SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 70


__ADS_3

Pencarian terus berlangsung hingga hari mulai menggelap. Sedangkan Michael terlihat semakin frustasi. Sedari tadi ia menyusuri kota Roma dengan mengemudikan sendiri salah satu mobil sport miliknya.


Meskipun hanya sedikit kemungkinan untuk bisa menemukan orang yang kabur di pinggir jalan. Namun sepasang mata Michael tetap tak henti melihat sekitar jalan raya.


Bukannya bodoh, namun otaknya mendadak blank, dengan hilangnya Chania. Beberapa kali ia mengambil ponsel Chania di jok samping. Menggenggam, dan menatap dalam layarnya.


"Kamu dimana, Baby..."


Ada Jack dan Dimitri yang menggunakan mobil lain di belakang. Tentu saja mereka tidak akan mungkin melepas sang Tuan muda berkeliaran seorang diri. Bagaimanapun Michael Xavier adalah seorang Mafia dengan banyak musuh dalam selimut.


Sepanjang perjalanan pun Jack tak berhenti untuk memberi perintah pada orang - orang yang entah berada dimana, melalui seluler maupun melalui alat komunikasi khusus.


Sudah banyak yang di lakukan Jack, sebagai orang kepercayaan nomor satu yang di miliki Michael.


Salah satunya sempat memblokade Bandara, Terminal, juga Stasiun kereta api. Namun tak ada laporan nama Chania Renata yang menggunakan alat transportasi itu.


Bahkan beberapa anak buah sudah dikerahkan untuk berjaga di sana untuk memastikan ada atau tidaknya nama Chania yang akan mendaftar. Namun hasilnya sampai saat ini adalah nol.


Langit semakin gelap, hawa dingin mulai menyergap, merasuki pori - pori kulit. Dan menusuk mereka yang berkulit tipis dan tak tahan dengan musim dingin.


Mobil Michael berakhir di persimpangan Via del Corso. Menatap sendu bangunan yang berjajar dengan lampu - lampu malam yang menghiasinya.


Untuk mereka yang sedang jatuh cinta, pasti bangunan itu terlihat begitu indah dan mengagumkan. Namun tidak untuk mereka yang sedang patah hati, ataupun gelisah.


Meratapi kebodohannya yang meninggikan ego, dengan tidak berani mengakui perasaan. Hingga membuat Chania berfikir ia tak pernah mencintainya.


Dan semua semakin runyam saat ternyata Chania mengetahui niatan awal mempekerjakan Chania di Sebastian Company.


Mengeluarkan kotak kecil berisi cincin berlian dari saku celana yang bahkan belum ganti sejak pagi. Memandangi dengan penuh rasa bersalah. Sampai detik ini tak ada jejak sedikitpun yang di tinggalkan Chania untuk bisa di endus pasukan Michael.


"Siapa yang membantu mu bersembunyi?" gumam Michael.


# # # # # #


🍄 Tiga bulan sudah Chania menghilang tanpa jejak...


Kabar menghilangnya Chania sudah sampai di telinga Frederick dan Madalena. Meskipun mencoba di sembunyikan tetap saja nyatanya sampai di telinga orang tua Michael.


Mata - mata yang mengawasi Deborah dan pasukannya, melaporkan bahwa tak ada tanda - tanda mereka menangkap Chania. Karena kondisi Selena masih sama, bahkan sedikit lebih lemah dari yang di ucapkan Deborah tiga bulan lalu. Itu artinya gadis itu belum mendapatkan donor sumsum tulang belakang.


Michael duduk bersandar di kursi kerjanya, menatap ponsel Chania yang selalu ia bawa kemanapun.


Di depannya ada sang Papa yang tengah mengunjungi Italia, karena keluhan sang putra yang tidak sepenuhnya bisa fokus menyelesaikan pekerjaan.


"Pulanglah, hari ini Papa akan menggantikan mu meeting!" ucap Frederick pada Michael. "Ini klien penting, Papa tidak mau gagal karena kamu yang tidak fokus!"

__ADS_1


"Hemm." jawab Michael datar, sembari beranjak dari kursinya.


Frederick menatap sendu sang putra. Kali pertama ia mendapati sang putra seperti itu. Namun ia bersyukur, karena berhasil mengelabui Deborah.


Tapi bukan berarti itu akan aman selamanya. Ia yakin suatu saat bendera perang akan berkibar di antara kubu Frederick Sebastian dan Deborah Arlington.


Saat Deborah ...


***


🍄 Satu bulan kemudian ...


Michael berdiri di depan cermin nya di walk in closed pada suatu pagi. Mengancingkan lengan kemeja kerjanya yang berwarna biru langit. Menatap miris pada dirinya yang kesepian.


Banyak luka baru di beberapa titik akibat peperangan saat kiriman senjata di sabotase musuh beberapa waktu lalu. Namun tak ada lagi yang mengobatinya. Tak ada lagi perhatian akan setiap luka goresan di kulitnya.


