SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 132


__ADS_3

Malam semakin larut, tamu undangan dari pihak Michael maupun Papanya, satu persatu sudah meninggalkan ballroom. Menyisakan keluarga inti dan sahabat dekat saja. Mereka masih asyik berjoget bebas di lantai dansa.


Sedangkan Chania yang sudah lelah dengan pesta malam ini, segera melepas sepasang high heels yang bertabur butiran Swarovski di bagian depan. Apalagi ia pun sempat ikut berdansa dengan sang suami.


"Ma, dimana Gio dan Gia?" tanya Chania pada ibu mertuanya.


"Mereka sudah tidur dari tadi di kamar mereka, Chania." jawab Madalena. "Kamu lelah?" tanya nya pada sang menantu. "Sebaiknya kamu kembali ke kamar yang sudah di siapkan untuk kalian."


Chania menoleh sang suami yang duduk di salah satu kursi tamu. Ia tampak masih asyik mengobrol dengan beberapa teman kuliahnya di Harvard University dulu. Gelas lonjong berisi sedikit wine ada di tangannya.


"Chania ingin melihat anak - anak dulu, Ma..."


"Tidak perlu, Chania. Mereka sudah lelap. Ini hari pernikahan kalian. Jadi kalian harus punya malam yang spesial!" ucap Madalena tersenyum menggoda. "Kalian dulu menikah tanpa sepengetahuan Mommy dan Papa! Jadi anggap saja malam ini adalah malam pertama kalian!" serunya terkekeh.


"Mama...!" lirih Chania gemas pada sang Mama mertua yang terlihat begitu cantik malam ini.


"Mama memang selalu tau apa yang aku inginkan!"


Tanpa ada yang menyadari, Michael sudah melingkarkan tangan di tubuh Chania, mengunci tubuh ramping itu dari belakang. Menyandarkan pipi di pundak kiri Chania, serta mencium leher istrinya. Menarik nafas dalam - dalam untuk mendapatkan keharuman yang khas dari sang istri.


"Michael!" lirih Chania gemas, karena lagi - lagi ia di buat merasakan geli yang aneh.


Madalena tersenyum melihat tingkah putranya. Yang entah sejak kapan tak malu lagi mengakui sebuah perasaan dengan sebuah tindakan. Dilihat saja sudah bisa menunjukkan, bahwa sang putra begitu mencintai wanita dalam dekapannya.


"Dari dulu Mama selalu tau apa yang aku mau, Baby..." ucap Michael. "Dan sekarang Mama juga tau, kalau yang aku mau saat ini adalah kamu!" lanjutnya mencium pipi Chania sekilas.


Wajah cantik Chania memerah. Seperti tomat masak yang siap untuk di jadikan jus segar. Memutar bola matanya heran. Bagaimana bisa suaminya tidak tahu malu begini. Masih banyak orang di dalam ballroom. Meskipun sebagian masih asyik di lantai dansa bersama pasangan mereka.


"Banyak orang! please jangan begini, Honey!" rengek Chania.


Namun Michael justru semakin erat memeluk tubuh Chania. Dan menghujani pipi kiri Chania dengan kecupan bertubi - tubi.


"Ma! kami ke kamar kami dulu, ya! daa... mom!" ucap Michael mencuri kecupan di pipi sang Mama. Sebelum kemudian ia mengangkat tubuh Chania, dan menggendongnya di depan dada.


"Cieee!" teriak beberapa orang yang tersisa du ballroom.


"Honey, turunkan aku! memalukan!" Chania memukul dada suaminya.


"I don't care!" jawab Michael justru mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


"Have fun, ya!" teriak Darrel dari lantai dansa.


Michael melirik sekilas dengan seutas senyum tipis.


"Ingat anak!" sahut Reno di lanjut dengan tawa menggelegar.


Kali ini sebuah picingan mata yang tajam di sorotkan Michael untuk sang sahabat lama.


