SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 72


__ADS_3

🌹 Dimanakah Chania? #part1


🍄 Empat bulan yang lalu...


Terjadinya drama di istana Michael Xavier malam itu adalah rencana Chania. Sepanjang hari ia mencari cara teraman untuk bisa keluar dari istana Michael.


Meminta izin? Pergi secara terang - terangan? Atau kabur?


Semua itu tidak mungkin berhasil membuatnya lolos dari penjagaan para pengawal yang jumlahnya tidak sedikit.


Sehingga apalagi yang bisa ia lakukan selain mensiasati.


Memiliki obat tidur yang ia dapat dari pesan secara online dengan metode pengiriman satu jam sampai. Membuatnya menggenggam obat tidur dalam waktu beberapa jam saja dari rencananya.


Sengaja mengalihkan perhatian para Chef yang sedang bekerja, ia berhasil memasukkan obat tidur ke dalam adonan desert khusus untuk pengawal dan maid.


Sesuai permintaannya, ia meminta sebagian untuknya. Namun alih - alih ia makan, ia justru menyuapkan desert itu pada Michael saat makan malam.


Sehingga saat menunjukkan setengah sepuluh malam, seluruh penghuni istana Michael termasuk para pengawal dan maid di rumah belakang yang sedang tidak bertugas terlelap dalam tidur yang panjang.


Memastikan sang suami benar - benar tenggelam dalam mimpinya, kemudian segera masuk ke dalam walk in closed.


Menarik koper besar miliknya, memasukkan semua baju sederhananya dan semua barang yang ia bawa saat pertama kali memasuki rumah Michael. Termasuk diary usang sang Mama.


Ia sengaja meninggalkan semua barang berharga yang di berikan Michael selama menjadi istrinya.


Terakhir yang ia lakukan setelah mengganti baju tidur dengan baju hangat ialah, memindahkan semua sisa isi rekening yang di berikan Michael ke rekening pribadinya.


Menghapus jejak aplikasi, kemudian sengaja meninggalkan ponsel juga kartu - kartu yang di berikan Michael di atas etalase perhiasan.


Dan tanpa sadar meninggalkan benda berharga berupa hasil testpack yang ia simpan di dalam kotak.


Setelah semua siap, segera menarik koper keluar dari walk in closed. Di depan pintu ia berhenti, menatap sendu sekaligus kecewa pada sosok pria yang terlelap di atas ranjang.


Beberapa detik kemudian pandangannya beralih menyusuri setiap inchi dari kamar mewah itu. Terakhir menatap langit - langit kamar dengan lukisan naga. Lukisan yang membuatnya kagum. Karena dapat menggambarkan betapa berkuasanya sang penghuni kamar itu.


Kamar mewah dan megah yang menjadi saksi bisu pergumulan itu menuliskan kisah tersendiri di hati Chania. Menjadi saksi bisu terenggutnya kesucian yang ia jaga selama 22 tahun.


Berjalan pelan, mendekati ranjang dimana sang pemilik istana dalam pengaruh obat tidur yang ia berikan. Berdiri di sampingnya.


"Meskipun aku kecewa, aku tidak akan pernah melupakan dirimu, Tuan Mafia. Bagaimanapun kau adalah cinta pertamaku." Chania mengusap garis tegas wajah Michael menggunakan punggung jemarinya.


"Maafkan aku, aku harus pergi... Aku harus menyelamatkan dua janin kita." Chania memegang perutnya dengan hati yang bergetar dan remuk. "Dia sudah hampir 18 minggu, Tuan. Mereka dalam keadaan sehat. Bagaimanapun juga aku berharap, kelak saat mereka sudah dewasa kalian akan bertemu. Dan semoga jika saat itu tiba, kau tidak keberatan dengan kehadiran mereka." lirih Chania


"Untuk saat ini aku akan merawat mereka, walau seorang diri. Hanya mereka yang akan menjadi pelebur rasa sakit atas kenyataan pahit ini, Tuan." Menekan dalam hatinya saat mengatakan kata sakit hati. Bagaimanapun juga kenyataan itu memang menusuk jantungnya hingga bagian terdalam.


Chania mendaratkan kecupan di kening Michael. Cukup dalam dan lama. Menyalurkan rasa cinta yang bertabur kecewa.


"Aku pergi, Honey..." tersenyum miris saat memanggil sebutan itu. "Jaga dirimu baik - baik. Aku yakin kamu akan selalu selamat dari peperangan apapun, Honey."


Memejamkan mata, menguatkan hatinya yang tengah patah. Kemudian tersenyum miris, "Pantaslah cintaku tak pernah terbalas, Tuan." lirihnya meneteskan air mata, namun secepat kilat ia menghapusnya. Terlalu memalukan nasibnya untuk di tangisi.


"Sekali lagi maafkan aku, Tuan. Aku menolak mendonorkan sumsum tulang belakang ku untuk Selena Arlington. Meskipun aku tau dia adalah kakak ku. Sama seperti Oliver Arlington!"

__ADS_1


Menghela nafas, menatap sedih pada Michael. Meski begitu, ia tetap berharap agar Michael dan keluarganya selamat dari perjanjian antara Michael dan Deborah.


Melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan koper besar di tangannya, dan melihat dua penjaga yang sudah tertidur. Dengan langkah pelan namun pasti, ia masuk ke dalam lift dan turun ke bawah.


