SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 182


__ADS_3

"Apa rencana mu setelah kelas selesai?" tanya Diego pada Jia.


Siang itu mereka duduk bersebelahan. Diego bahkan meminta Reena untuk berpindah, agar ia bisa duduk di samping Jia. Si gadis cantik, manis pujaannya.


Tentu Reena tidak keberatan. Ia biarkan lelaki tampan itu mendekati Jia. Toh mereka selevel dan terlihat serasi.


"Em...sepertinya aku akan pulang!" jawab Jia datar.


"Tidak ada rencana jalan - jalan?" tanya Diego. "Atau nanti malam! saat Friday Night, malamnya kita sebagai anak muda..."


"Aku tidak pernah melakukan aktivitas macam itu, selain bersama Kakak ku!" jawab Jia memanyunkan bibirnya.


"Jadi tidak ada rencana bersama kita?" tanya Diego lebih jelas.


"Ada!" sahut Gladys yang duduk di samping kiri Jia. Tentu ia bisa mendengar apa yang di bicarakan Jia dan Diego.


"Apa?" tanya Jia dengan dahi yang mengerut.


"Jalan - jalan ke Mall...." ucap Gladys tersenyum senang.


"Apa itu penting?"


"Tentu saja!" sahut Reena yang duduk di samping Gladys. "Saatnya kita jalan - jalan dan nonton bioskop bersama! Kita belum pernah melakukan itu!"


"Pulang kuliah, ya!" ajak Gladys. "Tapi kalau bisa nangi sore sampai malam itu bagus!" lanjutnya terkekeh penuh harap.


"Tapi...." Jia menggantung kalimatnya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, entah apa itu.


"Sudahlah... Tidak ada tapi - tapian! Kita jalan berempat, OK!" Gladys mengambil keputusan akhir.


Jia melirik tiga temannya secara bergantian, dengan lirih dan ragu, ia berkata, "baiklah ... Pulang kuliah saja!"


Gladys, Reena dan Diego saling lirik.


"Ok! Setuju!" sahut ketiganya bersamaan.


***


📞 "Dimana Virginia!" bentak Jio sudah tak sabar.


Obrolan dua orang melalui panggilan seluler itu terus berlanjut. Dimana ponsel Virginia telah di bajak seseorang untuk menghubungi Jio.


Lalu siapakah Mahasiswi yang mengganggu Virginia akhir - akhir ini?


📞 "Kalau kau mau dia kembali dengan selamat, temui aku sekarang juga!" ucap lelaki di sebrang. "Ingat! Jangan membawa satu cecunguk pun dari klan Black Hold!"


' Kalian mengenal Black Hold! Berarti ini benar - benar .... '


Jio tak melanjutkan pemikirannya. Ia hanya harus fokus untuk membawa kembali Virginia.

__ADS_1


📞 "Katakan dimana kalian!" sentak Jio, tanpa menjawab persyaratan lelaki itu. Baginya, ia bisa beradu dengan 50 orang sekaligus. Asal tidak ada kecurangan di dalamnya.


📞 "Bukankah kau seorang Hacker?" tanya lelaki itu sinis. "Cari saja sendiri Virginia ada di mana! Hm!" ujarnya terkekeh sinis.


📞 "Brengsek!" umpat Jio dengan gigi mengerat dan wajah memerah, juga nafas yang menggebu. Namun wajahnya tetap terlihat tenang dan dingin.


📞 "Hahahaha! Jangan terlambat! Terlambat sedikit saja, dia sudah jadi... Ah! kau sebagai lelaki pasti tau apa yang ada di dalam pikiran kita jika melihat gadis cantik, seksi dan yah! Harumnya sampai tembus kepala... Hahahaha!"


📞 "F*cking ****!" umpat Jio dingin.


📞 "Hahahahah!" tawa menggelegar lelaki di sebrang mendengar umpatan Jio.


📞 "Sedikit saja kau menyentuhnya, aku pastikan nyawamu sebagai penebusnya!"


📞 "Berhenti bicara tidak jelas, anak muda! Cepat datang! Atau... Yaah! Seperti apa yang aku katakan tadi! Dan ingat! Lelaki sejati tidak akan mengadu pada Ayahnya! Hahahahaha!" tawanya panjang dan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


"F*ck!" umpat Jio menghempaskan ponsel untuk menubruk udara.


"Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan mobil hijau tadi?" gumamnya bertanya - tanya. "F*ck! F*ck! F*ck!" umpat Jio.


"Seharusnya tadi pagi aku lanjutkan saja mencari data pemilik mobil hijau itu!" gerutunya menggelengkan kepalanya pelan.


Yang ada dalam benaknya sekarang adalah keselamatan Virginia. Gadis itu pasti sudah menangis sejadi - jadinya. Atau jangan - jangan berada di bawah alam sadarnya?


Entahlah, Jio serasa tak sanggup lagi membayangkan hal itu terjadi pada sang gadis.


Ia segera masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobilnya ia segera menjalankan aksinya. Melalui ponsel canggihnya, ia segera berselancar untuk menemukan keberadaan Virginia. Ia hacking ponsel Virginia, dan melakukan berbagai hal untuk menemukan data akurat.


"Siapapun kau, secuil saja menyakiti Virginia, ku pastikan tangan ku sendiri yang akan mencabut nyawamu!" ucapnya dengan sorot mata tajam yang mematikan.


Segera Jio menyalakan mesin mobilnya, ia gerakkan mundur mobilnya untuk berputar arah. Sebelum ia menginjak pedal gas, ia tatap Mini Cooper orange di sampingnya.


