SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 160


__ADS_3

"Sejak beberapa hari lalu, Uncle!" sahut Jellow tersenyum menggoda sepupunya itu.


"Berharga?" tanya Michael menoleh putranya kembali.


"Sangat!" sahut Jia begitu saja. Ikut tersenyum seperti senyuman Jellow.


Michael melirik Jellow dan Jia bergantian, "kenapa dari tadi kalian yang menjawab?" tanya Michael sinis.


"Mana mungkin Kak Jio menjawab dengan jujur, Daddy!" jawab Jia.


Michael melirik putra mahkota yang sudah ia gembleng habis - habisan. Memang Michael sendiri yakin, jika Jio kelak akan tumbuh menjadi laki - laki dingin yang mungkin tidak semua orang akan bisa mendekati dirinya.


Dengan feeling nya yang kuat, akhirnya Michael memilih untuk tak ambil pusing tentang kalung apa yang di kenakan oleh sang putra. Toh tidak terlalu berpengaruh untuk proses menuntut ilmu kali ini.


***


Mulai dari perjalanan darat, udara dan kembali menempuh perjalanan darat, sudah mereka lalui. Kini mobil yang membawa para putra mahkota telah memasuki daerah pedalaman. Sangat jauh dari kota. Bahkan hari sudah berganti. Namun mereka belum juga sampai di tempat tujuan.


Hingga sebuah pintu kayu raksasa terbuka otomatis saat mobil yang membawa generasi Mafia itu sampai beberapa meter di depannya.


Di atas pintu besar yang kokoh, ada dua patung naga yang berhadapan. Tubuh naga meliuk ke atas dan bawah. Mulut naga yang terbuka, seolah menunjukkan betapa tangguhnya guru di kuil itu.


Michael menatap patung itu dengan seulas senyuman bangga. Dari dalam sana lah ia menjadi kuat. Dari kuil itulah ia mendapat julukan si naga hitam. Karena ia petarung paling tangguh di kuil selama tujuh periode berturut - turut.


Belum lagi kemenangan yang di dapat si naga hitam di luar kuil. Mulai dari pertarungan resmi hingga non resmi yang sangat berbahaya, semua pernah di jajal seorang Michael Xavier. Membawa pulang tropi kemenangan adalah hal biasa untuk sang Mafia.


Dua mobil jeep yang membawa mereka memasuki sebuah kuil yang cukup besar. Mereka di sambut oleh barisan para murid Shifu yang sedang bertugas.


Turun dari mobil, tiga bocah langsung mengamati kuil. Kuil yang akan menjadi tempat tinggal mereka untuk tujuh tahun ke depan.


Beberapa murid laki - laki dan perempuan yang usianya masih belasan tahun, melihat para putra mafia itu dengan berbisik. Desas desis yang di ucapkan mereka tentu terdengar oleh telinga terlatih mereka.


Bahkan murid - murid yang sedang berada di bawah pelatihan seorang guru, mencuri - curi pandang pada mereka.


Ya, garis pemikat sang Daddy sepertinya turun dengan sempurna pada mereka.


Namun satu yang berbeda. Sepasang mata dari kejauhan terus menatap ke arah rombongan yang baru datang. Pemilik mata itu tersenyum simpul. Seolah melihat sesuatu yang indah dan sangat ia kagumi.


"Shifu!" sapa Michael saat melihat seorang pria berusia sekitar 65 tahun keluar dari sebuah bilik berdinding kayu.


"Michael!" balas Shifu. "Murid terhebat ku!"


"Apa kabar, Shifu?" tanya Michael menganggukkan kepala pelan. Memberi hormat pada sang guru.


"Seperti yang kau lihat, Michael! Shifu mu ini pasti selalu baik - baik saja!"


Tersenyum kecil, "Michael sudah menduga, Shifu."


"Pasti dia putra mahkota keluarga Xavier?" Shifu menyentuh puncak kepala Jio. Merasakan aliran darah yang mengalir di dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Shifu benar!" jawab Michael.


"Baiklah, aku sudah tau apa yang harus aku ajarkan padanya!"


