
Matahari mulai naik di langit Italia, saat Jio baru membuka mata di antara selimut hitam dan bantal hitamnya. Wajah tampan nan rupawan miliknya selalu saja terlihat menggairahkan meski baru bangun dengan bau bantal sekalipun.
Mata indah sang Tuan Muda menatap jendela yang gorden gelapnya tak sepenuhnya ia tutup. Menyisakan space setengah meter untuk ia tetap bisa melihat cahaya di luar sana melalui jendela kaca yang tertutup vitrase putih.
Ia regangkan otot yang terasa kaku karena tidur yang sangat nyenyak stelah peperangan. Dan ia... semakin tampan dengan apa yang ia lakukan. Ia pejamkan matanya dalam. Kemudian meluruskan tangan dan kaki. Semua terasa sangat nyaman ketika di lakuan saat baru bangun tidur.
Jio melirik jam dinding di atas layar televisi. Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Teringat jika sang kekasih hari itu pergi kuliah sendiri, maka segera ia ambil ponsel di atas nakas. Membuka layar kunci dan yang pertama ia lihat adalah pesan chat. Yakin jika sang kekasih pasti sudah mengirim pesan padanya.
Dan benar saja, sebuah pesan dari nama sang kekasih muncul dengan beberapa pesan di bawahnya.
📩 "Selamat pagi, Sayang! aku tau kamu belum bangun! tapi aku hanya ingin bilang... aku pergi ke kampus sekarang! datang ke rumah saat menjemput ku untuk menghabiskan Friday night saja, Okay?"
Pesan pertama yang Jio terima dari Virginia tepat pukul tujuh pagi.
📩 "Kalau sudah bangun, chat aku ya...?"
Jio tersenyum membaca pesan selanjutnya, ah... rindu sekali rasanya.
Jio pun langsung menekan tombol vidio call. Tanpa peduli apakah sang kekasih masih ada kelas atau tidak.
Namun beberapa detik berlalu, panggilan tak kunjung terjawab juga. Akhirnya ia memilih untuk kirim pesan saja.
✉️ "Baby..."
Bersamaan dengan pesan itu ia kirim, masuklah sebuah pesan dari Virginia.
📩 "Maaf, Sayang.... aku masih ada kelas. Kalau sudah selesai akan aku hubungi. See you..."
Pesan balasan dari Virginia yang di akhiri dengan emoticon mencium.
✉️ "Okay, Baby.."
Jio pun kembali meletakkan ponselnya dan tetap merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit - langit kamar yang indah. Lambat laun di langit - langit kamar itu seolah muncul sebuah lorong terbuka membentuk lingkaran.
Dan saat itulah, sebuah bayangan seolah melintas, dan memberi tahukan jika ada sesuatu yang tidak baik - baik saja sedang terjadi. Namun ilusi itu seperti tak berkata secara nyata. Dan kemudian menghilang secara aneh.
Tanpa sadar sepasang matanya langsung terpejam dan sesuatu melintas di dalam pandangannya yang gelap. Wajah cantik melintas dengan beberapa tetes air mata. Meski tanpa terdengar suara apapun, dapat di lihat jika raut wajah gadis itu menggambarkan kesedihan yang teramat dalam.
"VIRGINIA!" pekiknya saat matanya kembali terbuka lebar dan masih mengarah pada langit - langit kamar.
Nafas menggebu seiring kesadarannya yang kembali pulih. Dada bergemuruh dengan detak jantung yang sangat kencang. Ruang kamar yang dingin tak mampu menghalau keringat yang bermunculan di dahi sang pemuda.
"Ada apa dengan Virginia?" gumamnya cepat mencari ponselnya kembali.
Dan cepat - cepat ia hubungi kembali nomor ponsel sang kekasih. Namun sampai empat kali panggilan, sang kekasih tak kunjung menjawab panggilan darinya. Beberapa pesan pun sudah ia kirim, namun hasilnya benar - benar nihil.
Ia tau mungkin sang kekasih masih ada kelas, tapi ini bukan sesuatu yang main - main untuk di sepelekan. Ia harus tau bagaimana kondisi Virginia sekarang.
Ingat jika sang adik masuk kuliah, cepat ia beralih menelepon sang adik.
"Halo, Kak?"
