SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 151


__ADS_3

"Dimana Selena, Oliver?" tanya Deborah pada putri pertamanya yang baru saja tiba di anak tangga paling bawah.


"Aku tidak tau, Ma!" jawab Oliver menggeleng pelan.


"Darrel pasti tau, bukan?"


"Darrel juga tidak tau, Ma! Darrel hanya ikut dalam misi penyelamatan Chania. Urusan Selena di serahkan pada anak buah Michael!"


"Dimana Darrel sekarang!" ketus Deborah.


"Di kamar! urus kerjaan, Ma" jawab Oliver seadanya.


Tanpa berfikir lagi, Deborah menaiki tangga megah berliku dan langsung menuju pintu kamar Oliver.


Naluri keibuannya mengatakan jika anak keduanya sedang tidak baik - baik saja. Harusnya putri keduanya itu sudah kembali sejak semalam. Namun sampai hari menjelang sore, baik putri nya maupun Frank justru tak ada kabar sama sekali.


Oliver yang khawatir sang kekasih murka pada ibunya, ikut menaiki tangga. Karena Darrel termasuk orang yang tidak suka di ganggu saat sibuk.


Brakk!


Pintu di buka paksa oleh Deborah tanpa mengetuknya. Darrel yang berada di depan laptop pun di buat menoleh ke arah pintu saat ia juga sedang melakukan panggilan telpon pada asistennya di Perancis.


"Mama!" seru Oliver agar sang Mama tidak lepas kendali.


"Dimana Selena!" tanya Deborah pada Darrel tanpa basa - basi.


Darrel segera mengakhiri panggilan telponnya, untuk menjawab pertanyaan ibu kekasihnya itu.


"Aku tidak tau." jawab Darrel sekenanya. Menatap datar ibu kekasihnya itu.


"Kau pasti tau!" sahut Deborah.


"Michael mengurus Selena sendirian, aku tidak berhak ikut campur! Karena ini di luar urusanku!"


"Tapi dia calon adik ipar mu! bagaimana mungkin kau tidak punya pikiran untuk menyelamatkannya dari kemurkaan Michael!" hentak Deborah. "Kau tau jika Michael itu iblis berwujud manusia!"


Sepasang mata Darrel yang semula datar, kini terlihat lebih dingin. Menatap intens wajah Deborah yang tersulut emosi.


"Aku akan menyelamatkan dia, jika dia tidak bersalah!" desis Darrel tegas dengan gigi yang mengerat. "Tapi anda sendiri tau, apa yang sudah di perbuat putri tidurmu itu!" lanjut Darrel tanpa takut.


Bagi seorang Mafia seperti Darrel, ia mungkin tidak terlalu mengenal bersikap baik pada orang yang lebih tua. Baginya ia akan bersikap baik jika lawannya berlaku yang sama. Tanpa memandang usia dan kasta.


Deborah menggelengkan kepalanya pelan. Dia hanya bisa mendengkus kesal.


"Cari saja di tempat pembuangan! mungkin Michael sudah membuang putri mu yang tidak tau diri itu!" ucap Darrel membuang muka. Kembali menatap layar laptop yang menunjukkan grafik perkembangan perusahaan.


Oliver hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika sang kekasih tanpa ragu membentak ibunya. Di satu sisi, ia juga kecewa dengan ibunya yang tidak mencegah Selena bertindak sedemikian jauh. Di sisi lain, Deborah adalah ibu kandungnya.


"Kau sama sekali tak menaruh hormat padaku, Darrel!" seru Deborah.


"Kau tentu tau siapa aku!" ucap Darrel kembali menoleh Deborah dengan tatapan tajam khas mafia. "Aku hanya akan menghormati mereka yang pantas untuk aku hormati!"


Deborah kembali mengdengkus kasar. Jika dia Deborah setahun lalu, mungkin kepala Darrel sudah dia lubangi. Tapi kini dia tak punya apa - apa untuk mempertahankan nyawanya tanpa berurusan dengan kepolisian.


