
Terlambat, ujung bolpoin menancap tepat di pergelangan Oliver. Darah segar mengucur dari pergelangan tangannya. Wajah Oliver terlihat begitu menegang karena menahan sakit. Mulut terbuka, menarik nafas dengan tersengal.
"Bodoh!" pekik Michael menyobek kemeja yang di pakainya, dan segera mengikat bagian yang menjadi jalan untuk keluarnya darah.
"Panggilkan Rudolf ke ruangan ku!" ucap Michael menekan tombol otomatis yang tersambung pada Jack.
Tak butuh waktu lama, Rudolf yang sedang bertugas di klinik perusahaan sampai hanya dalam hitungan menit. Berbagai peralatan pemeriksaan ia bawa sebagai jaga - jaga akan apa yang sedang terjadi dengan Kliennya itu.
Michael berdiri melipat tangan di belakang kursi Oliver di dalam ruangannya. wajahnya tampak emosi menatap Oliver. Antara kesal dan tak tega merayap menjadi satu. Ia sudah berniat untuk menjalin hubungan baik dengan Oliver sesuai keinginan sang Papa. Namun tak di sangka respon Oliver di luar dugaan.
"Kenapa kau begitu bodoh, Oliver!" hentak Michael. "Tak semua masalah selesai dengan bunuh diri!" amuknya kesal.
Jack, pria itu tengah menjaga Oliver, agar tangannya tak memberontak. Gadis itu masih berusaha untuk melepaskan diri dari sergapan Jack. Meskipun tubuhnya sudah lemah.
Ia seolah enggan untuk di selamatkan oleh siapapun. Yang diinginkan hanya mati saat itu juga. Agar tak perlu lagi mendengar kalimat - kalimat Michael yang jelas sangat menunjukkan jika pria itu begitu mencintai istrinya.
Dokter segera mengerjakan apa yang harus ia kerjakan. Melakukan pertolongan pertama pada pergelangan Oliver.
"Jangan melakukan hal ceroboh seperti ini lagi, Oliver." ucap Rudolf. "Nyawamu sangat berharga!"
"Nyatanya tidak ada yang menganggap aku berharga!" ucap Oliver dengan tatapan kosong ke arah jendela.
Perempuan itu kini sudah duduk di sofa. Menatap kosong ke arah dinding kaca yang memperlihatkan bangunan - bangunan khas kota Roma, Italia.
"Jangan bicara bodoh!" sembur Rudolf.
Tersenyum culas, "Itu kenyataan, dokter Rudolfo Hazard!" tegas Oliver menatap dalam dan tegas pada Rudolf.
Rudolf menyebikkan bibirnya tipis. Seolah menyerah memberi pengertian pada perempuan di depannya.
"Pikirkan baik - baik apa yang tadi ucapkan." ucap Michael yang duduk di sofa single akhirnya ikut angkat bicara. "Aku yakin, dengan begitu hidupmu akan jadi lebih baik!"
Oliver menoleh Michael, menatapnya tajam. Namun tetap saja pancaran cinta masih terlihat disana.
"Tetap saja aku tidak akan pernah berharga di matamu, Michael!"
"Jangan kau pikir aku melupakan siapa kita dulu, Oliver!" jawab Michael. "Aku masih jelas mengingat, seperti apa kita dulu. Siapa kita dulu!"
"Munafik!" sarkas Oliver kesal.
Michael menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya pelan. Ia berfikir, jika Oliver sulit di ajak berbaikan, apakah harus ia biarkan saja kocar - kacir sendiri? Di saat pembacaan warisan Arlington dan di tanda tangani oleh sang pewaris aslinya.
# # # # # #
Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam waktu Italia. Chania terlelap di sofa kamar. Ia tertidur saat menunggu sang suami sejak selesai makan malam.
Pintu megah nan mewah terbuka secara perlahan. Cahaya lampu masih terang benderang. Pertanda sang penghuni terlelap.
' Tapi dimana dia? '
__ADS_1
Batin Michael dalam hati. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan. Karena posisi sofa yang di tiduri Chania membelakangi arah pintu.
Ia berjalan mendekati pintu balkon, selangkah demi selangkah. Sampai akhirnya ujung mata menangkap sesuatu yang mengganjal di sofa.
Segera ia menoleh, dan ia sedikit terkejut mendapati sang istri terlelap di sofa. Menggunakan bantal sofa sebagai sandaran kepala. Dengan berbalut kimono satin berwarna merah.
Aa... sangat menggoda di mata sang suami yang lelah seharian bekerja dan mengurusi berbagai masalah.
Dua ujung bibir sedikit terangkat. Senyum manis nan mempesona terbit dari bibir tipis sang Mafia. Melangkah mendekat, mengusap lembut rambut sang istri. Tak ada pergerakan dari Chania, akhirnya ia berjongkok. Menggunakan satu lututnya sebagai penahan tubuhnya.
"Baby..." panggilnya lirih. "Baby?" ia daratkan kecupan lembut di bibir manis.
Menggeliat kecil, membuka mata sekilas untuk kemudian kembali menutupnya. Menganggap hanya hembusan angin yang mengganggu.