"Tunggu Nona mu kembali!" desisnya.


Segera ia injak pedal gas, mendekati Lexus LM milik Jia. Dimana ada Xiaoli dan Dimitri di sana.


"Paman, panggilkan derek mobil untuk membawa mobil orange di sebelah mobil ku tadi! dan bawa pulang!" perintah Tuan Muda Jio tanpa harus turun dari mobilnya. "Itu mobil Virginia!"


"Siap, Tuan!" jawab Dimitri segera menemukan mobil orange yang di maksud Jio melalui sapuan pandangan matanya.


Jio berlalu tanpa bercakap sepatah katapun. Tanpa berkata jika ia akan menemui musuh seorang diri di pinggiran kota.


Tak lupa ia juga menghubungi Mommy nya, agar menghubungi Mama Virginia, untuk menginformasikan jika Virginia sedang bersama keluarga Xavier.


"Baiklah, Boy...." jawab Chania. "Tapi kalian tidak dalam bahaya, kan?"


"No, Mommy!" jawab Jio yakin. Tak mungkin baginya menceritakan kejadian yang terjadi sebenarnya.


"Baiklah, Mommy akan menghubungi Greta sekarang..."

__ADS_1


Suara lembut Chania dari sebrang adalah kekuatan tersendiri untuk Jio. Melindungi keluarga Xavier adalah bagian utama dari hidupnya.


"Thank you, Mom!" ucap Jio mengakhiri panggilan teleponnya.


Jio menekan dalam pedal gas di kakinya. Satu yang menjadi tujuannya, wilayah tepian kota Roma. Dimana ada bangunan bekas pabrik yang terbengkalai di sana.


Karena ia baru turun gunung, tentu saja penunjuk jalan tak berhenti menyala di bagian dashboard mobil mewahnya.


Kini Bugatti Divo berwarna biru melaju dengan kecepatan tinggi melintasi jalur luar kota ke arah Kota Grosseto. Setiap detik adalah waktu yang berharga untuk pengemudinya.


"Secepat itu mereka bisa membawa Nia pergi sampai ke sana!" gumamnya dengan raut wajah yang memicing.


"Baiklah, saatnya kita bertempur!" lanjutnya mencengkeram erat kemudi di genggamannya.


Soal kecepatan, sportcar jenis Bugatti tidak perlu di ragukan lagi. Ia bisa melesat secepat kilat, asal jalanan benar - benar kondusif.


Lima kilo meter lagi Jio akan sampai di lokasi. Namun jalan di depannya tertutup. Seperti di blokade karena ada sesuatu yang penting. Terdapat petunjuk pengalihan jalan ke arah kiri. Entah, sedang ada apa di depan sana.


"F*ck!" umpat Jio sembari memutar kemudi ke arah kiri. "Ada - ada saja!" gerutunya kesal. Ia harus sampai lebih cepat sebelum musuh menyentuh Virginia.


Jalanan ke arah kiri, mengarah ke arah hutan. Jalanan nya terjal dan sempit. Untuk mobil sport sama sekali tidak di anjurkan. Karena body mobil yang pendek. Namun Jio tak peduli, ia harus sampai di tempat tepat waktu.


Namun baru beberapa meter, hati Jio merasa ada yang tidak benar. Ada sesuatu yang salah. Tapi entah apa. Pikirannya tak bisa menerawang dengan jelas.


Ia lirik spion bagian tengah mobil. Ada kendaraan jeep yang mengikutinya. Pikiran mengatakan jika itu juga pengemudi lainnya. Namun naluri mengatakan jika mobil itu bukan mobil sembarangan.


Melanjutkan perjalanan rasanya sesuatu yang salah. Namun tidak ada tempat berputar arah agar kembali ke jalan utama.


Jio semakin waspada, "bisa jadi ini jebakan!" gumamnya dalam hati.


Jio berhenti, menepi hingga keluar dari badan jalan. Memberi kode untuk meminta Jeep di belakang menyalipnya. Namun Jeep di belakang justru ikut berhenti.


Perasaan yang tak enak semakin tak karuan. Akhirnya menoleh ke belakang. Membuka mata batin dan seluruh kelebihan panca indera yang ia miliki untuk melihat siapa di belakang sana.


"Tujuh orang lelaki berbadan besar! Jelas bukan sembarang orang!" gumamnya. "Baiklah, kalau permainan di mulai di sini! bersiaplah untuk mati di tanganku!" desisnya.


Ia buka bagian belakang jok mobilnya. Ia siapkan pedang pusaka Klan Black Hold, dan mengambil desert eagle dari dalam dashboard mobilnya. Tak lupa, pisau kecil dengan gagang berlapis emas ia selipkan dalam jaket.


Sengaja Jio diam di dalam mobilnya. Menunggu untuk untuk musuh keluar terlebih dahulu.


Hingga sosok bertubuh besar keluar dari dalam hutan. Berjalan dengan membawa busur panah di tangan kirinya. Kemudian beberapa anak panah menggantung di punggungnya. Di bagian pinggang, menggantung pedang panjang yang menjuntai ke bawah.


Dan beberapa orang di belakangnya juga membawa senjata yang sama. Busur panah dan anak panah.


"Hemm..." Jio tersenyum miring. "Mari kita mulai..." desisnya dingin.


Pertempuran Jio yang seorang diri melawan lebih dari 10 orang berbadan besar siap di mulai di tengah hutan yang jauh dari keramaian.


Lalu mampukan sang Tuan Muda Xavier mengalahkan barisan para musuh seorang diri?

__ADS_1


...ðŸŠī Happy Reading ðŸŠī...


__ADS_2