***


"Kamu juga mau have fun dengan ku?" tanya Darrel pada Oliver yang kini di dalam dekapannya. "Aku menyiapkan kamar presidential suit disini, untuk kita! Tak kalah istimewa dengan kamar pengantin itu!" Darrel menunjuk Michael dan Chania yang mulai menghilang di balik pintu khusus.


Punggung Oliver menempel sempurna di dada bidang Mafia asal Perancis itu. Darrel daratkan sebuah kecupan di pipi putih mulus sang kekasih.


"Hahaha!" Oliver tergelak.


"Kenapa tertawa?" Darrel mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak akan menyesal have fun denganku?"


"Kenapa menyesal? aku mencintaimu!" jawab Darrel kembali mencium pipi Oliver dari belakang.


Oliver mendongak, menarik kepala sang kekasih untuk lebih dekat. Ia dekatkan bibirnya pada telinga Darrel.


"Aku masih perawan! aku tidak tau cara menyenangkan kamu! kamu juga akan kesulitan memasukkan senjata mu! kamu kan pemain yang handal! hihihihi!" Oliver cekikikan.


Sepasang mata Darrel membola. Serasa tak percaya jika perempuan di depannya masih perawan di usia 29 tahun.


"Are you serious?" Darrel memutar tubuh Oliver. Hingga kini keduanya saling berhadapan.


"Hmm.." Oliver mengangguk yakin.


"Oh my God!" pekik Darrel tak percaya. "Aku akan jadi laki - laki pertama untukmu?"


"Yes, Darling!"


Membuka lah mulut pria 35 tahun itu dengan senyuman yang samar. Ada rasa bangga dan bahagia karena ia akan menikahi perempuan yang masih perawan.


Reflek ia menekuk lutut, melingkarkan tangan di paha Oliver, kemudian ia angkat tubuh itu dan membawa berputar. Seolah ia tengah bersorak sorai karena baru saja memenangkan sebuah pertandingan.


"Darrel... turunkan aku!" ucap Oliver di tengah gelak tawa.


"No!" jawab Darrel terus membawa sang wanita berputar.


"Kalian kenapa?" tanya Sania yang kepo.


"Aku baru saja menemukan sesuatu?" jawab Darrel menurunkan Oliver dari lengannya.


"Sesuatu apa?" tanya Sania semakin penasaran.


Sontak Oliver dan Darrel tergelak.


Sedangkan Sania melirik Reno yang hanya menyebikkan bibirnya sembari mengangkat kedua pundaknya.


"Sebaiknya jangan campuri mereka, Sayang! ayo kita makan saja! aku lapar dari tadi belum makan!" ucap Reno menarik tangan kekasihnya.


"Kamu benar! aku juga lapar!" jawab Sania mengikuti langkah Reno.


Darrel dan Oliver kembali saling tatap. Ada cahaya cinta yang tersorot di sepasang mata keduanya. Bertemu dalam satu gari lurus, yang pada akhirnya membuat jantung keduanya berdebar.


Membayangkan untuk pertama kalinya mereka akan bersatu, menyatukan tubuh atas dasar cinta. Tangan Darrel tak sedikit pun melepas tangan Oliver. Saling bertaut menyatukan jemari lentik dan jemari kekar.


"Sekarang?" tawar Darrel pada kekasihnya untuk mendatangi kamar yang sudah ia sewa.


Oliver mengangguk pelan, sembari tersenyum malu - malu. Untuk pertama kalinya ia akan berada dalam satu ranjang dengan seorang pria.


Pria tampan yang ia cintai. Seorang pria yang berhasil membuatnya melupakan Michael Xavier. Pria yang menjauhkan dirinya dari sebuah rasa cinta yang salah.


