SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 267


__ADS_3

Berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk. Jia terus saja menatap layar ponsel nya. Sesekali ia membuka aplikasi pesan chat yang ia gunakan. Mengecek pesan yang ia kirim pada sang kekasih. Sudah di baca kah? atau belum?


Tak bosan-bosan sang gadis berulang kali keluar masuk aplikasi hanya untuk melihat perubahan warna pada dua centang yang sudah terkirim untuk Xiaoli Chen yang ia beri nama Amore. Namun sampai terakhir ia melihat jam setengah satu malam, centang abu-abu itu tak kunjung  berubah menjadi biru.


Saat sang gadis berniat untuk tidur saja, dan kembali membuka pesan esok hari, tiba-tiba sebuah notifikasi terdengar dari ponsel yang ia letakkan di meja nakas sebelum mematikan lampu tidur yang menempel di atas meja nakas tadi.


Mata yang sudah ia pejamkan dengan tubuh yang sudah di balut selimut tebal akhirnya kembali tersadar dengan sempurna. Karena sangat berharap jika itu adalah pesan balasan dari sang kekasih.


Lampu tidur yang sudah mati ia nyalakan kembali. Dan dengan gerakan cepat, ia sambar ponsel dengan tiga mata di bagian belakang itu. Cepat-cepat ia menyalakan layar nya. Dan nama yang sangat ia tunggu benar-benar muncul di layar itu.


Rasa ngantuk yang sempat mendera, lenyap dalam seketika. Walau sangat mengantuk pun pasti ia akan menahan setengah mati. Karena percakapan kali ini adalah percakapan yang sangat ia tunggu.


Dan ketika muncul nama Amore di barisan teratas, maka senyum cerah langsung terukir di bibir manis sang Nona Muda. Rasa kantuk di pelupuk mata seketika lenyap tak tertinggal.


Dengan cepat ia balas, dan memberi tahu jika ia belum tidur. Padahal sudah dalam persiapan untuk memejamkan matanya.


Percakapan pun terus berlanjut, hingga akhirnya sebuah pesan ambigu membuat Jia mengerutkan keningnya. Ia hampir menyerah, dan kembali meletakkan ponsel setelah menunggu beberapa saat tidak ada balasan.


Namun sesuatu terlihat di luar jendela. Tepat di teras balkon kamarnya, yang membuat Jia terkesiap dengan pergerakan yang aneh itu.


Sebagai petarung terlatih yang harus waspada di setiap detik ia merasa ada bahanya, sigap ia mengeluarkan desert eagle dari laci nakas dengan cara yang sangat senyap.


Bayangan yang bergerak di balkon, terlihat melalui tirai gorden bagian bawah yang tak benar-benar menyentuh lantai. Gerakan itu bergerak ke arah kiri, dan Nona Muda tidak sedikit pun melepas pandang dari bayangan itu.


Dengan gerakan senyap pula, ia keluar dari selimut tebal, dan bergerak tanpa suara mendekati tirai jendela berwarna kuning lemon itu.


Kamar Nona muda yang saat ini di desain dengan perpaduan warna ivory, kuning lemon, dan orange muda itu terlihat cukup unik memang. Seperti bukan karakter dirinya yang merupakan seorang gadis petarung. Tapi itu adalah pilihannya sendiri.


' Padahal rumah ini di lindungi banyak sekali penjaga, bagaimana bisa ada sesuatu yang muncul di balkon kamar ku tanpa satu orang pun tau? '


Batin Jia bergemuruh. Gadis itu sudah berdiri di balik jendela, tepat di bagian tengah, guna mengintip apa atau siapa yang ada di luar sana. Sebelum ia membuka tirai, ia gunakan keahliannya dalam mendeteksi suara, namun tak terdengar apapun di luar sana. Bahkan bayangan itu pun tak lagi terlihat dari bawah tirai.


Jia menahan nafas, sebelum memutuskan untuk membuka tirai. Desert eagle sudah berada di tangan kanannya. Jika bahaya maka dengan sigap peluru itu akan menembus apapun yang mengganggunya. Ia buka kuncian pistol itu menggunakan tangan kiri. Kemudian tangan kiri itu beralih membuka sedikit tirai.

__ADS_1


Tak nampak apapun di luar sana. Hanya kursi kosong yang biasa ia gunakan duduk saja. Namun feeling tidak hanya sekedar feeling semata. Ia membuka tirai lebih lebar, namun tetap tak terlihat siapapun juga.


"Ada yang ingin mencari masalah dengan keluarga Xavier, kah?" gumamnya tersenyum miring.


Pelan-pelan ia buka kunci pintu, kemudian menggeser satu pintu ke kiri dengan pelan. Tidak ada apapun yang terlihat, juga tidak ada apapun yang bergerak untuk menanggapi gerakan pintu yang ia buka. Maka satu pintu pun akhirnya Jia buka dengan lebar guna tubuhnya keluar.


Namun sebelum tubuhnya melewati kusen pintu, tentu saja pistol itu ia arahkan ke depan. Mengongkang senjata demi keamanan dirinya. Dan lagi-lagi tidak ada siapapun yang sedang berada di balkonnya.


"Lantas bayangan apa tadi?" gumamnya lirih.


