
Mengintip dari gerbang yang mengarah pada halaman Mess bodyguard, Jia sudah bisa melihat siapa saja yang ada di sana. Sedang duduk di kursi berbaris rapi dengan menghadap meja panjang, yang entah sejak kapan kursi-kursi itu di tata di tempat itu.
Tanpa atap yang menutupi bagian atas, membuat suasana itu menyatu dengan alam dan langit yang luas. Sangat syahdu bagi siapa saja yang tergabung.
Di sudut yang lain, tampak beberapa pelayan wanita yang tidak sedang dalam masa tugas, dan beberapa istri atau pasangan bodyguard tengah menyiapkan makan malam untuk para bodyguard yang sedang duduk di tengah halaman. Menikmati obrolan dan minuman yang menghangatkan tubuh masing-maisng bodyguard.
Mereka tampak memanggang beberapa ekor ayam yang di biarkan utuh Dan juga beberapa sosis dan cumi-cumi yang di panggang oleh pelayan lainnya menggunakan mesin pemanggang.
Semua itu, kegiatan semacam ini memang di bebaskan oleh Michael untuk momen-momen khusus para bodyguard. Seperti ulang tahun, dan juga merayakan kelahiran anak-anak para bodyguard. Selama di dalam waktu tenang.
Dan semua biaya tentu di anggarkan oleh sang ketua klan, alias Michael Xavier sendiri. Sehingga bodyguard benar-benar memiliki jaminan yang luar biasa di dalam bawah kepemimpinan seorang Michael Xavier Sebastian.
' Amore.... maafkan aku... '
Lirih sang Nona Muda di dalam hati.
Jika bisa, tentu saat ini ia ingin berlari dan memeluk sang kekasih untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Sekaligus meminta maaf, atas ketidaktahuan dirinya akan ulang tahun sang kekasih.
Dengan membulatkan tekad, dan perencanaan singkat yang di yakini akan berhasil, Jia menegakkan badan dan bersiap untuk memasuki gerbang. Menggunakan sweater lengan panjang, dengan leher tinggi, di padu dengan celana jeans ketat, kaki kanan Nona Jia terangkat untuk melangkah.
"Nona Jia?"
Sapa Noel yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Jia. Membuat sang gadis terlonjak kaget, hingga semua bodyguard yang ada di dalam area halaman mess menoleh ke arah pintu gerbang.
"Nona Jia..."
Setidaknya itulah yang di dengar oleh Jia dari arah dalam gerbang. Setelah itu kasak-kusuk tak lagi terdengar jelas oleh telinga Jia, yang tengah tidak menggunakan keahliannya dalam mendengarkan jarak jauh.
Dan itu membuat Jia merasa cukup, bahkan sangat malu. Dengan mengeratkan giginya, Jia menoleh pada Noel dan berucap lirih.
"Paman Noel, bisa tidak, jangan mengagetkan orang?" protes Jia dengan gigi yang masih mengerat.
"Maaf, Nona... tapi tidak biasanya Nona ada di sini..." jawab Noel tersenyum kikuk. "Setelah masalah waktu itu, saya pikir, Nona Jia tidak akan pernah lagi menginjak daerah ini..." lanjut Noel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tapi merinding saat melihat mata Jia yang setengah melotot tajam padanya.
"Tapi kan bisa panggil aku pelan-pelan, Pamaann..." gemas Jia pada Noel yang salah waktu untuk menyapa.
Tersenyum kikuk, sembari menunduk hormat Noel meminta maaf pada sang Nona Muda.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona..." Noel menunduk dalam, menyesali perbuatannya yang ia pikir biasa saja. "Jika boleh tau, Nona ingin bertemu dengan siapa?"
"Kak Jio!" singkat Jia kembali menoleh ke arah dalam mess.
Dan kali ini sorot mata Jia beradu dengan sorot mata Xiaoli yang duduk di tengah dengan memiringkan kepalanya ke kiri untuk bisa melihat dirinya. Jia yakin akan hal itu.
Namun ketika sorot mata keduanya bertemu, keduanya hanya bisa tersenyum samar, tanpa ada yang berani tersenyum manis. Apalagi tersenyum bahagia.
"Biar saya panggilkan Tuan Muda Jio, Nona..." ucap Noel kemudian, dan ia hendak segera beranjak untuk memasuki gerbang.
"Tunggu!" sahut Jia tiba-tiba.
' Sungguhlah Paman Noel menghancurkan segalanya! Kalau di panggilkan, kan aku jadi tidak bisa berbasa-basi dengan Xiaoli di dalam sana! '
Gerutu sang Nona Muda dalam hati. Ingin rasanya Jia meremas Noel di telapak tangannya yang kecil, dengan jemari yang lentik, namun memiliki kekuatan yang tidak semudah itu untuk di kalahkan.
"Kenapa, Nona?"
Belum sempat Jia menjawab, suara dewa penyelamat mengudara di tengah dinginnya malam kota Roma. Membuat Jia mendapatkan angin yang dua kali lipat lebih segar.
