SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 115


__ADS_3

Membutuhkan golongan darah yang sama, membuat Oliver yang kini terbaring di ranjang pasien, mau tak mau menerima darah yang di donorkan oleh sang adik, Sania Arlington.


Keluar dari ruang Operasi dengan memegangi lengan yang baru saja menjadi titik pengambilan darah, Sania di sambut oleh seseorang yang sangat tidak ia duga.


Selain Chania dan Michael yang masih berada di sana, ternyata juga ada seseorang yang selama ini selalu memberinya dukungan dan semangat. Dan itu membuat Sania sedikit terbelalak.


"Sania!" pekik orang itu dengan memegang lembut lengan Sania. "Kamu baik - baik saja?" tanyanya khawatir.


"Iya." jawab Sania.


"Baguslah!"


"Apa masih kurang?" sahut Chania.


"Tidak" Sania menggeleng pelan.


"Baguslah! ayo duduk!" ucap seseorang lagi, yang tak lain adalah Reno.


Pria itu sampai di rumah sakit 10 menit yang lalu. Ia tau, jika hari itu adalah hari pertemuan dua keluarga besar. Karena khawatir Sania akan menjadi korban keganasan Deborah, Reno sengaja datang.


Namun saat sampai di rumah peninggalan Smith, penjaga mengatakan jika semua pergi ke rumah sakit. Karena Nona muda tertembak.


"Nyonya besar baru saja menyusul sekitar lima menit yang lalu, Tuan!" ucap seorang penjaga pagar besi.


Akhirnya Reno kembali melajukan mobil sport yang ia simpan di rumah masa kecilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga ia bisa sampai 5 menit lebih dulu di banding Deborah.


"Jangan sampai telat makan, dan minum obatnya." ucap Reno setelah duduk di salah satu kursi besi. "Darahmu berkurang banyak, aku tidak mau kamu sakit hanya karena menyelamatkan orang lain!" seru Reno sengaja mengeraskan suaranya. Agar Deborah yang duduk terpaku di salah satu kursi bersama Royce mendengar kalimat sindirannya.


"Darah kami sama, Reno... itu artinya kami benar saudara kandung. Dia bukan orang lain!" jelas Sania.


"Tetap saja! toh selama ini mereka tidak pernah menganggap kamu ada, kan?" tanya Reno kesal. Dan lagi - lagi ia berucap dengan suara yang cukup keras untuk bisa sampai di telinga Deborah.


"Jangan seperti itu!" lirih Sania memukul paha Reno.


Reflek pukulan di pahanya, membuat Reno menoleh Sania dengan tatapan yang begitu lembut. Sejak kapan Sania berinisiatif menyentuh anggota tubuhnya selain berjabat tangan.


Meski hanya sebuah pukulan kecil, tapi berhasil membuat jantung Reno hampir melompat. Apalagi sampai detik jantungnya hampir melompat, tangan Sania masih bersandar di sana. Menjadikan pahanya sebagai tumpuan jemari lentik.


Kembali pada sindiran, Royce yang sudah tidak terima Deborah di sindir terus - terusan pun, akhirnya berdiri dan bersiap menghampiri Reno.


Namun tangan kanan Deborah segera naik ke atas. Menghentikan keinginan Royce untuk memberi pelajaran pada Reno.


"Tapi, Nyonya!"


Deborah tak bergeming, wanita itu hanya berkata menggunakan isyarat mata agar Royce kembali duduk.


"Awas saja kau!" desis Royce lirih dengan gigi mengerat. Menatap Reno bak daging yang siap untuk di cincang.


Meski begitu, Reno tetap bisa mendengar apa yang di ucapkan Royce. Dan entahlah, Reno sama sekali tak terlihat takut dengan Royce, bodyguard paling tangguh yang dimiliki Deborah.

__ADS_1


Dengan perawakan dempal dan wajah dingin yang di pancarkan Royce, sesungguhnya sudah cukup untuk mengintimidasi orang - orang biasa seperti Reno.


"Kamu tidak takut dengannya?" lirih Sania.


"Kenapa aku harus takut?" tanya Reno, "bukankah Nyonya nya itu sekarang sudah tidak punya apa - apa?" lanjut Reno sedikit mengejek. "Aku tidak yakin jika pria itu tetap teguh membela Deborah, saat nanti Deborah benar - benar tak memiliki apapun. Hanya mengandalkan harta bagian Oliver, tidak akan cukup untuk membiayai gaya hidupnya yang seperti dulu!"


Sania menatap lekat wajah Reno yang di selimuti kebencian sekaligus cinta untuknya.


"Sepertinya kamu cukup mengenal mereka?"


"Aku dan Michael berteman sejak kecil. Aku juga tau Michael anak seorang Mafia kelas dunia. Dan aku juga mengenal Oliver, meskipun aku tak begitu akrab. Gadis itu sangat mengidolakan Michael sejak kecil. Sebelum hubungan keluarga Sebastian dan Arlington dalam masalah rumit seperti ini."


"Oo.." Sania ber-O ria sembari mengangguk paham.


"Michael, sebaiknya bawa Chania pulang saja. Biar aku dan Sania yang menunggu di sini!" ucap Reno pada sahabatnya.


"Iya, Kakak ipar. Reno benar!" sahut Sania.


