
Tidak pernah menggunakan pakaian berjenis gaun - gaun-an sebelumnya selain acara pesta ulang tahunnya yang ke - 18 tahun lalu, membuat Nona Muda Xavier malam itu jelas terlihat berbeda dan jauh dari kata apa adanya.
Meski polesan make up di wajah sangat tipis. Dan hanya ada sebuah kalung berlian kecil di leher sang gadis. Tanpa aksesoris lain apapun lagi. Sudah cukup membuat Jia bak puteri dari negeri dongeng.
Clutch kecil berwarna senada dengan bajunya yang tali rantainya di silangkan di depan dada, membuatnya tidak terlihat berlebihan dalam berdandan untuk anak seusianya. Yang mana Clutch itu hanya muat untuk satu ponsel, dan sebuah kartu. Hanya saja ia tak membawa kartu apapun, karena semua kartu belanja masih dalam masa penahanan sang Ayah.
Sebuah topeng untuk pesta yang di sediakan oleh sang sahabat saat mengirim undangan, sudah ada di genggaman jemari lentik yang sebenarnya cukup kuat untuk meninju musuh.
Muncul dengan anggun yang tatapannya langsung beradu dengan tatapan seorang bodyguard di antara beberapa bodyguard lain, tentu saja membuat sang Nona Muda Xavier langsung salah tingkah. Ia bahkan mengulum senyuman di bibir. Karena tak menyangka sang bodyguard tampan ada di sana. Berada dalam rangkaian rapat khusus bodyguard inti saja.
Meski begitu ia tetap berusaha untuk bersikap normal, seolah ia sedang menebar senyum pada semua yang ada di ruang tengah. Senyum ramah tentunya.
"Selamat malam, para Paman Bodyguard..." sapa Jia.
"Malam, Nona Muda..." jawab semua secara serentak. Hingga membuat ruang tengah terdengar seperti ruang paduan suara.
Beberapa detik pandangannya tertahan untuk Xiaoli seorang. Tak berani memandang terlalu lama, kini ia menoleh Daddy nya untuk bertanya....
"Daddy... siapa yang mengantarku?" tanya Jia dengan dada bergemuruh.
Berharap sang Ayah menyebut nama yang akhir - akhir ini membuat jantungnya berdebar. Nama yang membuatnya betah untuk sekedar duduk di balkon, hanya untuk menunggu pemuda itu lewat.
"Noel! antar putri ku pergi ke pesta!" ucap Michael pada Noel, yang sigap berdiri dari duduknya. Karena memang dari awal Noel lah yang di jadwalkan untuk mengantar Jia ke pesta.
Tanpa di sadari Ayah tiga anak itu, perintahnya telah mematahkan dua hati sekaligus. Ya, hati putrinya, dan hati sang Bodyguard muda.
' Harapan memang hanya harapan. Segala sesuatu tetap ada di tangan Daddy! '
Gerutu Jia di dalam hati. Ia menatap lirih pada Xiaoli untuk sesaat.
Sedangkan Xiaoli sendiri juga berkata hal yang sama di dalam hati. Ketika impian hanya tinggal impian.
Mendampingi Nona cantiknya untuk pergi dengan dandanan yang dapat memikat banyak hati lelaki, tentulah ia ingin jika dirinya yang mengawal. Karena tak akan rela jika wajah cantik dan tubuh sintal itu di lihat oleh lelaki lain. Meski ia pun belum bisa memiiki.
Dan satu kalimat yang menggaung di dalam ruangan besar itu benar - benar mengubah suasana dua hati yang baru saja di buat menjerit.
"Bukankah tadi siang Noel sudah mengantar Jia ke kampus, Honey?"
__ADS_1
Entah kenapa, malam itu suara Chania terdengar begitu merdu di telinga Jia dan Xiaoli. Bagai hembusan angin saat Matahari terik, dan mereka berdua sedang berada di bawah pohon yang rindang.
Menyejukkan!
"Kasian kalau malam ini kembali mengantar Jia sampai jam 12 malam... Dia belum istirahat sejak kalian pulang dari pertempuran semalam.
Ya, suara Chania semakin terdengar merdu di telinga dua pemuda itu. Bahkan seulas senyum tipis terbit secara samar di bibir sang Nona Muda, karena merasa mendapat satu kesempatan lagi. Kesempatan untuk nama Xiaoli yang di sebut oleh sang Ayah.
Menarik nafas panjang, dan membenarkan argumen sang istri. Akhirnya Michael memberi kode agar Noel kembali duduk. Kemudian ia menatap satu bodyguard utama yang sedang ada di depannya. Dan sorot mata berhenti pada Andreas yang semalam tak ikut dalam pasukan pertempuran.