"Apa kamu melihat Virginia di kampus?"
"Ha? Aku dan dia bahkan beda fakultas. Mana aku tau dia kuliah atau tidak!"
"Siapa yang mengantarmu?"
"Paman Noel!"
Tanpa bicara apapun lagi, Jio mengakhiri panggilan secara sepihak. Tanpa peduli dengan sang adik yang menggerutu di sana, karena di ganggu saat sedang makan siang bersama teman - temannya.
"Paman Noel, apa Paman melihat ada mobil Virginia di kampus?"
"Sebentar, Tuan. Saya cek sebentar!"
"Ya!"
"Maaf, Tuan Muda. Saya tidak melihat Mini Cooper orange milik Nona Virginia."
Jawab Noel setelah menyusuri area parkir mobil khusus Mahasiswa.
"Baiklah!" jawab Jio kembali mengakhiri panggilan.
Cepat - cepat ia bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mengganti baju dengan cepat dan menyisir rambut sekenanya.
Ya lelaki tampan mah bebas. Tanpa sisir rambut juga pasti tetap tampan.
Segera ia meraih dompet, ponsel dan kunci mobilnya di atas meja nakas. Melesat cepat keluar kamar dan menuruni tangga menggunakan keahliannya sebagai seorang petarung.
"Jio mau kemana?" sapa Chani yang baru saja keluar dari ruang kerja suaminya.
__ADS_1
"Jio ada urusan penting, Mommy!" jawab Jio menghampiri sang Mommy dan mencium singkat pipi kanan sang Mommy.
"Urusan penting apa? ceritakan pada Mommy."
"Jio mau menemui Virginia, Mommy!" jawabnya. "Jio pergi dulu! Bye!" kembali Jio mencium pipi kiri sang Bunda.
"Ya... hati - hati, Boy!"
"Yes, Mommy!" jawab Jio kembali melesat ke arah luar istana.
***
Sedangkan di sekolah, tempat para remaja Junior High School menuntut ilmu, ada Gerald yang sedang mengobrol dengan Chloe di kantin saat jam istirahat kedua.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Gerald untuk menemani Jenia di jam istirahat pertama. Dan saat jam istirahat kedua ia akan menemani Chloe.
Yah! Sepintar itu Tuan Muda kecil mengatur jadwal pertemuan.
Jika Jenia selalu berada di kelas saat jam istirahat pertama untuk mendalami hobi desainnya. Dan di perpustakaan saat jam istirahat kedua. Entah itu untuk membaca atau yang lainnya. Dan Gerald tidak suka menemani Jenia di perpustakaan. Selain di larang berisik, dia juga tidak mendapatkan lirikan sedikitpun dari sang gadis.
Dan Chloe berbeda. Jika istirahat pertama Chloe akan berada di kelas untuk mengobrol dengan teman sekelasnya. Dan saat jam istirahat kedua ia akan pergi ke kantin untuk makan siang. Dan saat itulah Gerald selalu datang.
Dan kedatangan Gerald selalu di anggap sebagai kedatangan pangeran tampan seperti di negeri dongeng oleh Chloe. Ia akan membuat waktunya sepenuhnya untuk Gerald, tanpa mau di ganggu oleh teman lainnya.
Tentu saja Gerald sangat senang jika di tanggapi terus menerus dan di utamakan. Meski dalam hati ia tidak bisa melepaskan pikirannya dari Jenia sepenuhnya.
"Friday night... kamu tidak acara?' tanya Gerald pada Chloe di sampingnya.
Chloe menggelengkan kepalanya pelan, "tidak ada, Gerald. Tidak ada yang mengajakku kemanapun."
Chloe tentu berharap dengan jawaban itu, maka Gerald akan mengajaknya untu kencan. Namun...
Gerald mengangguk pelan. Dalam hati tentu ingin menawarkan sebuah kencan pertama. Tapi ia tak punya modal untuk hal sekelas itu. Karena hukumannya belum juga berakhir. Mommy nya hanya memberi uang sebesar $20 atau sekitar 300 ribu rupiah saja setiap hari. Yang mana hanya cukup untuk jajan di sekolah.
