SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 82


__ADS_3

Menggenggam jemari lentik dengan penuh kasih sayang. Mencium beberapa kali, meskipun jemari itu sedari tadi tak membalas perlakuan manisnya, Michael tetap dalam pendirian untuk membawa sang istri pulang sore ini juga.


Chania sendiri masih terus berusaha menyembunyikan tatapan haru pada pria yang masih berstatus sebagai suami sahnya secara hukum dan agama itu. Namun ia masih ragu untuk menjadi Chania Renata beberapa bulan yang lalu.


Melakukan kebiasaan seperti memanggilnya Honey, dan bermanja - manja pada tubuh gagahnya. Mencium tanpa ragu dan malu - malu.


Haruskah ia kembali belajar untuk percaya diri seperti beberapa bulan lalu?


Namun mengingat semanis apapun Michael sepanjang sore ini, tak ada satu kalimat pun yang menyatakan jika pria itu mencintainya.


Tak sepatah kata cinta pun yang keluar dari bibir tipis Sang Mafia. Dan hal itu membuatnya ragu untuk kembali menjadi Chania, Nyonya muda Xavier.


"Kita ke hotel sekarang?" tanya Michael lagi.


"Tapi Tu..."


Belum selesai Chania memanggilnya Tuan, Michael sudah menyumpal bibir Chania dengan bibirnya. Gerakan Michael begitu cepat, hingga sama sekali tidak di sadari oleh Chania.


Bibir Chania serasa kaku, ragu untuk membalas. Namun gerakan Michael begitu lembut dan memabukkan.


Gigitan - gigitan lembut di lakukan Michael untuk menebus kerinduan akan bibir manis Chania. Chania sempat mendorong dada Michael yang menempel di dadanya. Namun dengan cepat Michael berhasil meraih dan mengunci tangan itu.


Pelan namun pasti, nyatanya Michael berhasil membuat Chania membalas ciumannya. Hingga membuat istri yang baru saja hampir memberontak itu kini tunduk dan mengikuti permainan lidahnya.


Meskipun tak terlihat menikmati ciuman yang membuat tubuhnya menghangat, Chania sesekali memejamkan matanya, menahan *******. Merasai desiran lembut yang membuatnya serasa di bawa terbang melayang.


Merasakan Chania yang menurut, Michael memindahkan tangan Chania untuk melingkar di lehernya. Sempat menurunkan tangannya, namun penolakan Michael membuat tangannya kembali bertengger di balik leher.


Posisi Michael masih berjongkok di bawah, dengan badan yang mengungkung tubuh Chania bagian dada dan kepala. Satu tangan melingkar di atas kepala Chania. Satu lagi berada di balik punggung Chania.


"Kamu cantik!" lirih Michael di sela - sela ciuman. Sebelum kembali menghisap bibir manis Chania.


Wajah Chania merona, mendengar pujian yang sudah lama tak pernah ia dengar. Getaran cinta kembali bergejolak di dalam hatinya.


"Issh!" reflek Chania memberontak dan mendorong tubuh Michael sekuat tenaga.


Michael tergelak kecil. "Sorry, Baby! bibirmu sangat manis! rasanya tidak sanggup jika tidak menggigitnya."


"Hih!" pukulan lemah mendarat di pundak Michael yang semakin tertawa. "Suka sekali menyakitiku!" gerutu Chania mengusap bibirnya.


"Bukan, Sayang! itu namanya gemes!" gurau Michael tersenyum lebar. Nada bicara Chania semakin lama semakin membaik batinnya.


"Sakit tau!" keluhnya sedikit manja.

__ADS_1


"Sorry..." lirihnya tak tahan dengan suara khas Chania.


Tersenyum menggoda, dan kembali menunduk hendak mencium lagi. Namun tangan Chania reflek menutup mulutnya.


"Jangan coba - coba!" ancam Chania.


"Hahaha! kamu terlalu menggemaskan, Baby..." ucap Michael membelai rambut Chania.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


Ketukan pintu berintonasi cepat itu membuat Michael mengumpat dalam hati. Sempat mencoba untuk menghiraukan, namum Chania yang mendorong dadanya dan memberi kode pada Michael agar membuka pintu, membuatnya pasrah dan menyudahi niat untuk kembali mencium bibir yang membuatnya bergairah itu.


"Siapa tau penting." ucap Chania dengan menatap lembut mata Michael.


Sorot mata itu memancarkan jika 65 % Chania istrinya, telah kembali. Membuat Michael semakin terjerat dengan tatapan yang sudah jauh berbeda dari beberapa saat yang lalu.


"Baiklah..." jawab Michael sembari mencuri kecupan di bibir Chania. Kemudian barulah beranjak meninggalkan kamar sempit yang membuatnya menahan pengap.


