
"Lepaskan!" sembur Michael saat tangan Reno mencoba untuk mendorong lengannya. Agar segera meninggalkan ruang tengah.
"Yaa.. yaa.. baiklah!" jawab Reno pasrah mengangkat tangan ke udara.
Chania dan Sania spontan mengulum senyum mereka. Melihat tingkah konyol Reno. Terutama Chania, yang ia kenal dulu, Reno adalah Chef paling cool dan tak banyak bicara. Siapa sangka saat berhadapan dengan suaminya, Reno justru terlihat tengah melucu.
"Carina.. eh maksud ku Chania. Boleh bicara sebentar?" tanya Reno dengan nada lembut dan senyuman ramah.
"TIDAK!" jawaban tegas setengah berteriak dari Michael membuat Reno terlonjak kaget.
Pasalnya yang ia harap adalah jawaban dari suara merdu Chania yang dulu sempat selalu terngiang di telinganya. Namun yang ia dengar justru suara menggelegar bak petir dalam derasnya hujan.
"Aku bertanya pada istrimu, bukan kau!" balas Reno melotot tajam pada Michael.
"Dia istriku! aku yang menentukan dia boleh bicara pada siapa. Dan aku melarang dia bicara pada pria, selain aku. Terutama pria tengil sepertimu!" tegas Michael.
Berkacak pinggang, menyebikkan bibir, menatap kesal pada Michael.
"Sombong!" dengkus Reno.
Tanpa peduli dengan ekspresi kesal Reno, Michael mengajak Chania untuk meninggalkan ruang tengah. Berjalan dengan bergandengan tangan ke pintu kaca yang mengarah ke taman belakang rumah.
Reno menatap dua punggung beda postur itu dengan senyum miring dan puas. Ia bisa leluasa mendekati gadis cantik yang masih duduk manis di sofa.
"Eghm!" Reno berdehem pelan menatap Sania dengan senyuman ramah dan semanis yang ia bisa. Bersiap untuk melancarkan aksinya.
"Awas kalau kau bertindak yang tidak - tidak!" teriak Michael yang sudah sampai di pintu kaca.
Reno kembali menghela nafas kasar dan mendengkus kesal. Kenapa Mafia itu masih saja bisa mendengar suaranya. Padahal jarak sudah cukup jauh. Tangan kanan dan kiri mengepal gemas di samping tubuhnya. Menatap Michael menggunakan ekor matanya.
' Kalau saja dia bukan Mafia, pasti sudah ku masukkan kolam ikan! '
Batin Reno melirik tajam sang sahabat lama. Namun sayang yang di lirik sama sekali tak merasa takut. Justru membalas dengan tatapan menantang.
' Sayangnya anak buahnya ada di mana - mana! '
Lanjut Reno melirik seorang penjaga yang baru saja membukakan pintu untuk Reno dan Chania. Belum lagi penjaga berada di tangga.
Sania menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Guna menahan tawa yang hampir saja meledak.
Setelah memastikan penguasa dunia hitam itu keluar dari pintu dan tak lagi terlihat. Reno segera beralih menatap Sania. Gadis itu tampak salah tingkah untuk sesaat. Namun ternyata ia pandai beradaptasi. Melepas tangannya, dan kembali berpura fokus membaca majalah.
Reno kembali duduk di samping Sania. Ia harus bisa mendekati gadis itu.
"Em... Aku baru tau kalau Chania punya saudara kembar." ucap Reno mengawali percakapan.
"Sama. Aku juga!" jawab Sania.
"Hah!" Reno kembali mendelik. Apa - apaan dia yang kembar, dia juga yang baru tau. "Baru tau, bagaimana? kalian kan lahir bersamaan, kok bisa baru tau?"
"Karena kami terpisah sejak bayi."
"Oh, ya?" Reno semakin mendelik. Ternyata kisah kembar terpisah sejak bayi dan bertemu setelah hampir seperempat abad itu benar - benar ada.
"Ya! aku di angkat anak oleh seseorang, yang sekarang tinggal di Paris."
"Lalu kapan kalian bertemu?"
"Kurang lebih seminggu yang lalu!"
__ADS_1
"Hah! seminggu yang lalu?"
"Iya!"
"Terus bagaimana kalian bisa bertemu?"
"Michael dan Chania mendatangiku ke Paris. Mereka sudah merencanakan untuk bisa menahan ku tinggal di hotel."
"Menahan di hotel?"
"Ya, karena aku selalu mengikuti saudara angkat ku kemanapun ia pergi. Dan saat itu teman kencan saudaraku ternyata berada di bawah permintaan dari suami Chania."
"Saudara angkat?"
"Iya!"
"Apa saudara angkat mu bernama Margareth Greene?" tanya Reno. Ia masih ingat nama Sania. Ia juga ingat bahwa sempat memberi tahu Michael tentang nama Sania, adik angkat Margareth. Hanya tak percaya bisa menemukan Sania dalam waktu sesingkat itu.
"Iya! kamu mengenalnya?" seru Sania.
"Heem..." Reno mengangguk. "Dia dulu pernah dekat dengan Michael!"
