
Chania kembali membuka halaman selanjutnya. Namun ternyata halaman itu di tulis dengan jarak waktu cukup jauh dari tulisan sebelumnya.
🌺🌺🌺
Selamat malam wahai penghuni Bumi..
Bisakah kalian berbaik hati memberiku tempat untuk aku tetap bisa mempertahankan dua calon putri ku..
Aku lelah, Tuhan..
Hidup ini terlalu buruk untuk ku.
Tujuh bulan sudah aku mempertahankan mereka dalam rahim ku.
Dengan segala kelemahan ku.
Kapan kau akan menemui **ku**...
Wahai Tuan Besar Smith Arlington.
🌺🌺🌺
Duarr!!
Bagaikan dihantam meteor yang terjun bebas menembus permukaan Bumi. Begitulah kurang lebih keterkejutan seorang Chania. Layaknya terhimpit bebatuan, nafas Chania beradu dengan detak jantungnya dalam hitungan detik.
"Smith Arlington..." gumam Chania lirih.
Matanya terbuka lebar menatap tulisan di baris terakhir itu. Memastikan nama yang ia baca adalah nama yang sama dengan yang di ceritakan sang suami.
Berulang kali Chania membaca nama itu. Mendadak pandangannya terasa buram. Begitu pening membaca nama itu.
"Jadi benar, Kimberly yang di benci Mama Madalena adalah Mama ku?" Tercekat sudah tenggorokan Chania.
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Karena jelas terlihat kala itu Madalena begitu membencinya. Padahal itu adalah pertemuan pertama mereka. Dan yang lebih memusingkan, Madalena meminta pertanggung jawaban darinya.
"Apa itu artinya aku yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya calon adik Michael?"
Chania semakin pusing memikirkan kalimat tanggung jawab yang di minta Mama Madalena padanya. Karena ia tak tau kelanjutan dari kata pertanggung jawaban yang di minta.
Chania menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan matanya dalam. Mencoba untuk tetap menjaga kesadaran. Ia masih harus terus membaca diary itu. Untuk mendapatkan kejelasan.
Banyak hal yang ingin ia ketahui. Termasuk siapa sebenarnya Papa yang menyayanginya selama ini, yakni Kenzo Anata. Pria yang begitu menyayanginya. Apapun yang ia minta pasti di turuti dalam sekejap mata.
Chania kembali menegakkan kepalanya setelah merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Jika Papa Kenzo bukan Papa kandungku, kenapa dia begitu menyayangiku. Bahkan tak pernah sekalipun memarahi ku meskipun aku salah. Dia selalu membela ku, meskipun terkadang aku membangkang padanya. Papa...." lirih Chania meneteskan air matanya. Mengingat 22 tahun yang ia lalui bersama sosok Papa Kenzo.
Sungguh tak ada dalam benaknya jika Papa Kenzo bukanlah Papa kandungnya. Karena nama belakangnya pun mencakup nama belakang Kenzo. Renata yang di ambil dari nama Reana dan Anata.
"Bukankah itu artinya mereka orang tua kandungku?" gumamnya mengusap air matanya yang berjatuhan akibat mengingat kenakalan yang ia lakukan semasa orang tuanya hidup. Bukan salah pergaulan, melainkan terlalu boros dan manja.
"Ah, benar! aku salah menduga! jika aku anak kandung Papa Kenzo, pasti namaku Chania Anata. Tak perlu di gabung dengan Reana nama Mama."
Chania menarik nafas dalam. Menetralkan perasaannya kembali. Mempersiapkan diri untuk kembali menemukan kenyataan - kenyataan yang belum ia ketahui.
Termasuk siapa sebenarnya Smith Arlington, pria berkuasa yang di bunuh oleh istrinya sendiri. Setidaknya itulah yang ia ketahui dari cerita suaminya, Michael Xavier.
Meskipun kini ia tahu, jika Smith Arlington adalah Papa kandungnya. Namun kalimat tak kenal maka tak sayang sepertinya berlaku untuk hubungan ayah dan anak satu ini.
Tak pernah sekalipun melihat atau bahkan mendengar sang Mama menyebutkan nama itu, membuat hati Chania memilih cuek pada nasib menyedihkan yang di alami sang Papa kandung.
__ADS_1
Karena cinta pertamanya sudah dilabuhkan pada sosok Papa yang selalu ada untuknya selama 22 tahun ini. Ya, Papa Kenzo Anata.