Bahkan tak ada lagi yang memasangkan dasi dengan penuh kelembutan. Sudah empat bulan ia memasang dasi sendiri seperti yang ia lakukan saat ini. Memainkan helaian dasi mahal hingga membentuk tautan rapi yang melingkari lehernya.


Ia begitu rindu akan kehadiran sosok sang istri. Mencium dalam dasi yang pernah di sebut Chania sebagai dasi favoritnya. Keharuman parfum yang paling di sukai Chania pun menyeruak dari serat kain dasi yang lembut bagai sutera.


Beralih melangkahkan kakinya mendekati almari yang di peruntukan untuk Chania. Berharap mendapati lagi almari itu di buka oleh sang pemilik. Namun semua hanya ilusi.


Masih ada banyak barang yang di tinggalkan Chania di sana. Lebih tepatnya barang yang di dapat dari Michael. Barang - barang mewah dari brand dunia dan bahkan beberapa di antaranya adalah model limited edition. Yang hanya bisa di miliki oleh orang - orang tertentu.


Menggeser pintu almari, menyisir dress - dress yang tergantung rapi di sana. Membayangkan dress - dress itu kembali di pakai sang empunya. Tiba - tiba keharuman khas Chania menyeruak dari sela - sela baju. Menusuk indera penciuman Michael, hingga membuatnya hampir berhalusinasi.


Menutup kembali dan menggeser pintu di sampingnya. Ada banyak lipatan baju yang tersusun rapi di sana. Masih dengan berbagai brand dunia.


Jemari tangan kembali bergerak menyusuri setiap lipatan baju. Sampai jemari itu berada sejajar dengan sebuah kotak persegi panjang kecil yang menyelinap di antara tumpukan baju dan sisi almari.


Mengerutkan kening, seolah bertanya apakah isi kotak itu? kenapa di tinggalkan? atau mungkin tertinggal?


Menarik cepat kotak itu, memutarnya perlahan. Seolah mengira - ngira isinya. Penting kah? atau tidak penting dan kemudian di tinggalkan?


Tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri, akhirnya Michael menghadapkan kotak itu sesuai posisi. Berdiri dengan bagian tutup berada di atas.


Jemari kiri mengunci bagian bawah, jemari kanan mengunci bagian atas kemudian saling menarik. Dan terbukalah kotak itu.


Kertas putih mengkilap menutupi bagian atas, seolah tengah membungkus isinya. Dengan dua tepian bertemu di tengah - tengah bagian atas. Membuat Michael semakin penasaran.


Satu persatu tepi kertas di buka Michael. Hingga ia kembali mengerutkan keningnya. Menautkan dua alis tebal, yang berada di atas mata yang menyipit.


"Apa ini?" gumam Michael melihat empat benda berukuran panjang. Namun dengan model berbeda.


Mengambil semuanya, dan kembali mengamati satu persatu. Dua di antaranya menunjukkan dua garis. Dan dua lagi menunjukkan lambang plus.

__ADS_1


"Benda apa ini?" sisi lain dari seorang Michael Xavier. "Untuk apa Chania menyimpan benda seperti ini? dari mana dia mendapatkan?" gumamnya seolah menunjukkan kebodohan.


Masih memutar dan kembali melihat tanda yang muncul. "Atau ini alat tes suatu penyakit?"


Michael yang bingung membawa benda peninggalan Chania itu keluar dari ruang walk in closed.


Tok tok tok!


Bersamaan dengan itu, pintu di ketuk dari luar, dengan di barengi suara Jack.


"Masuk!" teriak Michael.


Jack masuk dan menunduk hormat pada sang bos.


"Sudah jam setengah delapan, Tuan!" ucap Jack.


"Hemm!" jawab Michael datar.


"Jack?" panggil Michael.


"Ya, Tuan?"


"Kau tau benda apa ini?"


Dengan bodohnya seorang Michael menunjukkan kotak beserta isinya pada Jack, bodyguard dengan masa pengabdian terlama itu.


Jack mendekat, kemudian mengambil kotak dari tangan Michael. Hanya sekali lihat melalui kotak bening, tanpa menyentuh bagian dalamnya Jack sudah tau benda apa itu.


"Ini testpack, Tuan!"


"Testpack?" ulang Michael, "apa itu testpack?"


"Testpack adalah alat untuk mengecek seorang wanita sedang hamil atau tidak, Tuan!"


"Hah!" tercekatlah lidah Michael mendengar penjelasan Jack, "lalu ini?" mendelik sudah mata Michael. Nafas mulai terengah, terlihat dari dadanya yang kembang kempis.


"Ini positif, Tuan!"


"Artinya?" tanya Michael dengan nafas yang semakin tak beraturan.


"Artinya...."


🪴🪴🪴


Okey, lanjut besok ya kak!

__ADS_1


Selamat malam, dan happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2