"Iya, aku juga ingat! waktu itu aku masih kecil!"
"Ya! aku pernah melihat mu saat masih kecil!"
"Oh ya?" seru Sania tak percaya.
Reno mengangguk.
' Michael... kau berhutang padaku! kau pasti mencari Sania berdasar apa yang pernah aku katakan saat di hutan Venice! Hahaha! '
Kekeh Reno dalam hati. Ia gigit bibirnya bagian dalam, guna menutupi senyum kemenangan yang sedang ia dapatkan.
"Biasa saja. Hanya saja disini aku merasa punya saudara yang baik. Chania sangat baik padaku. Tidak seperti saudara angkatku. Dan Suaminya juga baik, hanya saja dia sedikit dingin. Dan tak banyak bicara."
"Ya, itu memang watak bawaan seorang Mafia! eh!" Reno menutup mulutnya dengan satu tangan, merasa keceplosan menyebut Michael Mafia.
"Kenapa?"
"E... apa kamu tau kalau Michael itu Mafia?"
"Iya, aku tahu!" jawab Sania enteng.
"Oh... baguslah! katakan padaku kalau dia berbuat tidak manusiawi padamu!" ucap Reno berlagak pahlawan.
"Kamu akan menghukumnya?"
"A.... " tak bisa menjawab. Bola mata melirik kanan kiri dengan cepat. Karena dia sendiri sebenarnya tak punya nyali untuk mencari masalah dengan Michael, lebih dari bercanda dan kemudian menyerah untuk sesuatu yang sulit ia menangkan.
"Hahaha!" kekeh Sania. "Jangan dipikirkan, mereka sangat baik. Tak mungkin mereka menyakitiku!"
"Bukan begitu, maksudku..." Reno menggaruk kepala bagian belakang yang bahkan tidak gatal sama sekali.
"Sudahlah, aku paham." potong Sania. "Tak akan ada manusia normal seperti kita yang berani berurusan dengan Mafia. Apalagi sekelas Michael Xavier. Sepak terjangnya di dunia Mafia ternyata cukup terkenal."
"Heheh!" Reno tersenyum kikuk. Membenarkan asumsi Sania.
"Aku pun awalnya sangat takut. Tapi setelah satu minggu tinggal disini, aku merasa, selama kita berbuat baik, tak akan ada yang menyakiti kita. Bahkan semua pelayan dan bodyguard di sini memanggilku Nona muda Xavier. Dan itu semua atas perintah Michael."
__ADS_1
"Oh, ya?"
"Iya!" jawab Sania. "Mereka menganggap aku adalah bagian dari keluarga Xavier. Aku jadi merasa sangat di hargai."
"Baguslah!" Reno mengangguk. "Em..." Reno melirik Sania, ia tampak ragu mengajukan pertanyaan selanjutnya.
"Kenapa?"
"Boleh kita bertukar nomor?"
"Untuk apa?"
"Sepertinya kita bisa menjadi teman." jawab Reno.
"Teman?"
"Iya! atau bahkan mungkin lebih dari teman! heheh!" Reno nyengir kuda.
"Lebih dari temen?" tanya Sania mengerutkan keningnya. "Maksudnya saudara?"
Reno menghela nafasnya sedikit kasar.
"Bukaan... maksud aku lebih dekat dari teman, tapi bukan saudara."
"Sahabat?"
' Jiaaaahh... '
Reno frustasi dalam hati.
"Maksud ku seperti hubungan Michael dan Chania." jelas Reno. "Mereka kan lebih dari teman tapi bukan saudara ataupun sahabat!"
"Maksud kamu menikah?"
"Yaa.. kalau kamu bersedia sih aku mau..." senyuman nakal terbit dari bibirnya.
"Menikah itu untuk mereka yang saling mencintai. Nah kita kan baru kenal 1 jam. Masa sudah ngajak nikah!" omel Sania membuat mulut Reno membulat.
"Maksud aku, kita saling mengobrol saja dulu. Bertukar nomor, ngobrol santai. Siapa tau bisa berlanjut."
"Oh... tapi kamu tidak seperti teman kencannya Margareth kan?"
"Memangnya kenapa mereka?"
"Mereka suka bermalam di hotel. Setelah bosan langsung pergi sendiri - sendiri!"
"Oh kamu takut dengan hal seperti itu?"
"Bukan takut lagi, aku hanya tidak terbiasa berteman dengan laki - laki!"
"Ohh.. begitu..." Reno mengangguk. "Kamu tenang saja, aku pria baik - baik. Dan kamu harus tau, aku seorang Chef handal. Jika kamu ingin makan sesuatu bilang padaku. Akan aku buatkan spesial untukmu!"
"Wow! kebetulan sekali! aku sebenarnya tipe gadis yang suka makan!"
"Baguslah!"
Reno bersorak dalam hati. Sepertinya ia mendapatkan ide terbaik untuk bisa menjalin hubungan dengan Sania. Tak mendapatkan Chania tak apa. toh sifat Chania dan Sania sepertinya tak jauh berbeda.
🪴🪴🪴
__ADS_1
**Happy reading 🌹🌹🌹
Tanpa gantung - gantung cerita 🥰**