Sungguh ia bingung menempatkan dirinya. Banyak gadis yang ingin mengenalnya, dan tentu saja untuk bisa merasakan makan siang berdua dengan dirinya. Tapi apalah daya, uang jajannya sangat pas - pasan. Meski ia tau mereka pun tak akan keberatan untuk mentraktirnya. Tapi lagi - lagi harga diri yang menjadi taruhannya.
Miris sekali nasib Tuan Muda Kecil, yang untuk sementara ini menjadi Tuan Muda dengan tunggangan besi yang mewah, namun kantong selalu kering.
' Padahal semua orang sudah tau aku anak seorang Michael Xavier! orang terkaya di negeri ini. Apa kata mereka kalau sampai tau uangku hanya $20 setiap harinya? Oh My God! Daddy ku benar - benar menyebalkan! '
Gerutunya dalam hati. Merasa dirinya sangat miris dengan uang jajan di dompet yang selalu habis saat pulang sekolah.
Gerald sendiri jika tidak melakukan kesalahan, bisa di perkirakan akan mendapat uang saku 2 kali lipat dari uang saku anak sekolah pada umumnya.
Brukk! Byuur!
Di tengah obrolan yang terjeda, tiba - tiba seseorang menubruk kursi yang di duduki Gerald, dan minuman di tangannya tumpah, hingga mengenai bajunya dan baju Chloe yang duduk di depannya.
"What the Fu...!!!"
Sebisa mungkin Gerald menahan diri untuk tidak mengumpat seperti sang Ayah.
'Aauuh!" teri Chloe, reflek memundurkan kursinya.
Nafas Gerald seketika naik turun saat melihat baju putihnya terkena noda jus jeruk. Ia juga melihat baju Chloe ikut terkena sedikit di bagian lengan dan dada.
"Eiittsss sorry my man! aku tersandung kursi mu!" ucap datar murid laki - laki yang baru saja menumpahkan minuman di baju Gerald.
Dengan mata yang memicing, Gerald berdiri untuk melihat siapa yang menumpahkan jus jeruk itu. Dan saat ia tau siapa yang pelakunya, Gerald segera mendorong pundak pemuda itu. Seolah protes dan tidak terima dengan apa yang terjadi.
Gerald tau, pemuda di hadapannya ini sering ia lihat suka membuat onar dan jahil. Hanya saja ia tak menyangka, jika ia pun di jadikan target.
"Beraninya kau menumpahkan jus itu di bajuku!" geram Gerald.
"Hey! aku sudah meminta maaf, bukan?" tanyanya. "Lagi pula dengan begitu bajumu jadi ada warnanya, my man! tidak polos..." jawabnya enteng sembari melihat Gerald dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kau sengaja..." desis Gerald menatap tajam sang pemuda.
"Heyyy? apa kau tuli? aku tersandung kursi mu! itu artinya aku tidak sengaja!"
"Kau pikir aku tidak tau siapa kau, meski aku murid baru di sekolah ini?
"Oh, ya? kau mengenalku?" tanyanya. "Siapa aku?'
"Jeremy Bartley!"
"Dear lord! Ternyata aku cukup terkenal, ya!" ucapnya sombong.
"Aku benci apa yang aku pakai kotor!" desis Gerald dengan kilatan emosi yang membuncah.
"Hahaha! Begitu saja marah!" gelak tawa Jeremy menertawai Gerald.
__ADS_1
Gerald yang tidak suka di ketawai oleh orang yang ia anggap musuh, langsung menyeret kerah baju Jeremy keluar dari area kantin.
"Hey! Lepas!" seru Jeremy kesulitan menarik tangan Gerald yang mencengkeram erat kerah bajunya.
"Gerald!" pekik Chloe mengikuti langkah Gerald yang menarik kerah Jeremy. Begitu juga dengan yang lain.
Sangat kuat Gerald menarik kerah baju lelaki itu, kemudian dengan keras menghempaskan nya saat sudah berada di luar kantin. Hingga Jeremy terhuyung beberapa kali.
Tentu Jeremy tak menyangka jika Gerald memiliki kekuatan sedemikian kuat.
Dan kini keduanya menjadi tontonan gratis bagi murid lain. Tentu saja mereka dapat membaca rasa kesal yang ada di wajah Gerald.
"Kau mau jadi jagoan baru, hah?" tanya Jeremy dengan congkaknya.
