SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 158


__ADS_3

Ujung samurai sudah menempel di leher. Goresan dan sayatan sudah membuat darah merahnya mengalir begitu saja. Namun Mafia asal China itu belum juga merasa kalah. Ia merasa masih ada kesempatan untuk dia memenangkan pertempuran malam itu.


Kalimat panjang ia lontarkan, di tengah nyawanya mungkin saja akan segera melayang. Namun sayang, Michael sama sekali tak gentar dengan kalimat bernada ancaman yang keluar dari mulut Chan Lee.


Michael tetap memasang wajah iblisnya. Wajah yang siap mencabut nyawa satu Mafia lagi.


"Maksudmu pria tua ini!" suara barinton muncul dari pintu yang daunnya sudah di hancurkan Michael.


Sontak membuat Chan Lee menoleh ke arah belakang Michael dengan mata yang membulat. Sesekali ia toleh Michael yang justru tersenyum tipis.


"A...Apa!" lirih Chan Lee. "Bagaimana bi...bisa semudah itu kau kalah!" tanya Chan Lee tergagap. Menatap tak percaya pada seseorang yang ia harap bisa menjadi malaikat penyelamat untuknya.


"Hah!" tersenyum sinis, Darrel menarik leher pria yang berhasil ia lumpuhkan di ruang istirahat kedua. "Ezer!" ucap Darrel dingin menyebut nama Mafia asal Amerika itu. "Satu nama yang sangat aku benci!" serunya melempar tubuh Ezer yang penuh dengan lumuran darah tepat di samping Chan Lee. Hingga tubuh lemah itu membentur tembok dengan sangat kuat. "Memiliki kesempatan untuk bisa memusnahkannya, maka aku akan bertindak dengan sangat cantik!" ucap Darrel dengan culasnya.


Ia mainkan ujung samurai dengan gerakan membentuk lingkaran tepat di depan wajah Ezer. Memberikan ancaman terakhir untuk musuh bebuyutan keluarga Harcourt.


"Sekarang kau tau? siapa yang harus mati lebih dulu?" tanya Michael dingin. "Kau lah yang harus mati! Selamat tinggal Chan Lee!" lanjut Michael menancapkan sedikit ujung senjatanya tepat di denyut nadi Chan Lee. "Aku akan membuat kalian mati bersamaan!" desisnya tajam. "Dengan begitu kalian bisa berpesta berdua di neraka!" lanjutnya di antara nafas Chan Lee yang sudah hampir habis.


Chan Lee mendelik, menatap benci pada Michael. "Lussio akan membalas... se..mua ini!" desis Chan Lee yakin. "Pu...tra mu, a...kan mati!" lanjutnya. "Aakh!"


Saat itu pula ujung samurai menancap leher Chan Lee. Bersamaan itu pula Chan Lee kejang dan tewas di tempat. Di tangan Sang Tuan Mafia.


"Hahahaha!" tawa Darrel mengintimidasi musuh yang tersisa. "Sekarang giliranmu, Ezer!" seru Darrel. "Tapi rasanya terlalu mudah jika aku harus membunuhmu dengan cara yang sama seperti saudara iparku membunuhmu!" desis Darrel.


"Am..ampun!" ucap Ezer dengan lemah. Mafia yang konon katanya tangguh itu pada akhirnya lemah tak berdaya.


"Tidak ada kata ampun untuk musuh macam kalian!" seru Darrel lantang.


Maka Darrel membunuh Ezer dengan cara menendang, meninju dan menjejak tubuh Ezer, hingga pria itu tewas.


Nafas Darrel terengah, ia merasa lega karena memiliki alasan untuk membunuh pria yang menjadi musuhnya puluhan tahun.


Dua Mafia tampan mengambil nafas lega. Sesungguhnya mereka sudah bosan berurusan dengan hal seperti ini, di usia mereka yang sudah menginjak kepala empat. Namun bagaimana lagi, dunia Mafia nya terus berlanjut. Musuh terus saja berdatangan dari generasi ke generasi.


***


Perjalanan pulang di tempuh oleh pasukan Black Hold dengan cara yang sama seperti saat mereka datang. Membawa pulang sebuah gelar kemenangan dengan dada yang masih bergemuruh.


Dari kalimat yang di ucapkan Chan Lee bahwa Lussio Lee akan membalas putranya. Maka Michael yakin, kelak Jio yang akan menjadi sasaran Lussio.

__ADS_1


Otak terus berfikir, bagaimana caranya membuat Jio menjadi putra mahkota yang tangguh. Meskipun saat ini Jio sudah sangat tangguh untuk anak seusianya. Tapi untuk menjadi Mafia terkuat tidak cukup dengan semua itu.


Bahkan ia pun harus menyiapkan putra keduanya, Gerald Xavier. Untuk bisa menjadi adik Mafia yang hebat. Meskipun saat ini Gerald sudah mulai berlatih. Namun Michael tak bisa berpuas diri. Bahkan Jia pun harus di tempa lebih jauh lagi bila perlu.


"Anak - anak harus kita kirim ke kuil Master Shifu!" ucap Michael pada Darrel. "Jio, Jio dan Jellow!"


