SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 244


__ADS_3

Jio telah sampai di istana Xavier lebih dulu di banding Jia. Ia memutuskan untuk pulang setelah puas menatap jendela kamar sang gadis. Dari lampu yang masih menyala, sampai akhirnya redup, dan terakhir menjadi gelap.


"Selamat malam, Baby... Mimpilah yang indah... dan aku pastikan kita akan terus bersama apapun yang terjadi." gumam Jio masih berada di dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari rumah keluarga Brown.


Begitu ia sampai di istana Xavier, ia keluar dari mobil nya dengan menenteng paper bag kecil di tangan kiri. Jio memasuki rumah megah yang lebih pantas di sebut dengan istana itu.


Langkah melewati ruangan yang mulai remang. Karena seluruh pekerja istana dan isinya yang tersisa di dalam rumah pasti sudah tidur. Termasuk Daddy dan Mommy nya, juga Gerald, meski itu hanya mungkin.


Jio lebih suka naik maupun turun ke lantai dua menggunakan tangga di banding menggunakan lift. Selain lebih sehat juga terlihat jika dirinya tidak selemah wanita yang lebih suka naik turun tangga menggunakan lift.


Sampailah ia di depan kamar sang adik laki - laki. Tanpa mengetuk pintu, Jio langsung membuka handle pintu. Dan ia yang berpikir jika Gerald sudah tidur, ternyata masih membuka matanya lebar dengan asyik bermain Play stasion.


"Kak!" pekik Gerald saat melihat Jio tiba - tiba muncul dari daun pintu yang terbuka tiba - tiba. Saking fokusnya dengan layar dan jemarinya, ia sampai tidak menyadari jika handle pintu bergerak.


"Aku pikir kamu sudah tidur!" ujar Jio memasuki kamar dan mendekati Gerald yang duduk di lantai depan ranjang, dengan sebuah stik PS di tangannya.


"Aku tidak bisa tidur, Kak!" jawab Gerald datar. "Malam seperti ini harusnya anak muda keluar rumah, bukan?" tanya Gerald. "Tapi aku malah terkurung di sini karena tidak punya uang!" seloroh Gerald dengan wajah yang memelas.


Jio yang hendak mendudukkan tubuhnya di samping Gerald seketika terkekeh dengan ujaran Gerald yang menunjukkan betapa ia adalah anak muda yang miris dan menyedihkan. Padahal dari segi materi dia adalah anak orang terkaya di Italia.


"Memangnya kalau bisa keluar kamu mau apa?" tanya Jio yang sudah duduk di samping Gerald, dan bersandar pada dipan sang adik.


"Tentu saja seperti Kak Jio dan Kak Jia!" jawab Gerald sembari menyandarkan kepalanya pada ranjang tidurnya, sama seperti yang di lakukan oleh Jio. "Datang ke pesta, ataupun berkencan seperti kakak! itu akan sangat menyenangkan n, bukan?" tanya Gerald dengan seulas senyuman nakal.


"Belum tujuh belas tahun, jangan sok - sok an!" ucap Jio menyentil gemas kepala Gerald.

__ADS_1


"Hmm... ya ya ya!" sahut Gerald semalas itu.


'Ini!" Jio menyerahkan paper bag berisi sebuah box dengan 7 kalung BTS.


"Apa ini?" tanya Gerald menerima paper bag itu.


Tanpa menjawab apapun, Jio langsung bangkit dari duduknya, "Ingat! jangan permainkan hati wanita! pilih salah satu yang menurut kamu terbaik." pesan Jio dengan nada yang serius dan penuh penekanan.


"Iya iya iya!" jawab Gerald sekenanya, tanpa berniat menjawab dengan serius. Karena ia sibuk mengeluarkan box di dalam paper bag. Lagi pula jika melihat Gerald sekarang, ia yakin jika Gerald jauh berbeda dengan Jio yang sangat setia.


