SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 277


__ADS_3

Entah, bagaimana caranya Xiaoli Chen bisa memasuki toilet wanita tanpa takut jika ada yang masuk ke dalam sana.


Mengejutkan sang kekasih dengan dirinya yang tiba-tiba berada di depan pintu bilik toilet yang di masuki sang kekasih, membuat Jia sampai terlonjak mundur.


Keterkejutan itu berakhir dengan sebuah kemesraan yang sangat tidak lazim. Bermesraan di dalam toilet bukanlah ide yang bagus sesungguhnya. Tapi apalah daya, di sinilah pasangan backstreet ini memiliki kesempatan untuk bisa bertemu berdua.


Memeluk erat sang kekasih, mencium kening harum dan beradu pandang dengan sangat syahdu sudah di lakukan keduanya. Hingga obrolan berubah  menjadi obrolan yang sangat serius. Menyangkut nama Jio bukanlah obrolan yang bisa di anggap enteng untuk sepasang kekasih satu ini.


"Aku mengelak dan tentu saja dia tidak percaya," jawab Jia. "Dan aku tau itu memang percuma. Tapi Kak Jio terus memaksa aku untuk jujur."


"Lalu?"


"Akhirnya aku berfikir untuk memberi tahu dia tentang hubungan kita."


"Jadi?" wajah Xiaoli berubah menjadi tegang, menatap tanpa berkedip gadis cantik yang masih berada di dalam pelukannya itu. "Beliau sudah tau?"  tanya Xiaoli.


Jia menatap lekat sang kekasih. Menelisik jauh ke dalam sana. Mencari secuil ketidak seriusan sang kekasih di dalam hubungan yang sedang mereka jalani. Namun nihil. Xiaoli memang terlihat sangat serius dengan hubungan ini. Sang pemuda terlihat tidak sedikit pun untuk mempermainkan dirinya.


Jia menggeleng pelan. "Aku tidak menyebut nama kamu..." jawab Jia. "Aku ingat, kamu bilang untuk kamu saja yang bicara pada mereka. Jadi aku memilih untuk berkilah, meski dia tidak percaya sampai dia meninggalkan kamar ku karena di panggil oleh Daddy."


Wajah Xiaoli berubah dalam sekejap. Ya, sang pemuda ini memang ingin dia sendiri yang mengatakan pada keluarga Jia. Tapi semua ini terasa masih sangat berat sampai beberapa bulan berlalu.


"Jadi kapan kamu menghadap mereka?" tanya Jia sedikit serius dan penuh pengharapan. "Aku mau semua orang tau kita berpacaran, sehingga kita bisa bebas melakukan apapun tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti sekarang..." ucapnya lirih dan pilu. "Masa iya, kita bermesraan di toilet umum!" lanjut Jia menoleh pada bilik toilet yang berjumlah 3 bilik kecil.


"Mengenaskan." ujarnya cemberut.


Xiaoli berpikir kembali. Ia menghela nafas kasar sebelum kembali berucap. "Setiap hari aku sudah memikirkan hal ini. Kamu tentu tau, semua ini tidaklah mudah untuk aku..."


"Aku tau..." jawab Jia menepuk dan mengusap lembut dada bidang sang bodyguard. "Hanya saja Kak Jio sudah curiga aku memasukkan laki-laki ke kamarku. Aku yakin tidak lama lagi Daddy juga pasti akan curiga."


"Aku tau, Bao Bao..." jawab XIaoli lesu. "Aku akan memikirkan hal ini lebih serius lagi, dan menyiapkan kepalaku jika Tuan Besar ingin memenggal kepalaku akibat kejujuran ini." lanjut Xiaoli.


"Jika aku mati dalam memperjuangkan cinta kita... Setidaknya aku bangga karena aku mati dalam memperjuangkan kamu. Bukan mati karena ketahuan berkencan dengan kamu." ucap Xiaoli sangat serius.


"Dan jika aku mati, aku tidak akan memberatkan mu dalam melanjutkan hidupmu, Bao Bao..." Xiaoli membelai rambut hitam yang menjuntai, menatap sendu wajah cantik yang terlihat bersedih dengan obrolan ini. "Kamu boleh mencintai orang lain, kecuali Diego. Dan jika bisa, jangan mencintai bodyguard seperti ku!"

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan ini!" sentak Jia mendorong dada Xiaoli, dan ia mundur dua langkah kebelakang dengan nafas yang berubah menjadi kasar dan gemuruh di dalam dada.


Xiaoli hanya bisa menghela nafas panjang dan resah, ketika ekspresi Jia langsung berubah menjadi merah padam karena marah dengan jawabannya yang sesungguhnya adalah fakta yang harus di hadapi dalam memperjuangkan seorang Nona muda Xavier. Putri satu-satunya Sang Mafia yang terkenal cukup tega dalam hal apapun pada masa kepemimpinannya.


"Aku tidak suka kamu seperti ini, Xiaoli Chen!" desis Jia dengan gigi yang mengerat dan tatapan yang menghunus pada sang kekasih. "Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa! Mommy akan membela kita..."


"Tuan Besar Xavier bukanlah sembarang orang, Bao Bao. Dia sangat benci dengan pengkhianat!" jawab Xiaoli menatap lekat dan teduh pada sang kekasih. "Dan bagi beliau tidak ada ampun untuk pengkhianat!"


