SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 276


__ADS_3

Michael tengah mengadakan pertemuan dengan salah satu pengusaha dari Amerika di restauran terkenal di kota Roma. Dengan membawa beberapa bodyguard utama, sang ketua Klan duduk di meja bundar dengan tim inti dari rekan bisnisnya yang seusia dengan dirinya. Dan di ketahui bernama Scott Harvey.


Di sampingnya ada Zayn, seseorang yang menjabat sebagai Direktur bisnis di Sebastian Corp. Di sisi kanan ada Jack sang Asisten pribadi yang mengetahui banyak hal tentang perusahaan tentu saja.


Sementara para bodyguard utama, salah satunya Xiaoli dan Dimitri duduk di meja yang lainnya. Memantau dan memastikan jika bos mereka selalu dalam keadaan aman.


Jalinan bisnis yang hendak mereka kerjakan kali ini tentu cukup menguntungkan di kedua belah pihak. Karena bergerak di bidang minyak dunia. Apalagi sebelum ini, keduanya adalah teman kuliah saat masih di Harvard University.


Sehingga Michael dan Scott tampak terlihat sangat akrab setelah pencapaian kesepakatan bersama. Dan tanpa ragu keduanya kini mengobrol dengan sangat santai. Juga mengenang masa lalu selama berteman hampir empat tahun lamanya.


"Seharusnya yang datang menemui kamu saat ini sudah bukan lagi aku..." ucap Michael pada rekan bisnis terbarunya. Namun bukan teman terbarunya.


"Kenapa, Michael?"


"Aku sudah menyerahkan urusan ini pada putra mahkota ku..." jawab Michael.


"Why?" tanya Scott terbelalak. Mengingat dirinya bahkan belum memikirkan hal semacam ini. "Bukankah kita masih muda untuk tetap bisa melanjutkan bisnis kita, Michael?" tanya sang pengusaha minyak yang sepertinya sering lupa akan usia yang sudah di kepala 5.


"Kita bahkan masih suka di lirik para gadis muda, bukan?" tanya Scott yang memang sejak tadi memperhatikan sekitar, dan banyak sekali para gadis ataupun wanita dewasa yang melirik pada dua pria tampan yang terlihat paling menonjol dari rombongan.


"Ya, kamu benar! Hanya saja aku ingin punya banyak waktu untuk keluargaku di rumah." jawab Michael apa adanya. "Bermain dengan para wanita sudah bukan lagi diriku, Scott! Dan itu sudah aku lakukan sejak aku menikah dengan istri ku."


"Oh my God! Aku tidak percaya ini kamu, Michael!" pekik Scott tergelak tak percaya. "Padahal aku tidak pernah lupa kalau kita pernah beberapa kali threesome dengan teman sekampus. Baik di apartemen mu dan di apartemen ku, Michael.. Hahahah!" Bisik Scott kemudian tergelak.


"Dan dulu terasa sangat menyenangkan..." tambah Michael dengan berbisik pula dan disertai seringai nakal Sang Mafia.


"Hahaha! Kamu selalu benar Michael!" gelak Scott. "Kapan terakhir kamu melakukan itu?" ulang Scott berbisik.


Bisik-bisik yang di lakukan oleh Scott sesungguhnya sangat percuma bagi para bodyguard utama Michael. Karena Tiga bodyguard utama tetap saja bisa mendengarnya.


"Sejak kembali ke sini, aku memilih untuk tidak bermain bersama orang lain. Dan sejak menemukan istriku, apapun alasannya, aku akan selalu memilih untuk tetap setia pada Baby ku tercinta." jawab Michael.


"Ya...ya.. baiklah... Kalau begitu kenapa masih kamu yang datang menemui ku?"


"Karena putra ku sedang memiliki masalah yang cukup sukar untuk di selesaikan. Jadi aku biarkan untuk dia kembali melanjutkan kehidupan sesuai usianya yang baru menginjak 19 tahun." jawab sang Naga hitam.


