SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 208


__ADS_3

Hari telah berlalu, setelah sempat gagal bertemu kemarin di sekolah barunya. Karena suatu hal. Hari ini Gerald sudah merencanakan pertemuan yang cukup romantis di akhir pekan, meskipun ia belum tau pasti dimana ruang kelas gadis itu berada.


Sang ABG yang baru kembali pada dunia nyata itu tampaknya sangat antusias untuk menemui gadis yang konon katanya paling cantik di sekolahnya saat empat tahun silam.


Dengan bermodalkan sebuah kotak di dalam tas yang berisi 7 kalung dengan liontin bergambar anggota boyband asal Korea BTS yang di belikan sang Kakak laki - laki. Gerald melangkah dengan percaya diri.


Sementara seorang bodyguard setia menunggu sang Tuan muda kecil di parkiran sekolah.


Sedangkan Gerald memasuki gedung bertingkat yang merupakan sekolah terbaik dan termahal di Kota Roma. Dengan baju casual ala anak sekolah di Italia, Gerald menjunjung tinggi kesempurnaan dirinya sebagai seorang ya remaja.


Setiap melewati murid perempuan, Gerald tidak akan kaget jika mereka semua pasti menyempatkan mata mereka untuk melihat atau sekedar meliriknya. Namun perasaan grogi masih ada di dalam dirinya.


Ya, karismatik keluarga Xavier menurun dengan baik pada semua keturunannya.


Sejak kecil ia sudah biasa menjadi titik sorot mata para gadis. Hanya saja selama empat tahun tak terlalu fokus dengan hal itu, membuat Gerald tampak sedikit grogi, ketika semua anak dari tingkat Junior High School itu melihatnya dengan senyum malu - malu atau apalah.


Namun di tengah kegugupannya ada rasa bangga tersendiri. Lantaran darah sang Ayah yang suka mengencani wanita menurun lebih banyak padanya di banding pada Jio yang merupakan lelaki setia.


Dan darah itulah yang menutupi kegugupannya di sepanjang jalan menuju ruang guru.


"Selamat siang..." sapa Gerald pada salah seorang petugas di ruang administrasi.


"Ya?" jawab seorang wanita berusia sekitar 32 tahun.


"Saya Gerald Xavier! Dimana ruang kelas saya, ya?" tanya Gerald datar.


"Murid baru, ya?"


"Iya!"


"Kelas 8S! lantai tiga sebelah kanan." jawab petugas administrasi yang bertugas.


"Baiklah. Terima kasih!"

__ADS_1


Gerald pun segera menuju ruang kelas yang di maksud. Melewati beberapa murid - murid seusianya yang mencuri - curi pandang padanya di jam yang sudah sangat mepet dengan jam masuk kelas.


Setelah menemukan ruang kelas yang ia cari, Gerald merasa lega, karena tak perlu susah payah mencarinya. Alias kelasnya cukup mudah untuk di temukan.


Pintu ruang kelas tertutup rapat. Sepertinya sudah banyak siswa yang berada di dalam. Karena lantai tiga terlihat lebih sepi dari lantai yang lainnya.


Sesuai nilai kesopanan yang di ajarkan padanya di kuil, Gerald pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruang kelasnya yang baru.


Empat tahun tak mengenyam pendidikan formal di sekolah, membuat Gerald sedikit deg deg an. Selama di kuil sekolah hanya di lakukan dua kali dalam seminggu. Itupun hanya beberapa anak yang berminat untuk belajar pendidikan formal.


Gerald memegang handle pintu, menekannya ke bawah dan bersiap untuk mendorongnya pelan.


Sementara suasana di dalam kelas memang sudah cukup ramai. Sudah banyak siswa - siswi yang datang. Kelas yang berjumlah 19 siswa gabungan putra - putri itu sudah terisi sekitar 17 orang. Artinya hanya dua siswa yang belum datang.


Dan kelas akan menjadi genap menjadi 20 siswa jika Gerald masuk sebagai murid mulai hari ini.