Ia hanya ingin tau lebih jauh tentang hubungan nama - nama asing yang mulai bermunculan di benaknya. Namun saling berkaitan dengan dirinya. Dan satu lagi, dimana saudara kembarnya?
Cerita Michael mengatakan jika Kimberly hanya bersama seorang anak perempuan berusia 15 bulan. Yang artinya itu adalah dirinya.
Chania membuka halaman selanjutnya. Memastikan tanggal yang tertera lebih dahulu. Ternyata di tulis dua minggu setelah lembar sebelumnya.
🌺🌺🌺
Nama yang indah sudah ku persiapkan untuk dua putri kita.
Chania Arlington dan Shania Arlington.
Indah bukan?
Nama itu sangat pantas di gabung dengan nama mu, Tuan Smith.
*Pria dengan segudang prestasi dan s**alah satu penguasa di negeri ini*.
Meskipun mungkin dunia tak akan pernah mengenal mereka **berdua** sebagai putri Arlington.
Apapun yang terjadi...
Dua putri kita, akan aku rawat dengan penuh cinta.
Meski tak pernah sekalipun kau muncul di hadapan kami, Tuan.
🌺🌺🌺
"Shania..." lirih Chania tertegun membaca kembali nama sang kembaran.
Chania memilih mengubah nama saudaranya sendiri.
Chania terpaku untuk beberapa saat dengan halaman itu. Berulang kali membaca dua nama anak kembar. Yang salah satunya adalah namanya. Nama yang sangat pantas, namun ternyata di ubah menjadi Chania Renata.
Halaman selanjutnya terbuka oleh jemari lentik Chania. Lagi - lagi tanggal catatan itu di buat menjadi landasan darat pandangan matanya.
🌺🌺🌺
Tiga minggu lagi mereka di perkirakan akan lahir di dunia ini, Tuan.
Bertemu dengan kita.
Aku mohon hadirlah di hari itu.
Bukankah sudah cukup hukuman yang aku terima?
Delapan bulan mengandung tanpa di dampingi oleh mu.
Tanpa seorang pun yang membantuku saat aku kesulitan.
Tak ada tempat tebaik untuk ibu hamil sepertiku bermanja.
Datanglah di hari itu Tuan.
Aku **mohon**...
🌺🌺🌺
Tiba - tiba Chania membayangkan perut sang Mama yang besar, namun tak ada seorang pun yang berada di sampingnya. Untuk sekedar mengusap perutnya, atau membantunya bersandar dan mengerjakan pekerjaan rumah yang berat.
__ADS_1
"Kau wanita terhebat yang Chania miliki, Mom..." lirih Chania mengingat wajah cantik sang Mama yang selalu tersenyum padanya.
Chania membuka halaman selanjutnya. Dan lagi - lagi tanggal halaman itu tertulis selalu menjadi patokan awal Chania.
"Tanggal lahir ku?" gumamnya.
🌺🌺🌺
Welcome to the world my baby twins...
Kalian tau, nak?
Papa mu datang tepat saat kalian meminta untuk dilahirkan.
Hampir sembilan bulan Mama tak melihat Papa kalian.
Kalian cukup tau, Papa tetap tampan dan penuh kelembutan.
Dan dia menyetujui nama yang Mama berikan pada kalian.
Chania Arlington dan Shania Arlington . . .
Terima kasih untuk kehadiran mu, Tuan Smith.
Jika Tuhan dan alam menyertai, aku ingin terus bersamamu.
Bukan hanya malam **ini** saja.
Tapi apalah daya, tubuh ini sudah tak berhak atas tubuhmu.
Perbedaan kasta yang terlampau jauh.
Dunia hitam mu yang mendominasi membuatku harus menjauh darimu.
Aku mencintai mu..
Dan perasaan ini tak akan pernah berubah.
Akan selalu sama seperti saat pertama kali kita bertemu.
Seperti saat aku dengan seragam SMA ku, dan kamu dengan jas mahal mu.
Aku dengan usia remaja ku, kamu dengan usia matang mu.
Jika boleh, aku ingin tersenyum mengenang masa indah itu.
Tuan, meskipun perasaan ini bencana untuk ku, aku tidak pernah menyesal.
Yang selalu mencintaimu,
Kimberly Reana ❤️
🌺🌺🌺
Chania tertegun membaca tulisan yang cukup panjang itu.
"Smith Arlington..."
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1