"Mereka benar, Baby... sebaiknya kamu di rumah saja." ucap Michael pada istrinya.


"Kamu kembali kesini?"


"Tidak. Untuk apa aku kembali?" Michael menggeleng. "Aku akan menemani kamu di rumah."


"Hem.." jawab Chania. "Sania, Reno! kabari aku ya kalau dokter sudah keluar dan memberi kabar terbaik!"


"Iya!" jawab Sania dan Reno bersamaan.


Michael hanya menjawab dengan sebelah sudut bibir ya g terangkat, sembari menatap dua sejoli yang sedang jatuh cinta, namun belum bisa mewujudkannya.


***


Kepergian Michael dan Chania tak luput dari tatapan Deborah dan Royce. Namun kedua orang itu sedari tadi hanya bisa terpaku. Memikirkan kondisi Oliver, yang entah sekarang bagaimana.


Tatapan Royce sesekali menajam ke arah Reno. Namun Reno dan Sania yang saat ini di jaga oleh Antony dan satu bodyguard lain sama sekali tidak takut.


Dan Deborah, ia terdiam, sesekali melirik pintu yang masih terus saja tertutup. Dia pun bingung harus berbuat apa. Berada di lorong yang sama dengan anak tirinya yang baru saja mendonorkan darahnya untuk putri kandungnya. Apa yang harus ia lakukan?


Berterima kasih pada Sania karena sudah memberikan darahnya? Oh, itu sungguh memalukan untuknya.


Meminta maaf atas segala kekacauan? Apalagi! sungguh rasa malunya belum untuk sirna untuk mengungkapkan semua itu.


Krekk!


Pintu yang sedari tadi menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata terbuka. Sontak semua menatap pada satu titik, dan reflek mendekati dokter yang keluar bersama seorang perawat.


"Bagaimana putri ku!" hentak Deborah tanpa rasa takut pada dokter.


Dokter melirik tidak suka pada cara bicara Deborah. Namun sepertinya sang dokter cukup tau siapa wanita yang bicara di depannya. Entah dari majalah, atau televisi. Mengingat Arlington adalah salah satu pengusaha tersukses di Italia.

__ADS_1


"Dia berhasil di selamatkan." ucap sang dokter. "Tapi untuk sementara dia harus berada di ruang ICU, dan akan segera di pindahkan setelah semuanya lebih baik!"


"Dimana dia sekarang?"


"Di bawa ke ruang ICU. Ingat! hanya satu orang yang boleh masuk!"


"Aku ibunya! aku yang berhak masuk!" sentak Deborah menepis siapapun yang ingin menjenguk Oliver.


Terutama Sania yang mulutnya bahkan sudah terbuka untuk hendak mengucapkan sesuatu. Mendengar sentakan sang ibu tiri, ia memilih untuk menelan mentah - mentah kalimat yang hampir ia ucapkan.


"Tapi... apakah Nona Sania tidak ingin melihat terlebih dahulu?" tanya sang dokter menoleh Sania. "Mengingat darah Nona Sania lah yang membantu Nona Oliver untuk bisa mendapatkan kesadarannya kembali?"


Dokter itu sengaja berpihak pada Sania yang terlihat begitu tulus pada Oliver, meskipun lirikan matanya pada Deborah, terlihat tidak suka.


"Nyonya Deborah benar, Dokter! beliau ibunya."


Deborah melirik Sania dengan lirikan yang sulit di artikan. Namun kembali menoleh sang dokter dengan sorot mata penuh kemenangan.


Deborah segera pergi dari lorong ruang Operasi. Sedangkan Reno menarik tangan Sania untuk pergi dari lorong itu.


"Mau makan siang dulu?" tanya Reno.


"Iya!"


"Ayo!"


Pergilah mereka menuju kantin yang berada di lantai 5.


"Bagaimana perasaan mu setelah bertemu seluruh saudaramu?"


Menghela nafas, "Aku senang.. tapi semua terasa tidak sempurna."


"Kenapa begitu?"


"Kami bertemu, saat kedua orang tua kami sudah tidak ada lagi."


"Ya.. itu memang menyedihkan."


Reno menyentuh punggung tangan Sania yang berada di atas meja. Mengusapnya pelan. Kulit itu, terasa begitu halus dan lembut. Hingga mampu mengalirkan darah di dalam tubuhnya dengan lebih cepat.


"Yaa Tuhan... apa aku jantungan?" tanyanya dalam hati.


Detak jantung berpacu dalam irama yang semakin cepat. Saat empat jarinya menyelinap di balik tangan. Meremasnya lembut dengan dua sorot mata yang berada dalam satu garis lurus.


Lebih gila lagi, saat jemari Sania membalasnya dengan lebih lembur. Akhirnya dua tangan terpaut dalam sentuhan yang lembut dan di barengi debaran yang sama.


"Sania...." lirih Reno yang sudah tenggelam dalam lautan cinta yang tertahan.


Jika tidak segera menyelami lautan, bisa - bisa ia akan benar - benar tenggelam dan tak lagi muncul di permukaan. Satu bulan sudah ia menunggu sang wanita bersedia membuka hatinya tanpa dipaksakan. Dan ia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka mulai merajut benang - benang cinta.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2