SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 153


__ADS_3

"Honey, sebenarnya dimana Selena berada?" tanya Chania pada Michael yang kini duduk di kursi kerjanya di dalam kamar. Menghadap sebuah laptop menyala dengan layar yang menampakkan beberapa email baru yang belum di buka suaminya.


Michael melirik istrinya yang mulai beranjak dari sofa. Melangkahkan kaki mendekati dirinya. Ia sambut kehadiran sang istri dengan tangan terlentang. Meminta sang bidadari untuk masuk ke dalam pangkuan Sang Mafia.


Dengan senang hati, Chania masuk ke sela kaki suaminya. Dan mendaratkan bokong seksinya di pangkuan Michael. Maka tangan kokoh Sang Mafia spontan mendekap pinggang ramping wanitanya.


Di sanalah tempat bermanja paling baik. Tubuh saling bersentuhan. Tanpa berucap, gerak tubuh sudah mewakili arti kata cinta. Tanpa harus berkata I Love You, sudah bisa di rasakan getarannya.


"Kamu mau tau dimana saudara tiri mu itu berada?" tanya Michael dengan berulang kali mengecup pipi Chania yang masih chubby.


"Hmmm..." Chania mengangguk pelan.


"Aku memberikan dia pada kakaknya..." jawabnya datar.


"Oliver?" tanya Chania memicingkan mata. Benar begitu kah? tapi rasanya tidak mungkin seorang Michael Xavier melepaskan buronan begitu saja.


"Bukan.." Michael menggeleng pelan.


"Lalu?" tanya Chania penasaran.


"Emmm...." Michael menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


"Serius dong, Honey!" rengek Chania merasa suaminya terlalu datar dan lebih banyak alasan.


Michael terus saja menunjuk - nunjuk pipi kirinya. Supaya di cium oleh istrinya. Kemudian mengacungkan dua jari, yang artinya cium 2 kali.


Chania tergelak melihat tingkah suaminya yang seperti anak remaja sedang jatuh cinta. Maka Chania mendekatkan bibirnya pada pipi Michael terlihat begitu putih.


Cup!


Satu kecupan di berikan Chania dengan mesra dan tulus. Ungkapan kata cinta yang lagi - lagi tak kasat mata.


Chania menggerakkan wajah Michael supaya bisa mencium pipi satunya lagi. Mengikuti arahan Chania, Michael pun menoleh. Namun saat Chania hendak mendaratkan kecupan Michael kembali menoleh ke kanan. Sehingga bibir Chania mendarat di bibirnya.


Merasa tak sesuai rencana Chania sontak menarik kepalanya sendiri.


"Curang!" seru Chania mentoel hidung Michael.


"Ayolah, sayang! lanjutkan..." pinta Michael berusaha meraih bibir Chania menggunakan bibirnya.


"Jawab dulu..." Chania mendorong manja dada suaminya.


Untuk seorang Michael, tenaga Chania mendorong dadanya bukanlah apa - apa. Jika ia mau memaksa, tak mungkin Chania bisa menolak.


Hanya saja, ini adalah canda dalam cinta. Jadi tak ada paksaan. Tak perlu ada tenaga untuk menghadapai pemberontakan kecil.


"Aku menyerahkan Selena pada Zico!" jawab Michael jujur.


"Siapa Zico?"


"Sahabat ku! setara dengan anak tirinya Deborah!"

__ADS_1


"Maksud kamu anaknya Frank Mourinho?"


"Yes, Baby..." jawab Michael sembari menciumi pipi Chania.


"Yaa ampun, dunia hanya berputar di situ - situ saja ternyata?" ucap Chania terkekeh. "Dulu Reno, Chef yang aku hormati, ternyata sahabat masa remaja kamu. Sekarang kamu bersahabat dengan anak musuh mu. Yang mana kakak tiri penculik ku."


"Yaa begitulah... Aku ingat jika Zico memiliki dendam tersendiri pada Selena dan Deborah. Jadi mungkin kali ini lebih baik dia yang menghukum Selena!" jawab Michael.


