SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 296


__ADS_3

Empat orang yang menyaksikan tiga orang di tengah ruangan, berusaha bergerak cepat begitu menyadari amarah sang Tuan mafia semakin terlihat membara. Seolah sudah tidak sabar untuk membunuh laki-laki yang berani mengencani putrinya secara sembunyi-sembunyi itu.


"Menyingkir lah kalian semua... Aku tidak bisa semudah itu membiarkan lelaki ini mendekati putriku!" desis sang mafia di depan sang istri yang memeluknya dari depan.


"Daddy?" panggil Jio dengan suara tenangnya. "Tidak semua pengkhianat Klan harus tewas di tangan Daddy." lanjutnya.


"Dan tidak semua masalah harus berakhir dengan sebuah hukuman seperti ini, Honey..." sambung Chania menangkup wajah tampan suaminya yang masih jelas memperlihatkan amarah membara di sana.


"Calm down, Honey... Calm down..." suara lembut berusaha merasuki relung hati sang naga hitam yang sedang di bakar api secara tidak langsung.


"Uncle... please! Mereka berdua pasti punya alasan kenapa melakukan semua ini," sahut Tuan muda Harcourt. "Kita semua di sini tau, betapa Uncle sangat di takuti. Bahkan Jellow sendiri tak pernah sedikitpun berusaha untuk membantah Uncle. Karena Jellow takut dengan amarah Uncle."


"Kita tidak pernah tau, kepada siapa kelak kita akan jatuh cinta." lanjutnya. "Mereka hanya salah mengambil keputusan dengan menjalin hubungan diam-diam. Dan itu pasti di lakukan karena takut Uncle menolak di saat cinta mereka baru terungkap antara satu sama lain." jelas Jellow dengan masih memeluk sepupunya yang menangisi wajah tampan kekasihnya.


"Ya, Honey... Jellow benar.. Kita bisa membicarakan semua ini baik-baik bukan?" sahut Chania menatap khawatir pada wajah sang suami yang masih memerah dan nafas yang terengah.


"Maafkan saya! Saya memang pantas di beri hukuman apapun!" sahut Xiaoli menunduk hormat pada semua orang . di depan nya. "Saya mengaku salah karena melawan kasta!" lanjutnya dengan dada menahan sesak luar biasa, ketika mengingat kasta mereka yang jauh berbeda.


"Klan Black Hold tidak mengenal Kasta!" sahut Jio menoleh kepada Xiaoli dan menatap tajam pada kekasih saudara kembarnya itu.


Xiaoli kembali terdiam, ia bisa merasakan jika sang Tuan muda masih memiliki hati nurani padanya.


"Tidak semua kesalahan adalah bentuk dari pengkhianatan, Daddy." ucap Jio kembali menatap sang Ayah.


"Dan kau salah satunya?" desis Michael menatap penuh intimidasi pada sang putra mahkota.


"Apa maksud kamu, Honey?"


"Dia tau semuanya!!" desis Michael dengan gigi yang mengerat. Tatapannya tak lepas dari sang putra sulung.


Seketika lidah Jio merasa tercekat dengan apa yang di maksudkan sang Daddy. Sejak pisau Michael di lempar ke arahnya, ia sudah tau jika sesungguhnya sang Ayah sudah mencurigai dirinya.


"Tau semua?"


"Ya! Putra mu itu tau jika mereka berdua menjalin hubungan di belakang kita semua!" jawab Michael membuat Jio terdiam. "Dan dia tidak memberi tau kita!"


Sontak Chania, Jellow termasuk Jia menoleh pada Jio yang menghela nafas lirih.


"Maafkan aku!" jawab Jio. "Aku hanya ingin memberi dia kesempatan untuk berani mengakui semuanya sendiri!" lanjutnya melirik Xiaoli sekilas.


"Sejak kapan kamu tau, Jio?" tanya Chania heran.


"Kemarin lusa, Mommy!"


"Dan kamu sengaja merencanakan semua ini? keributan ini?" tanya sang Mommy. "Kamu tau seperti apa jika Ayahmu sedang marah, bukan?" lanjut sang Ibu heran.

__ADS_1


"Tidak seperti ini, Mommy!" jawab Jio menghela nafas resah. "Aku hanya ingin tau dia berani atau tidak mengakui semua ini. Aku tidak mau Jia jatuh di tangan lelaki pengecut yang tidak berani menghadap Daddy!" lanjut Jio membela diri.


