SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 49


__ADS_3

"Kamu siap - siap ya?" ucap Michael saat Chania merasa lebih tenang.


"Kemana?"


"Kita akan Amerika malam ini." jawab Michael.


"Amerika?" pekik Chania.


"Kenapa mendadak?" tanya Chania.


Michael tak segera menjawab, melainkan menghela nafasnya panjang. Menatap sendu mata Chania.


"Apa ada masalah?" tanya Chania melihat ekspresi Michael yang berubah.


"Kita akan menemui seseorang." jawabnya kemudian.


"Siapa?"


"Kamu akan tau setelah kita sampai di sana." jawab Michael datar. Di sisi lain ada gurat tidak tenang di sana.


Chania yang peka akan ekspresi Michael, segera beranjak dari ranjang, dan mempersiapkan dirinya untuk keberangkatan mereka ke Amerika.


***


Pesawat pribadi mengudara saat matahari sudah tenggelam, meninggalkan Roma, Italia, menuju California, Amerika Serikat.


Kurang lebih 13 jam berlalu, pesawat pribadi Michael mendarat di Bandara Internasional Los Angeles, California. Perbedaan waktu membuat mereka sampai di Amerika masih dalam keadaan gelap. Kurang lebih jam dua pagi waktu Amerika.


Melanjutkan perjalanan menggunakan mobil, Michael, Chania juga dua bodyguard paling setia menuju suatu tempat. Menyusuri jalanan Los Angeles yang hanya ramai oleh mereka pencinta dunia malam.


Sepanjang perjalanan pikiran Chania tertuju pada testpack yang tertinggal di rumah. Ia belum berani mengatakan pada Michael tentang benda itu. Sebelum ia yakin akan perasaaan Michael tentang kehadiran buah cinta mereka.


Sedangkan Michael sendiri sudah menangkap wajah kebingungan Chania sejak sepuluh menit pesawat mengudara.


"Kenapa?" tanya Michael tiba - tiba, sembari meremas jari jemari Chania yang lentik.


"Emm?" Chania tidak menemukan alasan yang tepat untuk menjawab.


"Masih kepikiran soal mimpi kemarin?"


"Hemm... I..iya." jawab Chania sekenanya.


"Jangan di pikirkan, tidak akan ada yang berani menyakitimu." Michael menarik pundak Chania untuk bersandar di dadanya. Kemudian mengecup keningnya.


Chania merasakan keteduhan dan kedamaian di dada bidang itu. Rasanya tak ada tempat paling nyaman di dunia ini selain dada suaminya.


"Michael?" panggil Chania lirih.


"Hem?"


"Apa kamu tidak ingin memiliki keturunan?"

__ADS_1


"Keturunan?" tanya Michael mengerutkan keningnya. Tak pernah muncul dalam benaknya untuk memiliki satu hal itu. Entah tidak pernah, atau belum.


"Maksud mu bayi?"


"Hemm" Chania menganggukkan kepala di dada Michael.


"Entahlah, aku tidak pernah memikirkan hal itu!" jawab Michael acuh. "Lagi pula, bukankah bayi itu merepotkan?"


"Kamu dulu juga kan bayi!" celetuk Chania.


"Aku tau." Michael melengos.


"Terus kenapa kamu tidak mau punya bayi?"


"Bukan tidak mau, Baby! tapi... " Michael menimbang - nimbang kalimat yang pas untuk keluar.


"Tapi apa?"


Michael menghela nafas, "Kamu tau, Chania?" ucap Michael sendu, "aku ini generasi ke - 4 Black Hold. Klan Mafia paling di takuti di negeri ini. Dan jika waktu bisa di putar dan aku bisa memilih, aku justru ingin terlahir dari sepasang manusia biasa. Bukan turunan seorang Mafia. Itu juga yang membuatku tak ingin memiliki keturunan. Aku takut mereka menyesal memiliki ayah iblis seperti aku." Michael menarik nafas berat dan membuangnya.


Chania mendengarkan dengan baik curahan hati Michael yang terdalam itu.


Ternyata Michael memiliki batin yang tertekan di balik kekejaman dan kegigihannya di dunia Mafia. '


Batin Chania. Ia masukkan tangannya ke sela - sela lengan Michael. Memeluk lengan itu erat kemudian menyandarkan kepalanya di sana.


"Aku tau! aku yakin kamu bukan manusia berhati iblis. Aku yakin kamu adalah manusia baik hati yang hanya salah didikan, Honey." ucap Chania lirih. Dengan tangan yang mengusap perut lembut perutnya.


