SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 192


__ADS_3

Tubuh kecil Jia tergoncang hebat saat tiba - tiba mobil di tabrak dari arah belakang. Kepala terbentur bagian belakang jok mobil dengan sangat keras. Rasa pening seketika menghantam seisi kepalanya.


Mobil baru milik Jia terdorong beberapa meter ke depan akibat tabrakan itu. Bahkan menyerempet beberapa pengendara di depannya. Dan berakhir dengan membentur pohon besar di tepi jalan. Membuat body mobil ringsek tak lagi berbentuk.


Satu yang membuatnya tidak membentur kemudi bundar atau bagian mobil yang keras lainnya. Yakni keberadaan Xiaoli di depan tubuhnya. Mendekap erat sang Nona muda, dengan tangan memegang kepala bagian kiri Jia agar tak membentur badan mobil. Sebisa mungkin ia membuktikan akan sumpah yang terucap saat pertama kali memasuki Klan Black Hold.


Berulang kali punggung pemuda itu terbentur kemudi bundar. Kepalanya pun membentur benda keras lainnya pada pintu. Termasuk menabrak kaca pintu hingga kaca retak dan nyaris ambrol. Semua demi menjaga Nona muda Xavier tetap aman tanpa luka lecet sekalipun.


"Xiaoli?" panggil Jia menggoyang pelan tubuh Xiaoli. "Xiaoli, kamu bisa mendengar ku, kan?" tanya Jia dengan perasaan yang tak karuan. Di samping itu air mata seketika ingin jatuh.


Satu, merasa bersalah karena tak menuruti Xiaoli sejak awal. Dua, karena ia dengan bodohnya tak memperhatikan bahaya sekitar.


Sejak kecil, ia hanya fokus untuk melindungi diri sendiri. Sejak kecil ia hanya berusaha memperdalam ilmu pertahanan diri saat berhadapan dengan musuh. Pertempuran antara manusia dengan manusia.


Lupa, jika bahaya tidak hanya datang di medan perang. Tidak hanya datang dari musuh bebuyutan Klan. Tidak hanya datang dengan cara seperti yang di alami Virginia.


Lalu saat ia memanggil nama bodyguard nya itu, ia semakin panik karena Xiaoli tak kunjung merespon.


Jia mencoba keras melihat wajah Xiaoli. Mendorong pelan tubuh Xiaoli. Bersamaan dengan itu, beberapa orang datang untuk membantu dirinya yang terjebak bersama Xiaoli.


"Xiaoli..." lirih Jia lagi. Namun sesuatu mengalir di tangannya yang mencoba mengangkat kepala Xiaoli.


"Darah?" lirihnya melihat lumuran darah di tangannya.


Wajah Jia semakin terlihat panik. Sepasang mata membulat lebar. Mulut tak sanggup lagi berucap. Nafas memburu karena takut bercampur khawatir. Tubuh serasa lemas. Bukan karena takut darah, melainkan karena rasa bersalah.


"Buka kunci pintunya, Nona!" suara teriakan dari luar membuat Jia segera mengembalikan kesadarannya.


Setelah susah payah Jia mencari cara untuk bisa membuka pintu, akhirnya pintu terbuka. Beberapa orang yang berkumpul menolong semua korban yang berjatuhan di dalam satu sport car, satu Mini Cooper dan beberapa kendaraan lainnya. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi itu. Tapi darah bercecer dimana - mana.


Jia, gadis petarung itu hanya bisa terdiam di tengah - tengah orang yang berlalu lalang melakukan penyelamatan, sembari menunggu ambulance datang. Berdiri dengan tubuh yang seolah tak bernyawa.


Dari sekian banyak korban hanya dirinya yang di nyatakan tanpa luka berdarah.


Sementara Xiaoli, pemuda itu nyaris tak sadarkan diri di atas jalan beraspal. Telinga masih bisa mendengar dengan tajam. Namun mata sesulit itu untuk terbuka. Dan tubuh terasa sekaku itu untuk bisa bergerak.


Dia bukan pemuda yang lemah. Tapi sesuatu di dalam sana terhantam dengan keras. Yang rasanya seperti di banting dari ketinggian sekian meter.


Kepalanya berdarah, yang di akibatkan tertancap pecahan kaca yang terlempar dari bagian belakang mobil Mini Cooper milik sang Nona muda.

__ADS_1


Sepasang mata Jia kembali menyisir sekitar. Dimana banyak orang beramai - ramai melakukan pertolongan. Suara tangisan beberapa anak kecil yang tak sengaja tertabrak pun menggema di telinga sang Nona muda Xavier.


Terakhir ia menatap Xiaoli dengan tatapan yang sulit di artikan. Wajah tampan sang bodyguard terdapat darah merah yang mengalir seperti anak sungai.


Dengan hati yang bergetar, Jia mengangkat tangannya yang berlumuran darah sang bodyguard muda itu. Menatap kedua telapak tangan dengan nanar. Air mata penyesalan pun menetes begitu saja.


Andai sejak awal ia mau menuruti Xiaoli!


Andai ia tak perlu sok pintar dengan langsung mencoba mengemudi di jalan raya di hari pertama.


Andai ia tak keras kepala.


