SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 268


__ADS_3

Memasuki kamar seorang gadis tanpa di sadari sang pemilik kamar, Xiaoli Chen bergerak dengan sangat lincah. Menggunakan keahliannya sebagai pembunuh senyap yang setiap gerakannya tidak pernah terdeteksi musuh, seperti itu pula cara yang ia gunakan untuk memasuki kamar anak gadis penguasa Klan tempat ia mengabdi, yang tak lain adalah kekasihnya sejak beberapa waktu yang lalu.


Mendapati jika ternyata  sang kekasih lah yang menutup mulutnya, Jia tentu merasa sangat senang dengan kenyataan yang ia dapatkan di dalam kamar. Ini sungguh kejutan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.


Jia menaiki dipan dan langsung melompat untuk meminta gendong sang kekasih. Seperti anak kecil yang sedang bermanja pada orang dewasa. Kemudian langsung sebuah kecupan singkat ia daratkan di bibir tipis sang bodyguard.


Ini bukan kali pertama Jia meminta gendong. Tapi biasanya ia hanya akan meminta gendong pada Jio atau Jellow, itupun di punggung. Bukan di depan tubuh sang lelaki seperti sekarang.


Dan ini juga bukan pertama kali Xiaoli menggendong. Tapi ia sering menggendong sang adik di punggung, bukan di depan dengan manja seperti ini. Kecuali saat sang adik masih balita dulu.


"Happy birthday!" ucap Jia dengan mata berbinar menatap sang kekasih.


Tersenyum tipis dan manis, Xiaoli tidak menjawab kalimat singkat berupa ucapan untuknya itu. Ia justru menatap lekat wajah Jia, dan memperhatikan dengan penuh binar mata ketika bibir tipis tanpa olesan apapun itu mengucap kalimat selamat ulang tahun untuknya.


Xiaoli memilih membalas ucapan Jia dengan mengikis jarak di antara bibir mereka. Menyatukan kembali bibir yang sempat bertemu singkat dengan sebuah kecupan hangat tadi.


Xiaoli menarik kembali bibirnya, namun setelah beradu pandang sekitar 5 detik, jarak yang sempat tercipta kembali hilang. Dan berganti dengan ciuman yang hangat, dan semakin lama maka akan semakin memanas dan saling menginginkan.


Semakin erat tangan Jia melingkar di leher sang kekasih, maka semakin dalam pula ciuman yang terjadi. Begitu juga dengan tangan Xiaoli yang menopang bokong sang kekasih. Semakin erat terasa mendekapnya, maka semakin gemas ia pada sang kekasih.


Ingin rasanya sang pemuda melangkah maju dan meletakkan tubuh moleh sang kekasih di atas tempat tidur. Untuk kemudian melanjutkan ciuman dengan posisi yang belum pernah mereka coba sebelumnya, tentu saja.


Namun Xiaoli belum berani sejauh itu. Untuk saat ini biarlah ia menikmati ciuman hangat bersama sang kekasih dengan posisi yang sudah sangat cukup untuk membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang dan hebat.


Bagaimana tidak, tubuh mereka berdekatan tanpa halangan udara sedikit pun. Melainkan hanya kain tips yang membalut tubuh Jia, dan sweater yang membalut tubuh Xiaoli. Tidak ada sesuatu lain lagi jarak yang memisahkan keduanya.


Jia meletakkan kedua lengannya di pundak Xiaoli. dengan jemari yang bertaut di leher belakang Xiaoli. Kemudian di imbangi dengan ciuman panas yang di kuasai berdua, membuat pergerakkan kepala mereka terlihat begitu menggairahkan.


Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, dengan mata yang terpejam. Menghanyutkan lidah masing-masing sampai sejauh yang mereka bisa.

__ADS_1


Tidak ada yang mengajari tehnik apapun pada mereka berdua. Hal semacam ini terjadi begitu saja sesuai dengan naluri masing-masing. Karena memang setiap manusia di bekali dengan yang namanya hawa nafsu.


"Mmhh..." ******* itu meluncur dari bibir tipis Jia yang hanyut sedemikian dalam pada sebuah ciuman yang panas.


Dan itu tentu membuat sang pemuda memeluk kian erat apa yang sedang ada di lengannya. Benda kenyal yang bahkan belum berani ia sentuh. Karena takut timbul reaksi yang membuat Jia tidak nyaman, atau merasa di lecehkan.


Mengakhiri ciuman dengan nafas yang sama-sama menggebu karena keduanya hampir kehabisan nafas, Xiaoli dan Jia menyentuhkan hidung dan kening mereka. Dengan mata yang masih tertutup dalam. Merasakan betapa indahnya malam ini, karena saling memeluk di antara dinginnya malam. Kemudian berbagi kehangatan dari bibir masing-masing.


