SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 181


__ADS_3

Jia keluar dari pintu belakang mobilnya, setelah Xiaoli membuka pintu penumpang bagian belakang secara otomatis untuknya.


"Please, tolong lain kali Paman tidak perlu ikut turun!" ucap Jia pada Dimitri. "Aku bisa keluar sendiri. Tok pintu bisa di buka otomatis oleh Xiaoli!" protes sang Nona muda.


"Sudah kewajiban saya, Nona!"


"Ya... Setidaknya cukup lakukan itu kalau ada Daddy saja! Di kampus atau saat aku bersama teman - teman, please jangan lakukan!"


"Baiklah, Nona!" jawab Dimitri pasrah. Ia tak ingin mendapat semburan di tempat umum tentu saja. Atau membuat Nona Muda Xavier itu emosi di tempat parkir.


Jia berlalu pergi, memasuki koridor Fakultasnya, untuk masuk ke kelas art & desain yang ia tempati.


"Jia!" sapa seseorang dari belakang.


"Hai, Diego!" sapa Jia datar saat menoleh ke belakang, dan mendapati Diego berjalan di belakangnya.


"Baru datang?" tanya Diego mensejajarkan langkahnya dengan langkah Jia yang cepat.


"Iya, aku terlambat sepertinya!" jawabnya.


"Tidak terlalu!" sahut Diego.


"Kamu terlambat juga?"


"Iya, sama! Aku juga baru datang!" bohong Diego.


"Kalau begitu ayo cepat! Sebelum dapat hukuman!"


"Ya, kamu benar!" jawab Diego.


Pertemuan Jia dan Diego tentu saja di perhatikan dengan seksama oleh Dimitri dan Xiaoli. Segera Dimitri menghubungi bodyguard yang sebelumnya mengantarkan Nona Muda Xavier kuliah. Untuk mendapat informasi tentang di lelaki.


***


Setelah hatinya tenang, dan ketakutannya berkurang, Virginia berjalan ke arah Fakultas Kedokteran yang tak jauh dari kantin sederhana, di mana tadi Jio membawanya.


Beberapa kali menoleh ke belakang, dan masih mendapati Jio dan Nikki di dalam sana. Pipinya merah merona karena Jio yang masih betah menatap kepergiannya.


Virginia mengulum senyumnya, hingga ia mengigit bibirnya bagian dalam agar tak terlihat jika sesungguhnya ia ingin melompat girang.


Ah! Indahnya dunia remaja! Menyimpan perasaan, kemudian malu - malu hanya karena tatapan.


Sejak kecil lelaki itu yang selalu memberinya ketenangan. Di saat semua terasa membahayakan, Jio lah yang membuat semuanya menjadi baik - baik saja.


Langkah Virginia berbelok ke kanan, dan menghilang karena di telan pintu Fakultas Kedokteran. Sehingga pandangan Jio pun akhirnya terputus.


Hal yang di sangka Jio baik - baik saja, karena sang gadis sudah sampai di fakultasnya, ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan.


Lengan Virginia di tarik oleh seorang Mahasiswi saat ia baru satu langkah memasuki ruangan.


Gadis malang itu kembali kelabakan untuk kedua kalinya. Di tarik paksa oleh orang sama yang pernah menariknya. Dengan terseok - seok, Virginia di tarik ke arah toilet. Kemudian tubuh kecilnya di hempaskan ke dinding oleh Mahasiswi itu.


"Ternyata benar! kau memang suka menggoda Mahasiswa kaya raya di kampus ini!" ucap Mahasiswi itu berapi - api. "Waktu itu aku hampir percaya kalau kau bersama kekasihku hanya untuk saling menyapa! Tapi melihat mu dengan Mahasiswa baru bernama Jio itu aku yakin kamu memang sebenarnya sedang menggoda mereka!" semburnya terus menerus.


"Kamu salah.." lirih Virginia.


"Sudahlah jangan mengelak!" sahut Mahasiswi lain di belakang Mahasiswi yang menarik Virginia. "Beri dia pelajaran, Tta!" perintahnya pada Mahasiswi yang mencengkeram tangan Virginia.


"Alexa, pastikan tidak ada Mahasiswi lain yang masuk ke toilet!" ucap Carlotta pada sahabatnya.


"Of course!" jawab Alexa, segera mendekati pintu utama toilet. Memastikan tidak ada siapa - siapa di sana. "Aman!" serunya pada Carlotta.


"Tunggu!" seru Virginia, "kalian benar - benar salah paham!" ucap Virginia sengaja meninggikan suaranya. Setidaknya dengan begitu ia berharap ada yang mendengarnya.


"Aku paling tidak suka pada Mahasiswi yang sok cantik seperti dirimu!" seru Carlotta sinis. "Aku tidak akan membiarkan gadis penggoda seperti mu menggoda kekasihku!"


"Aku tidak pernah menggoda siapapun!"


"Bohong!" seru Carlotta. "Melihatmu memelas di hadapan Mahasiswi baru itu rasanya aku tidak sabar ingin memberi sarapan pagi untukmu!"


"Apa maksud kamu!"


Plaakk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Virginia.

