
Jangankan derasnya hujan, badai petir pun kan di lalui...
Sedikit banyak itulah gambaran atas ungkapan perasaan cinta yang teramat dalam oleh para pujangga yang sedang merasakan manisnya jatuh cinta.
Namun semua tidak akan pernah ada artinya jika tak terbalas, bukan?
Atau biasa di sebut, hanya bertepuk sebelah tangan. Lebih sadis lagi, jika cinta tak di restui.
Maka di posisi itulah yang kini di rasakan oleh seorang pemuda yang menginjak usia 31 tahun. Namun ia belum juga menikah. Karena cinta yang selalu gagal, dan sering kali tak terbalas.
Namun lebih anehnya lagi, dia bukanlah pria yang mudah jatuh cinta. Pernah mencintai, namun gagal karena suatu masalah yang di sengaja oleh orang lain. Pernah ke lain hati, namun tak mendapat restu dari kedua belah pihak karena satu permusuhan turun - temurun.
Entah, hal apa yang membuat ia sedikit gila. Ia yang tak mudah jatuh cinta, justru jatuh hati pada wanita hamil yang baru ia kenal.
Perut buncit berisi sepasang bayi kembar yang berasal dari benih pria lain pun, seolah tak menjadi penghalang untuk membulatkan niatnya mendekati sang wanita.
Berulang kali mendapat penolakan. Sama sekali tak menyurutkan keteguhan hatinya untuk mendapatkan cinta si ibu hamil.
Hingga sampai pada dimana kenyataan menunjukkan jika wanita hamil yang ia dambakan adalah istri sahabat karibnya di masa lalu.
Karena suatu konflik, membuat wanita hamil itu sampai harus mengubah data dirinya.
Kini, dimana kesempatan yang di janjikan oleh sang sahabat telah sampai di depan mata. Setelah beberapa minggu dari janji itu disepakati.
Berada di ketinggian 36.000 kaki, private jet milik seorang konglomerat Italia tengah mengudara. Membawa seorang Chef, yang juga seorang putra pengusaha restauran terkenal di daerahnya.
' Pada akhirnya aku kembali ke Roma! '
Batinnya menatap awan putih yang terlihat bagai untaian kapas - kapas yang berterbangan di udara.
' Seperti apa Carina sekarang? '
' Haah! kenapa juga aku jatuh cinta padanya! Lebih konyol lagi ia ternyata istri sahabat ku! Dan lebih gila lagi, sahabatku adalah Mafia! Pada akhirnya aku berurusan dengan Mafia! '
Menghela nafas berat. Hingga tak terasa pesawat telah berhasil mendarat.
"Tuan Reno, mobil jemputan ada di sebelah sana!" ucap seorang bodyguard Michael yang menjemput Reno.
"Hmm!" jawab Reno sekenanya. Bahkan tanpa menoleh bodyguard itu.
***
"Rumah Mafia memang lain dari yang lain!" gumam Reno saat mobil yang membawanya memasuki halaman rumah Michael. Melewati gerbang yang di jaga cukup banyak bodyguard.
Dan satu yang membuatnya sedikit tercengang. Bangunan berbentuk mercusuar yang menjulang tinggi, dengan satu orang penjaga. Sebuah teropong jarak jauh ada di sana. Terus bergerak, seolah memantau musuh yang bisa saja akan muncul tanpa di undang.
Turun dari mobil, ia di sambut oleh seorang pria berpakaian layaknya pelayan. Namun warna yang ia kenakan berbeda dari banyaknya pelayan yang berkeliaran.
"Selamat datang, Tuan Reno." sapanya.
"Iya."
"Saya Morich, kepala pelayan di rumah Tuan muda Michael." ucap Morich memperkenalkan diri. "Saya di perintahkan Tuan untuk menyambut kedatangan Tuan Reno."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Silahkan Tuan Reno ikuti saya!" ucap Morich mengarahkan tangannya ke arah pintu besar yang yang terlihat begitu mewah.
"Baiklah!"
Melangkahkan kaki, mengikuti langkah Morich, Reno semakin di buat takjub dengan keistimewaan rumah seorang Michael Xavier. Reno sendiri keturunan konglomerat berdarah biru di Italia. Hanya saja standarnya masih jauh di bawah keluarga Sebastian.
Dan yang ia tau tentang rumah Michael, hanyalah rumah utama. Yang kini di tempati Frederick dan Madalena. Itupun sudah 15 tahun silam. Sudah pasti akan jauh berbeda, bukan?
"Carina!" seru Reno melihat sosok yang sangat ia kenali duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tengah.
Seruan Reno membuat sosok cantik dan anggun itu menoleh ke arahnya. Memandang pria tampan itu dengan tatapan bingung.
Reno terus berjalan, dan tanpa ragu duduk di samping gadis yang tengah membaca majalah di atas bantal yang ia pangku.
"Kamu apa kabar, Carina?" tanya Reno antusias. Wajah terlihat begitu sumringah dan cerah.
"Maaf, siapa, ya?"
"Hah!" pekik Reno. "Kamu tidak mengenali aku?" hentak Reno tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu?"
"Carina... Carina... secepat itu kamu melupakan aku?"
"Carina?" tanyanya. "Saya bu..."
"Stop!" seru Reno menghentikan kalimat lawan bicaranya. "Jangan gila seperti Michael, suami mu yang menyebalkan itu!"
Kalimat Reno semakin membuat pusing gadis muda yang tak lain adalah Sania itu.