"Aku tidak sudi menjadi sok jagoan seperti mu!" jawab Gerald.
"Beraninya kau melawanku! Apa kau tidak tau, tidak ada yang berani melawanku disini!"
Gerald tersenyum miring, "Hah!" Gelaknya singkat dengan setengah mengejek. "Itu karena mereka malas berhadapan dengan pecundang seperti mu!" ejek Gerald. "Beraninya keroyokan!" ulangnya melirik beberapa teman Jeremi di belakang Jeremy.
"Kau!!" seru Jeremy tak lagi kuat di ejek oleh Gerald yang menurutnya sok jago.
Padahal dia saja yang tidak tau, sehebat apa Gerald jika di banding dengan dirinya. Meski hanya empat tahun di kuil, sudah cukup bagi Gerald untuk menjaga diri sendiri dari lawan yang bukan dari kalangan Mafia.
"Apa?" tanya Gerald. "Katakan!"
Jarak dua meter seketika terkikis menjadi setengah meter saja. Dan adu jotos pun di mulai.
"You F*ck!! Dasar kepala babi!" umpat Gerald.
Chloe bingung harus berbuat apa. Tentu ia tak ingin Gerald terluka. Cepat ia berlari dan mencari guru seadanya.
Dan Chloe berhasil meminta seorang guru olah raga untuk melerai dua remaja yang sama - sama belum bisa mengontrol emosi.
"Stop Gerald! Stop Jeremy!" seru sang guru.
Berulang kali guru olah raga mencoba untuk melerai, namun kesulitan. Sementara baju keduanya sudah tak lagi berbentuk.
Seorang tukang kebun datang tergopoh - gopoh. Dan akhirnya dua orang dewasa itu saling menarik pinggang keduanya untuk di jauhkan.
Gerald tersenyum miring saat melihat Jeremy babak belur oleh tangannya sendiri. Sementara wajahnya baik - baik saja.
Dan Jeremy sendiri menatap benci pada Gerald. Ia sama sekali tidak menyangka jika Gerald sangat menguasai ilmu bela diri.
"Apa yang kalian lakukan! Cepat ikut ke ruang BK!" ujar guru olah raga.
Dan.. Jrengg...
Baru beberapa hari sekolah, Michael dan Chania sudah harus menghadap guru BK sang anak bungsu.
Duduk berdua di sofa, Michael melirik tajam pada sang putra yang berdiri di pojok ruangan. Tidak marah, hanya saja ia tak menyangka secepat ini ia harus merasakan berhadapan dengan guru BK sang anak.
Meski dulu ia sering membuat orang tuanya datang ke sekolah untuk berhadapan dengan guru BK nya.
"Apa tanggapan Tuan Michael atas putra anda?" tanya sang guru wanita.
"Saya akan selesaikan di rumah.." jawab Michael ketus. Ia sudah lihai berhadapan dengan guru BK, bahkan polis kampus sekalipun.
"Honey..." lirih Michael mencubit pinggang suaminya.
"Kami tetao memberikan skors kepada mereka berdua, Tuan!"
"Yaa.. Berikan saja!" jawab Michael. "Saya yakin, anak saya tidak akan marah kalau tidak di ganggu duluan!"
"Jadi maksud anda anak saya yang mengganggu anak anda?" sahut Ayah dari Jeremy.
"Ya jelas! Lihat saja anakmu! Dari wajahnya saja sudah jelas kalau dia suka buat onar! Kamu tidak bisa membaca karakter orang, hah?" tanya Michael ketus.
"Honey..." lirih Chania lagi karena merasa malu dengan sikap sang suami yang frontal tanpa melihat tempat.
"Anda benar - benar ya! Bapak dan anak sama saja! Suka menuduh orang lain suka membuat masalah!" protes sang Ibu Jeremy.
"Hey! saya ini ahli dalam membaca karakter seseorang! Kalau kalian tidak percaya, tanya kan saja pada ahlinya!"
Perkelahian antar murid baru saja selesai. Dan kini justru berlanjut dengan pertikaian antar orang tua.
Guru BK harus di buat pusing dua kali oleh orang - orang kaya seperti mereka.
Sampai Chania yang lemah lembut, salah tingkah sendiri dengan emosi sang suami.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1