SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 99


__ADS_3

🍄 Paris, Perancis.


"Sania! ikat sepatuku!" titah seorang perempuan culas berusia sekitar 30 tahunan. Ia sodorkan kedua kaki pada adik angkat yang ia jadikan sebagai asisten serba bisa. Kedua tangannya sibuk memilih cincin berlian yang cocok untuk malam ini.


Dialah Margareth Gareen. Seorang model terkenal di Perancis. Wajahnya sering berseliweran di majalah, social media bahkan dunia pertelevisian Perancis. Meski tidak sampai merambah dunia, akan tetapi keluarga Gareen cukup terkenal di Perancis.


"Iya, Nona." jawab gadis yang di panggil Sania itu sembari berjongkok, dan memakaikan sepatu high heels dengan tali kecil panjang yang meliuk - liuk di pergelangan kaki.


Setelah kedua kaki terbalut sepasang high heels dengan merek kelas dunia, Margareth berdiri mendekati cermin besar, memandang tubuh sempurna miliknya.


Berbalut gaun malam berwarna hitam mengkilap nan ketat, dimana bagian belakang menjuntai hingga melewati mata kaki. Bagian depan terdapat belahan hingga di ujung paha atas. Beberapa senti meter lagi pasti sejajar dengan pangkal pahanya.


Bagian dada memperlihatkan belahan molek nan padat. Tanpa lengan, tanpa kain tile sedikitpun. Dada putih mulus dengan kalung berlian yang menggantung di lehernya terekspose sempurna. Menambah kesan seksi dan elegan pada dirinya.


Rambut pirang nan panjang di biarkan tergerai, dengan sedikit gelombang di ujungnya. Di bagian kiri dekat telinga, ada hiasan kecil untuk menyempurnakan keindahan bagian kepala.


Ia begitu mengagumi kecantikan paripurna yang ia dapatkan malam ini. Dan ia siap untuk mendatangi pesta meriah sebuah perusahaan besar yang juga menaungi dunia modeling nya.


"Perfect!" gumamnya lirih dengan senyum sombong yang terlihat jelas di wajahnya.


Ia ambil sebuah clutch, dari dalam almari kaca. Dimana banyak sekali tertata tas dan clutch dari brand dunia. Seperti yang kita tau, Paris adalah pusat fashion dunia. Jadi tidak salah jika penduduknya begitu kental dengan barang brand dunia.


' Malam ini aku harus mendapatkan mu! '


Desisnya dalam hati, dengan seulas senyuman culas.


"Bukakan pintu!" titah Margareth pada Sania yang masih setia berdiri di belakang Margareth.


Dengan cepat Sania membuka pintu walk in closed. Margareth keluar dengan keangkuhan yang sudah tertanam sejak kecil.


Sania kembali mengikuti langkah Margareth keluar dari salah satu rumah megah yang berjajar di gang elite di tengah kota Paris.


Sebuah mobil keluaran terbaru menyambut kedatangan Margareth. Dan lagi - lagi Sania mengikuti Margareth memasuki mobil dengan tangan yang selalu membawa beberapa keperluan milik Margareth.


Dialah Sania Arlington...


Gadis yang di angkat sebagai anak oleh seorang Alexandre Gareen 19 tahun silam di Italia. Saat gadis itu berusia kurang lebih 4 tahun, di sebuah panti asuhan terpencil.


Mobil melaju menuju sebuah hotel berbintang. Dimana di sana tersedia Convention Hall yang saat ini sudah di hias sedemikian mewah. Memperlihatkan siapa pemilik acara malam ini.


"Seperti biasa! tutup matamu! dan jangan campuri urusanku!" ucap Margareth saat melangkah bersama memasuki lift, menuju lantai 5. Dimana pesta 90 tahun White Lion Group di selenggarakan.


Perusahaan yang menaungi berbagai macam dunia bisnis itu saat ini telah di pimpin oleh generasi ketiga dari sang pendiri. Konon setiap tahun grafik perusahaan selalu meningkat. Harga saham pun terus merangkak naik.

__ADS_1


Tidak salah jika banyak wanita berlomba merebutkan hati sang CEO yang di gadang - gadang sebagai pewaris tunggal White Lion Group.


"Baik, Nona!" jawab Sania berdiri satu langkah di belakang Margareth. Yang sebenarnya adalah kakak angkatnya.


"Dan jika ada yang bertanya siapa namamu, jangan pernah menyebutkan nama lengkap mu!" lanjutnya setengah kesal. "Ingat! ini pesta besar!"