Jika di luar ada langit yang di hiasi oleh bulan dan bintang, maka di dalam kamar yang luas itu ada Jia dan Xiaoli yang sedang berbagi keindahan cinta. Berbagi kehangatan dengan saling memeluk erat. Saling menunjukkan jika mereka saling menginginkan satu sama lain.


Membuka mata secara bersamaan, keduanya saling menatap dengan sendu di jarak yang sangat dekat, kemudian Jia menarik wajahnya, hingga jarak 15 cm tercipta di antara dua wajah masing-masing.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ulang tahun?" tanya Jia yang masih berada di gendongan Xiaoli.


"Apa itu penting?" tanya Xiaoli menatap penuh binar cinta.


"Ya, tentu saja!" jawab Jia. "Kalau aku tau kamu ulang tahun, pasti sudah aku siapkan hadiah buat kamu!"


"Apa yang kamu minta?" tanya Jia. "Jam tangan, sepatu, topi atau apapun yang kamu minta!"


Sepetinya Nona Muda lupa, jika semua kartunya masih di sita oleh sang Daddy.


"Em..." Xiaoli tampak berfikir dengan tatapan mata yang tak lepas dari sang kekasih.


"Katakan, Amore! apa yang kamu minta dariku?" tanya Jia.


"Jika aku boleh meminta, ada satu hal ingin aku minta dari mu, Sayang..." ucap Xiaoli sambil membawa sang kekasih untuk berjalan mendekati sofa yang ada di dalam kamar tidur Jia. Rasanya berdiri sembari menggendong terlalu lama seperti itu juga bukan ide yang bagus. Karena lelahnya akan terasa saat semua berakhir nanti.


"Katakan!" jawab Jia tersenyum tanpa peduli kemana sang kekasih akan membawanya.

__ADS_1


Tak langsung menjawab, Xiaoli memilih untuk memposisikan dulu dirinya di sofa. Xiaoli sengaja memilih sofa yang jauh dari pintu utama kamar Jia. Agar obrolan lirih mereka tidak terdengar sampai luar kamar.


Ia duduk dengan sangat hati-hati tanpa menurunkan sang kekasih dari gendongan. Sehingga posisi Jia saat ini berada di pangkuan sang kekasih dengan saling berhadapan.


Jia masih meletakkan tangannya di kedua pundak Xiaoli. Kedua kakinya di tekuk untuk bisa berada di posisi semacam ini. Paha mulus terekspos hingga setengahnya. Namun fokus Xiaoli tidak terarah pada bagian itu untuk saat ini.


Tapi semua itu terasa sangat dekat dan... intim.


Menatap lekat wajah cantik sang kekasih. Memeta betapa indah ciptaan Tuhan satu ini. Dan betapa beruntung ketika perasaan cintanya terbalas, meski ia tak mampu menandingi dari segi materi.


Sampai akhirnya Jia dan Xiaoli saling beradu pandang lekat. Untuk beberapa saat suasana terasa begitu romantis dan syahdu. Kemudian tangan Xiaoli yang masih berada di belakang pinggang Jia, bergerak naik, membelai rambut hitam Jia yang sudah tidak tersisir rapi. Karena memang Jia baru saja hendak tidur.


"Teruslah mencintaiku..." jawab Xiaoli lirih dan terdengar sangat sendu dan serius. "Seperti aku yang akan terus mencintaimu..." lanjut Xiaoli. "Apapun yang akan kita hadapi di depan nanti, kamu dan aku harus sama-sama berjanji untuk selalu... dan terus bersama!"


Jia tersenyum mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Xiaoli, bodyguard tampan yang mampu membuatnya jatuh cinta.


"Konon katanya, di setiap hubungan yang di jalin, pasti akan ada badai yang mengintai dan menghampiri. Namun tak jarang badai itu yang akhirnya akan menguatkan mereka ketika Tuhan memberi mereka kesempatan untuk kembali bersama."


Tatapan dalam yang di berikan oleh Xiaoli, serta kalimat-kalimat dewasa yang di ungkapkan oleh pemuda yang genap berusia 22 tahun itu benar-benar membuat Georgia hanyut dalam setiap hembusan nafasnya.


Rasanya tak ingin momen sedekat ini berakhir begitu saja. Ia ingin terus berada di pangkuan sang kekasih seperti sekarang. Bebas menatap wajah tampan Xiaoli, menyentuh setiap inchi dari wajah sang pembunuh senyap itu, serta memeluk setiap kali ingin memeluknya atau ingin di peluknya.


"Aku berjanji akan selalu mencintaimu, Amore..." jawab Jia meyakinkan sang kekasih. "Dan aku berjanji akan selalu setia kepadamu, apapun yang terjadi..." jawab Jia.


"Tapi bagaimana jika badai itu berupa..." Xiaoli menggantung kalimatnya dengan tatapan yang resah pada sang kekasih.


"Apa?" tanya Jia.


"Bagaimana jika Tuan Michael akan menembak kepalaku, jika beliau tau aku mencintai putrinya?"

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2