Di tengah-tengah obrolan yang sedang berlangsung, telinga sensitif para pasukan klan Black Hold mendengar suara yang sangat tidak asing. Dan itu membuat semua reflek menoleh pada pintu masuk yang menjadi sumber suara itu berasal.


"Jia?" gumam Michael menoleh pada pintu masuk.


"Nona Jia...?" gumam para bodyguard, baik lirih maupun hanya berucap dalam hati.


"Siapa, Michael?"  tanya Scott ikut menoleh ke arah pintu.


"Putriku..." jawab Michael tanpa melepas pandang.


Dari arah pintu sana, Jia, Reena, Gladys dan Diego. Selain itu juga tampak beberapa teman laki-laki yang lain.

__ADS_1


Rombongan anak muda tampak asyik bercakap sejak memasuki restauran. Obrolan seputar urusan mereka di kampus beserta kegiatan anak muda seusianya, dapat di dengar jelas oleh pasukan Klan Black Hold yang ada di sana. Dan yang paling memantau saat ini... tentu saja Xiaoli Chen.


Bodyguard satu ini yang pertama kali merasakan kehadiran Jia di ruangan itu. Dan membuat ia mengerutkan kening. Karena semalam tidak ada obrolan mengenai rencana kegiatan sang Bao Bao hari ini.


"Sepertinya kita harus bersiap untuk friday night party minggu depan!" ujar Gladys di tengah obrolan.


"Ya... kamu benar!" sahut Jia tertawa kecil sembari mengamati pemandangan sekitar, dan ...


Sorot matanya bertemu dengan sorot mata sang Ayah. Dan itu membuatnya langsung mengedarkan pandangan ke arah lan. Dan 70% Jia tentu mengenali mereka. Terutama saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan Xiaoli Chen.


Bodyguard yang semalam belum puas ia temui. Ia masih ingin sekali bermanja pada tubuh kekar sang kekasih. Masih ingin sekali berciuman hingga tertidur. Tapi  yang terjadi semalam sungguh di luar dugaan.


"Daddy?" pekik Jia pada sang Ayah. Dan ia pun berhenti melangkah.


Namun sang Ayah hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban. Sebagai jawaban untuk sang putri bisa melanjutkan kegiatan bersama teman-temannya. Toh masa hukuman yang pernah di dapat Jia sudah berakhir. Uang dan kartu apapun sudah berada di dalam genggaman.


"Siapa?" tanya Gladys.


"Daddy ku..." jawab Jia berbisik.


"Jang mana?"


"Yang pakai jas hitam."


"Sudah ku duga!" sahut Gladys tersenyum pada Jia.


Dengan ragu sang gadis kembali mengajak Gladys untuk melangkah mengikuti teman-temannya yang sudah mulai mencari tempat untuk duduk.


Untuk sesaat yang terlihat dari rombongan Jia adalah sebuah traktiran makan siang dari salah satu rekan Jia. Ya, Diego.


Mata Xiaoli untuk saat ini cukup tajam mengamati pergerakan sang kekasih dan Diego yang selalu ia anggap memiliki perasaan pada Jia.


Dan sejak tadi pun, Jia bisa merasakan jika ada yang mengamati lebih dari sekedar melihat. Namun Jia berusaha untuk cuek kali ini. Dan ia kembali berbaur dengan obrolan banyak teman-temannya.


Lagi pula ada sang ayah. Tidak mungkin dia bertukar pandang atau bahkan saling kode pada sang kekasih.


"Happy birthday..." ucap semuanya ketika Diego meniup lilin yang di tancapkan di atas spaghetti.


Semua tertawa ringan, karena ulang tahun Diego kali ini tanpa kue ulang tahun yang berarti. Tapi ini memang sengaja di lakukan.


Selesai dengan acara tiup lilin dan makan menu masing-masing, Jia izin untuk pergi ke toilet seorang diri. Tanpa melihat  ke kanan dan ke kiri, sang gadis berjalan menuju ke arah toilet yang berada cukup jauh dari mejanya.


