
Berada di dalam kamar seorang Nona Muda yang luasnya bukan kepalang, di tengah remang cahaya lampu tidur. Jia dan Xiaoli terlihat sangat romantis dan membuat iri seluruh pasangan kekasih di muka Bumi ini.
Bagaimana tidak, mereka tengah duduk di sofa, bukan berdampingan, melainkan dengan posisi duduk yang luar biasa mesra. Mendebarkan di setiap detiknya. Juga menghanyutkan di setiap sentuhannya.
Berbicara pelan, dan sesekali mendaratkan kecupan singkat di pipi bahkan di bibir, keduanya di buat diam ketika Xiaoli bertanya...
"Bagaimana jika Tuan Michael menembak kepalaku, jika beliau tau aku mencintai putrinya?" tanya Xiaoli dengan dada yang bergemuruh kencang.
Bukan takut untuk menghadap. Bukan pula takut untuk mati atas nama cinta. Tapi ia takut jika dirinya akan menimbulkan masalah untuk sang kekasih di kemudian hari.
Selain itu, rasanya ia tak akan sanggup jika ia harus kehilangan sosok gadis nan cantik di pangkuannya itu. Ia teramat mencintai apapun yang berhubungan dengan sang gadis. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan semua sifat dan sikap yang menyertai sang gadis.
Jia yang duduk dengan menghadap Xiaoli, di buat terpaku dengan apa yang di tanya kan oleh sang kekasih. Ia menatap lekat wajah tampan di depan mata. Kemudian tangannya bergerak untuk membelai pipi dan rahang tegas sang pemuda. Ibu jarinya bergerilya mengusap kulit lelaki impiannya.
Hingga tangan Xiaoli menangkap punggung tangan sang gadis, membawa tangan itu untuk di kecup nya dan di hirup dalam-dalam wanginya body lotion yang sedang di gunakan sang kekasih sebelum tidur.
Jia membalas kecupan di punggung tangannya itu dengan cara yang sama. Ia ganti membawa tangan kekar itu ke bibirnya dan mengecupnya dalam. Kemudian ia membawanya turun, dan ia genggam menggunakan kedua tangannya di depan dada. Meminta sang kekasih merasakan betapa ia sangat menyayangi dan mencintai sang pemuda apa adanya.
"Kita akan berjuang bersama, Amore..." lirih Jia menatap lekat sang pemuda. "Apapun yang terjadi kita akan terus bersama. Aku yakin, Daddy tidak akan membunuhmu. Mungkin Daddy hanya akan marah besar untuk sesaat." jawab Jia menenangkan kegundahan sang kekasih.
"Beri aku waktu, Bao Bao. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menghadap Tuan Michael, Daddy mu..." ucap Xiaoli menarik tangannya dari genggaman sang kekasih, dan kembali membelai rambut indah yang menjuntai di pelipis sang gadis. Mengusap pipi mulus dengan penuh kasih sayang.
Dua pasang mata saling menatap sendu satu sama lain. Sangat lembut, teduh dan menghanyutkan.
Jia kembali merangkul manja sang kekasih, dengan jarak wajah mereka yang tak lebih dari satu jengkal saja. Jarak itu terkikis, hingga dahi dan hidung mancung keduanya saling bersentuhan. Lalu mata mereka terpejam bersamaan.
Tangan kanan Xiaoli turun, kembali ke pinggang sang gadis. Kemudian bergerak ke arah belakang tubuhnya. Mengikuti jalan yang di lalui oleh telapak tangan. Yaitu pinggang hingga melintasi paha mulus yang tak tertutupi kain celana tidur pendek Jia.
Sampai di sini getaran terasa di dalam tubuh sang gadis. Sentuhan ini sangat tidak biasa di terima oleh tubuhnya. Tapi ia pun tak ingin menepis tangan itu. Justru ia ingin tangan itu terus saja berada di sana.
__ADS_1
Tangan sang pemuda terus berjalan, hingga kini sampai di betis, dan memijat lembut betis Jia yang mulus kulitnya tiada tanding bagi seorang Xiaoli Chen yang memang belum pernah menyentuh gadis manapun.
Bagi Xiaoli Chen, baru kali inilah ia menyentuh dan mengusap kulit semulus kulit Jia, gadis petarung berdarah bangsawan, juga berdarah Mafia.
"I love you..." ucap Xiaoli lirih dan penuh perasaan sayang dan cinta yang nyata.
"Love you, too.." Jia mengembalikan kedua tangannya di belakang leher sang kekasih. Dan kembali mengulang apa yang tadi mereka lakukan.
Yaitu berciuman dengan sangat dalam. Tubuh keduanya menempel sempurna. Tangan Jia berulang kali menyisir rambut dan meremasnya seiring dengan tubuhnya yang kembali terbawa arus. Memegang kepala sang kekasih untuk membuat ciuman itu terasa semakin dalam dan menghanyutkan. Begitu erat Jia memeluk sang pemuda, saking dahsyatnya reaksi di dalam tubuh.
