
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika tanpa sengaja Jia menunjukkan rasa lapar, karena memang dia belum makan malam.
Xiaoli Chen membawa Jia ke salah satu restauran yang tidak jauh dari posisi mereka melihat betapa indah sebuah kota di bawah sana jika di lihat dari atas bukit Fields of Pealand.
Bukit indah yang sekaligus menjadi saksi berseminya cinta antara Xiaoli Chen dan Georgia Xavier. Yang tak lain merupakan pasangan antara anak Bos dan Bodyguard nya.
Tidak ada yang salah sebenarnya, yang salah adalah jika sampai Michael tidak setuju dengan jalinan cinta yang di rajut oleh sang anak gadis satu - satunya. Kemudian yang terjadi pasti di luar nalar manusia normal. Meski Michael sendiri sudah mencoba untuk tidak masuk terlalu jauh dalam dunia hitam. Namun ia masih tetap memiliki emosi seorang Michael Xavier yang tidak akan semudah itu bisa lepas dari hidupnya.
Jiwa iblisnya bisa datang kapan saja jika ketenangannya benar - benar di usik.
Duduk berhadapan di bilik yang yang tidak terlalu luas, berukuran sekitar 2 x 2 meter saja, mereka dapat melihat pemandangan yang cukup menakjubkan dari atas sana.
Ketika sepasang laki - laki dan perempuan merajut hubungan yang di sebut kekasih, sudah pasti naluri untuk selalu ingin berdekatan dan menyentuh akan terus muncul, dan rasa ingin itu akan semakin kuat jika hanya berada berdua, tanpa siapapun lagi di sekitar mereka.
Seperti halnya yang di alami Xiaoli. Sebagai lelaki normal, melihat gadis cantik yang kini menjadi kekasihnya, tentu merasa memiliki hak untuk menyentuh, mencium dan juga melindungi sang gadis dari bahaya dan ancaman apapun.
Dan kali ini posisi mereka adalah duduk berhadapan, berdua tanpa orang yang mereka kenal lagi di sekitar mereka. Sehingga keduanya merasa bebas untuk bermesraan, dan untuk pertama kali saling menunjukkan perasaan yang lama tersimpan di dalam dada. Tanpa harus sungkan dengan pengunjung lain yang bisa melihat posisi mereka. Karena bilik pembatas hanya untuk menghindari pengunjung lain bisa melihat isi meja lainnya. Bukan untuk menutupi siapa yang ada di dalam bilik.
Jemari Xiaoli sudah sampai di tangan Jia. Jemarinya menyentuh lembut jemari Jia. Sedangkan Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan sang gadis. Merasai betapa lembut kulit tak bercelah sang gadis.
Dua sorot mata bertemu, dan seulas senyum yang saling mereka lempar untuk satu sama lain. Xiaoli menarik tangan Jia ke sisinya. Untuk kemudian kembali ia kecup punggung tangan yang harum. Ia bahkan sampai memejamkan matanya dalam saking tenangnya jiwa ketika mencium punggung tangan itu.
Ia kembali menghirup keharuman yang menguar dari kulit putih dan mulus, Xiaoli hanyut dalam angan - angannya. Betapa sempurna Tuhan menciptakan seorang Jia. Cantik, putih, jago bela diri dan yang pasti anak orang terkaya di daratan Italia.
Tak mau kalah, ketika Xiaoli mengembalikan posisi tangannya di atas meja, Jia langsung menarik tangan Xiaoli, dan ia melakukan hal yang sama pada punggung jemari Xiaoli. Bedanya Jia mengubah posisi tangannya menjadi menggenggam tangan sang pemuda. Dan Jia menciumnya sambil menatap mata Xiaoli.
Jia tidak tau jika ada jantung yang seketika itu berdebar dengan sangat kencang. Jika di dengar menggunakan alat stetoskop milik dokter, mungkin telinga sang dokter akan sakit mendengarnya.
Dada Xiaoli bergetar ketika melihat tangan kekarnya di cium sedemikian mesra oleh sang kekasih. Padahal bisa duduk berhadapan, dan makan berdua seperti ini saja sudah bagaikan mimpi di siang bolong.
Tidak harus dengan berciuman bibir untuk menunjukkan perasaan cinta. Kecupan di tempat yang tak biasa juga suatu yang di anggap sangat spesial.
Menit berikutnya makan malam pesanan Jia dan Xiaoli datang secara bergantian. Hanya dua orang, namun makanan sampai satu meja penuh. Semua itu tentu ulah sang Nona Muda. Padahal dia sedang....
"Kamu yakin menghabiskan semua ini?" tanya Xiaoli datar.
__ADS_1
"Kalau aku tidak habis, kamu pasti membantuku untuk menghabiskan, kan?" tanya Jia dengan senyuman nakal.
Gadis itu sedang sangat bahagia. Yang bisa ia lakukan saat ini untuk menunjukkan rasa bahagianya adalah dengan makan banyak di restauran ini. Tidak ingin lagi lapar di hadapan sang kekasih, cinta pertamanya.
"Kata siapa?" tanya Xiaoli.
"Kata aku lah! kan kamu bilang cinta aku! jadi apa yang aku mau pasti berusaha kamu turuti, kan?" Jia tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau aku tidak menuruti?"
