
Di antara waktu yang terus berjalan dan berputar, ada gelap yang semakin larut. Ada waktu yang di jadikan batas. Ada pula momen yang harus di akhiri. Seperti Jio yang memilih untuk mengakhiri momen kencan mereka di malam Friday Night ini.
Apalagi kondisi sang kekasih tengah sakit, ia tak ingin membuat Virginia kelelahan hanya karena malam ini. Tujuannya malam ini keluar adalah untuk melewati malam Friday Night pertama mereka.
Mobil sport milik nya melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sang kekasih. Di sepanjang perjalanan Jio tak terlalu banyak bicara. Pikirannya masih di penuhi dengan apa yang baru saja ia lakukan pada sang kekasih. Menyentuh sesuatu yang terus saja membayang di dalam benaknya. Sesuatu yang menimbulkan sesuatu yang lain ikut bergejolak.
Antara senang dan juga merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia seolah baru saja mengkhianati pesan Ibunya yang melarang dirinya untuk bertindak lebih jauh pada sang kekasih.
Namun kondisi tadi memang benar - benar membuat Jio lupa diri, bahkan sampai tidak ingat jika mereka tengah berada di lokasi parkiran umum. Yang mana bisa saja orang akan tiba - tiba muncul ataupun melintas di samping mobilnya.
Tapi siapapun yang berada dalam keadaan seperti itu past sudah panas dingin. Bahkan mungkin sudah tak ingat untuk menyadarkan diri. Hingga akhirnya berlanjut di dalam mobil, atau langsung mencari hotel terdekat.
"Kamu kenapa, Honey?" tanya Virginia yang menyadari jika ada sikap yang berubah dari sang kekasih.
Jio menghela nafas berat, kemudian menoleh sang kekasih, dan menatap lirih pada mata lentik yang justru berbinar. Berbanding terbalik dengan matanya yang jelas terlihat resah.
"Maafkan aku, Baby..." lirih Jio mengusap lembut tangan Virginia yang berada di pangkuan gadis itu.
"Maaf kenapa?" tanya Virginia bingung.
"Aku... lupa diri..." lirihnya kembali menarik tangannya dan menatap pilu pada jalanan yang ada di depan sana.
"Lupa diri?" tanya Virginia yang masih tidak paham.
"Yang tadi di tempat parkir, Baby..." ucap Jio lirih dan penuh dengan perasaan menyesal. "Aku tidak ada maksud untuk melecehkan kamu, Sayang.. Aku benar - benar lupa diri." Jio menggelengkan kepalanya resah.
Selain resah karena melakukan hal itu, juga resah karena harus menekan sesuatu yang bergejolak di bawah sana. Yang mana rasanya terasa sangat sulit dan berat.
"Maafkan aku.." Jio kembali menoleh pada Virginia dan menatap sendu gadis yang teramat ia cintai.
Namun Virginia justru terlihat santai dan bahkan tersenyum malu. Dengan senyum malu - malu Virginia membuang mukanya ke arah jendela.
"Aku bahkan tidak keberatan..." jawab Virginia dengan menatap luar jendela yang memperlihatkan keramaian kota Roma saat jam dinding sudah menunjukkan waktu setengah 11 malam.
Wajah cantiknya masih merona saat mengingat tangan kekar Jio berada di dadanya. Sebagai gadis remaja pada umumnya, ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh remaja pada umunya. Yaitu rasa ingin untuk di sentuh atau juga menyentuh.
Jio menoleh sang kekasih, dan ia percaya jika Virginia tidak keberatan dengan apa yang tadi ia lakukan. Namun perasaan mengkhianati pesan sang Mommy masih menyeruak di dalam dada. Tidak semudah itu bisa ia musnahkan. Apalagi semua berlawanan dengan hasrat kelakian yang timbul secara normal di dalam dirinya.
__ADS_1
Dan mobil Jio berhenti saat lampu di satu perempatan menunjukkan warna merah. Dan saat itulah Jio menatap lekat sang kekasih. Kemudian ia lepas cepat sabuk pengaman di tubuhnya.
"Aku mencintai mu, Baby!" ucap Jio mengecup bibir Virginia yang sedari tadi menghadap luar jendela.
Di cium sedemikian mendadak dan instan, Virginia menoleh pada sang kekasih, untuk kemudian pandangan mereka kembali bertemu. Lalu senyuman kecil dan tatapan cinta yang tulus terpancar dari wajah keduanya.
"I love you more, my everything!" jawab Virginia membalas kecupan Jio dengan kecupan yang sama.
Sebelum kembali pada posisinya, Jio menyempatkan diri untuk mencium pipi Virginia dengan sangat gemas. Hingga gadis itu tertawa karena merasa geli juga.
Dan barulah Jio kembali pada posisinya, duduk di balik kemudi dengan seat belt yang kembali terpasang. Saat lampu berubah menjadi hijau, maka melajulah mobil berkecepatan tinggi itu meninggalkan persimpangan jalan yang cukup padat kendaraan.
Tak butuh waktu lama bagi Jio untuk bisa sampai di rumah Virginia dengan selamat. Jio membuka pintu penumpang tepat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 22.40 waktu Italia.
Sebelum berpisah, Jio dan Virginia sempat untuk mengobrol di depan pintu utama rumah keluarga Brown. Suasana rumah sudah sangat sepi. Hanya ada security yang berada di pos jaga. Dapat di pastikan jika Tuan dan Nyonya Brown sudah tertidur.
Virginia yang memiliki ketakutan dengan efek pengobatan yang akan ia jalani, memeluk erat tubuh Jio sebelum kembali berpisah. Ia tidak akan rela jika sampai kelak harus lupa ingatan, maupun lumpuh untuk kemudian kehilangan sosok Georgio Xavier Sebastian. Lelaki yang sudah ia tunggu selama tujuh tahun lamanya.