Ketika mendengar pintu yang di ketuk, semua menoleh ke arah pintu. Itu karena biasanya tak ada satupun siswa yang masuk dengan mengetuk pintu. Semua akan langsung ceklak ceklek membuka pintu. Termasuk para guru sekalipun.


"Leo! tumben sekali mengetuk pintu!" dengkus salah seorang murid perempuan yang duduk di bangku paling depan.


"Tau itu!" sahut lainnya kesal.


"Sorry, guys!" jawab Leo tersenyum tanpa rasa bersalah pada teman - temannya. "Ayo!" ucap Leo kemudian sembari menoleh ke belakang.


Seketika semua kembali menoleh Leo yang seolah berbicara dengan seseorang di belakangnya.


Leo membuka lebar pintu kelas. Seolah memberikan akses jalan yang luas untuk seseorang yang di anggap spesial olehnya.


Sementara di luar, Gerald mengangguk santai, kemudian melangkahkan kakinya untuk pertama kali memasuki ruang kelas yang di desain sangat modern dan mewah. Cocok untuk menjadi ruang kelas anak - anak orang dengan rekening tanpa nomor seri seperti Gerald dan yang lainnya.


Setiap satu senti meter yang di lalui Gerald, maka semakin membuat semua siswa perempuan di dalam kelas menahan nafas mereka. Tentu saja itu karena saking penasarannya, siapa yang di ajak Leo memasuki kelas mereka. Apalagi berita tentang akan adanya murid baru di kelas cukup menggemparkan para siswa perempuan.


Dan saat setengah bagian tubuh Gerald terlihat oleh beberapa siswa yang duduk di bangku paling depan, maka kericuhan kecil mulai terdengar. Terutama senyum sumringah para anak gadis.

__ADS_1


Dan saat tubuh sang Tuan muda kecil terlihat sepenuhnya, semakin ricuhlah ruang kelas 8 S yang saat ini di isi oleh 10 siswa perempuan.


Gerald menoleh ke sisi kiri, melihat satu persatu wajah teman barunya di sekolah. Dan tak satupun yang ia kenal selain Leo. Pemuda yang menyerobot Gerald saat hendak membuka pintu itu adalah teman Gerald saat mereka masih bersekolah di Elementary School. Dan kini mereka kembali bertemu, setelah empat tahun berpisah.


Tak di sangka, saat kericuhan berlangsung, yang mana semua tengah membahas Gerald yang terlihat sangat tampan dan menawan, ada seorang guru yang bejalan di belakang Gerald. Yang membuat seisi kelas seketika senyap. Dan hanya lirikan mata atau obrolan memalui sorot mata yang terlihat oleh Gerald dan guru yang siap mengajar di kelas 8 S.


Sebelum duduk di bangkunya, Leo menyempatkan diri untuk menepuk pundak Gerald yang di tahan oleh Bu guru agar tidak langsung duduk. Melainkan melakukan sesi perkenalan terlebih dahulu.


"Ayo, Gerald! perkenalkan dirimu!" perintah seorang guru perempuan itu.


"Baik, Miss." jawab Gerald berdiri dengan percaya diri.


"Hai, selamat pagi..."


"Pagiii...." seru para murid. Terutama suara anak - anak perempuan yang antusias menyambut kedatangan Gerald.


"Salam kenal.... Namaku Gerald Xavier! Kalian bisa memanggil ku Gerald!" ucap Gerald.


"Halo Geraaaald!" balas para murid dengan suara lantang.


"Senang berkenalan dengan kalian..." ucap Gerald.


"Kita juga!" sahut beberapa anak perempuan di dalam kelas.


Dan saat sesi perkenalan, tiba - tiba pintu kelas terbuka. Dan muncullah seorang gadis dari luar sana.


Dan seketika itu dua sorot mata saling bertemu dalam garis Lurus.


...🪴 Happy Reading 🪴...


✍️ Happy Monday 🥳


Jangan lupa bagi Vote nya ya kakak 🥰

__ADS_1


__ADS_2