Menghentakkan kaki kesal, ia segera berbalik arah. Keluar dari kamar putri pertamanya dari Smith Arlington. Menutup pintu dengan setengah membantingnya.

__ADS_1


"Sorry, Baby..." ucap Darrel menatap lembut Oliver yang membeku. "Aku hanya tidak suka cara ibumu memotong pekerjaan ku." lanjut Darrel berdiri, mendekati Oliver yang masih mematung, meraih tubuh itu untuk kemudian ia kecup keningnya.


"I know.." jawab Oliver memeluk tubuh tegap Mafia asal Perancis itu.


***


"Chania..." panggil lirih Sania saat semua sedang berkumpul di ruang makan istana Michael untuk makan malam bersama.


"Ya?" jawab Chania yang merasa namanya di sebut.


Sania melirik Reno yang duduk di sampingnya, "Kamu sudah kembali dengan selamat. Keadaan sudah tidak serumit kemarin."


"Ya, lalu?"


"Kak Michael, Uncle Frederick, Aunty Madalena?"


"Ya, ada apa?" sahut Madalena yang sudah tak sabar mendengar apa yang ingin di katakan Sania.


Sania melirik Reno kembali. Reno tau apa maksud kekasihnya.


"Begini!" ucap Reno menyahut. "Aku dan Sania akan berencana untuk melangsungkan pertunangan dua minggu lagi! apa kalian keberatan?" tanya Reno pada Chania.


"Wow!" seru Chania. "Tentu saja tidak!" lanjutnya senang. "Aku justru bahagia!" Chania mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Wah! selamat ya Selena!" sahut Madalena ikut berbahagia.


Sementara Frederick mengacungkan jempolnya pada Reno. Menganggap keberanian Reno untuk menikahi adik menantunya adalah pilihan tepat.


"Persiapan yang kami siapkan sudah 50%!gedung dan sebagainya sudah kami serahkan pada EO pilihan kami! cincin sudah kami pesan beberapa minggu lalu!"


"Waktunya tidak tepat, Chania.. Kamu pasti tau seperti apa sibuknya kita akhir - akhir ini. Belum lagi musibah yang kamu alami!"


"Ya.. aku tau itu.." sesal Chania.


"Kamu hanya perlu bersiap! gaun untuk mu sudah aku pesan!"


"Ukuran kita kan beda!"


"Beda satu senti saja!" jawab Sania membuat semua terkekeh.


Michael, Mafia satu itu tersenyum miring pada Reno. Antara senang dan mengejek sahabat baiknya semasa remaja yang akan menjadi saudara seipar dengan dirinya.


***


Sementara di luar istana, Jack sedang melajukan mobilnya meninggalkan salah satu klub milik Michael. Ia baru saja memastikan keamanan para pekerja dan juga klub itu sendiri.


Mobil hummer yang ia kendarai seorang diri menyisir gelap malam kota Roma. Melewati jalanan yang masih sedikit ramai tanpa macet.


Sorot lampu hummer menerangi jalanan di depan. Sampai kilatan cahayanya mengenai wajah seseorang yang tak asing bagi Jack.


"Gia!" gumamnya menoleh ke sisi kanan. Dimana seorang gadis berdiri di halte bis seorang diri.


Melajukan mobilnya pelan, sembari melihat Gia dari spion di sisi kanan. Memastikan bahwa yang ia lihat benarlah Gia, sahabat Nyonya mudanya.


Di antara cahaya malam yang tak seberapa terang, Jack dapat melihat jika ada segerombolan laki - laki yang hendak menyebrangi jalan dari sisi kiri ke sisi kanan. Menuju halte dimana Gia tengah menunggu kendaraan umum yang lewat.

__ADS_1


Nalurinya sebagai seorang bodyguard, yang tugasnya adalah melindungi orang - orang di sekitarnya, tentu saja memiliki firasat yang tidak baik.