"Tapi kamu bukan pengkhianat!" jawab Jia tak ingin sang kekasih di sebut sebagai sang pengkhianat. Ia sangat tau betapa Xiaoli sangat setia dengan Klan peninggalan kakek buyutnya itu.


Tersenyum miring, Xiaoli bergerak untuk meraih tangan sang kekasih, namun segera ditepis oleh Jia. Tapi Xiaoli tak mau kalah, Xiaoli justru bergerak tanpa bayangan dan kini Jia kembali berhasil berada di dalam dekapan dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Kembali mengunci tubuh mungil dengan erat menggunakan tangan kiri, dan kembali menatap lekat wajah cantik di hadapan. Xiaoli berusaha menjelaskan dengan lembut tanpa ingin membuat sang gadis tersakiti ataupun tersinggung.


"Aku mengencani putri beliau..." ucap Xiaoli membelai pipi putih mulus tanpa noda. "Aku mencium putrinya bukan hanya sekali dua kali..." berucap serius dengan menatap dalam sepasang mata lentik. "Aku bahkan pernah menyentuh kulit putrinya yang tertutup oleh baju tanpa sepengetahuan beliau... Apa itu namanya kalau bukan pengkhianat, Sayang?"


Jia mendengarkan dengan dada yang tak baik-baik saja. Ia tahu apa yang di katakan sang kekasih memang benar adanya. Tapi menyebut sang kekasih sebagai pengkhianat rasanya kurang tepat. Semua ini demi cinta yang memang berbeda kasta terlampau jauh.


"Kalau kamu mau kamu sendiri yang mengatakan semua ini... Cepatlah katakan pada Daddy..." ucap Jia dengan wajah sedihnya. "Kamu tau... aku sangat ingin sekali membawa mu untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman..." lirih Jia.


"Berkumpul dengan teman-teman?" Xiaoli mengerutkan keningnya. "Mereka tadi?"


Menghela nafas berat. "Apa kata  mereka jika tau kekasih Nona Muda Xavier ternyata hanyalah seorang bodyguard?" tanya Xiaoli serius.


"Memangnya aku peduli! Yang penting aku cinta kamu!" jawab Jia cuek dengan pertanyaan Xiaoli yang menurutnya tidak penting.


"Mereka bisa dengan mudah merendahkan aku, Bao Bao. Dan aku tidak akan bisa memungkiri hal itu... Lalu bisa saja lama-lama akan malu."


"Kalau begitu aku tidak akan berteman dengan mereka yang merendahkan kamu!" jawab Jia lagi dengan entengnya.


Pemikiran remaja yang hendak mencapai 19 tahun ini memang terbilang masih cukup labil. Selain ia baru turun gunung, juga minusnya pergaulan ketika ia masih berusia remaja. Karena selama usia remaja berlangsung sang gadis hanya fokus dengan latihan dan latihan bela diri.


"Yang penting kamu harus segera mengaku pada Daddy, Kak Jio dan Mommy!" ucap Jia tegas. "Sebelum Kak Jio tau sendiri! Apalagi Daddy sendiri yang mengetahui semua ini!"  ketus Jia.


"Aku tau, Bao Bao..." jawab Xiaoli memeluk sang kekasih lebih erat. Kemudian mencium kening gadis itu dengan khidmat.

__ADS_1


"Kita harus segera keluar. Bagaimana kalau Daddy mencari kamu?"


"Ya, kamu benar!"


"Aku duluan?" tanya Jia.


"Hemm..." Xiaoli mengangguk.


Jia yang agresif, berjinjit dan langsung mendaratkan kecupan di bibir tipis sang kekasih dengan singkat.


"I love you!"


"I love you too!" balas Xiaoli sembari melepas pelukannya, dan membiarkan pinggang ramping itu menjauh dari telapak tangannya.


Jia melangkah mendekati pintu utama toilet. Dan Xiaoli berjalan di belakangnya dengan selalu menatap kagum dan melindungi pada sang gadis. Ketika mendekati pintu, Xiaoli lebih dulu mengotak atik kunci pintu.


"Jadi tadi tidak bisa di buka dari luar?" tanya Jia.


"Hemm.." Xiaoli mengangguk.


Jia membuka pintu dan langsung menutup kembali, supaya tidak ada yang tau jika ada dua orang di dalam toilet.


"What?" pekik Jia ketika melihat selembar kertas yang tertempel pada daun pintu. "Rusak?" ucapnya membaca tulisan di kertas itu.


Terkekeh sendiri. "Kamu benar-benar nekat, Amore..." ucap Jia berbisik di dekat daun pintu.


Ia sangat tau jika Xiaoli pasti masih bisa mendengar gumaman dan kekehannya ini.


***


Kembali berbaur dengan teman-temannya, Jia menyempatkan diri untuk menoleh pada sang Ayah. Dan siapa sangka, dari kursinya, sang Ayah tengah menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh sang gadis.


' Apa Daddy mencurigai aku dan Xiaoli? '


Gumam sang petarung perempuan dalam hati.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ : Bonus! Hehe 🙏☺️


__ADS_2