***


Reno dan Sania, tampaknya pasangan ini yang masih asyik menikmati makan malam mereka. Seolah tak peduli dengan apa yang akan terjadi di dua kamar mewah di hotel itu. Dua kamar mewah yang berisi sahabatnya, sekaligus calon iparnya kelak.


"Kamu suka makan itu?" tanya Reno di sela makan tengah malam yang mereka lakukan.


"Ya! ini sangat enak!"

__ADS_1


"Aku bisa membuatnya! kalau kamu mau, besok aku akan memasaknya untuk kamu dan yang lainnya!"


"Wah! serius!"


"Hm.." Reno mengangguk santai.


"Aah... tentu saja aku mau!"


"Aku akan siap satu, yang paling spesial untuk pujaan hatiku!" ucap Reno mencuri kecupan di pipi ranum sang kekasih.


"Eh, kemana Oliver dan Darrel?" tanya Sania melihat sekitar.


"Paling juga mengikuti Michael dan Chania!" jawab Reno datar.


"Hah!" pekik Sania tak paham. "Maksudnya?"


"Sayang... mereka sudah sama - sama dewasa. Mereka juga punya rasa ingin menyatu bukan? jadi mungkin saja Darrel dan Oliver sekarang sedang di kamar Darrel! Darrel menginap di sini!"


"What!" pekik Sania panik. "Maksud kamu mereka akan..." Sania mendelik tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Yaa... mungkin saja!" jawab Reno santai. "Kenapa? kamu mau juga?" tanya Reno menggoda.


"Gila!" dengkus Sania.


Sania menghela nafas panjang. Pikirannya tertuju pada sang saudara tiri yang entah sedang berada di kamar sebelah mana, nomor berapa, lantai berapa.


Apa mereka akan melakukan itu sebelum menikah?


Apa mereka sudah yakin untuk melanjutkan hidup bersama di masa depan?


Meskipun aku tau tidak akan ada hukum yang menjerat mereka, tetap saja rasanya takut berhubungan badan dengan mereka yang belum pasti apakah benar jodoh kita!


Keluh Sania dalam hati. Ia terlihat begitu resah. Jika saja itu orang lain, maka ia tak akan peduli. Seperti kakak angkatnya Margareth yang sudah terbiasa melakukan itu. Tapi ini Oliver, saudara seayah yang ia ketahui masih virgin.


Beralih dari kegundahan Sania, maka lain halnya dengan sang kekasih yang justru tersenyum santai.


"Sudahlah, Sayang! jangan memikirkan mereka. Memangnya kamu mau menggagalkan mereka?" ucap Reno menyuapkan ice cream ke dalam mulut Sania. "Ini abad 20, pernikahan hanyalah perjanjian di atas selembar kertas!"


"Kamu begitu juga!" dengkus Sania memukul pelan dada kekasihnya.


"Itu kenyataan, Sayang!" ucap Reno. "Kalau aku mau juga aku bisa memaksa kamu! Hanya saja aku menghargai kamu dan perjanjian ku dengan kakak iparmu dan juga saudara kembarmu!" gemas Reno mencubit hidung Sania.


"Reno sayang!" dengkus Sania menyingkirkan tangan juru masak itu.


...🪴 Happy reading 🪴...


NB : Dear reader... kisah ini menceritakan kehidupan di luar sana. Dimana tidak perlu menunggu menikah di depan penghulu ataupun pendeta untuk bisa melakukan hubungan intim.


Mereka bisa hidup bebas tanpa harus ada hitam di atas putih. Ataupun sepasang buku pernikahan.


Asal sama - sama suka, dan orang tua merestui, maka semua bebas mereka lakukan. Termasuk tinggal dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan.


Novel ini tidak mengambil sudut pandang yang berkaitan dengan budaya Indonesia.


Jadi Author memohon maaf jika tidak sesuai dengan alur yang di inginkan para pembaca.


Terima kasih atas perhatiannya,

__ADS_1


Salam sayang dari Othor Lovallena 😉🥰


__ADS_2