"Oh, my God!" seru gerald saat tau apa isinya. Dan saat ia ingin mengucapkan terima kasih, tenyata Jio sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


"Thank you, Kak Jio!" seru Gerald tanpa peduli sang Kakak mendengar atau tidak. Yang jelas ia tau sang Kakak memiliki pendengaran yang sangat sensitif. Jadi 80% sang Kakak pasti mendengar teriakannya.


***


Seperti sebelumnya, jika selama menuruni bukit tadi mereka duduk berdampingan dengan canda gurau bahkan terkadang saling menggamit jemari, maka sebelum sampai di depan gerbang, Jia harus pindah posisi. Yakni berpindah untuk duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Mobil sudah melewati gerbang istana, dan kini sudah berhenti di depan istana. Jia keluar dengan bantuan Xiaoli untuk membuka pintu. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah bersamaan, bedanya Xiaoli berjalan dua langkah di belakang sang... kekasih.


Setidaknya itulah julukan mereka di saat hanya berdua, dan tak ada orang lain lagi yang bersama mereka.


Tapi jika ada mata lain dari bagian seorang klan maupun penghuni istana Michael Xavier, maka sebutan mereka adalah Bodyguard dan majikan.


"Selamat malam, Xiaoli..." ucap Jia tersenyum manis saat sudah berada di ruang tengah. Jia hendak ke lantai dua, dan Xiaoli hendak ke luar melalui pintu belakang, setelah memastikan Jia sampai di anak tangga teratas.

__ADS_1


Sebagai anak muda pada normalnya, tentu mereka ingin berpisah dengan saling berpelukan terlebih dahulu. Hanya saja kondisi, situasi dan keadaan bukan saat yang tepat untuk berpelukan apalagi berciuman.


"Selamat malam, Nona Jia." jawab Xiaoli dengan sedikit menunduk, selayaknya hormat bodyguard pada Bos nya.


Karena banyak CCTV di sekitar, tentu mereka tidak berani untuk memberikan tatapan yang sebelumnya mereka berikan saat berada di dalam restauran tadi. Apalagi saat keduanya beradu tatap ketika Jia di tarik pelan oleh Xiaoli, dan berakhir dengan duduk manis dan manja di pangkuan sang bodyguard.


Mengira sudah tidak ada orang yang masih terjaga karena ruangan sudah remang, Jia menyempatkan dirinya untuk tersenyum pada bodyguard yang menjadi pelabuhan cinta pertamanya itu. Namun yang terjadi justru...


"Jia! kenapa kamu memakai jaket Xiaoli?" suara barinton terdengar dari anak tangga teratas yang meliuk.


Dan itu membuat Jia yang membelakangi tangga tersentak kaget. Cepat - cepat Jia membalikkan badan. Saking gugupnya, ia sampai hampir terselip kakinya sendiri.


"Kak!" pekik Jia melihat Jio yang kini berjalan menuruni tangga dan mengikis jarak di antara mereka.


Sementara Xiaoli masih berdiri dengan tenang. Ia sangat pandai menutupi perasaan dan gelagat aneh. ya, setidaknya itu memang kelebihan untuk seorang pembunuh senyap seperti dia.


"Kenapa wajahmu jadi gugup?" tanya Jio seolah menginterogasi sang adik.


"Ah.. ti...tidak, Kak! Jia... tidak kenapa - kenapa..." jawab Jia sedikit tergagap. Menatap mata sang Kakak dengan penuh tanda tanya. Berharap sang Kakak tidak melihat jika ia tengah tersenyum manis pada sang bodyguard tadi.


Jio melirik jam tangan super mewahnya di pergelangan tangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.58 malam. Waktu yang memang sudah di janjikan untuk kembali pulang. Waktu yang menjadi syarat wajib bagi anak - anak Xavier untuk kembali pulang setelah pergi berkencan maupun ke pesta.


"Kenapa kamu memakai jaket Xiaoli?" tanya Jio mengulang pertanyaan yang sebelumnya sudah ia ajukan pada sang adik.


Meski pertanyaan itu terlihat sangat ringan, nyatanya membuat Jia semakin gugup untuk memikirkan jawaban yang tidak membuat sang Kakak curiga.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2