"Jika kelak aku melupakan kamu, please! bantu aku untuk mengingat semuanya. Apapun caranya!" lirih Virginia di dalam pelukan erat sang Tuan Muda Xavier.
"Tentu, Baby... aku tidak akan menyerah begitu saja untuk bisa membuat kamu mengingat ku jika kamu memang harus lupa ingatan setelah pengobatan selesai."
"Apa yang kamu bicarakan, Sayang! Tentu saja aku akan tetap menjadi kekasih mu, dan kamu akan tetap menjadi kekasih ku satu - satu nya. Tiada satu pun yang bisa menggantikan posisi kamu. Sampai kapanpun juga!" tegas Jio mengusap lembut rambut Virginia. Sekaligus ia kecup berulang kali puncak kepala sang gadis.
"Aku sangat mencintai mu, melebihi aku mencintai diriku sendiri, Baby..."
"Aku juga sangat mencintaimu!" jawab Virginia mengecup berulang kali dada Jio yang mengeluarkan keharuman yang khas. Juga bisa ia rasakan detak jantung sang Tuan Muda Xavier.
"Istirahatlah, Baby... jangan sampai kelelahan..." ucap Jio mengakhiri momen pelukan mereka.
"Yes, My Prince!" jawab Virginia mengecup pipi Jio sekilas.
Senyum menawan sang putra mahkota terbit dari bibirnya. Hingga senyum manis menghilang di balik pintu utama rumah keluarga Brown. Dan berpisah lah Tuan Muda Xavier dengan sang kekasih, Nona Muda Brown.
Untuk saat ini, bagi merkea berdua Friday Night telah berakhir. Saat nya untuk mengistirahatkan diri, untuk aktivitas esok hari.
***
__ADS_1
Jika untuk Jio dan Virginia Friday Night sudah berakhir, namun belum tentu juga berakhir untuk pasangan yang lain. Contohnya saja pasangan yang baru saja menobatkan diri mereka sebagai sepasang kekasih.
Kembali pada suasana di dalam mobil CRV hitam milik Nyonya Besar Xavier yang di kemudikan oleh Xiaoli Chen, sang bodyguard muda yang tampan. Di sampingnya ada Nona Muda Xavier yang masih mengenakan jaket kulit hitamnya, dan kini berstatus sebagai kekasihnya.
Sungguh gila memang, ketika seorang bodyguard berani mengencani anak majikannya. Tapi yang jadi semua terlihat wajar adalah karena keduanya saling mencintai dan menginginkan.
Apalagi jika di lihat di luaran, keduanya memang sangat serasi. Tampan dan cantik. Meski tidak ada yang tau, jika di antara mereka terbentang jarak yang tidak mudah untuk dipersatukan.
Kendaraan mewah itu mulai memasuki area parkir salah satu restauran sederhana, namun menyajikan view yang cukup bagus untuk sepasang kekasih menghabiskan waktu.
Bangunan yang terbuat dari kayu dengan warna coklat gelap yang mendominasi, membuat nuansa alam semakin terasa. Ornamen yang di suguhkan juga tidak pasaran. Setiap meja memiliki sekat masing - masing, meski sekat tidak terlalu tinggi bahkan masih bisa melihat sebagian tubuh pengunjung lainnya, tapi cukup untuk menjaga privasi setiap pengunjung.
Jia memilih untuk duduk di salah satu bilik yang berada di barisan paling belakang. Hanya ada sebuah meja kotak, dan dua kursi yang saling berhadapan. Sangat cocok untuk sepasang kekasih yang ingin saling menatap satu sama lain.
Di mana dari bilik itu, mereka dapat melihat pemandangan yang hampir sama dengan yang ada di atas bukit. Hanya saja dari posisinya sekarang semua terlihat lebih jelas dan lebih besar.
Seorang waiters datang membawa buku menu, dan Jia langsung memesan makanan yang ia inginkan. Sedangkan Xiaoli asyik menatap wajah Jia yang apa adanya, yakni wajah - wajah kelaparan.
Xiaoli mengulum senyuman saat Jia asyik menuliskan beberapa menu yang cukup banyak. Seolah sanggup untuk menghabiskan semua itu seorang diri.
Sedangkan Xiaoli hanya memesan seporsi steak dan segelas cappucino panas.
"Kamu tau dari mana tempat ini?" selidik Jia.
Yang ia tau, Xiaoli belum lama tinggal di Roma, bagaimana bisa tau tentang tempat - tempat yang bahkan ia sendiri belum tau.
"Aku hanya membawa kamu ke tempat yang pernah aku datangi. Soal tempat ini, setelah mengantar bodyguard yang tadi aku ceritakan, kami makan di restauran ini. Dan duduk di bilik sebelah sana!" Xiaoli menunjuk bilik yang ada di dekat pintu keluar.
"Kenapa tidak di sini?"
"Sebelah sini lebih cocok untuk kita, sepasang kekasih..." ucap Xiaoli menatap lekat wajah Jia.
Hingga gadis itu salah tingkah sendiri. Terlihat wajah merah merona yang menguar dari pipi kanan dan kiri.
Untuk beberapa detik mereka hanya diam, dan tangan Xiaoli tidak tahan untuk tidak menyentuh jemari putih mulus yang ada di atas meja. Jemari yang baunya tak akan bisa ia lupakan dengan mudah.
Tangan kekar sang bodyguard menggamit jemari lentik. Mengusapnya lembut hingga membuat Xiaoli hanyut semakin dalam akan cinta nya pada Nona Muda Xavier.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...