"Terima kasih, Shifu!" Michael mengangguk. "Aku yakin, Shifu yang terbaik untuk menjadi guru putra mahkota ku!" lanjut Michael. "Dan ini Jia, putriku! saudara kembar Jio. Dan ini Jellow, putra saudara ipar ku!" Michael memperkenalkan murid - murid yang ia kirim pada Shifu nya. "Inilah ayahnya! Sama sepertiku, hanya saja dia berasal dari Perancis!"


Darrel mengangguk hormat pada Shifu, setelah di perkenalkan sebagai ayah Jellow.


"Rasanya aku seperti pertama kali menerima mu puluhan tahun lalu, Michael!"


***


Menjelang siang, seorang guru pembantu mengantarkan anak - anak untuk ke kamar yang akan mereka tempati, serta berkeliling kuil untuk mengenal lebih jauh.


Sedangkan Michael, Darrel dan Jack, bersantai di salah satu Gazebo di halaman kuil. Michael menceritakan kehidupannya yang keras di masa lalu, saat ia menempa ilmu di kuil itu.


Tanpa di sadari, sejak kehadiran Michael di kuil itu, ada sepasang mata yang terus saja mencuri - curi pandang pada Sang Mafia.


Ketampanan yang berasal dari garis wajah yang tegas, dan karakter keras yang ia miliki tentu tidak salah jika banyak mencuri perhatian orang - orang di sekitarnya. Terutama kaum hawa. Apalagi kantong tebal Sang Mafia, bisa menjadi magnet tersendiri.


Puas bercerita, Sang Mafia berjalan - jalan seorang diri, mengelilingi kuil yang menjadikan dirinya seperti sekarang. Ia seolah melihat Michael kecil yang sedang bertarung di tengah lapangan. Dan kemudian turun sebagai juara.


Juga saat ia yang sedang berlatih samurai bersama Shifu. Ia selalu berhasil membuat Shifu nya merasa bangga.


Sampai sepasangan matanya melihat air terjun di belakang kuil. Di sana dulu dia di rendam dalam dinginnya air terjun sepanjang malam. Tanpa ampun, tanpa toleransi, bahkan tanpa cahaya. Ia juga bertapa di dalam goa yang ada di balik air yang berjatuhan. Guna menajamkan panca indera nya. Mempelajari pergerakan udara dari dalam goa. Hingga telinganya sesensitif sekarang.


Michael memicingkan matanya, ia melihat sosok anak belasan tahun yang saat ini juga tengah bertapa di dalam sana. Michael tersenyum samar. Ia seolah sedang mengulang nemori puluhan tahun yang lalu.


Sontak Michael menoleh kebelakang. Siapa gerangan yang menyebutnya sebagai legenda.


Seorang perempuan, berusia sekitar kurang dari 30 tahun. Berdiri dengan anggun, menggunakan seragam khusus guru pendamping. Namun dapat di lihat jelas, jika perempuan itu sangat terlatih. Postur tubuh yang memperlihatkan otot kekar khas wanita.


Dan tidak di pungkiri jika perempuan yang baru saja menyapa Michael itu cukup nyaman untuk di lihat. Kecantikan khas perempuan Jepang melekat sempurna pada wajah jelitanya.


Michael menyipitkan pandangan tanpa sepatah kata pun. Hanya dengan begitu saja, lawan bicaranya pasti tau apa yang di inginkan Sang Mafia.


"Perkenalkan, Tuan! nama saya Takara Kairi! Di sini di panggil Guru Takara! saya adalah salah satu guru pendamping di kuil ini." Takara memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan. Kemudian ia akhiri dengan sebuah anggukan hormat.


"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Sang Legenda?" tanya Michael datar.


Tersenyum manis, "Karena nama Tuan Michael Xavier ada di barisan paling atas, sebagai murid dengan prestasi terbaik!"


"Bagaimana kau tau, jika aku yang bernama Michael?"


Kembali tersenyum manis, "Foto Tuan Michael ada di dalam arsip kuil, Tuan!"


"Itu foto semasa aku remaja!" jawab Michael.