Michael terdiam. Dan hanya helaan nafas dua mereka saja yang terdengar kemudian.


Chania mengusap perutnya dengan lembut. Meskipun belum melakukan test, ia yakin ia tengah hamil. Mengandung benih seorang Michael Xavier.


***


30 menit berlalu, sebuah bangunan rumah dengan cat full putih, berukuran cukup besar menyambut sepasang mata Chania yang bertanya - tanya rumah siapa itu. Chania mengikuti langkah Michael yang di sambut beberapa maid berseragam.


"Selamat pagi, Tuan muda!" sapa mereka sembari menunduk hormat.


"Hm!" jawab Michael datar.


Beberapa maid, seorang kepala pelayan laki - laki dan beberapa bodyguard yang berjaga di sana memperhatikan diam - diam sosok gadis asing yang berjalan di samping Tuan muda mereka dengan senyuman ramah ala Chania.


Kali pertama sepanjang mereka bekerja sang Tuan muda membawa seorang perempuan datang ke rumah itu. Apalagi Chania dengan berani memegang lengan kiri Michael.


Namun mereka hanya bisa menahan bibir mereka agar tidak sampai berbisik ataupun bertanya. Hanya saling pandang yang bisa mereka lakukan.


"Panggil dengan sebutan Nyonya muda!" bisik Jack pada kepala pelayan.


Seketika lidah kepala pelayan tercekat. Kapan Tuan muda mereka menikah? Kalimat itu terwakilkan oleh tatapan kaget sang kepala pelayan pada Jack.


"Cukup seisi rumah ini yang tau!" lanjutnya dengan tatapan penuh ancaman.

__ADS_1


"Baik, Tuan Jack!"


Kepala pelayan hanya bisa mengangguk. Bagaimanapun posisi kepala pelayan di rumah itu masih berada di bawah pengawasan dua tangan kanan Michael, Jack dan Dimitri.


"Lalu bagaimana dengan Tuan besar?" sambung kepala pelayan.


"Beliau tidak perlu tau!" jawab Jack.


"Baik, Tuan Jack!" jawabnya.


***


Michael menaiki tangga yang meliuk dengan kokoh dan megah menuju lantai dua rumah itu. Chania belum berani mengeluarkan suara untuk apa Michael datang ke rumah itu. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa seorang body guard uang berjaga di lantai dua.


"Hm!" jawab Michael sembari terus membawa Chania melangkah menuju sebuah pintu raksasa dengan ukiran naga dan berlapis emas.


"Kita tidur dulu." ucap Michael sambil menyentuhkan jarinya di finger print yang ada di tiang pintu.


"Ini rumah siapa?" akhirnya keluar juga kalimat itu dari bibir Chania.


"Rumah ku" jawab michael.


"Hah!" pekik Chania.


Mereka masuk ke dalam kamar yang nyaris sama megahnya dengan kamar Michael di rumah Italia. Ukiran naga emas di atap, dengan dekorasi warna emas yang mendominasi.


Chania menyisir seluruh sudut ruangan dengan sepasang mata lentiknya. Hingga menemukan sebuah foto kecil berbingkai di atas nakas.


Anak laki - laki berusia sekitar tujuh tahun mencium pipi seorang wanita. Raut bahagia terpancar dari keduanya.


"Ini kamu, Honey?" tanya Chania menunjuk bingkai itu.


Michael berjalan mendekati Chania yang berdiri di samping ranjangnya. Memeluk tubuh sintal itu dari belakang.


"Hm" jawab Michael mengangguk di pundak kiri Chania. "Baby?" panggilnya kemudian.


"Hem?" jawab Chania memutuskan pandangan matanya dari bingkai foto, beralih pada wajah Michael Xavier di pundaknya.


"Sepertinya kamu lebih berisi." ucap Michael.


"What!" pekik Chania melepas pelukan Michael. Membalikkan tubuh dan menelisik wajah tampan itu. Mencari kebohongan dari ucapan Michael. "Kamu serius?"


Michael mengangguk pelan. Chania seger mencari pintu ke walk in closed, dan masuk ke dalamnya. Segera menghadap cermin besar yang bisa menunjukkan seluruh tubuhnya. Mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Namun tiba - tiba tangan Michael masuk di antara sela - sela lengan dan tubuhnya. Menarik ke atas sweater crop yang di kenakan Chania. Hingga baju terlepas dari tubuh Chania. Memperlihatkan br* merah menyala.


"Lihat kan?" bisik Michael. "Dada mu saja lebih berisi." lanjutnya.


"AAAA! aku gendut!" teriak Chania menatap tubuhnya di cermin.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2