__ADS_1


"Akkh!" teriak Virginia memegangi pipinya yang terasa panas.


"Aku ingin sekali melihatmu jadi jelek! Supaya tidak bisa mengganggu Mahasiswa kaya dan tampan di kampus ini!"


"Aku tidak pernah melakukan itu!" teriak Virginia memberontak. Ia tarik tangannya sekuat tenaga agar terlepas dari genggaman Carlotta. "Lepaskan aku!"


"Hahahaha!" tawa culas Carlotta dan Alexa bersamaan.


"Tidak semudah itu bisa lepas dari ku, anak manjaa!" desis Carlotta semakin erat mencengkeram lengan Virginia.


Jantung belum sepenuhnya kembali normal setelah aksi kejar - kejaran di jalan raya, kini ia harus kembali merasakan sakit di pergelangan tangan kanannya.


' Siapapun tolong aku ... '


Ucap Virginia dalam hati.


Siapa yang bisa ia mintai tolong di dalam toilet. Menghubungi seseorang rasanya percuma. Karena dengan hanya mengeluarkan ponsel saja pastilah dua monster itu sudah bertindak. Apalagi menelpon.


"Kamu tau, gara - gara pertengkaran kita di belakang gedung, kekasih ku marah besar padaku! Kau harus bertanggung jawab atas itu!"


Plaak!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi kiri Virginia.


"Aakkh..."


"Sakit?" tanya Carlotta. "Itu belum seberapa, anak manja!"


"TOLOONG!" seru Virginia berharap ada yang mendengar teriakannya.


"DIAM!" bentak Carlotta dengan mata yang membulat tajam.


"Lakukan sekarang saja!" bisik Alexa pada Carlotta.


Entahlah, apa yang ingin mereka lakukan pada Virginia. Yang jelas, menit berikutnya terjadi sesuai dengan rencana dua Mahasiswi itu.


***


Jio sudah berada di bangku kuliahnya. Dosen killer fokus memberikan materi IT. Namun tidak pada Jio. Raga pemuda itu memang ada di sana. Tapi tidak dengan pikiran dan hatinya. Bahkan matanya menatap kosong ke arah pintu keluar.


Ketidak fokusan Jio tentu terlihat oleh sang Dosen. Membuat Dosen itu melempar pena ke arah kepala Jio.


Namun Jio yang memiliki insting bahaya yang kuat, tentu tau jika ada sesuatu yang mengarah ke kepalanya.


Tanpa ia sadari jika berada di ruang kelas, seolah tengah berada dalam lingkungan kuil Shifu, Jio menangkap pena dengan presisi, bahkan tanpa melihat atau melirik juga tanpa harus terbangun dari lamunannya.


Tangannya hanya reflek dengan insting kuat yang ia miliki. Menangkap pena biru itu kemudian dengan lihai memainkan di sela - sela jarinya. Sementara mata tetap menatap kosong ke arah pintu.


Tentu saja hal itu menarik perhatian semua Mahasiswa di dalam kelas, termasuk Dosennya sendiri. Semua melongo dengan aksi reflek Jio yang mereka anggap luar biasa. Semua tau jika Jio tengah melamun.


"WOW!" pekik beberapa Mahasiswa.


Sementara yang menjadi pusat perhatian tetap tak bergerak. Matanya tetap menatap kosong ke arah pintu. Hingga nalurinya menyadari jika banyak pasang mata menatap ke arahnya.


"Kenapa semua melihatku?" tanya Jio pada Nikki yang duduk di sebelahnya.


"Bagaimana kamu bisa menangkap pena secepat itu?" tanya Nikki balik tanpa menjawab pertanyaan Jio.


"Pena?" tanya Jio memicingkan matanya. Sontak ia menoleh pena biru di tangannya.


"Pena siapa ini?" gumamnya melihat pena di tangannya.


Namun detik berikutnya ia ingat berasal dari sebelah mana pena itu datang. Segera ia menoleh pada Dosen killer yang justru terlihat menatapnya heran. Namun tetap terlihat bengis.


Tatapan sang Dosen yang di anggap Mahasiswa lain sebagai tatapan elang itu, justru bagi Jio terlihat seperti tatapan kucing meminta makan. Ia sudah biasa dengan tatapan tajam. Bagi Jio tatapan paling menakutkan adalah tatapan iblis yang Ayah.


Kini Jio sadar akan kesalahannya di dalam ruang kelas itu. Ia pejamkan matanya dalam. Bagaimana bisa ia sampai lupa sedemikian jauh. Ia lupa ada di mana dan bersama siapa.


"Maaf, Pak!" ucap Jio berdiri dan mengembalikan pena milik Dosen itu untuk di letakkan di meja Dosen.


"Ruangan ini tidak untuk melamun!" desis sang Dosen masih dengan tatapan tajamnya.


"Saya, tau.." jawab Jio datar dan kembali berjalan ke arah bangkunya.


"Jangan mentang - mentang kamu anak orang kaya bisa bersikap sesuka mu di kelas saya!" hentak sang Dosen.