Jack menghentikan laju mobilnya, setelah menepi ke sisi kanan. Ia tidak turun dari hummer. Melainkan memantau Gia dari kaca spion hummer nya dari jarak beberapa meter.


Segerombolan laki - laki berusia sekitar 20 sampai 25 tahunan telah sampai di sisi kanan. Tepat di halte dimana Gia berdiri seorang diri.


Sepasang mata tajam seorang Jack Black memantau melalui lirikan tajam. Kaca mobil ia turunkan, supaya dapat melihat jelas kejadian apa saja yang terjadi di belakang.


Gia bergeser, saat segerombolan laki - laki sekitar 7 orang mendekat. Ada empat laki - laki yang memilih untuk duduk di kursi halte sembari memantau jalan raya dengan obrolan ringan.


Namun tiga laki - laki lainnya tampak menunjukkan taringnya pada Gia yang baru saja pulang dari restauran yang baru resmi di buka kemarin itu.


"Hai girl! baru pulang kerja?" tanya laki - laki berkaos hitam, dengan sebuah tindik lingkaran berdiameter 1 cm di telinga kirinya.


"Hm.." jawab Gia cuek. Ia rapatkan long cardi yang ia kenakan. Mengunci tasnya dengan kedua tangan di depan dada. Naluri wanita baik - baik selalu berusaha melindungi apa yang berharga dari tubuhnya.


"Tinggal dimana?" sahut pria berkaos hitam dengan topi yang di miringkan ke kiri. Sebuah kalung rantai melingkar di lehernya.


Gia tidak menjawab, kepalanya mendongak ke sisi kiri, berharap segera ada bis yang melintas.


"Nunggu bis?" sahut laki - laki terakhir yang berdiri di samping laki - laki bertindik.


Lagi - lagi Gia tidak menjawab. Dia hanya terus berharap segera ada kendaraan umun yang lewat.


"Kok diem aja!" sahut laki - laki bertopi.


Samar - samar apa yang di bicarakan laki - laki itu tentu terdengar oleh Jack yang masih berada di dalam hummer.


"Kalau kita antar saja, bagaiman?" tawar laki - laki bertindik. "Dari pada nunggu bis, pasti lama!"


"Betul itu! kita juga bisa mampir - mampir dulu kalau kamu mau..." goda laki - laki bertopi tersenyum menggoda.


"Di klub V-night juga boleh..." sahut pria bertindik mengangkat kedua alisnya beberapa kali. Menyarankan sebuah klub malam yang biasa di gunakan untuk pesta **** bebas, liar tanpa tedeng aling - aling.


Meskipun Gia tidak tau klub macam apa yang di sebut laki - laki itu, ia mulai risih mendengar setiap kalimat - kalimat menjijikkan yang di lontarkan tiga pria di sekitarnya.


Gia turun dari halte, berjalan ke arah dimana hummer Jack berada. Namun pria bertopi meraih lengan Gia tanpa permisi. Membuat Gia tersentak kaget.


"Lepas!" seru Gia.


"Hai girl... kita bersenang - senang saja dulu.." godanya, di ikuti senyuman lapar dari enam pria yang lainnya.


Sepasang mata Jack mulai bereaksi tajam. Satu gerakan lawan saja, pastilah membuat pria itu turun dari mobilnya.


"Lepas!" seru Gia berusaha melepaskan lengannya dari pria bertopi.


"Come on, Baby... kita habiskan malam ini bersama..." sahut laki - laki yang sedari tadi duduk di kursi halte. Ia berdiri mendekati Gia dan tiga temannya.


"Betul!" pria bertopi mulai menarik lengan Gia semakin dekat.


Dan... Jack Black pun beraksi.


...🪴 Happy reading 🪴...


Yeay! ketemu lagi 😘

__ADS_1


Salam manis, salam sehat, salam sejahtera untuk kita semua 🥰


__ADS_2