"Kau benar, Mich!" jawab Darrel. "Kapan kita mengirim mereka?"


"Bulan depan!" jawab Michael. "Bagaimanapun mereka adalah putra Mafia. Generasi penerus kita!"


"Secepat itu?" tanya Darrel tak percaya.


"Jika perlu kita bisa mengirim mereka minggu depan!"


"Bulan depan saja, Michael! aku yakin tidak semudah itu membujuk ibu mereka untuk melepas putra - putra nya ke Master Shifu mu yang jauh di sana!"


"Hem... aku tau kita butuh perjuangan untuk membujuk Chania dan Oliver! tapi kita harus bisa! setelah itu anak - anak Reno juga harus berangkat setelah mereka genap sepuluh tahun!"


"Hemm... aku setuju!" sahut pria 45 tahun itu.


***


Michael dan Darrel melangkahkan kaki mereka memasuki istana Michael bersamaan. Saat hari sudah melewati tengah malam. Tentu saja membuat keluarga yang menunggunya sontak berdiri.


"Honey!" seru Chania menubruk dada bidang suaminya. "Akhirnya kamu pulang!" lirih Chania menciumi dada bidang, dimana letak organ vital seperti jantung dan hati berada. Ia memastikan jantung itu tetap berdetak, dan darah tetap mengalir seperti saat suaminya berangkat.


"Aku baik - baik saya, Baby...." jawab Michael mencium puncak kepala Chania beberapa kali.


"Aku senang kamu kembali dalam keadaan baik, Sayang!" ucap Oliver memeluk tubuh suaminya yang banyak cipratan darah di sana.


"Aku pasti kembali, Sayang!" jawab Darrel melakukan hal yang sama dengan Michael. Mencium puncak kepala istrinya. "Dimana anak - anak?"


"Semua anak - anak tidur di kamar Jio, Sayang!" jawab Oliver. "Mereka terus berdo'a untuk keselamatan kalian, sampai mata mereka terpejam."


"Aku sudah menduga..." jawab Darrel tersenyum. Darrel yakin, Do'a anak - anak mereka pasti sampai pada Tuhan yang menentukan segalanya.


***


Setelah menghabiskan malam dengan istirahat singkat, dengan terus bersyukur karena berhasil kembali untuk keluarga, kini semua yang masih tinggal di istana Michael, berkumpul untuk sarapan pagi.

__ADS_1


Pagi, saat pikiran masih jernih, maka di rasa menjadi waktu yang tepat bagi Michael dan Darrel untuk menyampaikan niat mereka. Yakni mengirim Jio dan Jia juga Jellow ke Master Shifu di pedalaman.


"Harus secepat itukah?" tanya Chania lirih.


Sebagai seorang ibu tentu ia merasa berat melepas dua putranya juga keponakannya untuk menempa ilmu yang pasti akan sangat membuat hidup mereka jauh dari kata bebas. Apalagi di sana tidak di perkenankan untuk sekedar berkomunikasi dengan keluarga.


"Demi kebaikan mereka, Baby..." jawab Michael menatap sayu istrinya. "Keturunan Mafia seperti mereka, tidak bisa hanya mengandalkan bodyguard."


"Betul, Chania!" sahut Darrel. "Mereka harus menjadi jauh lebih kuat dari seorang penjaga!"


Chania menunduk dalam. Suaminya adalah Mafia yang hebat. Namun nyatanya anak - anak tak cukup hanya dengan di latih olehnya.


"Biarlah, Chania... aku pun berat melepas Jellow, putra kami satu - satunya. Tapi aku yakin ini yang terbaik untuknya!" sahut Oliver.


"Hemm.." jawab Darrel, mengusap lengan istrinya.


Sementara anak - anak yang di sebutkan akan berangkat, tampak biasa saja. Sepertinya tak ada yang keberatan dengan keputusan orang tua mereka. Menyadari jika diri adalah putra Mafia. Generasi penerus dunia hitam.


Jika bicara tentang kemampuan mereka saat ini. Sesungguhnya mereka sudah cukup kuat. IQ mereka pun di atas rata - rata. Namun janganlah berbangga diri. Karena kita tak tau seberapa hebat kekuatan lawan.


"Baiklah, aku akan melepas mereka..." lirih Chania dengan hati yang berat.


"Setidaknya kamu masih ada Gerald di rumah, Chania. Coba bayangkan kami?" tanya Oliver. "Kami hanya punya satu putra, dan harus melepasnya bersamaan dengan Jio dan Jia!" ucap Oliver menatap sendu putra semata wayangnya.


"Buatlah lagi!" celetuk Reno tiba - tiba. Membuat semua menoleh padanya. Pukulan kecil dari Sania seketika sampai di lengannya.


"Apa aku salah kata?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Tidak seperti itu jugaaaa!" gemas Sania sedikit berbisik. "Banyak anak - anak!"


"Memangnya kenapa?"


"Haaa..." semua menghela nafas panjang.


Kekonyolan seorang Reno tak kunjung berakhir.....


"Berapa lama anak - anak di sana?" tanya Chania kemudian.


"Tujuh tahun!"

__ADS_1


"What!" pekik Chania menatap tak percaya pada jawaban suaminya.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2