SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 178


__ADS_3

Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Virginia menatap layar ponsel yang ikut ia bawa rebahan. Ia segera membuka aplikasi berbagi foto yang juga banyak di gunakan penduduk Bumi. Kembali membuka akun yang sempat membuatnya berdebar, @xgeorgio.


"Benarkah itu akun milik Jio?" gumam Virginia menyentuh nama itu dari daftar follower nya. "Dia sudah memfollow akun ku, tapi kenapa tidak pernah menyapa ku sama sekali?" lanjutnya bergumam.


Ia tatap akun tanpa satu foto pun yang di bagikan itu. Hanya foto profil yang sama sekali tidak memberi petunjuk bahwa itu akun adalah akun seorang Jio. Namun dari nama pemilik, kini ia mulai yakin jika itu adalah Jio. Sahabat masa kecilnya.


Nama Georgio X Sebastian, tertera dengan warna hitam penuh, tepat di bawah foto profil. Kemarin nama itu belum ada, tapi sore ini nama itu terlihat begitu nyata. Seolah menunjukkan jika akun itu adalahnya real.


"Kamu selalu penuh rahasia, Jio..." gumamnya tersenyum tipis.


Namun senyum itu sedikit demi sedikit berangsur memudar, saat melihat jumlah follower jio yang seketika jumlahnya hampir seribu. Padahal kemarin tak kurang dari 50 follower saja.


"Ini pasti anak - anak kampus!" gerutunya mengerucutkan bibir.


Cemburu?


"Ah, memangnya siapa aku berhak untuk cemburu? Dia bahkan menganggap ku sebagai sahabat!"


Sakit hati?


"Iya! Tapi apa itu akan berpengaruh? Kalau hanya nama saja yang tertera, follower nya melesat sedemikian cepat! Apalagi kalau berjajar barisan foto - foto!"


Marah?


"Ya! benar! Aku marah! Tapi lagi - lagi siapalah diri ini? Kami berpisah tujuh tahun lamanya atas dasar persahabatan."


Jawaban - jawaban atas pertanyaan yang melintas di pikirannya membuat Virginia pusing sendiri. Ia bahkan berkata dengan nada ketus yang menunjukkan apa yang ia rasa adalah jelas adanya.


"Haduh! Virginia - Virginia! Please jangan berpikir macam - macam! Kamu belum tau siapa Jio yang sekarang, bukan?" gerutunya.


"Setidaknya dia masih memakai kalung pemberianmu..." gumamnya sembari menatap gelang merah yang masih ia pakai juga. Ia usap gelang untuk meyakinkan diri jika Jio adalah orang paling tepat untuk di tunggu.


Virginia menjatuhkan ponselnya, kemudian ia tatap langit - langit kamar dalam diam. Mengingat kembali pertemuannya tadi siang. Seketika bibirnya terangkat, tersenyum malu. Saat mengingat betapa indah sepasang mata Jio ketika menatapnya lekat.


"Aku merindukan mu, Jio..." gumamnya tanpa sadar.


***


Dikamar yang lain, pemuda tampan yang menjadi idola baru di kampus juga tengah berbaring lesu di tempat tidurnya. Mengingat - ingat kembali tentang musuh yang ingin menyakitinya melalui adik perempuannya.


Jika benar itu adalah Lussio Lee seperti dugaan Jack, tentu hal itu tidak menutup kemungkinan akan menyeret Virginia, selaku gadis yang dekat dengannya ke dalam lubang hitam keluarga Xavier dengan musuh - musuhnya.


Apalagi permasalahan Lussio dan Jio berawal saat ia membela sang gadis.


Meski Michael sudah menyiapkan empat bodyguard khusus untuk mengawasi Virginia secara bergantian. Tak lantas membuat perasaan sang Tuan muda tenang.


Musuh bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuan mereka, bukan? Termasuk cara kotor yang jitu.