"Apa jadinya jika aku memberi tau Daddy dan Mommy begitu aku tau mereka menjalin hubungan di belakang kita?" tanya Jio menatap orang tuanya secara bergantian. "Yang ada Daddy akan semakin murka! Selain merasa di khianati, juga merasa Xiaoli adalah seorang pengecut!"


"Bukankah Daddy selalu menginginkan laki-laki yang pemberani dan tangguh untuk Jia?" tanya Jio.


Semua terdiam dengan penjelasan sang putra mahkota. Tidak ada yang berbicara lagi. Hanya nafas dari masing-masing setiap insan saja yang terdengar.


"Sudahlah Uncle, Aunty, Jio... Kita selesaikan semua ini dengan kepala dingin..." sahut Jellow kemudian, setelah merasa gadis di pelukan sudah tidak menangis separah tadi. "Kita duduk bersama.. Ayo Aunty..." pinta Jellow untuk membawa sang paman duduk bersama.


"Hmm..." sahut Chania.


Chania mengusap dada bidang yang setiap hari memberinya pelukan hangat, kemudian mengarahkannya untuk berjalan dan duduk di kursi-kursi yang tersedia.


Jio mengikuti langkah kedua orang tuanya. Sementara Jia, saat ia hendak mendekati Xiaoli yang masih membeku di tempat, tangan kekar Tuan muda Harcourt reflek menyambar tubuh ringkih itu untuk tidak melanjutkan keinginan.


"Jangan sekarang!" desis Jellow mengunci gadis itu supaya tidak bisa mendekati Xiaoli. Kemudian berusaha membawa Jia untuk mengikuti langkahnya menyusul keluarganya.


"Tapi lihat wajahnya!" sahut Jia berusaha untuk memberontak. "Dia babak belur, Jellow! Kasihan!" rengek Jia berbisik dengan tatapan memohon pada Jellow.


"Aku bilang jangan sekarang kalau kalian mau selamat!" desis Jellow tegas dengan gigi yang mengerat karena jengkel dengan sepupunya yang sedang di mabuk cinta satu ini.


"Jellow, please!" mohon Jia.


"Jangan membantah! Setidaknya untuk saat ini saja, Jia!" jawab Jellow sembari terus mengunci tubuh sepupunya untuk berjalan ke tepi.


Akhirnya Jia hanya bisa menatap Xiaoli yang masih berdiri menunduk dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan. Sepasang matanya yang masih basah oleh air mata, menatap pilu dan penuh kesedihan akan pipi Xiaoli yang berdarah.


Hingga kini semua sudah duduk di kursi yang telah di tata oleh Jack dan Dimitri. Sedang Xiaoli masih berdiri seperti saat di ruang tengah. Berdiri seperti seorang pesakitan yang sedang di sidang. Namun ada Jack dan Dimitri yang juga berdiri di belakangnya.


"Mommy? please... Bantu Jia..." mohon Jia pada sang Ibu yang duduk di sampingnya. "Kami saling mencintai, Mommy... Jia mohon... jangan pisahkan kami..."


Jia memilih untuk merengek pada sang Ibu yang di yakini pasti memiliki hati dan jiwa yang lebih lembut di banding sang Ayah yang mudah tersambar amarah.


"Memang tidak ada yang salah, Jia... hanya cara yang kalian ambil saja yang kurang tepat..." jawab sang Ibu.


"Tapi apa yang di jelaskan Kak Jio itu benar adanya, Mommy! Seperti itulah kami!" air mata yang sudah berhenti kembali menetes.


Semua kembali terdiam, dan hanya suara tarikan nafas panjang saja yang terdengar di ruangan itu. Membuat suasana semakin menegangkan.


Michael menoleh sang putri, dan menatap wajah cantik dan basah oleh air mata itu dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi. Jia sangat sadar jika tengah di tatap sedemikian menakutkan oleh sang Ayah.


Jika biasanya Jia merasa ngeri dengan tatapan itu, maka demi cintanya pada sang bodyguard, kali ini Jia justru ...


Mengusap air mata dengan kasar. Kemudian dia berdiri menghadap empat orang dengan kedudukan tak jauh beda dengan dirinya. Menatap mata mereka satu persatu dengan nafas yang tersengal.

__ADS_1


Dan itu membuat Xiaoli merasa semakin khawatir, jika sang Tuan Mafia akan marah dan berbuat yang menyakitkan untuk sang kekasih. Ingin rasanya ia berlari dan menghalangi Jia untuk ikut maju berkorban demi cinta mereka.