"Kenapa begitu?"


"Kalau aku membunuh Selena sesuai janji ku, apa kamu mengizinkan?" tanya Michael balik.


"Eemmm.. jangan, Sayang!" jawab Chania setelah berfikir. "Aku tidak mau kamu membunuh orang - orang yang berada di ruang lingkup kita.


"Maka dari itu, biarlah Zico yang menghukumnya. Entah dengan cara apa."


"Hemm..." Chania mengangguk. Membenarkan argumen suaminya.


' Karena Zico punya janji yang belum dia bayar! Aku yakin Selena akan menjadi penebus janjinya! '


Batin Michael tersenyum culas.


"Karena aku sudah menjawab, sekarang kamu tidak boleh menolak ku... Baby..." desis Michael mendekatkan kembali wajahnya pada Chania.


Chania tersenyum malu - malu. Ya, meskipun setiap hari bersama, tetap saja kadang rasa malu itu muncul jika hendak bermesraan.


Michael meraih bibir Chania yang sudah pasrah. Tidak lagi ada pemberontakan, tidak ada lagi dorongan di dada bidangnya. Maka kini ia leluasa menguasai wanitanya. Melakukan apapun yang ia mau.


[ Adegan 21+ ]


Bergerak kembali ke arah kiri. Mengusap perut bagian samping yang kini kembali melengkung ramping.


Tangan nakal Sang Mafia kembali merambat, menyentuh benda kenyal yang tertutup br* rapat. Seketika itu Chania menarik nafas dalam. Gerakan tangan Michael sangat mudah memancing gejolak dalam dirinya.


Buah dada itu, masih sesekali menyusui anak mereka. Tapi Michael tetaplah pria mesum, yang tak akan mampu menahan diri untuk bermain dengan benda itu.


Michael menyingkirkan kimono yang menggantung di pundak. Memperlihatkan pundak putih mulus yang bulu kuduknya mulai berdiri.


Dengan lidah ia menyisir leher Chania, turun sampai pundak. Menggerakkan dengan oenuh gairah. Dada Chania membusung, kembang kempis menahan rasa nikmat yang tak akan pernah membuatnya bosan.


Lidah semakin turun, dan sampai di dada bagian atas. Ia tinggalkan jejak merah di sana. Tangan kiri bergerak di punggung, melepas pengait hanya dengan sekali hentakan saja.


Maka detik berikutnya hanya CD saja yang masih melekat di tubuh ramping Chania. Michael meremas dua benda yang saat ini masih terlihat cukup besar karena menyusui.


Tak mau kalah dengan bayi mereka, Michael pin bermain di puncak pink. Menjilat, menghisap sangat pelan, agar cairan putih di dalam tidak sampai keluar.


Chania mendongak dengan mata yang sesekali terpejam. Merasai betapa suaminya sangat pandai membuat tubuhnya keenakan.


Michael menggeser semua barang di atas meja kerjanya, tanpa melepas bibirnya dari put*ing istrinya.


Michael mengangkat tubuh Chania, dan mendudukkannya di meja kerja. Seperti dulu, ia akan bermain di meja kerja. Hanya saja kali ini ia harus berhati - hati karena kaki Chania yang masih terluka.

__ADS_1


Ia turunkan CD istrinya dan melemparnya ke lantai. Ia buka dua paha mulus yang tertutup. Mata terlihat sangat lapar dengan benda di dalamnya. Reflek Chania menggunakan dua tangan sebagai penyangga tubuhnya di belakang.


Maka dengan penuh gairah Michael menyusup ke sela - sela paha. Ia kecup bagian terdalam istrinya. Setelah itu baru lidah dan bibirnya kembali beraksi. Memberi sengatan - sengatan nikmat untuk istrinya yang mulai mendesis tak karuan.