"Apa untuk saat ini kita harus berjauhan dulu, Nia..." lirih Jio. "Sampai aku berhasil menemukan keberadaan musuh dan mengakhiri permasalahan ini!"


"Aku merasa ini sangat berbahaya jika benar itu adalah Lussio Lee..."

__ADS_1


Jio meremas kalung naga pemberian sang gadis yang selalu ia pakai. Hatinya seperti di remas jika mengingat kata berjauhan lagi dengan Virginia. Membayangkan harus kembali menghadapi hari - hari tanpa melihat gadis itu rasanya sudah cukup berat.


Apalagi baru hari ini ia bisa melihat sang gadis secara langsung. Tujuh tahun tak pernah bertemu, paras cantik dan menggemaskan itu kini sudah cantik dan mempesona. Pantaslah jika Nikki mengaguminya.


"Sahabat?" lirihnya tersenyum kecil.


Jio menggelengkan kepalanya pelan. Entah, sampai detik ini ia belum juga bisa mengartikan apa yang ia rasakan untuk sang gadis. Ia belum pernah mengenal jatuh cinta. Yang hanya ia tahu adalah perasaan sensitif untuk Virginia, juga rasa ingin melindungi sang gadis.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Jio. Segera ia buka untuk mengetahui siapa pengirimnya.


📩 "Jio, Daddy tunggu di ruang kerja!"


"Ya, Daddy!" jawab Jio sembari mengetiknya di keyboard yang berbaris di layar ponsel.


Sesuai ucapannya, kini ia langsung melesat ke ruang kerja sang Daddy di lantai bawah.


***


"Kita harus mulai mencari data tentang Lussio Lee! Daddy butuh bantuan otak jenius mu sebagai seorang Hacker!" desis Michael menatap putranya yang baru saja menutup pintu ruang kerja.


"Ya, Daddy..." jawab Jio langsung duduk di kursi kerja yang sudah di siapkan untuk menjadi meja kerjanya di ruangan itu.


"Malam ini kita harus mendapatkan petunjuk! Jangan biarkan dia berhasil melawan kita!" ucap Michael pada Jio, Jack dan Dimitri yang ada di dalam ruangan itu. "Tidak peduli kita akan berada di sini sampai pagi! Aku tidak mau kecolongan akan keselamatan putriku!"


Jack dan Dimitri mengangguk paham. Meski mereka tak bisa melakukan apa yang akan di lakukan Jio, dalam hati mereka selalu yakin jika Tuan Muda Jio bisa dengan mudah menemukan petunjuk menggunakan IQ 150 nya.


Otak jeniusnya harus bekerja keras malam ini. Memasuki berbagai situs web secara sembunyi - sembunyi untuk bisa menemukan data valid tentang Lussio Lee saat ini.


Jemari mulai bergerak lincah di atas keyboard. Memasukkan kode - kode unik yang hanya bisa di ketahui oleh Jio apa fungsinya. Hingga beberapa data mulai muncul di layar secara lambat namun pasti.


Di ujung penantian, Jio harus memicingkan mata untuk bisa mengenali dan mengingat wajah Lussio tujuh tahun lalu dengan sekarang.


"Sedikit berubah!" gumamnya.


"Apa maksudmu?" tanya Michael mulai berjalan mendekati sang putra.


"Wajah Lussio sedikit berubah, Daddy... Sama seperti ku!" jawab Jio.


"Hmm... Cepat jelaskan penemuanmu!" titah sang ayahanda.


"Dengarkan ini baik - baik! Lussio Lee, wajahnya tetap sama sampai detik ini. Tidak ada operasi plastik atau sejenisnya. Dia tercatat beberapa kali ke Italia untuk urusan bisnis bersama beberapa perusahaan kecil. Namanya yang tercatat sebagai Tuan Besar Lee masuk dalam daftar 100 orang terkaya dunia!"


Jemari Jio kembali bergerak di atas keyboard. Mencari sumber berita tentang sosok Lussio Lee.