Sedangkan Xiaoli yang bersandar pada sofa mengikuti gerakan Jia dengan sangat intim. Ia biarkan sang kekasih berbuat apapun pada rambutnya. Juga membiarkan sang kekasih mengarahkan kemanapun kepalanya harus bergerak. Demi mendapat an posisi terbaik untuk menyalurkan cinta kasih mereka.
Seperti Xiaoli yang membiarkan tangan sang kekasih melakukan apapun juga, maka Jia pun membiarkan tangan Xiaoli bergerilya semaunya. Saling menginginkan satu sama lain, membuat keduanya terbakar oleh hasrat yang muncul seiring dengan semakin panasnya hawa di dalam tubuh masing-masing.
Lampu yang temaram, hawa dingin yeng merasuk di kulit tubuh Jia yang tak tertutup kain, membuat aliran darah semakin terasa cepat mengalir di setiap pembuluh darah sang gadis. Ingin ia semakin mendekap erat, juga semakin ingin di dekap erat oleh sang kekasih yang mengenakan baju serba hitam dan panjang.
Tangan kanan yang berada di pinggang kini mulai bergerak keatas secara pelan dan lembut. Memeluk semakin erat tubuh Jia yang terlihat sangat seksi malam ini, meski tertutup oleh setelan tidur sederhana. Tangan Xiaoli terus meraba lembut dan pelan ke atas. Kemudian kembali ke bawah, dan kembali ke atas.
Ketika ujung jemari yang bergerak ke atas, sungguhlah di luar dugaan ternyata menyerempet bagian samping dari benda kenyal yang di miliki Jia. Yang mana sejak tadi bagian depan menempel sempurna di dada sang bodyguard.
Sebagai lelaki normal, tentulah nafas sang pemuda berhembus tidak beraturan. Aliran darah semakin kencang berpacu, seiring dengan hasrat yang semakin terbakar. Jiwa kelakian nya meronta, ingin sekali menyentuh lebih jauh benda itu. Apalagi kekenyalannya terasa nyata di dadanya yang bidang.
Akan tetapi setengah mati Xiaoli menekan perasaan apapun yang muncul di dalam dirinya. Ya... meskipun itu akan terasa sangat sulit dan menyiksa.
"Mmmhh..." lenguh Jia tanpa sadar.
Namun suara lenguhan Jia semakin membuat darah Xiaoli serasa mendidih. Apa yang ia tahan sejak tadi rasanya akan semakin sulit jika suara khas seperti itu keluar dari bibir sang gadis lagi dan lagi.
Akhirnya tangan itu memilih untuk kembali bergerak turun, mendekap erat pinggang dan punggung Jia lagi.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Bao Bao.." bisik Xiaoli ketika ciuman mereka terlepas, namun jarak belum juga tercipta. Karena bibir keduanya hanya berjarak 2 cm saja saat ini.
"Aku pun sama, Amore.." balas Jia dengan deru nafas yang menggebu. "Aku juga sangat mencintaimu..." ucap Jia lirih dengan di sertai sebuah kecupan di bibir tipis Xiaoli.
Menarik nafas panjang, keduanya menormalkan tubuh yang sempat memanas oleh hasrat naluriah yang timbul.
"Tidurlah, Sayang... Aku harus kembali." lirih Xiaoli berpamitan. "Aku khawatir Tuan Michael mencurigai kamar kamu..."
Tanpa menjawab permintaan Xiaoli, Jia justru bertanya. "Oh, ya? kamu tadi lewat mana?" tanya Jia yang seolah tak ingin melewatkan malam ini begitu saja.
Tersenyum tipis dan menawan, Xiaoli menyadarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dengan sepasang mata yang menatap lekat wajah sang kekasih. Ia tau jika Jia tengah mengulur waktu untuk mereka berpisah.
"Aku sembunyi di atas!" jawab Xiaoli melirik pintu yang mengarah pada balkon. Dan saat kamu keluar, aku langsung masuk."
Jia membuka mulutnya cukup lebar, seolah tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Xiaoli.
"Bagaimana aku bisa tidak tau?" tanya Jia yang merasa dirinya juga memiliki respek yang tak semua orang bisa memiliki.
"Tidak akan ada yang bisa mendeteksi kedatangan pembunuh senyap seperti ku." jawab Xiaoli. "Kecuali Tuan Michael dan Tuan Muda Jio. Mereka bisa dengan sensitif bisa mendeteksi kedatanganku."
"Ya, aku tau mereka sangat hebat. Meskipun aku dan Kak Jio di kuil bersamaan, tapi dia selalu menjadi pemenang di setiap pertandingan." sahut Jia. "Sedangkan aku?" tanya Jia terkekeh kecil dengan dirinya yang tidak ada setengah dari kemampuan sang saudara kembar.
"Kita akan saling menyempurnakan..." sahut Xiaoli tak ingin sang kekasih berkecil hati.
"Jangan pergi sebelum aku tertidur..." pinta Jia.
"Tapi...."
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1