafas sedikit ngos - ngosan. Tapi di mana sang kekasih? kenapa hanya ada mobil tanpa ada manusianya sama sekali?


Jia memutari mobil miliknya, sampai memutar tubuhnya untuk menemukan sang bodyguard tercinta. Namun parkiran mobil memang sedang sepi. Hanya ada beberapa siswa yang baru datang, atau akan pulang.


Jengkel sudah Nona Muda Xavier. Padahal tadi ia sampai sedikit berlari untuk bisa sampai di tempat parkir lebih cepat. Tapi yang ia dapatkan sang bodyguard menghilang entah kemana.


kemudian Jia terfikir untuk mengintip kaca jendela yang gelap. Meski ia sudah ragu, karena mobil dalam keadaan mati, dan kaca jendela tertutup rapat. Tidak mungkin jika sang kekasih ada di dalam sana selama masih ingin hidup.


Meski ragu, Jia tetap kembali mendekati mobilnya, kemudian mendekatkan wajahnya pada kaca pintu bagian belakang. Mengangkat kedua tangan dan meletakkan kedua telapak tangan di sisi kanan dan kiri pelipisnya, agar menjadi penghalang cahaya di luar yang bisa mengganggunya untuk bisa melihat bagian dalam.


Jia melihat dengan jeli, dan benar - benar tidak ada siapapun di dalam sana.

__ADS_1


Justru saat sedang fokus mengamati bagian dalam mobil, ada tangan yang tiba - tiba berada di sisi kirinya, menapak sempurna pada kaca gelap. Hingga membuat sang Nona Muda terhentak kaget dan tanpa sadar melompat dengan jantung yang nyaris copot.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2