"Andreas!!" seru Michael.
Dan pemilik nama tentu saja langsung sigap berdiri untuk menjalankan perintah. Dan itu membuat hati Nona Muda kembali layu dan tak bersemangat. Bagai kalah dalam suatu kompetisi pertandingan yang dulu sering i ikuti selama di kuil.
"Isi Glock ku!" ucap Michael melempar senjatanya kepada Andreas yang sigap menangkap.
Andreas berfikir bahwa ia yang akan di perintahkan untuk mengantar sang Nona Muda. Tapi ternyata di minta untuk mengisi peluru pada Glock Tuan besar. Tentu saja itu tugas yang jauh lebih ringan.
Begitu juga yang ada di dalam pikiran yang lain. Termasuk Jia sendiri.
"Siap, Tuan!" jawab Andreas tanpa perlawanan sedikitpun, tentu saja!
DEEEERRRRRR!!
Satu kalimat yang sangat di nantikan oleh dua anak muda beda usia itu.
"Siap, Tuan!" Xiaoli sigap berdiri dan memasang wajah serius. Menutupi rasa senang yang membuncah di dalam dada. Ia memang cukup pintar menutupi ekspresi yang sesungguhnya. Kemudian ia pun keluar dari jajaran bodyguard dan berdiri di dekat sofa.
"Ingat! jaga putri ku dengan baik! lecet sedikit saja, aku patahkan lehermu! Dan jangan ulangi kesalahan yang sama!" tegas Michael dalam memberi peringatan.
"Saya akan menjaga Nona Muda dengan nyawa saya, Tuan!" jawab Xiaoli dengan sangat tegas dan tulus.
Selain ada senyum yang tersembunyi di dalam hati Xiaoli, juga ada senyuman lain yang tersimpan di dalam dada gadis menjelang 19 tahun.
"Apa kamu butuh dua bodyguard, Jia?" tanya Michael pada sang putri.
"Tidak perlu, Daddy!" jawab Jia cepat dan sigap tentunya. "Bukankah Xiaoli sudah akan menjaga ku dengan nyawanya?" ucap Jia. "Lagi pula kalau hanya untuk menghabisi penjahat Jia juga bisa!"
__ADS_1
"Baiklah! pergilah sekarang!" perintah Michael. "Jangan pulang lewat dari jam 12 malam!"
"Siap, Tuan!" Xiaoli mengangguk hormat, sebelum membalikkan badannya.
Jia pun tak lagi bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Namun Xiaoli hanya membalas dengan senyuman hormat.
Ya, dia memang harus pandai bersandiwara untuk saat ini.
"Silahkan, Nona..." ucap Xiaoli meminta untuk sang Nona Cantik melangkah keluar rumah terlebih dahulu.
"Ya..." jawab Jia dengan senyum ceria.
"Bye, Daddy! Bye Mommy!" pamit Jia mencium pipi sang Ibu.
"Ya... Sayang! hati - hati." jawab Chania.
"Yes, Mommy!"
"Xiaoli jaga putri kami!" ucap Chania pada Xiaoli.
"Siap, Nyonya Besar!' jawab Xiaoli mengangguk hormat.
' Tanpa di ingatkan juga pasti akan saya jaga dengan sangat baik, Nyonya! '
Ah.. debaran semakin terasa saat Jia melangkah di depan, dan Xiaoli di belakangnya. Untuk kedua kali mereka akan pergi berdua.
Bedanya, dulu untuk belajar mobil yang berujung dengan sebuah tragedi. Saat ini ia pergi berdua untuk menghadiri pesta. Tentu keduanya kali ini ingin menciptakan suasana yang baru.
Xiaoli membuka pintu belakang mobil untuk Jia. Mobil CRV milik sang Mommy akan menjadi tunggangannya malam ini.
"Tidak boleh duduk di depan dengan mu?" tanya lirih Jia saat sudah berada di antara body mobil dan pintu yang terbuka.
"Nanti saat sudah keluar dari perumahan Nona..." jawab Xiaoli dengan ekspresi umumnya para bodyguard ketika berbicara dengan penghuni istana Michael.
Jia mengangkat kedua alisnya, sambil mengulum senyuman, agar tidak terlihat jika ia sedang sangat senang hari itu. Kemudian ia masuk ke dalam mobil sang Ibu. Dan Xiaoli pun menutup dengan pelan pintunya.
Berdua di dalam mobil, apa kira - kira yang akan di bicarakan atau pun yang di lakukan oleh dua anak muda itu?
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...