Memasuki bilik toilet, taka ada satu hal pun yang perlu di curigai. tapi saat keluar dari toilet, sesuatu menghentak nya untuk kembali mundur satu langkah.


"Xiaoli!" pekik Jia dengan mata terbelalak cukup lebar. "Kamu mengagetkan aku saja." gerutunya sembari keluar dari bilik toilet.


Sementara sang pemuda duduk bersandar di wastafel menghadap toilet tempat dimana Jia tengah menunaikan hajatnya. Kedua tangan melilit di depan dada. Menunggu sang kekasih dengan sabar.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Jia sembari mengeringkan tangannya yang baru saja mencuci tangan di wastafel sebelah Xiaoli. "Ini kan toilet wanita."


"Memangnya kenapa kalau aku di toilet wanita?" tanya Xiaoli dengan datar.


Sejak tadi belum muncul senyuman di bibir sang pemuda. Yang ada hanya muka datar dan ekspresi yang sulit untuk di baca.


"Bagaimana kalau ada wanita yang masuk?" tanya Jia yang kini sudah menempel di lengan sang kekasih dengan manja. Sepasang matanya mengerling gemas pada sang pemuda.


"Tidak akan ada!" jawab Xiaoli lagi-lagi bernada datar.


"Kenapa begitu?" Jia memicingkan matanya.


Xiaoli menoleh ke sisi kanan, di mana sang kekasih masih menempelkan pipinya di lengannya.


"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Diego sialan itu!" ketus Xiaoli tanpa menjawab pertanyaan Jia.


Sudut bibir Jia sontak terangkat mendengar ini. "Di sana banyak teman laki-laki, kenapa hanya Diego yang di sebut?" tanya Jia mengerling kembali.


"Karena dia yang menyukai kamu..." jawab Xiaoli.


Kembali tergelak tanpa suara, Jia sungguh gemas dengan sikap sang kekasih yang mudah sekali cemburu. Tangan yang semula diam di bawah kini merambat, memeluk sang kekasih yang masih melilitkan tangannya.


"Apapun yang kamu pikirkan, please! kamu harus percaya kalau aku hanya mencintai kamu dan kamu... selamanya!"


Xiaoli menatap lekat sepasang mata lentik yang menatapnya dengan penuh binar kejujuran. Sangat indah memang, tapi juga sangat berat untuk di perjuangan. Memperjuangkan gadis satu ini untuk dirinya yang bukan siapa-siapa rasanya tidak akan semudah mendapatkan cinta tulus sang Nona Muda.


Menghela nafas panjang... tangan Xiaoli berputar ke belakang tubuh Jia dan kemudian menarik tubuh ramping itu ke arah depan tubuhnya. Dan kini keduanya saling berpelukan tanpa ada jarak walau hanya 1 cm sekalipun.


Hanya dengan tatapan mata dan pelukan hangat ini, jika ada orang yang melihat pasti sudah bisa menebak betapa keduanya saling mencintai dan saling menginginkan satu sama lain.


"Kenapa diam saja?" tanya Jia cemberut.


Menghela nafas panjang, Xiaoli mengecup dalam kening sang kekasih. Menarik semua keharuman sang kekasih untuk masuk ke dalam paru-paru.


"Aku hanya tidak tau harus bagaimana ke depannya nanti..."


Jia tau dan paham akan apa yang di maksud sang pemuda kali ini.


"Semalam Kak Jio mencurigai ku.. Dia memang sangat sulit di kelabui, bukan?" tanya Jia.


"Ya, telinga ku cukup sulit mendeteksi keberadaannya. Langkah senyap Tuan Jio memang tidak main-main..."


"Dan dia tau jika aku sedang bersama seseorang di kamar. Semudah itu dia bisa mencium parfum kita yang berbeda."


"Kamu jawab apa?"


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2