SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 127


__ADS_3

Makan malam di rumah Michael kali ini terbilang ramai. Ada kedua orang tua Michael, juga Reno dan Sania. Sedangkan baby twins sudah terlelap di kamar bayi khusus mereka.


Satu kamar berukuran cukup besar yang di desain dengan dua warna berbeda, Biru dan Pink. Sisi kiri bernuansa pink dengan box bayi berwarna pink juga berbagai perlengkapan bayi perempuan milik Gia yang di dominasi warna pink.


Sisi kanan sebaliknya, berwarna biru trang dengan box bayi berwarna biru dan berbagai keperluan bayi laki - laki untuk Gio.


Di setiap sisinya ada tempat tidur khusus untuk para baby sitter yang menjaga mereka. Juga tersedia tempat tidur besar untuk Chania bisa memberikan asi pada mereka.


Kembali ke meja makan ...


"Jadi kapan kalian akan mengadakan acara pertunangan?" tanya Madalena pada Sania setelah selesai menyantap hidangan makan malam.


"Atau mau langsung menikah saja?" sahut Chania menggoda sang saudara kembar. "Biar bisa langsung..." Chania menaik turunkan alisnya dengan cepat. "Hahaha!" gelaknya kemudian.


Sania mendelik mendengar apa yang di ucapkan saudaranya. Ia tau apa yang di maksud Chania.


"Baby..." desis Michael karena sang istri menggoda terlalu berlebihan. Terutama untuk di dengar oleh Sania.


Reno dan Sania saling melirik malu - malu. Wajah dengan kulit putih berubah menjadi merah merona seketika. Namun Reno berusaha untuk bersikap datar dengan candaan mantan ibu hamil yang cintanya pernah ia kejar dulu.


"Setelah kalian mengadakan pesta pernikahan, maka kami akan segera melangsungkan pertunangan!" jawab Reno tersenyum yakin.


"Ah, ya! Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Madalena.


"20% lagi, Mom!" jawab Michael.


"Aunty tidak perlu khawatir! aku sudah menyiapkan semuanya! dari gedung, dan tema rustic yang di inginkan Chania. Tinggal kita fitting baju saja minggu depan!" sahut Sania, selaku yang paling antusias dengan pesta pernikahan Michael dan Chania.


"Kamu memang bisa di andalkan, Sania!" puji Madalena.


"Itu karena dia sudah terbiasa menyiapkan keinginan Margareth yang super ribet itu!" sahut Reno menyentuh punggung tangan Sania, dan meremasnya lembut.


Sania tersenyum kaku, merasa apa yang di ucapkan Reno memang benar adanya. Dan tiba - tiba ia kembali teringat, bagaimana kabar kakak angkatnya yang tak pernah menganggapnya sebagai adik itu?


Apa reaksinya setelah di tinggalkan oleh Darrel Harcourt? Apa ia tau jika Darrel mendekati hanya karena dirinya?


Dan bagaimana jika kakak angkatnya itu tau, jika calon istri Darrel adalah saudara tirinya?


Sania tersenyum smirk, antara masa bodoh dan merindukan Kakak angkatnya itu.


"Why?" bisik Reno yang merasakan jika sang kekasih tengah resah.


Sania menoleh dan menggeleng pelan. Senyum manis di terbitkan untuk sang pujaan hati.


***


Gelap malam sudah menyelimuti Bumi bagian Italia. Sebagian pasang mata sudah terpejam. Termasuk seluruh keluarga inti Michael Xavier. Hanya sepasang mata majikan yang tetap terjaga.


Sedari tadi ia hanya berdiri terpaku di samping box bayi berwarna pink. Menatap penuh damba pada wajah mungil dengan pipi gembul, bibir merah dan hidung kecil yang mancung.


Ya! dialah Nyonya Muda Xavier!


Beberapa hari sudah berlalu. Perhelatan pesta pernikahannya dengan putra konglomerat Italia sudah semakin dekat. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Dua bayi telah lelap kembali, seharusnya dia sudah kembali pada sang suami di kamar mereka. Karena dua bayi sudah ada yang menjaga, juga ada alarm khusus di kamar bayi itu.


"Aku keluar dulu..." ucap Chania lirih pada seorang baby sitter yang terjaga.

__ADS_1


"Ya, Nyonya"


Chania keluar dari kamar bayi yang berada tepat di samping kamarnya. Ia berjalan mendekati pintu kamarnya, namun ia berhenti untuk sesaat, dan tampak berfikir.


Setelah beberapa saat, Chania mengalihkan langkah. Berbelok ke arah lift yang berada di sebelah tangga.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya seorang penjaga di ruangan itu.


Dulunya mereka adalah penjaga khusus kamar Michael. Namun sejak kehadiran dua malaikat kecil, mereka menyebar di dua pintu paling istimewa itu.


"Tidak ada! aku hanya ingin mengambil minum." jawab Chania sekenanya.


"Biar saya yang ambilkan, Nyonya!"


"Tidak perlu! aku mau ambil sendiri!" cegah Chania sembari terus melangkah ke arah lift.


Dua penjaga saling tatap. Namun tak ada yang berani membantah ucapan majikannya.


"Baiklah, Nyonya!"


Chania masuk ke dalam lift seorang diri. Turun ke lantai bawah dengan satu tujuan, yang entah tujuan apakah itu.


