
Merasa tidak percaya di akui dunia sebagai Nyonya Xavier, nyali Chania mendadak menciut. Status yang dulu pernah ia impikan, justru lenyap seketika saat sudah ada harapan nyata di depan mata.
Apalagi kenyataan yang ia ketahui sebelumnya, dimana sebenarnya dia hanyalah gadis yang siap untuk di persembahkan sebagai tumbal.
Ia takut jika dunia mengetahui dan memandangnya sebelah mata. Hingga akhirnya berusaha menjatuhkan dirinya dan menganggap dirinya tak pantas bersanding dengan seorang Michael Xavier.
"Saya merasa tidak pantas untuk menjadi menantu di keluarga ini, Nyonya." ucap Chania menunduk dalam.
"Kamu mengandung calon cucu ku, dan kamu bilang kamu tidak pantas untuk menjadi menantu keluarga ini. Lalu apa mau mu?" tanya Madalena. "Kamu mau memberikan dua cucuku pada kami, lalu kamu pergi, kemudian meminta Michael menikah dengan gadis yang pantas untuk menjadi menantu kami, begitu?"
"What!" pekik Michael menoleh Chania yang sontak menatap tak percaya pada ibu mertuanya. "Benar begitu?"
"Bukan begitu maksud saya, Nyonya! tapi..." Chania kelabakan. Ia bingung menjelaskan yang ada di dalam pikirannya. Meminta Michael menikah lagi? Oh, mana mungkin. Ia bahkan tak akan rela melihat Michael di sentuh gadis manapun. Apalagi jika melihat Michael bahagia bersama dua anaknya namun dengan wanita selain dirinya.
"Lalu apa?"
Semua mata tertuju pada ibu hamil yang sedang di landa gugup, takut, bingung dan salah tingkah.
"Maksud saya, saya tidak meminta pesta pernikahan, Nyonya." jawab Chania takut salah lagi. "Saya terima walau dunia tidak mengenal saya sebagai istri Tuan muda Xavier." Chania kembali menunduk dalam kembali.
Gadis polos itu tampak begitu takut berhadapan dengan orang tua Michael. Bagaimana pun keluarga Sebastian adalah keluarga Mafia kelas dunia.
Salah bicara atau mungkin terlihat terlalu berharap, bisa saja jika mereka tidak suka, ia akan di jadikan santapan anjing peliharaan mereka.
"Kenapa kamu terlihat tegang berhadapan dengan kami?" tanya Frederick.
Chania semakin meremas jemari yang sedari tadi sudah bertaut di pangkuannya.
"Kenapa kamu juga merasa tidak pantas menikah dengan putra kami?"
Belum sempat menjawab, Chania sudah di serang pertanyaan lagi oleh mama Madalena.
"Saya.. saya.. hanya.. merasa tidak sepadan dengan keluarga ini." Chania tersenyum miris. "Saya sadar siapa saya, Tuan. Saya putri seseorang yang sudah menghancurkan sebuah keluarga atau bahkan lebih."
"Bukan kau yang bersalah, Chania. Itu adalah kesalahan kedua orang tua mu di masa lalu." ucap Frederick.
"Tapi..."
"Sssshh!" potong Michael sebelum Chania menyelesaikan kalimatnya. "Jangan membahas kamu pantas atau tidak pantas. Setelah Sania di temukan, kita akan menyelesaikan masalah Deborah. Kamu harus bersiap, Baby.."
"Memangnya apa yang mau kita lakukan setelah Sania di temukan?"
"Kita akan mengambil apa yang menjadi hak kamu dan saudara kembarmu?" jawab Frederick.
"Hak apa?"
"Sebenarnya Papa ingat satu hal! Dan beberapa waktu yang lalu Papa berhasil menemui pengacara Smith Arlington! Dia menceritakan semua rahasia Smith." sahut Frederick mengenang suatu masa. Membuat semua mata tertuju padanya. "Dulu Smith pernah mengatakan pada Papa, jika ia akan memiliki anak kembar dari Kimberly." lanjutnya. Semua semakin menatap penasaran Frederick dengan seksama.
__ADS_1
"Setelah itu, saat putri Kimberly sudah lahir, Smith menemuiku. Ia mengatakan jika 70% aset kekayaan miliknya akan di serahkan pada kedua putri Kimberly. 30% sisanya untuk Oliver. Dan saat lalu aku menemui pengacara Smith, ia mengatakan, hak putri Kimberly bisa di ambil jika keduanya menandatangani aset secara bersamaan saat usia mereka lebih dari 17 tahun. Dan itu sudah tertuang mutlak dalam surat wasiat yang tidak dapat di ganggu gugat! Itu artinya Deborah sesungguhnya tak berhak sepersenpun atas kekayaan Arlington saat ini."
"Lalu untuk Selena?"
Sahut Michael, kenapa sang Papa tidak menyebutkan nama Selena. Bukankah kekayaan Smith bisa di bagi menjadi 4, dengan masing - masing 25%. Mengingat semua anaknya adalah perempuan.