Michael tersenyum tipis. Menatap lekat dan penuh cinta akan sosok istrinya. Kembali ia daratkan kecupan di hidung. Dan spontan Chania terbangun dari tidur dengan mata yang lebar.
"Honey?" gumam Chania segera duduk, memperbaiki posisinya. "Baru pulang?" tanyanya pada sang suami yang masih berjongkok di lantai.
"Iya." jawab Michael dengan wajah lelahnya.
"Sudah makan?"
"Sudah." jawabnya mengusap perut istrinya. "Kenapa tidur di sini?"
"Ketiduran." tersenyum kikuk. "Bagaimana dengan Oliver?" tanyanya penasaran.
Chania bersandar di dada bidang Michael. Merangkulkan tangan di perut suaminya. Mencium harum parfum woody yang dikenakan sang suami. Meskipun sudah larut, entahlah harus itu masih saja tersisa untuk bisa di cium sang istri.
"Dia bersedia berdamai." ucap Michael kemudian.
"Serius?"
"Iya!" jawab Michael.
"Dia tidak akan menyakitiku ataupun anak - anak kita kelak, kan?"
"Dia bilang, dia akan mencoba untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Menerima mu sebagai saudara kandungnya. Dan kita juga harus tau, bahwa berubah itu butuh proses!"
"Iya, aku tau!" jawab Chania senang. "Yang penting dia mau menerima aku dan Sania sebagai saudaranya!"
"Dia belum tau, jika Sania sudah bersama kita."
"Kenapa kamu tidak memberi tahunya?"
"Aku takut dia akan mengadu pada Deborah! Dan semua rencana tadi bisa saja akan gagal!"
"Hem..." mengangguk paham. "Baiklah, terserah kamu." lanjutnya. "Kamu tidak mandi?" menatap sang suami yang masih mengenakan kemeja tadi pagi.
"Mau mandi bersama?"
__ADS_1
"Eits! ini kan tengah malam. Mandi sendiri sana!" usir Chania mendorong dada suaminya pelan. "Bau!" menutup hidung seolah malas dengan bau sang suami. Padahal bibirnya tengah menahan tawa, akibat ia berkata bohong.
"Hahaha!" gelak Michael. "Sedari tadi nempel, sekarang bilang bau?" tanya Michael.
"Ya memang sedari tadi sudah bau! aku hanya menahan nafas saja!"
"Hah! bohong!" Michael mentoel perut Chania bagian samping. Menimbulkan rasa geli.
"Auh!" pekik Chania. "Buruan mandi sana." ucapnya mengulum senyum.
Bukannya melakukan perintah, Michael justru menarik pinggang Chania. Memeluk istrinya dengan gemas. Mengunci kedua tangan sang istri dari belakang agar tidak bisa memberontak. Meskipun kenyataannya memang Chania sudah berusaha untuk melawan.
Tapi untuk seorang Michael, apalah kekuatan Chania. Bahkan mungkin tak ada 10% dari kekuatannya.
"Biar saja baunya menular padamu!" ucap Michael menciumi tengkuk leher Chania.
"Hahahah!" tawa Chania meledak. Menahan geli yang di bagian tengkuk lehernya. "Kamu bau, Honeeey!"
"Kamu juga akan jadi bau sekarang" jawabnya menciumi punggung juga daun telinga Chania.
"Hahah!" gelak Chania tak sanggup menahan tawa. "Geli, Honey!"
"Biar saja! sekalian nanti aku makan!"
"Memangnya aku gulali!" ucap Chania di sela tawanya.
"Iya... betul! Kamu gulali yang memabukkan lidahku!" jawab Michael tersenyum nakal. "Menjilati mu rasanya tak akan pernah mengurangi manisnya dirimu, Baby!" lirihnya mulai menjilati tengkuk leher Chania.
Tentu saja membuat Chania merasakan merinding beserta hawa panas yang menjalar. Sebuah rasa yang sulit untuk di ungkapkan.
Meski begitu rasanya enggan untuk memutus secara sepihak. Karena sedikit banyak membuat tubuhnya merasakan nikmat.
Desiran - desiran aneh semakin membuatnya menggila. Apalagi dengan nakal, Michael menurunkan kimono dari pundak menggunakan giginya. Membuat pundak itu terekspose sedemikian seksi dengan tali br* yanga sangat kecil.
"Jangan, Honey! mandi dulu!" Chania masih berusaha membuat Michael berubah pikiran. Dari pikiran mesumnya, menjadi pikiran yang waras 100%.
"Kalau sudah begini aku tidak bisa berhenti, Baby..." berbisik penuh hasrat di telinga Chania. "Maafkan aku.. sepertinya jamu harus menaklukkan junior ki terlebih dahulu sebelum aku mandi!" ucap Michael.
"Jangan sembarangan!"
"No, Baby... kamu harus melayani ku terlebih dahulu!" lirih Michael yang sudah di hajar birahi. Tangannya sudah bermain nakal di dua gumpalan indah. Membuat sang punya semakin menggila.
Akhirnya mau tak mau, mereka pun kembali menyatukan tubuh untuk kesekian kalinya. Dan sofa menjadi saksi bisu percintaan mereka malam ini.
"Kamu sangat menggairahkan, Baby..."
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1