__ADS_1


Jio yang merasa sudah minta maaf, tentu merasa heran. Dalam kamus hidup keluarga Xavier, mereka tidak akan meminta maaf pada lawan atau musuh. Namun ia sudah merendahkan dirinya dengan meminta maaf pada Dosen itu.


Jio membalikkan badannya lagi. Dan kini dua lelaki beda usia, beda posisi, beda daya pikir terlibat adu saling tatap. Dua tatapan tajam terpancar dari masing - masing wajah.


"Bukankah saya sudah meminta maaf? Apa itu tidak sebanding dengan kesalahan saya?" tanya Jio datar. "Anda harus, tau dalam hidup kami, pantang meminta maaf, juga pantang akan permohonan maaf dari lawan atau musuh!" desis Jio.


Semakin lama tatapan Jio semakin tajam ke arah Dosen killer. Kilatan iblis yang di miliki sang ayah, sedikit banyak mulai menurun padanya.


"Jangan bersikap tidak sopan!" hentak sang Dosen.


"Sopan seperti apa yang anda maksud?" tanya Jio. "Saya tau saya bersalah! Saya sudah meminta maaf akan itu! Lalu dimana ketidak sopanan saya?" tanya Jio. "Anda sendiri yang menganggap saya sombong dan sok berkuasa, bukan?"


"Cara bicaramu! Caramu menatap ku!"


"Jio.." bisik Nikki yang akhirnya berdiri dan mendekati Jio. Meminta sang sahabat untuk mengalah dari pada harus berhadapan dengan killer pikirnya.


Namun Nikki tidak tay siapa Jio. Tidak tau jika Georgio sahabatnya bisa membuat dosen itu tak bernyawa hanya dalam waktu kurang satu menit saja. Bahkan tanpa terlihat siapapun. Ia ahli dalam bergerak senyap.


"Aku hanya membenci dosen sok berkuasa!" desis Jio dengan menatap sang dosen semakin tajam. Bahkan giginya ikut mengerat.


Tanpa berpamitan, Jio mengambil tas ranselnya dan kembali ke arah depan.


"Pikirkan baik - baik untuk segera merubah sikap anda!" ucap Jio tegas, singkat dengan menatap tajam sang Dosen.


Kemudian berlalu dari ruang kelas yang siang itu terasa sangat pengap. Suasana hati yang tidak tenang, membuatnya serasa semakin panas ketika segelintir orang justru memancing emosinya.


Jio berjalan seorang diri di koridor kampus. Meninggalkan kelas yang memang sedari tadi ingin dia tinggalkan.


' Kenapa aku tidak bisa tenang! Tidak biasanya aku seperti ini! '


Gerutu Jio dalam hati. Segera berlari ke area parkir. Mendekati Bugatti miliknya. Satu yang ia cari, Mini Cooper Virginia.


Mobil orange itu masih terparkir cantik di sana. Tapi gadis itu belum terlihat. Mungkin karena jam kuliahnya belum selesai.


"Selamat siang, Tuan muda Jio!" sapa seseorang dari belakang.


Jio menoleh dan melihat seseorang yang berpakaian serba hitam berdiri tegak di belakangnya. Dengan wajah yang cukup tampan, bahkan tak kalah dari dirinya.


"Siapa kamu?" tanya Jio.


"Saya Xiaoli Chen, Tuan!"


"Xiaoli Chen? Bodyguard baru?" tanya Jio melihat Xiaoli dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Benar, Tuan muda! Tuan Dimitri meminta saya untuk berkenalan dengan Tuan muda Xavier!"


Jio mengangguk paham, "jaga adikku dengan baik! Jangan biarkan lelaki asing menyentuhnya walau seujung kuku! Jika kau berkhianat, maka aku sendiri yang akan mencabut nyawamu!"


"Saya paham, Tuan!" jawab Xiaoli menunduk hormat.


"Hm.. Pergilah!" usir Jio.


Hati sang Tuan muda sedang gundah. Ia seolah kehilangan pemilik Mini Cooper orange. Padahal mobil itu belum bergerak sedikitpun.


📞 "Halo, Nia! Kamu dimana?" Jio menjawab sebuah panggilan di teleponnya.


📞 "Ck ck ck! Dasar anak muda!" ucap suara dari sebrang.


📞 "Siapa kamu? Dimana Virginia?" hentak Jio dengan dada kembang kempis.


📞 "Virginia?" tanya lelaki di sebrang. "Oh, jadi namanya Virginia?"


📞 "Cepat katakan dimana dia!" bentak Jio tak sabar.


📞 "Calm down, man... Virginia, gadis cantik dan seksi itu dalam keadaan baik - baik saja..."


📞 "Brengsek! Cepat katakan dimana dia!" seru Jio dengan dada semakin bergemuruh.


📞 "Hahaha!" gelak lelaki di sebrang. "Dia ada bersama ku, di ...."


...ðŸŠī Happy Reading ðŸŠī...


Hai sahabat reader terbaik ðŸĨ° Jangan lupa mampir ya... di novel ku yang berjudul Cinta yang Tak Ku Rindukan. Kisah tentang bunga desa yang menjadi istri kedua seorang lelaki tampan, namun...


Ya, begitulah! 😊

__ADS_1


__ADS_2