"Saya paham, Nona!"


"Hemm!" jawab Margareth cuek.


Menyerahkan undangan resmi kepada panitia, Margareth bisa melenggang bebas memasuki Convention Hall. Berbaur bersama mereka yang juga sama - sama sosialita berkelas.


Sania dengan pakaian sederhananya, terus berjalan di belakang Margareth dengan sedikit menunduk. Merasa malu namun ragu untuk protes. Karena banyak dari mereka yang juga seorang asisten pribadi, tapi berpakaian jauh lebih layak untuk mendampingi artis mereka menghadiri pesta pengusaha kaya raya asal Perancis.


"Margareth, Sania?" panggil seseorang dari arah kanan.


Sontak keduanya menoleh. Mereka sangat hafal dengan suara itu. Suara berat yang jika marah maka dunia akan terasa seperti gempa bumi bagi keduanya.


"Papa!" pekik Margareth.


"Selamat malam, Pa." sapa Sania menunduk hormat. Namun seketika itu mendapat lirikan mematikan dari Margareth. Sania yang paham lirikan


"Hemm.." Alexandre mengangguk pelan. Matanya meneliti Sania dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kenapa pakaianmu seperti ini, Sania?" tanya Alexandre.


"Sania, kenapa kamu memakai baju seperti ini?" tanya Alexandre.


"Em.. Sania tidak nyaman memakai baju pesta, Pa." jawab Sania setulus mungkin.


"Tapi ini pesta besar, Sania," ucap Alexandre. "Klien perusahaan Papa."


"Maaf, Pa!" Sania menunduk. Tak berani lagi menatap mata sang Papa angkat.


"Margareth, kamu pasti bawa baju ganti 'kan?" Alexandre beralih pada putri tunggalnya.


"A... tidak, Pa!" jawab Margareth datar.


"Bukankan mobil mu selalu penuh dengan baju?" tanyanya. "Pinjamkan pada Sania!"


"Hah! pinjamkan baju pada Sania?" mendelik tak percaya. "No, Papa! Margareth tidak mau baju Margareth di pakai oleh orang lain. Malu kalau sampai tertangkap kamera paparazi, Pa!"


"Orang lain bagaimana? dia adikmu!"


"Angkat, Papa!" jelas Margareth lirih.

__ADS_1


"Benar - benar kamu Margareth!"


"Sebaiknya Papa segera bergabung dengan yang klien, Papa. Sania tidan masalah seperti ini."


Menghela nafas berat. Alexandre mengusap lembut lengan Sania.


"Maafkan Papa, Sania. Papa sudah di tunggu Mr. Harcourt!"


"Iya, Pa." jawab Sania tersenyum manis.


"Perlakukan Sania seperti adik kandungmu, Margareth!"


Tersenyum culas, "Apaan sih Papa!" gerutunya kesal.


Alexandre menggelengkan kepalanya pelan. Lelah menghadapi putri manja yang tak pernah mau mendengar ucapannya sejak kecil. Alexandre melenggang meninggalkan dua perempuan yang di ketahui sebagai anaknya.


***


📞 "Kami sedang menunggu kesempatan untuk bisa menemui Nona Sania, Tuan Jack!"


📞 "Kalian sudah menemukannya?"


📞 "Sudah, Tuan. Nona Sania sedang bersama model bernama Margareth Gareen."


📞 "Ya! terus pantau! pastikan kalian menemukan waktu yang tepat untuk bisa bicara dengannya!"


📞 "Siap, Tuan."


***


"Jangan mengikuti aku! kau duduk saja di pojok sana!" ucap Margareth pada Sania.


"Iya!"


Sania berjalan ke tepi. Duduk menyendiri di barisan kursi paling tepi. Menjauh dari mereka yang berdandan layaknya sosialita. Menatap pilu pada keramaian. Sang CEO belum muncul, namun ruangan sudah seperti lautan manusia.


"Selamat malam, Nona Sania Arlington?" sapa seseorang dari samping, membuat gadis itu menoleh.


"Malam...." Sania menatap diam pada pria di hadapannya. Mengingat - ingat, apakah ia mengenal orang tersebut. Namun ingatannya nihil.


ðŸŠīðŸŠīðŸŠī


Happy reading ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


Maaf, off 2 hari karena beberapa kesibukan yang tak bisa do tunda 🙏ðŸĨ°


__ADS_2