"Daddy dan Mommy juga saling mencintai, bukan?" tanya Jia dengan sedikit tekanan nada bicara. Matanya menatap netra Ayah dan Ibunya dengan tajam. Di sini sorot mata seorang Michael Xavier terpancar dari sang anak gadis.


"Bagaimana jika kalian saling mencintai tapi dunia tidak merestui?" tanya Jia menahan sesak di dada. "Kak Jio bisa bebas mendekati gadis manapun yang ia suka! Meskipun mereka bukan ahli pedang atau putri konglomerat sekalipun. Tapi kenapa Jia tidak bisa sebebas itu untuk mencintai?"


"Selalu saja yang aku dengar kalian bicara jika Jia butuh laki-laki yang bisa menjaga Jia melampaui kalian, meratukan Jia seperti cara Daddy meratukan Mommy! Bukan hanya dari segi cinta dan kekuatan, tapi juga harta!" engah sang anak gadis.


"Kalau Daddy saja di juluki mafia paling menakutkan dan terkaya nomor satu di Italia, lalu di mana Jia bisa menemukan laki-laki seperti Daddy?" tanya Jia.


"Please, Daddy! Bayangkan posisi Jia yang merupakan anak seorang MIchael Xavier! Mafia paling di takuti di Italia! Siapa yang berani mendekati Jia? Siapa, Daddy?" tanya Jia kembali meneteskan air mata pilunya. Merasa tidak mudah untuk bisa menjadi anak perempuan seorang Mafia.


Kalimat sang putri menyentil relung hati Mommy Chania. Ia sama sekali tidak menentang perbedaan kasta. Hanya tidak suka mendengar keduanya ternyata menjalin hubungan secara diam-diam. Sebagai seorang Ibu pasti dia berpikir, apa yang sudah di lakukan oleh mereka di belakangnya.


"Please, Daddy..." mohon Jia kembali terdengar setelah beberapa detik semua hanya diam.


"Honey..." panggil Chania pada Michael dengan suara yang selalu menenangkan jantung dan hati sang Mafia itu.


Semua menoleh pada Nyonya besar yang sepertinya akan berbicara serius pada Tuan besar.


"Aku rasa apa yang di ucapkan oleh Jia itu benar... Biarkanlah mereka menjalin hubungan.." ucap Mommy Chania. "Lagi pula siapa yang bisa menjaga Jia dengan baik jika bukan dari kalangan kita sendiri?" tanyanya.


"Jadi menurut Mommy... biarkanlah Jia dan Xiaoli melanjutkan hubungan mereka, asal mereka tau batasan." ucap sang Ibu menatap Jia dan Xiaoli bergantian.


Meski ada nafas lega yang keluar dari dada Jia karena sang Ibu sudah merestui, tetap saja kalimat sang Ibu membuat seisi ruangan menahan nafas mereka. Menanti jawaban apa yang akan di keluarkan oleh sang naga hitam.


Untuk sesaat ruangan yang cukup luas itu sepi sunyi tanpa suara. Semua hanya menunggu jawaban dari sang Mafia yang tampak masih berpikir. Namun wajah sang Tuan besar sudah tidak semerah tadi. Suara lembut sang istri memanglah obat paling mujarab untuknya.


Lama menanti, sang naga hitam justru berdiri tegak. Menatap satu persatu orang-orang di sekitarnya dengan tatapan yang membuat nafas mereka semakin teras sulit.


Tanpa berkata apapun, sang mafia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan meninggalkan kumpulan orang-orang yang menanti jawabannya.


Semua tampak saling tatap satu sama lain secara bergantian dengan menahan rasa kecewa akan sikap sang Tuan besar.


Chania yang masih duduk, bisa dengan jelas melihat kekecewaan di wajah sang putri yang seketika meneteskan air mata. Tanpa bisa berucap, mereka menghembuskan nafas dengan berat.


"Kalian bisa melanjutkan hubungan kalian dengan satu syarat!"


Tiba-tiba suara sang naga hitam menggaung di ruangan itu. Membuat semua menoleh pada sosok yang membelakangi mereka itu.


Ada harapan yang tak mungkin mereka sia-siakan. Meski ada syarat, semua yakin jika syarat ini pasti lebih mudah di banding harus di gantung di tiang pelepasan nyawa.


Itu terlihat dari cara sang mafia berucap, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Nafas yang semula di hempas, kini di tahan kembali setelah di tarik ulang untuk masuk ke paru-paru. Semua menunggu syarat seperti apa yang akan di ucapkan oleh sang mafia.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2