Batin Sania semakin bingung. Menatap aneh pada pria tampan namun terlihat sok akrab itu.
"Baiklah kalau kamu lupa dengan ku! mungkin dulu aku terlihat pendiam dan di sini aku terlihat seperti manusia konyol! Hahaha!" gelak Reno di ruang tengah yang begitu luas itu.
"Tapi saya tidak pernah melihat Tuan sebelumnya."
"Hey, girl! Aku ini Reno, Chef Reno!" ucap Reno penuh penekanan. Ia tak ingin malu, karena jauh - jauh datang, ternyata begitu sampai tak di kenali.
Haa, mungkin lebih baik jatuh di lubang jebakan bukan?
"Chef Reno?" tanya Sania. "Aa.. sepertinya anda salah orang! Saya Sa..."
"Jangan bersandiwara!"
Lagi - lagi kalimat Sania di potong oleh Reno.
"Tapi saya memang bukan Carina!" lanjutnya.
Reno mengerutkan kening, menatap dalam pada sosok yang sangat ia kenali. Dalam hati ia berfikir, rasanya tidak mungkin jika gadis itu tidak mengenalnya.
"Sudah datang kau!"
Suara berat dari tengah tangga yang meliuk dengan mewahnya membuat semua menoleh ke arah sana.
"Hah!" pekik Reno melompat dari sofa. Berdiri tegak dengan sepasang mata terbelalak menatap siapa yang berada di samping Michael. Setelah yakin itu Carina karena perutnya yang buncit, cepat - cepat ia mengalihkan pandangan pada sosok yang baru saja ia ajak bicara.
__ADS_1
"Ka...ka..kaa!"
"Apa yang ingin kau katakan!" tanya Michael setengah sinis. Meraka sudah berada di anak tangga paling bawah.
"Yang mana yang Carina?" tanya Reno dengan mata yang belum bisa berkedip dengan sempurna. Wajah bodoh jelas terlihat di sana. Menutupi ketampanan serta kepandaiannya dalam bidang masak - memasak.
"Carina itu hanya cerita dalam negeri dongeng yang kau impikan, bodoh!" sembur Michael tepat di depan Reno. "Ini Chania, istriku! Bukan Carina dalam kisah mu itu!" ucap Michael merangkul pundak Chania. "Dan ini Sania!" menunjuk saudara kembar istrinya.
"Sania?" tanya Reno menatap Sania yang masih duduk di sofa. Seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Iya!" jawab Sania. "Bukan kah tadi saya sudah bilang, kalau saya bukan Carina." protes Sania. "Tapi Tuan enggan mendengar penjelasan saya! dan keukeh menganggap saya Carina istri Michael!"
"Tunggu dulu! Kalian kembar?"
"Bukan! tapi sama!" potong Michael menoyor dahi Reno. Hingga kepala pria itu berayun ke belakang, dan membuatnya tersadar penuh dari ketegangan yang terjadi.
"Tch!" Reno berdecih membalas Michael dengan memukul kuat lengan Michael.
Tapi sekuat apapun pukulan Reno, sama sekali tak terasa di tubuh sang Mafia.
Pertempuran di medan perang yang ia lakoni sejak usia belasan tahun. Dan berbagai pelatihan juga ilmu bela diri yang ia pelajari sejak balita membuat tubuhnya jauh lebih kuat, dan terbiasa dengan hantaman.
Pukulan Reno baginya hanyalah seperti pukulan gadis manja yang sedang merajuk karena ingin di mengerti. Meskipun banyak yang bilang wanita sulit di mengerti.
Menghela nafas, "By the way ... apa kamu juga sudah menikah?" tanya Reno pada Sania, mendadak dirinya menjadi sok akrab pada gadis yang baru ia kenal.
"Belum!" jawab Sania datar dengan gelengan kecil.
Senyuman nakal dan menggelitik terbit dari bibir manis Reno. Seolah rencana jitu seketika muncul dalam benaknya.
' Tak ada rotan akar pun jadi ... '
"Jangan macam - macam!" sembur Michael menatap tajam Reno. Michael yang sangat peka, dapat dengan mudah menebak isi pikiran sahabatnya itu.
"Emm.. Michael! sepertinya lebih baik kamu mengurusi Carina, eh.. maksudku Chania.. Dia kan sedang hamil. Jangan buat dia kelelahan. Ajak dia istirahat di kamar saja. Oke?" ucap Reno menatap penuh harap dengan senyum manis.
Usahanya tidak boleh gagal, itulah yang ia pikirkan.
"Kenapa kau jadi begini?" tanya penuh curiga.
"Sudahlah... kembalilah ke kamar kalian... Jangan ikut campur urusan anak muda. Okay!" ucap Reno. "Kamu mengerti kan wahai Tuan Mafia?"
"Siapa yang masih muda?" Michael memicingkan matanya.
"Tentu saja aku, Mich!" dengkus Reno susah tak tahan. Sepertinya Michael akan mempersulit jalannya, pikir Reno.
"Hah! Anu mu saja hampir berkarat karena terlalu lama menganggur dan sekarang kau bilang masih muda!" seru Michael. "Hahaha!" gelak Michael mengejek.
"Hah, Anu?" sahut Sania bingung.
Sontak semua menoleh Sania yang terlihat seperti anak kecil yang sedang menguping pembicaraan orang dewasa. Dan tidak pahan apa yang di maksud mereka.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1