Madalena melirik sekilas sang putra, ia pun juga penasaran, kenapa nama Selena tidak di sebutkan.
Menghela nafas berat, "Pengacara Smith mengatakan jika sebenarnya Smith meragukan Selena."
"Maksud Papa?"
"Deborah dinyatakan hamil Selena saat Smith di penjara di Jepang, karena suatu hal. Kala itu Smith di penjara selama 4 bulan. Namun saat ia kembali ke Italia, Deborah sudah hamil 15 minggu."
"What!" pekik Michael dan Madalena bersamaan. "Sangat tipis!"
"Namun Deborah terus menyangkal jika dia tidak pernah selingkuh. Dia tetap bersikukuh jika Selena adalah putri kandung Smith Arlington."
"Lalu?"
"Sampai akhirnya Smith membuktikan sendiri, jika Selena memang bukanlah darah dagingnya, beberapa minggu sebelum ia meninggal di tembak oleh Deborah. Melalui test DNA tanpa sepengetahuan Deborah."
"Tapi kenapa Deborah menginginkan sumsum tulang belakang saya, jika ternyata kami bukan sedarah?" tanya Chania memberanikan diri.
"Karena Deborah meyakini Selena anak kandung Smith!"
"Hah! Aneh!" celetuk Michael.
"Untuk itulah, jika kalian bersatu, kalian akan memenangkan 70% harta warisan Smith, dengan masing - masing 35%. Dan kalian bisa melakukan apapun atas harta itu." Lanjut Frederick. "Kalian harus bersatu!"
Chania menunduk, ia serasa masih tak percaya dengan apa yang di jelaskan Papa mertuanya.
"Michael?" Frederick beralih menatap sang putra. "Papa harap kau bisa membuat Oliver menjadi lebih baik. Papa yakin, Oliver hanyalah korban dari ibunya. Oliver patut di selamatkan, Michael!"
"Tapi Papa tau, kan? Oliver begitu terobsesi pada Michael! Aku tidak mau berhubungan dengannya dalam hal apapun." tolak Michael melirik Chania. Ia takut Chania semakin berkecil hati.
"Kamu keberatan jika berdamai dengan Oliver, Chania?"
"A... tentu tidak, Tuan." jawab Chania yakin. "Saya tidak pernah keberatan berdamai dengan Oliver. Asalkan dia benar - benar berubah dan tidak menyakiti saya, dan calon anak kami."
"Kita akan coba dekati pelan - pelan. Selama wanita ular itu tidak lagi di dekatnya, Mama yakin Oliver bisa berubah."
"Tapi bukankah yang membuat dia jahat itu karena Michael menolak cintanya?" sahut Chania.
"Untuk itulah, buat dia tersadar bahwa cintanya untuk Michael adalah salah." sahut Frederick. "Kita pasti bisa merubah dirinya."
"Lalu jika kita sudah mengalahkan Deborah, mau di apakan wanita itu?" tanya Madalena.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita akhiri hidupnya?" sahut Michael menyeringai kejam.
Namun Chania memukul paha Michael. Ia merasa tak terima dengan aksi saling bunuh.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Ada!"
"Apa?"
"Masukkan ke kandang buaya belakang markas! Buaya itu butuh banyak makan, bukan?"
"Honeeeyy..." desis Chania lirih mencubit paha Michael sekencang yang ia bisa.
Namun laki - laki itu justru hanya terkekeh, sembari menarik tangan Chania untuk di genggam. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan. Ia hanya gemas dengan istrinya yang sebenarnya terlalu baik.
"Kamu tau, apa yang membuatmu tak pantas menikah denganku?"
"Apa?"
"Kamu terlalu baik dan lembut!" jawab Michael. "Saling bunuh dalam dunia Mafia itu sudah biasa, Baby... jadi kamu harus terbiasa melihat semua itu."
Chania menarik nafas dalam. Ia merasa tak sanggup membayangkan berapa banyak nyawa yang sudah melayang di tangan calon ayah kedua anak kembarnya itu.
"Keterlaluan!" desis Chania menatap tajam pada Michael.
Sedangkan Papa dan Mama saling tersenyum dan melempar lirikan. Sejak kapan sang putra bisa bersikap seperti itu pada wanita?
"Eghm!" Frederick berdehem.
"Eh! maaf Tuan, Nyonya!" ucap Chania.
"Panggil seperti Michael memanggil kami!" ucap Frederick.
"Hah?" Chania membelalakkan matanya lebar. Tak percaya dua orang paling di hormati itu mengatakan hal itu.
"Panggil Papa dan Mama." jelas Madalena.
"E.... Papa.. Mama..." ucap Chania.
"Hemmm!" Frederick mengangguk sembari mengacung satu jempolnya.
"Boy, Mama ingin menyaksikan rencana mu semalam!" ucap sang Mama.
Chania melirik Michael. Rencana apa yang sudah di buat sang suami tanpa sepengetahuannya?
"Sudah siap?" sahut sang Papa tersenyum simpul.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