"Tapi Tuan tidak pernah terlihat tua! justru semakin terlihat berkarisma dan gagah di usia 41 tahun!"

__ADS_1


Michael mengangkat kedua alisnya. Sebagai tanda bahwa ia cuek dengan apa yang di katakan perempuan itu.


"Saya sangat mengagumi anda, Tuan! desas desus tentang Sang Legenda Michael Xavier tak pernah putus di kuil ini. Saya bertahan disini, itu karena saya yakin, kelak Tuan Michael akan datang!"


"Jadi bukan karena kau berniat untuk menjadi guru?"


"Tentu saja niat, Tuan! tapi bisa bertemu dengan Tuan Michael secara langsung adalah momen yang paling saya tunggu selama 15 tahun ini, Tuan!"


"Sekarang kau sudah melihatku, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Michael datar.


Takara melihat ke kanan dan ke kiri. Karena posisi Michael yang berada di belakang kuil, membuat suasana di sana tak ada orang lain sekalipun.


Takara berjalan mendekati Michael. Mengikis jarak yang semula empat meter, jadi satu meter saja.


"Saya pernah mendengar, jika Tuan pernah bertapa di dalam sana! selama tujuh hari lamanya!" ucap Takara menunjuk air terjun. "Saya pun pernah melakukan itu, Tuan. Tapi saya tidak mampu!" cerita Takara seolah mengajak Michael untuk bicara santai. "Karena itulah saya sangat mengagumi seorang Michael Xavier!"


"Hanya itu?" desis Michael dingin, tak paham tujuan perempuan yang kini sudah ada di sampingnya. Hanya berjarak setengah meter saja.


"Saya akan melatih Jio dan Jia dengan baik, Tuan!"


Michael memicingkan matanya. Menurutnya perempuan di sampingnya benar - benar tak masuk akal.


"Tapi Jio, Jia dan keponakan ku Jellow hanya akan di latih oleh Shifu. Bukan guru pendamping seperti kalian." jawab Michael kembali dengan nada yang datar.


Takara mengangguk, "Saya paham, Tuan!"


"Lalu?" tanya Michael mulai jengah.


Takara justru tersenyum manis. Semanis yang ia bisa. Kemudian kembali mengikis jarak, hingga menyisakan setengah meter saja.


"Tidak apa - apa, Tuan... Saya hanya akan menganggap mereka sebagai anak saya sendiri. Tuan Michael tidak perlu khawatir meninggalkan mereka disini." ucap Takara menyentuh lengan Michael dengan lembut.


Namun saat itu juga Michael menepis tangan Takara. Rasanya sentuhan Takara sangat tidak pantas untuk tetap berada di lengannya.


"Jangan menyentuhku sembarangan!" hentak Michael lirih namun dengan gigi yang mengerat. Saat itu juga Michael meninggalkan Takara di belakang kuil.


Takara yang di bentak pun, hanya bisa meremas udara. Kecewa dengan penolakan seorang Michael Xavier. Membaca tentang sepak terjang Michael Xavier, ia pikir akan sangat mudah merayu nya. Namun sayang, rasanya akan sangat sulit bagi Takara.


***


Malam itu Michael, Darrel dan Jack menginap di kuil. Untuk pertama kali mereka akan menyaksikan latihan pertama 3 anak yang sama - sama memiliki darah Arlington.


Malam itu, Shifu hanya ingin tau, sejauh mana ilmu yang sudah di pelajari tiga bocah itu.


Michael duduk bersama Darrel, menatap putra mahkota mereka. Indera sensitif Michael kembali merasakan ada yang memperhatikan dirinya. Cepat - cepat Michael menoleh tanpa dapat di duga siapapun sebelumnya.


Dan lagi, yang menatapnya tak lain dan tak bukan adalah Takara. Menyadari tatapan Takara yang tak biasa, Michael segera mengalihkan pandangan.


"Sepertinya dia mengincar mu..." bisik Darrel yang menyadari arah pandang Takara sejak tadi.

__ADS_1


"Hmm!" jawab datar Michael.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2