
Kita tidak pernah tau kepada siapa kita akan jatuh cinta. Terkadang perbedaan yang kasat mata dan ta kasat mata selalu menyertai di setiap hubungan yang di jalin oleh dua insan manusia.
Contohnya saja Jia, anak orang terkaya di negaranya, yang justru mencintai seorang bodyguard. Begitu juga sebaliknya. Sang bodyguard yang menyadari posisinya justru mencintai majikannya. Namun bukan harta yang membuat bodyguard tersebut mencintai anak majikannya. Tapi karena memang semua itu tumbuh dengan sendirinya.
Mencuri pandang saat berada di ruang tengah, berlanjut dengan saling melempar kata I love you tanpa suara, sudah bisa membuktikan jika keduanya memang saling mencintai. Sorot mata Jia benar - benar menunjukkan jika dia mencintai Xiaoli.
Xiaoli sendiri memberikan sorot mata yang sama, meski bibir hanya tersenyum samar.
Jia yang masih mudah terbawa arus, hampir saja melompat ketika tiba - tiba Jio dan Jellow keluar dari ruang kerja setelah 5 menit di dalam sana. Dada kembang kempis menatap ketika Jia melihat sang Kakak sudah memegang kunci mobilnya.
Ya, dia akan mendatangi rumah sang kekasih untuk mencicipi makan siang buatan sang kekasih.
Seperti itulah Jio untuk Virginia, seseorang yang setia menunggunya sejak kecil. Apapun yang sedang ia lakukan pasti akan di tinggalkan untuk Virginia seorang.
"Aku pergi dulu!" pamit Jio menepuk pelan pundak Jellow yang berdiri di samping Jia.
"Ok! brother!" jawab Jellow membalas tepukan Jio dengan sebuah tepukan yang sama.
Tergelak menatap punggung Jio, Jellow melirik sepupu perempuannya.
"Sebucin itu Jio pada kekasihnya?" tanya Jellow pada Jia.
Menghela nafas, "Itu namanya SE...TI...A!" ucap Jia memperjelas kata setia dengan mata yang melirik Xiaoli yang masih berdiri di sana.
Sadar jika seolah sedang di ingatkan, Xiaoli setengah mati mengulum senyum di bibirnya. Semakin gemas lah sang bodyguard dengan Jia yang langsung tersenyum manja.
"Cih! setia?" tanya Jellow terkekeh kecil. "Kata - kata macam apa itu?" ejek Jellow.
Sontak Jia menoleh sang sepupu yang di anggap meremehkan kata setia yang ia ucapkan. Sungguhlah ia tidak terima, sampai senyum manja di bibirnya lenyap begitu saja.
"Kamu mau tau setia itu apa?" tanya Jia. "Setia adalah sesuatu yang paling mahal yang di miliki seorang laki - laki. Melampaui mahalnya seluruh harta yang kamu punya di muka bumi ini!" jelas Jia dengan suara sedikit menghentak, supaya sang kekasih yang masih berdiri tidak jauh darinya juga ikut mendengar.
Jellow memiringkan bibirnya mendengar penjelasan Jia. Dan Xiaoli lagi - lagi mengulum senyumnya. Ia tau jika Jia bukan hanya sekedar memberi penjelasan pada sepupunya. Tapi juga sedang menceramahi dirinya secara tidak langsung.
__ADS_1
"Jadi menurut ku Kak Jio adalah lelaki yang sangat mahal! Dan Virginia sama sekali tidak salah sudah memperjuangkan Kak Jio sedemikian jauh!" ucap Jia. "Virginia berhak mendapatkan yang termahal dari termahal!"
"Jadi menurutmu aku ini murahan?" tanya Jellow.
"Kamu bukan hanya murah! tapi juga gila!" sembur Jia mengejek sang sepupu yang merupakan buaya darat dan suka mengencani gadis - gadis di usianya yang masih 17 tahun.
Usia boleh 17 tahun, tapi di kehidupan yang modern ini merek sudah memiliki kebebasan yang luar biasa. Apalagi kehidupan di Eropa yang benar - benar membebaskan hubungan apapun yang ingin di lakukan oleh sepasang laki - dan perempuan. Di tambah postur tubuh mereka yang tinggi, dan uang yang melimpah. Apa yang tidak bisa mereka dapatkan?
"Sialan!" umpat Jellow lirih di ejek gila oleh sepupunya sendiri.
"Itu kenyataan! bukan sialan!" sembur Jia lagi.