"Berarti kamu hanya berpura - pura mencintaiku!" dengkus Jia mengerucutkan bibirnya.
Dan bibir yang mengerut membentuk lancip itu membuat Xiaoli gemas tiada tar. AAAHHHH.... ingin rasanya menggigit bibir tipis kemerahan itu.
"Ayo, makan!" ajak Xiaoli, tak ingin membuat Jia terlalu lama menahan rasa laparnya.
"Okay!"
Makan malam di restauran tepian jalanan bukit Fields of Pealand di iringi dengan canda tawa dua insan yang sedang di mabuk cinta.
Cinta yang baru malam itu bisa mereka sampaikan. Sungguh tak menyangka jika takdir takkan mengatur sedemikian rupa untuk mereka berdua bisa pergi berdua di malam Friday Night yang banyak di gunakan untuk para anak muda berkencan. Dan menghabiskan malam dengan seseorang yang paling spesial di dalam hidup mereka.
Xiaoli yang sedang menyuapkan potongan daging ke mulutnya langsung menatap Jia dan seketika itu ia mengulum senyumnya. Menahan agar daging di dalam mulutnya tidak keluar. Makanan di atas meja sungguh masih banyak. Sedangkan Jia bahkan belum menghabiskan dari separuhnya.
Ah! Jia benar - benar menggemaskan! Batin sang Bodyguard.
"Ya, sudah... tidak usah di makan, Sayang!
' Siapa diriku bisa memanggilmu dengan sebutan... Sayang...? '
Lirih Xiaoli dalam hati. Ia seolah masih tak percaya dengan keajaiban yang ia dapat malam ini.
Jia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Jawaban Xiaoli sungguh semudah itu. Tapi ia seolah tidak tega dengan banyaknya makanan yang tersisa. Ia tatap satu - persatu piring di atas meja.
"Harusnya aku tidak pesan ini..." gumam Jia menunjuk satu piring yang masih utuh.
__ADS_1
"Ini juga..." Jia menunjuk piring yang lain, dan mengambil satu ujung sendok untuk ia cicipi. Namun perutnya sudah benar - benar tidak sanggup lagi. Sampai ia ingin muntah.
"Sudah... jangan di makan..." Xiaoli merebut sendok di tangan Jia dan meletakkan kembali di atas meja.
"Masih mau di sini dulu, atau pulang?" tanya Xiaoli pada Jia yang hanya bisa bersandar di kursinya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 11 lebih 15 menit!"
"What! pekik Jia. "Kita pulang saja. Jangan sampai kita pulang terlambat. Daddy bisa marah!"
"Baiklah, Sayang..."
"Tunggu aku bayar dulu!" Jia berdiri dan keluar dari bangkunya. Kemudian celingukan melihat meja dan juga kursi. Ia lupa, jika tadi pergi hanya dengan sebuah dompet kecil yang hanya berisi ponsel, tanpa uang, kartu maupun e-money. Karena memang masih dalam masa penyitaan sang Daddy.
"Oh my God!!" pekik Jia kembali tertahan. Ia pegang pelipis yang seketika itu terasa pening, dan bingung.
"Ada apa?" tanya Xiaoli mendongak Jia dengan mengulum senyum miring. Ia tau apa yang membuat Nona Muda itu pening. Tapi ia sengaja pura -- pura tidak tau.
Jia mendekati Xiaoli dengan kikuk, lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Xiaoli, dan berbisik, "Aku lupa, aku bahkan tidak punya uang..." lirih Jia merasa bersalah sekaligus miris.
Xiaoli terkekeh gemas melihat Jia yang sangat lucu dan menggemaskan malam ini. Ia tarik pinggang sang gadis hingga kini terduduk di pangkuannya.
Debaran - debaran bangkit di setiap ada sesuatu yang baru. Hal yang belum pernah mereka lakukan tentunya. Seperti yang saat ini di rasakan sang gadis. Duduk di pangkuan pemuda yang bukan saudara kandungnya.
Jia sudah terbiasa bermanja pada saudara kembarnya yang ia panggil dengan sebutan Kakak itu. Dan ia juga terbiasa meminta di pangku oleh Gerald, meski keduanya sering ricuh.
Tapi di pangku oleh Xiaoli Chen? pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya. Sungguh sesuatu yang abu pertama kali ia lakukan hingga ia salah tingkah.
Bahkan Xiaoli pun merasa gugup dengan posisi yang ia ciptakan sendiri. Tapi semua terasa begitu indah dan membanggakan untuk dirinya.
"Setiap kamu makan di luar bersamaku... biarkan aku yang membayarnya, Sayang..." bisik Xiaoli tepat di dekat telinga Jia. "Aku masih sangat sanggup untuk mentraktir kamu makan..." lanjutnya sembari mencuri satu kecupan di pipi sang gadis.
Untuk kesekian, pipi putih mulus itu memerah karena malu. Xiaoli benar - benar pintar membuatnya salah tingkah. Hingga ia hanya bisa tersenyum malu. Kemudian ia balas kecupan di pipinya dengan kecupan singkat di bibir sang pemuda.
__ADS_1
Lalu keduanya cekikikan bersama...
...🪴 Bersambung... 🪴...