
Michael menahan nafas untuk sesaat, menunggu Jack yang hendak memberi jawaban atas pertanyaannya.
"Itu artinya sang pemilik sedang hamil, Tuan." jawab Jack sopan dan santai.
Kilu sudah lidah Michael. Aliran darah membeku dalam sekejap mata. Tak ada sepatah katapun yang bisa keluar pada detik dimana Jack mengatakan sang pemilik tengah hamil. Matanya hanya berkedip dengan gamang. Tubuh terasa lemas, tapi ia tetap harus berdiri.
"Apa itu milik Nyonya muda, Tuan?" tanya Jack langsung menduga saat melihat ekspresi Michael yang berubah.
"Jika benar, itu artinya Nyonya muda sedang hamil, Tuan." lanjut Jack karena Michael hanya diam saja dan membisu. Seperti orang yang kebingunga, atau justru tengah berpindah dimensi.
Terdiam untuk sesaat, kemudian dengan bola mata yang membulat, ia menatap wajah Jack dengan saat serius, sembari berucap ...
"TEMUKAN CHANIA APAPUN CARANYA!" perintah Michael tanpa menjawab pertanyaan Jack. Tubuhnya sudah bergetar, nafas tersengal dan tak mampu lagi berfikir jernih. Yang ada dalam benaknya tinggallah Chania yang harus segera di temukan.
"Maafkan kami, Tuan. Empat bulan sudah kita mencari Nyonya muda. Tapi tidak ada hasil." ucap Jack yang hampir menyerah. "Saya yakin ada pihak yang membantu menyembunyikan."
"AKU BILANG TEMUKAN CHANIA!" teriak Michael tanpa peduli ucapan maupun alasan Jack.
"Sebelumnya maafkan saya, jika saya di anggap lancang, Tuan. Tapi mencari seseorang dengan cara sembunyi - bunyi seperti ini bukanlah hal yang mudah. Saya rasa Tuan sudah paham."
Michael tau yang di ucapkan Jack itu memang benar adanya. Menghela nafas kasar sembari tangan yang menggaruk rambutnya dengan kasar dan berakhir dengan meninju dinding yang selama ini hanya menjadi saksi bisu pergumulan mereka. Dan tentu saja dengan teriakan frustasi yang mengiringi.
Gusar sudah sang Tuan Muda. Dan ia hanya bisa menunduk dengan genggaman tangan kanan yang masih menempel di dinding. Sedang tangan kiri masih menggenggam kotak berisi testpack Chania. Seolah tengah menggenggam tangan lembut Chania.
"Apa yang sudah aku lakukan, Jack?" lirihnya. "Chania pergi dalam keadaan hamil. Dan bodohnya aku kenapa aku tidak tau jika dia hamil!"
Jack pun merasa serba salah, "Ini bukan sepenuhnya salah Tuan Muda. Kehamilan jika tidak di ucapkan oleh seorang wanita, kita tidak akan pernah tau jika dia hamil, Tuan!"
"Ini semua salahku, Jack! Aku yang membawanya masuk ke dalam situasi sulit seperti ini!"
"Bukan, Tuan.. semuanya ini sudah takdir. Dan saya rasa... ini adalah ujian untuk ikatan Tuan muda dan Nyonya muda."
Memejamkan matanya dalam, "Dimana kamu, Chania..." lirih Michael penuh kesedihan. Merasa ucapan Jack ada benarnya. Jika bukan karena takdir yang sudah di gariskan, ia tak mungkin bertemu sosok gadis yang membuatnya melupakan gadis manapun, dan seperti apapun.
"Temukan Chania untukku, Jack! aku rela berlutut memohon ampun padanya..."
"Tuan.. bukankah hal itu sama dengan menjatuhkan harga diri Tuan muda?" Jack mencoba mengorek sedalam apa perasaan Tuannya pada Chania.
"PERGILAH, JACK!" teriak Michael lagi dan lagi. "Lakukan apa yang aku perintahkan! Jangan pedulikan harga diri ku untuk Chania!" tegas Michael.
Tersenyum samar, "baiklah, Tuan!" jawab Jack, ia yakin jika Michael tidak hanya sekedar simpati maupun cinta sesaat. Tapi lebih pada perasaan yang mendalam. Hingga tanpa sadar sudah mengukir sebuah nama di relung hati.
Michael duduk tak berdaya di atas lantai setelah kepergian Jack dari kamarnya. Berfikir keras untuk mendapatkan cara terbaik untuk menemukan Chania tanpa terendus oleh pihak musuh.
Satu lagi, ia bersyukur sudah tak ada lagi sosok Oliver di istananya sejak kedatangan Deborah kala itu.
***
__ADS_1
Menjelang siang, Michael berhasil berdiri dari kerapuhannya. Kini ia sudah berada di Sebastian Company. Perusahaan terbesar di Italia, dimana dirinyalah yang menjabat sebagai Pimpinan.
Langkah lebar dan cepatnya, terarah pada satu pintu. Dimana pintu itu adalah pintu ruangan sang pemilik Sebastian Company.
"Pa!" ucap Michael setelah membuka pintu tanpa mengetuk.
"Michael!" pekik sang Papa kaget. "Duduklah!"
Michael berjalan gontai mendekati kursi tamu di ruangan sang Papa. Menjatuhkan tubuh dengan menunjukkan betapa rapuhnya dirinya sekarang. Namun semua itu tak terlihat saat ia berada di luar ruangan itu.
