
Hari kembali berlalu... Tiga hari sudah Jio masih dalam rasa pilu yang teramat dalam. Namun dia tidak di ciptakan untuk menjadi lemah. Ia adalah seorang putra mahkota keluarga Xavier, penguasa tertinggi di dalam Klan Black Hold. Maka tidak ada hari untuk berdiam diri dalam kamar, dalam keadaan meratapi nasibnya yang di lupakan oleh sang kekasih.
Dengan mengenakan celana jeans dan kemeja berwarna biru tua, sang pemuda melangkahkan kakinya memasuki gedung perusahaan terbesar di Italia.
Sebuah perusahaan besar yang mencatut berbagai perusahaan ternama dalam satu payung besar. Mulai dari Zero Company, Sebastian Company, sampai level tertinggi Sebastian Corporation.
Dan semua itu di miliki oleh satu orang yang sama, yaitu Michael Xavier Sebastian. Satu-satunya penerus dari Frederick Sebastian.
Dengan segala kekuasaan yang di miliki sang Ayah, tentu membuat Jio sang putra mahkota ikut pusing jika sedang ada masalah di kantor. Dan jika memang ada hal penting yang harus ia hadiri, maka kapanpun di butuhkan Jio akan datang bagai kecepatan cahaya kiat yang menyambar Bumi.
Pagi itu, sekitar pukul 9 pagi, dengan mata kurang tidurnya, Jio memasuki gedung yang kelak menjadikan dirinya sebagai penguasa tertinggi di dalam. Langkah kakinya sudah biasa mencuri perhatian setiap para pegawai.
Siapa yang tak mengenal sosok putra mahkota? Tidak ada! semua tau dan semua mengenalnya, juga ingin mengenalnya jika memang memiliki kesempatan itu. Terutama para gadis muda yang berhasil masuk ke dalam perusahaan itu.
Membawa tas ransel hitam berisi laptop kerjanya, Jio melangkah tanpa melihat sekitar. Ia hanya terus melangkah, dan mengangguk jika ada yang menyapanya. Meski tak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa mendengar suara Jio. Hingga kakinya berhenti tepat di depan lift khusus untuk para petinggi.
"Selamat pagi, Tuan Muda...." sapa seseorang dari sisi kanan Jio yang berdiri di depan lift khusus karyawan biasa.
"Hm..." balas Jio datar, sangat datar.
Sang Tuan Muda masih dalam mode badmood. Karena sejak hari di mana sang kekasih menjalani pengobatan, ia belum juga di perbolehkan untuk bertemu. Karena sang gadis akan selalu marah jika di ingatkan tentang dirinya.
Memasuki lift tanpa melihat siapa yang menyapanya. Dan tak ingin tau pula siapa dia, meski dari suara terdengar sangat lembut dan masih segar. Alias suara gadis muda.
Memasuki ruang kerja sang Daddy, Jio duduk menghadap sang Ayah yang sudah menunggunya. Bukan hanya sang Ayah, tapi di dalam ruangan itu juga ada Jack, Dimitri dan juga beberapa petinggi perusahaan yang lain.
Selain Jio dan sang Ayah, semua duduk di sofa yang ada di ruang kerja sang Daddy. Dan Jio menyapa mereka semua hanya dengan tatapan dan senyuman datar.
"Ada apa Daddy memanggilku?" tanya Jio mengeluarkan laptop kerja miliknya yang sudah pasti sangat ia butuhkan setiap memasuki gedung megah menjulang itu.
Tanpa bertanya lagi, atau melihat sekitar, Jio langsung menyalakan laptop kerjanya. Guna memastikan segala bentuk pengaman sistem perusahaan yang ia jaga ketat selalu aman.
"Ada yang ingin Daddy sampaikan kepada kamu, juga kepada kalian semua." ucap Michael dengan lantang dan tegas, menoleh pada jajaran petinggi perusahaan.
Sontak semua menoleh dan memperhatikan sang Naga hitam yang sudah berusia setengah abad lebih sedikit itu. Kecuali Jio yang masih sibuk menyalakan laptop dan mengaktifkan benda pintar yang ada di saku celananya. Setelah menyala, hal pertama yang ia cek terlebih dahulu adalah email yang masuk untuknya.
__ADS_1
Satu email yang masuk, sungguh menarik perhatian Jio. Hingga ia tak menghiraukan apa yang sedang di bicarakan oleh sang Ayah. Meski begitu telinganya tak pernah melewatkan satu katapun yang di ucap oleh sang Ayah.
"Daddy yakin!" hentak Jio setelah membaca email yang berasal dari email pribadi sang Ayah.
Bersamaan dengan Jio yang tiba-tiba menghentak dengan menatap layar laptopnya, bertepatan dengan Michael yang selesai berucap....
"Aku memutuskan untuk turun dari tahta yang sedang aku duduki di perusahaan ini. Dan putra sulungku yang akan menggantikan segala sesuatu yang berhubungan dengan aku. Aku percaya putra ku akan menjadi pemimpin yang terhebat. Tak kalah hebat dariku!"
Dan saat sang pemilik perusahaan berhenti berucap, saat itulah Jio menghentak dengan pertanyaan yang memang langsung menyambung pada kalimat sang Ayah.
"Tentu saja Daddy yakin!" jawab sang ketua klan, ketika mendengar hentakan putranya. "Daddy yakin, kamu pasti bisa menjaga perusahaan ini untuk tetap stabil, dan semakin melebarkan sayap di kancah Eropa.