Chania keluar dari pintu lift di bawah, namun alih - alih mengambil minum di dapur, ia justru menuju pintu belakang rumah megah itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya penjaga yang bersiap di liar pintu.


"Tidak!" jawab Chania singkat.


Chania terus berjalan melintasi jalan setapak, melewati beberapa penjaga yang sedang berpatroli. Semua menatap heran pada sang Nyonya yang keluar tengah malam begini.


"Nyonya!" seru Jack yang melihat Chania berjalan ke arah gedung latihan tembak.


Pria itu tengah bersantai dengan beberapa bodyguard lain di depan mess bodyguard yang tempatnya bersebalahan dengan gedung tembak, hanya berbatasan dengan gudang senjata saja.


Selaku bodyguard yang paling dekat dengan Michael, Jack berlari mendekati sang Nyonya muda. Memastikan istri Tuannya tetap aman dan tidak terjadi hal - hal yang tidak di inginkan Tuannya.


"Nyonya? ada yang bisa saya bantu?" tanya Jack sudah berada di belakang Chania.


"Aku ingin belajar menembak!" jawab Chania tanpa menoleh Jack yang terus mengekor di belakangnya.


"Menembak!" pekik Jack. "Apa Tuan muda tau, dengan keinginan Nyonya?"


"Tidak! dia tidur!" jawab Chania datar. "Ayo Jack segera buka pintu itu!" perintah Chania.


"Tapi Nyonya, bagaimana jika Tuan muda marah dengan keinginan Nyonya?"


"Tidak mungkin.. Jangan beri tau dia!" jawab Chania santai. "Panggilkan aku bodyguard wanita!" lanjutnya berhenti tepat di depan pintu gedung tembak.


Jack tampak bingung, antara menurut Nyonya muda di depannya atau mengikuti nalurinya untuk memberi tau sang bos.


"Cepat, Jack!"


"I..iya, Nyonya!" jawab Jack.


Jack membuka kunci gedung kedap suara itu, kemudian menghubungi bodyguard di mess untuk mengirim seorang bodyguard wanita.

__ADS_1


Bodyguard wanita, sudah ada sejak lama. Mereka bertugas untuk mengawasi para Nyonya, dan Nona di rumah itu maupun di rumah utama.


"Silahkan, Nyonya!" ucap Jack mengarahkan Chania untuk ke arah meja. Dimana di sana sudah ada beberapa jenis pistol beserta pelurunya di atas meja.


"Selamat malam, Nyonya!" sapa seorang bodyguard wanita dari luar.


"Heemm.. kemarilah May!" perintah Chania.


"Baik, Nyonya!"


Chania berdiri berdampingan dengan bodyguard wanita yang bernama Maya itu.


"Tunjukkan padaku! dari mana aku harus memulai belajar menembak?"


"Nyonya ingin belajar menembak?" Maya sedikit terbelalak menatap majikannya.


"Ya! memangnya kenapa?" tanya Chania santai.


Maya menoleh Jack, selaku pemimpin bodyguard. Seolah meminta persetujuan boleh atau tidak.


Kemudian Jack mengangguk meski sedikit ragu.


"Ayo cepat!" desak Chania.


"I..i..iya, Nyonya!"


Maya tampak ragu untuk meneruskan semua ini. Apakah ini menyeleweng dari aturan Tuan muda mereka? Akan tetapi menolak perintah Nyonya muda juga termasuk suatu kesalahan.


"Senjata mana yang harus aku gunakan?" tanya Chania sudah tak sabar.


"Ini saja, Nyonya!" sahut Jack mengambil satu jenis pistol dan menunjukkan pada Chania.


"Sebelumnya gunakan penutup telinga dulu, Nyonya."


Maya memakaikan penutup telinga, sedang Jack memasukkan peluru ke dalam pistol. Chania tampak sangat antusias dengan apa yang akan ia pelajari kali ini.


"Apa yang kamu lakukan disini?" suara bariton yang tak asing terdengar dari arah pintu utama gedung.


Sontak Jack dan Maya mendelik dan saling lirik. Sebelum kemudian tiga orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Wajah tegang menyembur dari ketiga orang itu.


Michael Xavier berdiri di tengah kusen. Ada dua penjaga di belakangnya. Chania ingat penjaga itu adalah yang ia lewati tadi.


Menatap tegang sang suami, namun ia yakin, ia bisa meluluhkan hati suaminya dengan berbagai cara.


' Apapun caranya aku harus melanjutkan latihan ini! aku tidak mau Selena pintar lebih dulu dari pada aku! '


Batin Chania bergemuruh. Ia teringat akan pertemuannya kemarin dengan Selena. Niat hati ingin beramah tamah dan menjalin hubungan dekat. Ia justru seolah mendapat teror.


"Aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku, Chania... Apapun caranya, termasuk menghabisi nyawa mereka yang sudah mengambilnya..."


Ucapan Selena saat itu terus terngiang di telinga Chania. Meskipun tak secara langsung menyebut merebut Michael dan membunuhnya. Namun mendengar kisah masa lalu mereka, ia yakin jika Selena tengah menyindirnya. Meski gadis itu berucap sambil tersenyum sekalipun.


...🪴 Happy reading! 🪴...


NB : Jangan macam - macam dengan protagonis wanita ya, Selen! 😉

__ADS_1


__ADS_2