Melihat kanan kiri dan tak ada apapun juga siapapun. Di bawah meja maupun kursi pun tidak ada apa-apa. Jia melangkah maju dengan sangat hati-hati. Dari posisinya saat ini, ia bisa mendengar suara-suara kecil penjaga yang sedang berpatroli.


"Ada penjaga, harusnya man..." gumamnya lagi.


Jia semakin maju, hingga sampai pada pagar balkon. Melihat ke bawah, di bawah sana ada dua penjaga yang sedang berjalan dari arah belakang rumah menuju halaman depan dengan membawa senjata di tangan masing-masing.


"Apa mungkin hanya perasaan ku saja?" gumam Jia.


Desert eagle di tangannya kembali di kunci, dan ia turunkan di samping dada.


"Aman-aman saja...." gumamnya merasa lebih tenang.


Jia pun membalikkan badan dan hendak kembali masuk ke kamarnya. Langah nya terlihat lebih tenang dari sebelumnya, melihat ke arah dalam, di mana hanya dua lampu tidur yang menempel di dinding saja yang menyala.


Kembali menggeser pintu yang tadi ia buka dan menguncinya rapat. Kemudian menggeser tirai gordennya untuk memutus pandangan dari luar dan dalam.


Bluph!


Bersamaan dengan Jia menutup rapat gorden, tiba-tiba saja satu tangan menutup mulutnya dengan sangat kuat dari belakang. Kemudian di susul dengan satu tangan lagi mengunci tangan kiri dan perutnya.


"Emm..emm..em.." Jia meronta ingin melepaskan diri. Serangan mendadak di tempat yang menurutnya sangat aman itu membuat Jia kewalahan sendiri.


Sebagai gadis petarung, cepat ia bereaksi dengan menyiku ulu hati penyerangnya menggunakan siku tangan kanannya. Namun sial, penyusup yang entah sejak kapan memasuki kamarnya itu bukan sembarang penyusup. Ia bisa mengantisipasi dengan sangat baik hingga membuat Jia harus berfikir cepat untuk menemukan solusinya.

__ADS_1


Dan dengan gerakan cepat, kakinya menginjak kaki si penyusup. Namun lagi-lagi Jia gagal. Seolah hal itu sudah di antisipasi sebelumnya.


Jia hendak mengeluarkan jurus penyelamatan akhir, ia kerahkan seluruh kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Ia yakin jika dirinya tidaklah gadis selemah... Virginia.


Belum sempat itu terwujud, penyusup itu menarik tubuhnya ke belakang dan membalikkan tubuh Jia, hingga keduanya berhadapan.


"Ssstt!"


' Suara itu, gestur ini... oh my God! '


Pekik Jia dalam hati menatap tubuh laki-laki dengan pakaian serba hitam yang menunduk menatapnya lekat.


"Xiaoli!" pekik Jia menatap tak percaya pada wajah yang selalu terlihat tampan meski cahaya kamar sedang remang-remang saja.


"Ssstt!" lagi-lagi penyusup yang tak lain adalah Xiaoli Chen itu meletakkan satu jarinya di depan bibir. Meminta sang kekasih untuk diam agar tidak berisik.


Jia langsung paham, ia harus mengurangi volume bicaranya, supaya tetap aman tanpa satu orang pun dari lantai dua mendengar obrolan mereka. Mengingat para penghuni lantai dua adalah merkea dengan pemilik pendengaran sensitif.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamar ku? kamu lewat mana?" lirih Jia bertanya dengan menahan rasa gemas. Ia sungguh sudah tahan. Ingin rasanya ia melompat dan memeluk sang kekasih saat  ini juga.


"Pembunuh senyap seperti ku tidak perlu di ketahui dari mana dan kapan datangnya, Bao Bao..." jawab Xiaoli tersenyum tipis menatap lekat sang kekasih yang hanya berbalut setelan baju tidur berbahan polyester. Celana pendek setengah paha, dan kaos longgar dengan lengan di atas siku.


tersenyum senang, sangat senang... "Aku pikir kamu tadi mau pergi kemana!" seru Jia lirih sembari melompat merangkul leher sang lelaki.


Tau Jia melompat untuk memeluk dirinya yang memiliki tinggi lebih dari Jia, Xiaoli langsung menangkap bokong sang kekasih yang memang benar melingkarkan kaki jenjangnya pada pinggang Xiaoli. Dan dengan penuh rasa bahagia Jia mengecup bibir sang kekasih dengan bergelayut manja di dalam tubuh tinggi tegap Xiaoli Chen.


Sepasang kekasih, untuk pertama akali hanya berdua di dalam kamar, beradu pandang dengan posisi yang sangat menghanyutkan siapa saja yang sedang berada di posisi semacam itu. Bagi Xiaoli tubuh Jia sama sekali tidak berat. Bahkan seperti saat ia menggendong sang adik saja.


Satu yang membedakan, tangan kekarnya untuk pertama kali menyentuh salah satu bagian yang tidak semua orang bisa menyentuhnya...


Tangan putih mulus Jia melingkar erat di leher sang kekasih. Seolah tak ingin pemilik leher itu menghilang ataupun menjauh.


Dua pasang mata saling beradu dalam tatap. Dan sama-sama hanyut dalam manisnya perasaan cinta yang dalam dan nyata.

__ADS_1


"Happy Birthday..." ucap Jia menatap lekat wajah tampan Xiaoli dari jarak hidung yang tak lebih dari 5 cm saja.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2