"Kamu tidak tau saja rasanya jadi laki - laki! Laki - laki itu punya hasrat yang sulit untuk di bendung. Tidak seperti kamu yang bisa dengan mudah membendung rasa ingin untuk bercinta! Kalau tidak percaya tanya saja pada dia!" Jellow menunjuk Xiaoli.
Jia mendelik mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Jellow. Apalagi pemuda itu sampai menyebut nama kekasihnya, yang artinya Xiaoli termasuk dalam golongan yang di maksud oleh Jellow.
Sontak Jia menoleh sang kekasih yang masih mendengarkan perdebatan mereka. Mata bulatnya semakin bulat dan lebar saat melihat wajah kekasihnya yang sedang mengulum senyum.
"Apa kamu juga seperti itu, Xiaoli!" tanya Jia menanyai sang kekasih dengan sedikit menghentak.
"Cih! jangan munafik kamu, Xiaoli!" sahut Jellow. "Kita sama - sama lelaki, aku tau seperti apa pergerakan hormon di dalam tubuh kita!" lanjut Jellow yang tak tau jika ia seolah sedang menjadi kompor di antara sepasang kekasih.
Mau bagaimana lagi, Jellow tidak tau kalau Jia dan sang bodyguard adalah sepasang kekasih.
Jia semakin mendelik menatap sang kekasih. Jika saja seluruh dunia tau, jika keduanya adalah sepasang kekasih, mungkin saat ini dia sudah meninju mulut Jellow dan menyerang sang kekasih dengan berbagai pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang jelas memiliki bukti.
Tapi dunia tidak tau apa hubungan mereka selain bodyguard dan anak majikan.
"Tapi saya tidak semudah itu menuruti rasa ingin, Tuan Muda Harcourt!" jawab Xiaoli datar dan penuh keseriusan. Senyum yang semula ia tahan sudah lenyap ketika melihat wajah Jia yang seolah ingin menelannya hidup - hidup.
"Hah! yakin kamu?" tanya Jellow dengan sedikit mengejek. Sebagai seorang lelaki yang terbiasa berkencan sana - sini, bahkan dengan gadis yang lebih tua darinya, pasti rasa tak percaya tentu lebih tinggi.
"Yakin, Tuan"! jawab Xiaoli serius.
__ADS_1
Jia merasa lega mendengar jawaban Xiaoli. Ia yakin sang kekasih bukan golongan semacam Jellow dan Daddy nya.
Jellow mengerutkan keningnya, "Apa itu juga yang di lakukan oleh Jio?" gumamnya.
"Tentu saja!" sahut Jia ganti menatap tajam Jellow setelah melempar senyum puas pada sang kekasih.
"Cih! hidup kalian pasti membosankan!" cibir Jellow.
"Diam kamu Jellow! jangan membahas hobi mu di depan Xiaoli!" sembur Jia.
"Memangnya kenapa?" tanya Jellow yang memang tidak menyadari jika dirinya bersalah.
Jia menoleh sang kekasih, bingung harus menjawab apa.
"Ya...yaa.. po..pokoknya jangan!"' jawab Jia bingung.
"Maaf Tuan Muda dan Nona Muda, Saya harus mengecek gudang." pamit Xiaoli mengangguk hormat. Ia tau maksud dari kebingungan sang kekasih. Meninggalkan ruangan adalah jalan ninja terbaik untuk saat ini.
"Ya, pergilah, Xiaoli!" jawab Jia dengan senyuman cerah. Ia tak perlu meminta Jellow untuk berhenti bicara tentang hal itu di depan sang kekasih.
"Permisi, Nona Muda dan Tuan Muda.." Xiaoli pun melangkah setelah Jellow mengangguk datar.
"Memangnya kenapa kalau aku berbicara di depan Xiaoli?" tanya Jellow masih penasaran.
"Oh, my God! aku kira pertanyaan mu akan berkahir setelah Xiaoli pergi!"
"Hah?" pekik Jellow semakin penasaran dengan larangan Jia.
Jia semakin salah tingkah, ia tau jika ia sudah salah bergumam.
"Tidak apa - apa! sebaiknya jangan banyak bicara di depan bodyguard!" kilah Jia tak menemukan alasan terbaik. Dan buru - buru ia mengambil langkah seribu dengan masuk ke dalam lift untuk kembali ke kamarnya d lantai dua.
"Aneh!" gumam Jellow yang di tinggal seorang diri di ruang tengah rumah keluarga Xavier.
__ADS_1
Hingga terdengar pintu kamar di lantai dua terbuka. Kemudian langkah kaki terdengar menuruni tangga.
...🪴 Bersambung ... 🪴...