"Ada apa, Michael?"
"Pa..." lirihnya masih belum tau memulai percakapan dari mana.
"Hemm? katakan, Michael! jangan membuang waktu! Papa tau ini tentang istrimu."
"Pa! ternyata Chania hamil!"
"Hamil!" pekik Frederick seolah tidak percaya, "dari mana kamu tau?"
Michael menyodorkan kotak yang ia bawa dari rumah. "Michael menemukan ini di almari Chania. Dan Jack bilang, benda itu menunjukkan hasil positif yang artinya sang pemilik tengah hamil!"
"Bodoh! dan selama ini kau tidak tau dia hamil!" sentak sang Papa.
"Mana aku tau, Pa! Chania tidak pernah bilang!"
Ingatan Michael mulai kembali ke masa itu. Pertanyaan yang pernah ia tanyakan pada Chania. Namun hanya dugaan yang ia dapat.
"Iya," Michael mengangguk ragu. "Tapi bisa saja dia tidak datang bulan karena pil kontrasepsi yang ia minum."
"Dasar anak bodoh!" umpat Frederick. "Dimana otakmu, Michael!" Frederick berdiri dan duduk di tepi meja membelakangi Michael namun wajahnya menghadap sang putra.
Michael mulai ingat jika Chania pernah bertanya kenapa ia tak ingin memiliki anak. Mungkin itulah yang membuat Chania tidak berani mengakui kehamilannya.
Namun untuk saat ini apalah gunanya menyesal. Nasi sudah menjadi bubur. Chania telah pergi. Ia hanya bisa berharap Chania mempertahankan calon buah hati mereka. Untuk kemudian bisa menimang bersama suatu hari nanti.
"Jika kau sudah curiga, harusnya kau cari tau kepastiannya! kalau sudah begini bagiamana?" sentak Frederick tidak habis pikir. "Gadis itu pergi dengan membawa calon anakmu! calon generasi Papa! penerus perusahaan ini! Bagaimana jika gadis itu menggugurkan calon anakmu?"
"Tidak mungkin!" hentak Michael menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Chania tidak mungkin setega itu!"
"Dari mana kamu yakin? bisa saja sekarang dia ingin bebas, dan melupakan nasibnya yang mungkin kapan saja benar-benar menjadi tumbal mu!"
"Pa!" sentak Michael tidak mau mengingat kalimat itu.
Sang Papa akhirnya pun diam. Menghela nafas berat. Ia menyadari posisi sang putra yang saat ini memang tidak mudah.
"Pa? apa dulu Papa pernah mendengar Chania punya saudara? atau mungkin saudara dari ibunya?"
__ADS_1
Frederick tampak berfikir, mengingat - ingat kembali masa lalu. Suatu masa yang sudah tenggelam bersama terkuburnya mendiang Smith Arlington. Karena sebenarnya ia sendiri tidak terlalu mengenal jauh sosok Kimberly Reana.
"Papa ingat!" ucap Frederick tiba - tiba.
"Apa, Pa?" tanya Michael tidak sabar.
"Smith pernah bilang, jika Kimberly melahirkan dua bayi perempuan."
"Maksud Papa kembar?"
"Ya!" jawab Frederick. "Satu lagi namanya...." kembali mengingat - ingat masa itu. "Thania.. oh bukan, Shania Arlington."
"Dimana dia sekarang, Pa?"
"Papa tidak tau, Michael! saat itu Smith bilang Shania di asuh oleh seseorang yang di percayai Smith. Untuk menghindari Deborah, dan menyelamatkan nama besar Arlington suatu saat nanti. Papa benar-benar lupa akan masa itu!"
"Maksud Papa?"
"Michael, Papa Ingat! Deborah tidak tau jika Chania memiliki kembaran! temukan keduanya! dengan begitu Deborah akan kehilangan taringnya!" desis Frederick.
"Tapi dimana Shania? aku bahkan kehilangan Chania." dengkus Michael resah.
"Bukankah kamu bilang, kau pernah menceritakan sosok Kimberly padanya?"
"Ya." jawab Michael. "Dan Michael ingat, Michael sering menemukan Chania sedang membaca sebuah buku diary usang!"
"Bisa saja itu diary Kimberly. Sekarang kau tau kemana kau harus mencarinya, Michael?" tanya Frederick. "Papa punya firasat jika Chania ada di sana."
"Maksud Papa...." Michael terdiam dan mendelik. Kenapa tidak terpikirkan sejak awal.
"Pergilah Michael! Papa akan mengurus perusahaan ini, begitu juga dengan Black Hold! temukan istrimu beserta saudara kembarnya. Dengan begitu tidak perlu ada nyawa tak berdosa yang harus di korbankan."
"Michael pergi, Pa!" ucap Michael tanpa basa - basi ataupun menanggapi ucapan sang Papa.
Pikiran yang sudah empat bulan buntu mendadak kembali jernih. Tersambunglah kembali syaraf - syaraf normal yang sempat terputus.
Dengan langkah cepat, Michael kembali ke mobilnya. Dimana ternyata sudah ada Jack dan Dimitri di sana.
"Siapkan private jet! kita ke Venice sekarang juga!" ucap tegas Michael tanpa menoleh dua bodyguard paling setia yang ia miliki.
"Siap, Tuan!" jawab Jack.
Melihat ekspresi Michael, ia yakin bahwa Tuannya baru saja menemukan petunjuk keberadaan Nyonya mudanya.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1