"Tapi Jio masih terlalu muda, Daddy!" jawab Jio menatap layar yang menunjukkan sebuah surat pernyataan yang di buat oleh sang Daddy.
Surat pernyataan resmi, jika namanya, Georgio Xavier Sebastian akan segera naik menjadi CEO utama Sebastian Corporation. Sedang Michael sendiri memilih untuk pensiun dini dan memilih untuk tinggal di rumah bersama sang istri. Meletakkan semua urusan perusahaan pada sang putra mahkota.
"Daddy akan tetap mendampingi mu, Jio!" sahut Michael menatap lekat dan yakin sang putra. "Bedanya Daddy akan lebih sering di rumah, dan kamu akan menempati ruangan ini." lanjut sang Mafia memberi penjelasan.
"Tapi, Daddy...." Jio menatap lekat sang Ayah yang justru menatapnya dengan yakin. Membuat bibir yang hendak melayangkan pernyataan, hanya bisa terbuka kecil tanpa ada suara lagi yang keluar dari sana.
"Jack kini akan menjadi Asisten pribadi mu, Jio! Dia akan terus mendampingi mu mengurusi perusahaan ini sampai beberapa tahun ke depan." sahut sang Mafia menoleh Jack yang dengan sigap mengangguk hormat pada Jio.
Menghela nafas berat, Jio benar-benar tidak bisa menolak apa yang mendadak di embankan kepada dirinya. Menjelang 19 tahun usia, di saat diri baru memasuki tingkat perkuliahan, tapi sudah di berikan kepercayaan sedemikian besar.
Jio sangat paham dengan sang Ayah. Sang Mafia tidak akan pernah menarik kalimat yang sudah ia ucapkan. Apalagi mengulur waktu.
Menghempaskan punggung pada sandaran kursi, Jio menatap satu-persatu orang-orang yang mulai saat ini akan tunduk padanya. Karena sang Mafia memilih untuk lengser dari jabatan.
***
Malam telah tiba... meninggalkan Jio yang kini mengemban tanggung jawab yang baru, ada Jia yang tengah berada di kamarnya. Menghadap meja belajar, guna mengerjakan tugas kuliahnya.
Sudah dua jam lebih ia meninggalkan ponselnya untuk berdiam di atas meja nakas. Bosan mulai melanda sang Nona Muda. Maka ia beranjak dan meraih benda pintar itu untuk di bawa rebahan di atas tempat tidur.
Berharap ada notifikasi sunyi yang masuk ke ponselnya, namun ternyata nihil. Tidak ada pesan dari sang kekasih. Terakhir keduanya berkomunikasi adalah sore tadi. Sebelum sang kekasih selesai bertugas.
__ADS_1
"Sedang apa dia, ya..." gumam sang Nona Muda sembari melihat profile picture sang kekasih.
"Tidak ada yang bisa di nikmati dari profil picture mu, Amore!" gerutu Jia. Karena Profil Picture sang kekasih adalah lambang Klan yang dimiliki oleh sang Ayah.
"Harusnya pajang foto kamu yang tampan!" ucap Jia tersenyum dan cekikikan sendiri.
"Atau foto kita!" lanjutnya semakin terbahak.
"Siapa yang berani memajang foto dengan ku, selain teman-teman di kampus!" ujarnya mengedikkan bahu.
Bosan melihat sisa-sisa chat yang selalu memberi debaran tersendiri, Jia beralih untuk keluar dari kamar, dan bersantai di balkon. Menikmati sinar lampu malam, dan taburan bintang di langit.
Dan jika boleh, tentu ia berharap jika bisa melihat sang kekasih yang mungkin sedang melintas di bawah sana. Meskipun sang kekasih sudah dalam waktu bebas tugas.
"Kita bebas berharap, bukan?" gumam Jia menggeser salah satu pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon.
Berdiri di balkon, menatap taman, juga pagar besi yang jauh di depan sana. Merasai hawa dingin yang mulai merebak menembus kulit ari.
Di saat ia merasakan hawa dingin malam, Jia berulang kali memperhatikan beberapa bodyguard melintas. Tentu ia berharap jika salah satunya adalah sang kekasih. Namun semua itu hanyalah harapan yang sulit terwujud.
Dan yang menarik perhatian Jia adalah, ketika ia mencoba untuk menajamkan pendengarannya. Dan yang ia dengar adalah sang penjaga menyebut nama Xiaoli. Jantung Jia terhentak ketika seseorang menyebut nama yang beberapa waktu terakhir menguasai hati dan pikirannya itu.
Kemudian satu kata yang membuat Jia mengerutkan keningnya...
"Pesta?" gumam Jia lirih.
"Apa maksudnya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Xiaoli menghadiri pesta?" gumamnya menyimpulkan. "Pesta siapa?" gumamnya sangat penasaran.
Maka cepat-cepat ia kembali ke kamar dan menyambar ponselnya. Nama sang kekasih segera ia tekan untuk melakukan panggilan. Namun yang ia dapat adalah tanda jika sang kekasih tidak dapat menerima panggilan itu.
Namun kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.
✉️ "Maaf, Bao Bao... aku tidak bisa menerima panggilan. Aku sedang bersama teman-teman bodyguard yang lain."
__ADS_1
"Benar, dia sedang ke pesta?" tanyanya dengan mata terbelalak.
...🪴 Bersambung ... 🪴...