Andai ia tak menganggap remeh kendaraan roda empat.


Dan andai waktu dapat di putar, ia akan memilih untuk duduk di jok belakang, dengan Xiaoli dan seorang bodyguard lain di ruang kemudi.


Semua kata andai bertabrakan di dalam otak gadis itu. Menyesal pun sudah tak ada guna. Xiaoli sudah terbaring lemah. Korban sudah berjatuhan. Suara sirine polisi dan beberapa Ambulance pun sudah mulai terdengar.


Pergerakan menjadi begitu cepat. Xiaoli dan korban lainnya di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Jia dengan air matanya pun ikut mengiringi Xiaoli di dalam salah satu Ambulance yang melaju cepat.


Pengemudi sport car pun berada di dalam salah satu mobil Ambulance yang melaju juga cepat. Yang artinya ia pun dalam luka parah.


Jika sang saudara kembar tengah menangis pilu penuh penyesalan, maka tidak dengan dirinya. Jio belum tau insiden yang menimpa sang adik. Karena semua terjadi di waktu yang sama. Saat dirinya memilih untuk bolos kuliah, dan menghabiskan waktu di pantai bersama gadis pujaannya sejak kecil.


Musim panas yang cerah. Membuat lautan nampak semakin biru, oleh langit yang biru pula. Banyak para wisatawan yang berjemur di tepi pantai dengan bikini atau baju renang mereka. Banyak pula anak kecil yang berlarian. Berkejaran dengan ombak yang menenangkan, atau sekedar bermain pasir.


Sedang yang memilih untuk bersantai di bawah payung pantai pun tak sedikit. Jio dan Virginia contohnya.


Dua pemuda itu duduk di bawah payung pantai. Bersantai dengan menikmati udara pantai yang menyenangkan jiwa.


Keduanya pun memakai baju yang cocok untuk di pantai yang di sertai kaca mata hitam. Jio dengan celana kain pendek selutut. Virginia dengan baju renang ketat berwarna hitam. Celananya pendek, di atas lutut, kemudian menyatu dengan atasan yang seperti tang top.


Sempat berdebat tentang baju renang di toko baju. Membuat Virginia mengikuti apa yang di pilihkan Jio untuknya. Dimana dia biasanya lebih suka berjemur dengan memakai bikini kemudian memakai selendang dengan model jaring.


Dua gelas minuman serta makanan ringan tersedia di antara mereka. Sesantai itu mereka saat belum tau jika Jia dalam insiden besar.


Jio menatap lekat Virginia di sampingnya. Sedangkan yang di tatap, menatap jauh ke arah pantai. Menerobos orang - orang yang berlalu lalang.


Merasa diri ada yang menatap sedemikian lekat. Naluri membuatnya menoleh ke sisi kiri. Dimana dari sanalah sumber sorot tatapan mata berasal.

__ADS_1


Namun saat ia hendak menoleh, cepat - cepat Jio menatap lurus ke depan. Menghilangkan jejak jika ia lah pelaku yang menggugah naluri Virginia.


Virginia reflek mengulum senyuman. Ah, semali itu keduanya kini. Padahal tinggal saling mengungkap apa yang di rasakan di dalam dada. Tapi kenapa semua terasa begitu sulit.


"Cantik .." gumam Jio begitu saja.


Virginia mengerutkan keningnya. Berfikir jika Jio tengah mengagumi kecantikan pantai Mediterania. Tapi kenapa terdengar begitu tidak nyaman. Jika laki - laki mengatakan pantai itu cantik, sementara di sampingnya ada seorang gadis yang benar - benar bisa di bilang cantik?


Oh, Jio... You're soooo.... Entahlah!


"Siapa yang cantik?" tanya Virginia penasaran. "Gadis itu?" lanjut Jia menunjuk gadis pirang yang berbikini, tengah duduk di payung depan mereka. Namun sedikit ke sisi kiri.


Jio menoleh Virginia, kemudian mengikuti arah yang di tunjuk Virginia menggunakan lirikan mata.


Dear, God! Sejak kapan Jio melihat ada gadis cantik selain Virginia. Mata pemuda itu seperti lelaki buta. Yang hanya bisa melihat kecantikan Virginia seorang.


"Bukan..." jawab Jio yakin.


"Pantai?" tebak Virginia lagi.


"Bukaan.."


"Gadis berambut hitam itu?" Virginia menunjuk seorang gadis berambut hitam yang melintas di area berombak.


"No.."


"Lalu?" tanya Virginia semakin penasaran. Dalam hati sungguh berharap, jika dialah yang di bilang cantik oleh Jio.


' Ah, rasanya itu hanya akan menjadi mimpi! '


' Mana mungkin aku akan di bilang cantik oleh seorang Georgio Xavier Sebastian '


Gumam Virginia dalam hati.


"Tak ada di dunia yang paling cantik selain...."


Jio menggantung kalimatnya, kemudian menoleh Virginia yang jantungnya semakin berdetak hebat. Dada sudah tak sabar mendengar kelanjutan kalimat Jio.


Ingin rasanya gadis itu berteriak dan berucap, CEPAT KATAKAN! Tapi mana mungkin ia berani. Ia harus tetap menjaga harga diri. Agar tidak terlihat murahan.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2