Sampai akhirnya benda berlubang itu mengeluarkan cairan yang disertai dengan tubuh Chania yang bergerak dengan cepat. Pelepasan pertama terjadi pada Chania. Saking nikmatnya ia remas rambut hitam legam suaminya.


Melihat tubuh istrinya kembali normal, Michael mengangkat kepalanya. Kali ini ia lanjut bermain menggunakan tangannya. Ia masukkan jari tengah dan mengoyak bagian dalam tubuh wanitanya. Hingga pelepasan kedua terjadi kembali.


Berhasil membuat istrinya puas, kini giliran Michael meminta jatahnya. Di puaskan dengan cara yang liar.


Michael melepas semua kain yang melekat di tubuhnya tanpa sisa. Ia kembali duduk di kursi kerja. Kemudian meminta sang istri untuk berjongkok dan mengulum benda tumpul yang tajam di bagian tengah tubuhnya.


Michael mendesis hebat, saat melihat senjatanya masuk semua ke dalam mulut Chania.


Lebih dari satu tahun melayani pria yang sama, rasanya kini Chania jauh lebih lihai dari pada dulu. Tanpa malu, tanpa ragu ia hisap, jilat dan mengulum hingga pangkal. Jemari lentik ikut bergerak, membuat Michael semakin puas dengan pelayanan istrinya.


Tanpa malu - malu lagi, kini Chania duduk sedikit tegak. Memasukkan senjata suaminya ke belahan dada. Kemudian dengan lihai ia gerakkan kedua buah dadanya. Membuat Michael yang melihat dari atas semakin terbakar gairah.


Tak sanggup lagi dengan itu, maka ia angkat kembali tubuh istrinya. Meletakkan kembali di atas meja. Tanpa basa - basi lagi, segera ia masukkan senjata kesayangannya ke dalam bagian kewanitaan sang istri.


Sekali hentakan, masukkan semua batangnya.


Saling memberikan kepuasan yang terbaik. Keduanya hanyut oleh indahnya percintaan di malam hari. Dimana semua orang di rumah utama tidur, tapi mereka asyik beradu keringat.


Berganti - ganti posisi, namun di tempat yang sama. Mengandalkan meja dana kursi kerja Michael.


Saling bergantian bergerak, hingga akhirnya letusan tak lagi mampu di tahan oleh Sang Mafia. Membuat pria 31 tahun itu mengerang nikmat saat memuncratkan cairan dari tubuhnya ke dalam rahim istrinya. Nikmat yang luar biasa. Sangat sulit untuk di ucapkan dengan kata - kata.


"I love you, Baby..." ucap Michael mendaratkan kecupan dalam di kening istrinya.


"I love you too... Honey.." lirih Chania dengan mata terpejam.


Sadar wanitanya mulai mengantuk karena lelah. Ia angkat tubuh istrinya, dan membawanya ke ranjang. Membuat keduanya berhasil tidur nyenyak malam ini.


***


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda.


"Zico cerita banyak tentang hubungan keluarga kalian yang tak harmonis." ucap pria berusia sekitar 40 tahun pada Selena.


"Uncle sudah lama mengenal Zico?"


"Sudah.. kami rekan bisnis di Amerika." jawab pria yang bertamu ke apartemen yang di tempati Selena.


Mereka duduk berdua di sofa ruang tamu. Pria itu duduk di sofa singel, sedang Selena duduk di sofa yang muat untuk dua orang. Selena dengan baju malam seksi, berbahan satin. Satu set pakaian dalam yang di balut dengan kimono satin, dimana panjangnya hanya setengah paha saja.


"Lalu apa yang membuat Uncle datang malam - malam begini? Zico tidak ada di sini."


"Saya tau, saya memang datang untuk kamu, bukan untuk Zico..." jawab pria itu mulai tersenyum nakal. Melihat Selena dari ujung kepala hingga ujung kaki.


' Mulus... Ok Zic, janji mu lunas! '

__ADS_1


...🪴 Happy reading 🪴...


Biar nggak nanggung panas dinginnya, langsung cuss Chapter 134 😘


__ADS_2