Jangan tanya seperti apa wajah Chania mendapat kecupan itu. Terasa lebih menghanyutkan di banding ciuman sebelumnya.


Karena pada dasarnya sebuah kecupan mendadak yang di berikan oleh pasangan adalah gambaran perasaan yang sesungguhnya.


Deburan demi deburan ombak di pantai, bersahut - sahutan dengan deburan cinta yang kembali bersemi di hati yang sempat patah.


Senyum mengembang, saat punggung Michael menghilang di balik tirai. Mengusap perutnya seolah mengatakan, kita akan terus bersama, Nak.


Sedang Michael dengan perasaan kesal, karena aktivitas bermesraannya terganggu oleh ketukan bodyguard, Michael membuka pintu dengan kasar.


"Jika tidak penting aku akan memenggal kepalamu!" sembur Michael pada Jack yang berdiri di ambang pintu.


"Maafkan saya, Tuan." Jack menunduk hormat. "Tapi ini lebih dari sekedar penting!"


"Katakan!" ketus Michael.


"Suruhan Deborah sudah sampai di kota ini!" ucap Jack. "Dan diperkirakan ada yang sudah sampai di pantai ini!"


"What the Fvck!" umpat Michael.


"Mata - mata mengatakan jika Deborah merencanakan pertempuran untuk mendapatkan Nyonya muda! Jalur damai bersama Tuan muda dan Tuan besar tidak membuahkan hasil katanya."


"Sial! Tidak baik membawa Chania dalam pertempuran!" desis Michael.

__ADS_1


"Setidaknya Tuan dan Nyonya harus segera keluar dari rumah ini!" lanjut Jack. "Kita kembali ke hotel! saya akan memerintahkan pasukan genting untuk menyiapkan senjata perang, Tuan."


"Fvck!" umpat Michael menutup pintu dengan kasar. Dan langsung masuk ke dalam kamar yang hanya membutuhkan dua langkah kakinya saja untuk sampai di ambang pintu kamar.


"Ada apa?" tanya Chania yang ternyata sudah berdiri dari tempat tidur lusuhnya. Mendengar gebrakan Michael ia yakin keadaan sedang tidak baik - baik saja.


"Kita harus pergi dari sini! Deborah sedang mencari kita! anak buahnya sudah sampai di pantai ini. Aku tidak mau kamu dan calon bayi kita berada dalam medan pertempuran!"


"Apa!" pekik Chania.


"Mana barang yang kamu butuhkan?" tanya Michael. "Bawa seperlunya!"


Michael sudah kalang kabut sendiri. Ia tak mau istrinya yang sedang hamil berada dalam situasi genting. Dimana mungkin saja bisa mempengaruhi bayi dalam perutnya.


Chania mengambil kopernya, memasukkan barang - barang pentingnya. Saat hendak memasukkan baju, Michael melarangnya.


"Aku akan meminta seseorang membelikan baju untukmu. Kita harus cepat! Bahaya mengintai kamu, Baby!"


Ucap Michael tergesa. Dalam hati sebenarnya ia tak tega melihat baju - baju istrinya yang sama sekali tak ada harga. Bisa saja satu lemari Chania hanya setara dengan celana yang sedang ia kenakan saat ini. Atau bahkan tidak sampai.


"Tapi..."


Belum sempat kalimat Chania selesai Michael sudah merebut koper dan menarik tangan Chania ke arah pintu rumah.


"Kita harus segera pergi dari sini!" ucap Michael.


"Iya!" jawab Chania pasrah mengikuti langkah Michael menuju limousine yang di persiapkan untuk membawa sang Tuan Mafia dan istrinya.


Kendaraan melaju, meninggalkan rumah usang yang di katakan Michael seperti rumah anjing bodyguardnya.


Michael dan Chania duduk berdua di kursi panjang bagian belakang. Chania tampak gugup dengan situasi seperti ini. Sudah empat bulan lamanya mereka tak berinteraksi di dalam mobil.


Namun tidak dengan Michael. Pria itu, tanpa malu menarik tubuh Chania untuk di peluknya. Masuk dalam dekapan tangan dan dadanya.


Di sinilah jantung Chania mulai berpacu. Mendengar detak jantung Michael yang lebih cepat daripada dulu. Merasakan hangatnya kembali dada bidang itu.


Chania mengulum senyuman. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Michael seperti dulu. Namun ia masih malu. Mengingat dulu ia yang seperti gadis gila mengejar cinta seorang Michael. Bahkan menyatakan cinta lebih dulu.


Kali ini ia akan memutar keadaan, ia tidak akan mengatakan kalimat cinta sedikitpun. Sebelum Michael menyatakan cinta padanya terlebih dahulu.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


Maaf, kemarin Othor nggak up! karena sibuk di dunia nyata. 😌


Semoga masih suka dengan jalan ceritanya 🥰


__ADS_2