"Ada apa, Jia?" tanya Jio yang mendengar namanya di sebut oleh sang saudara kembar.
Jika Daddy memarahinya, ada Jio yang bisa ia jadikan alasan utamanya. Dan saudara kembarnya itu tidak akan segan membela dirinya, selama masih di batas wajar, pikirnya.
Sepanjang langkahnya, Jia berulang kali mencuri pandang pada sang kekasih yang juga menatap dirinya. Meski bukan hanya Xiaoli dan Jio yang menatap Jia, tetap saja yang di ketahui sang gadis hanya Xiaoli yang sedang menatapnya.
"Kenapa Kak Jio dan Jellow di sini?" tanya Jia berpura-pura tidak tau.
Ah! lebih tepat nya berbasa-basi semata.
"Hanya merayakan ulang tahun salah satu bodyguard utama yang sedang berulang tahun saja..." sahut Jellow yang paham jika sesungguhnya Jio tak ingin menjawab dan tak ingin berada di tempat ini. Melainkan ingin memantau sang kekasih yang sedang amnesia dari kejauhan. Lebih tepatnya di sebrang jalan rumah Virginia.
Meski dalam pengaruh alkohol, sang pemuda masih cukup sadar untuk di ajak berbicara dan mengingat apapun juga. Begitu juga dengan bodyguard yang lain. Tidak akan ada yang berani mabuk sampai tidak sadarkan diri, selama di lingkungan istana.
"Oh, ya?" tanya Jia. "Siapa?" tanya Jia pura-pura tidak tau lagi dan lagi.
"Xiaoli!" sahut Jio sembari meraih kaleng berwarna biru di meja yang tersedia.
__ADS_1
"Wow! Xiaoli ulang tahun?" seru Jia menatap terbelalak pada sang bodyguard yang merupakan kekasihnya itu.
Dan ia berpura-pura untuk kesekian kalinya.
"Ya! ini ulang tahunnya yang ke 22 tahun!" sahut Jellow kembali mengangkat gelasnya dan langsung di sambut oleh gelas milik Antonio.
Dua gelas dengan ukuran dan bentuk yang sama itu beradu dan saling membentur untuk menimbulkan suara yang khas.
"Happy birthday, Xiaoli!" seru Jellow untuk kesekian kalinya. Kemudian kembali menenggak isi dari gelasnya.
Jia menatap sang sepupu dengan di sertai sebuah gelengan kepala kecil. Kemudian menatap sang kekasih yang langsung mengangguk, mendengar kalimat keluarga Xavier yang juga berhak ia hormati.
"Terima kasih, Tuan Muda Harcourt! Terima kasih juga untuk pestanya!" lanjutnya tersenyum pada sang putra mahkota Harcourt.
"Hemm... sama-sama..." jawab Xiaoli sembari menghentak bagian bawah gelas ke atas meja.
Melihat Jellow yang sudah tidak sadar 100%, Jia menatap apa yang ada di depan sang kekasih. Di depan Xiaoli, hanya ada sebuah kaleng minuman, yang bertuliskan 0% alcohol.
' Dia tidak minum alkohol? '
Batin Jia bertanya dalam hati, sebelum akhirnya ia mengulurkan sebuah kepalan tangan pada Xiaoli yang duduk di dekat sang saudara kembar.
"Happy birthday, Xiaoli!" ucap Jia seolah mengucapkan itu pada seorang teman.
Xiaoli menatap wajah cantik sang kekasih di antara rambut hitam yang di gerai. Kemudian menatap kepalan tangan yang terarah pada dirinya.
"Terima kasih, Nona Muda..." jawab Xiaoli ikut mengepalkan tangan, dan melakukan sebuah tos menggunakan sebuah tinjuan tangan ala anak muda.
Dan di saat punggung-punggung jari itu saling bertubrukan, di sanalah getaran-getaran di dalam dada muncul.. Seolah berkata... Bukan cara ini yang mereka inginkan untuk merayakan hari jadi pasangan.
"Maaf, karena aku tidak tau kamu ulang tahun, jadi aku tidak bawa apa-apa untuk mu sebagai hadiah." ucap Jia ketika kulit mereka tak lagi bersentuhan.
"Tidak ada hadiah yang saya inginkan dari anda, Nona," jawab Xiaoli. "Dengan melihat Nona Muda aman dalam perlindungan kami, terutama saya, itu sudah membuat kami merasa berhasil untuk mengabdi pada Klan, dan Tuan Besar Xavier!" jawab Xiaoli seformal mungkin.
"Ya! aku juga yakin! aku dan keluarga ku akan aman dengan memiliki bodyguard seperti kamu dan... yang lain..." jawab Jia tak ingin membuat orang-orang curiga jika ia hanya memuji sang kekasih semata.
Tapi sungguh, ini bukan obrolan yang mereka inginkan. Yang mereka inginkan saat ini adalah berpelukan di tengah malam yang dingin. Dibawah terang bulan dan kerlap-kerlip taburan bintang malam.
__ADS_1
Melukiskan kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun juga.
...🪴 Bersambung ... 🪴...