"Beberapa berita menyatakan, jika dilihat dari bisnis murni yang ia lakoni, sepertinya memang mustahil untuk bisa masuk dalam 100 jajaran orang terkaya dunia!" jelas Jio masih fokus menatap layar monitor. "Karena ia hanya bergerak dalam sektor menengah, namun sangat luas!"


"Nama Lussio pernah tercatat bermasalah dengan kelompok Mafia dari Amerika. Dan dia juga terdaftar dalam salah satu murid di perguruan terkenal di China. Jadi menurutku Lussio memang melanjutkan dunia Mafia sang ayah!"


"Jadi menurutmu yang mengganggu kita akhir - akhir ini benar - benar dari Lussio?"

__ADS_1


"Maybe, yes!" jawab Jio sembari kembali memainkan keyboard. "Dan yang membuat aneh adalah, selama di Italia, ia sama sekali tidak masuk ke dalam kota Roma!"


"Dari mana kamu tau?"


"Aku melacak berbagai CCTV dan penerbangan di Roma!" jawab Jio. "Yang perlu kita lakukan adalah menambah pengamanan! Terutama Jia, Daddy!" lanjut Jio.


"Hemm! Dimitri, mulai besok kau yang mengikuti kemanapun Jia pergi! Dan bawa satu anak buah lagi!"


"Siap, Tuan!"


"Sudah kamu pilih? Siapa yang akan bersamamu mengawal Jia?"


"Sudah, Tuan! Putra bodyguard Tuan Frederick yang pensiun!"


"Apa kamu yakin dia kuat?"


"Saya yakin, Tuan!" jawab Dimitri. "Saya dan Jack sudah mengujinya! Dia baru saja keluar dari kuil terbaik di China. Mengabdi selama tiga tahun sebagai guru setelah lulus 8 tahun berguru! kekuatannya tidak main - main, meski mungkin tak sehebat Tuan muda Jio."


"Siapa namanya?" tanya Michael yang juga sudah mendengar sepak terjang bodyguard barunya itu.


"Xiaoli Chen, Tuan!"


"Berapa usianya?" sahut Jio ingin tahu.


"21 tahun, Tuan!"


"Dimana dia sekarang?"


"Ada di Mess bodyguard, Tuan!"


"Sudah berapa lama dia di sini? Kenapa aku baru tau kalau ada bodyguard baru?" tanya Jio.


"Sudah satu minggu, Tuan muda! Selama itu dia saya tugaskan untuk mengawasi Nyonya di rumah atau kemanapun Nyonya besar pergi!"


Jio mengangguk paham. Berdasarkan penjelasan dua bodyguard terbaik Daddy nya, ia yakin Jia akan aman di tangan bodyguard baru itu.


"Baiklah, kita akhiri pertemuan malam ini!" ucap Michael. "Kita tinggal mencari bukti, jika benar yang mencari masalah kita adalah Lussio. Yang penting kita sudah tau kalau Lussio benar masih dalam ruang lingkup Mafia, dan tidak ada data atau wajah yang di ubah darinya! Jadi kalian harus ingat wajahnya!"


"Siap, Tuan!" jawab Dimitri dan Jack bersamaan.


# # # # # #


Pagi telah tiba di kota Roma, kota dimana adanya cinta yang tumbuh di hati seseorang, namun di tepis dengan sebuah sebutan yang kekanak kanakan.


Sahabat...


Jio melajukan mobilnya, ia sudah memerintahkan bodyguard pengawal Virginia untuk pulang. Pagi itu, ia sendiri yang akan mengawal mobil sang gadis untuk tetap selamat sampai kampus.


"Morning, girl..." lirih Jio dari dalam mobilnya. Saat melihat Mini Cooper orange keluar dari pagar besi setinggi 3 meter.


Mini Cooper orange melaju membelakangi Bugatti biru milik sang Tuan Muda Xavier. Entahlah, pengemudi Mini Cooper itu tau atau tidak, jika bintang kampus tengah mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2