Hingga ia berhasil keluar dari rumah megah itu tanpa terlihat oleh satu mata pun. Menghentikan taksi yang lewat, dan meminta untuk mengantarnya ke suatu tempat.


Taksi berhenti tepat di sebuah rumah besar, meskipun tak sebanding dengan rumah besar Michael.


Chania mendekati pagar bercat hitam yang menjulang setinggi 3 meter itu. Dan seseorang berpakaian keamanan langsung keluar dari pos penjagaan.


"Cari siapa Nona?" tanya orang itu.


"Bapak lupa dengan saya?" tanya Chania sembari mengerucutkan bibirnya. "Mentang - mentang sekarang saya miskin jadi Bapak lupa sama saya?"


Pria itu mengerutkan keningnya, mengingat suara yabg tak asing. "Nona Chania Renata?" tanyanya terkejut dengan mata sedikit membukat.


"Yaa.." jawab Chania tersenyum.


"Oh Tuhan, maafkan saya Nona! Nona terlihat lebih... berisi hehe.. Jadi saya hampir tidak mengenali." ucapnya sembari membuka gembok pagar dan dengan cepat membuka pagar untuk Chania.


"Tidak apa!" jawab Chania sembari menyeret koper melewati pagar. "Pak Joe William ada?"


"Ada, Nona!" jawabnya cepat.


"Boleh aku masuk?"


"Tentu saja boleh, Nona! mari masuk! biar saya yang bawa kopernya!" pria berusia sekitar 40 tahun itu merebut gagang koper yang berada di genggaman Chania setelah kembali mengunci pagar.


"Terima kasih." ucap Chania.


"Silahkan duduk, Nona." ucap pria itu menunjuk sofa. "Saya tanyakan dulu pada pelayan, apa Pak Joe belum tidur."


"Makasih ya Pak!" ucap Chania sembari meletakkan bokongnya di sofa.


Belum sampai pria itu masuk ke bagian dalam rumah, pintu ruang kerja sang pemilik rumah yang terlihat dari ruang tamu terbuka.


"Chania?" sapa pria bertubuh gempal dan berwajah tegas.


"Pak Joe William!" sapa Chania kembali berdiri.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." pamit sang penjaga yang di angguki pria bernama Joe William itu.


"Duduklah, Nak!" titah pria berusia 52 tahun itu.


"Terima kasih, Om!" ucap Chania berganti memanggil Om. Karena sudah tak ada orang lain lagi di ruangan itu.


"Kenapa kamu sampai di sini malam begini?" tanya Joe.


Chania menunduk, rasanya ia tak sanggup menceritakan masalah hidupnya. Terlalu pahit dan memilukan.


"Om, izinkan malam ini saja Chania menginap di sini." akhirnya kalimat itu yang keluar.


"Kenapa hanya malam ini? selamanya pun tidak masalah, Nak."

__ADS_1


"Chania tidak mau merepotkan Om dan Tante!"


"Jangan anggap kami orang lain."


"Tetap saja Om adalah mantan pengacara Papa dan Mama. Sangat tidak pantas kalau Chania merepotkan kalian."


"Chania!" suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah.


"Tante!" jawab Chania berdiri dan memeluk wanita yang seumuran dengan Mamanya itu.


"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya wanita itu mengusap punggung Chania dengan sayang.


"Emm..." Chania melepas pelukan sebelum menjawab. "Chania tinggal di rumah dinas, Tante."


"Oh..." merasa lega. "Terus ini kenapa?" menunjuk koper.


"Panjang ceritanya, Tante!" jawab Chania. "Intinya Chania melanggar kontrak, jadi harus keluar dari perusahaan."


"Yaa ampun, Chania!"


Obrolan terus berlanjut hingga larut malam. Dan sampai pada tujuan Chania mendatangi rumah Joe, pengacara kepercayaan sang Papa. Bahkan yang mengurusi hutang mendiang sang Papa tanpa meminta bayaran.


"Dari mana kamu mendapatkan uang sebesar itu, Chania?" tanya istri Joe.


"Panjang ceritanya, Tante. Yang jelas Chania tidak korupsi, juga tidak mencuri."


"Kamu yakin, Nak?" tanya Joe.


"Tentu saja Chania yakin, Om."


"Baiklah, besok Om akan antar kamu ke Bank."


"Terima kasih, Om."


"Ya, sekarang tidurlah di kamar yang biasa kami tempati."


"Sekali lagi terima kasih, Om, Tante!"


"Sama - sama, Chania."


***


Chania berada di dalam kamar yang pernah ia tempati. Bersandar pada sandaran tempat tidur, menatap lampu warna - warni yang menghiasi langit - langit kamar.


"Untung sejauh ini aku sudah mendapatkan 3 M." gumamnya. "Aku tak menyangka Michael mentransfer cukup banyak! sudah lama aku tidak menggunakan kartu debit darinya."


Tersenyum lega karena mendapatkan uang 3 M. Namun kemudian tersenyum pahit, saat mengingat tak ada masa depan untuknya dan janin dalam perutnya untuk menjadi tujuan hari esok.


"Setelah esok hari berlalu, kemana kita harus pergi, Nak?"


Lirihnya mengusap perut, dengan air mata yang menetes dari pelupuk mata.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy Reading 🌹🌹🌹


__ADS_2