SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 114


__ADS_3

Mengeluarkan senjata berupa pistol yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jaket kulit yang ia kenakan. Deborah menghunuskan pistol berjenis Glock 17 itu ke arah Chania. Lebih tepatnya, ia menjadikan perut besar Chania sebagai sasaran utama yang akan ia tembak.


Namun sayang, ternyata Michael jauh lebih gesit. Ia melihat, saat tangan Deborah menyusup ke dalam jaket. Dan ia juga dapat mengira, kemana moncong pistolnya akan di arahkan.


Sehingga calon Daddy itupun sudah sigap berdiri di hadapan istrinya sebagai pelindung. Dan tentu saja dengan pistol yang sama di tangan kanannya. Dengan moncong yang mengarah pada kepala Oliver.


Ya, gadis itu sebagai balasan ancaman untuk Michael membalas.


"Apa harus aku yang melubangi kepala putrimu?" tanya Michael sinis. Senyum culas terbit dari bibir tipis Sang Mafia.


Bukan hanya Michael. Tapi entah sejak akpan, para bodyguard dari dua kubu juga ikut menodongkan senjata. Bahkan Frederick sendiri sigap melindungi sang istri dan ia juga menodongkan senjata ke arah Deborah.


Aksi saling todong senjata yang menegangkan terjadi di dalam ruangan itu. Sama - sama melindungi orang - orang yang mereka cintai. Juga orang - orang harus mereka jaga.


Satu letusan saja yang terdengar, bisa di pastikan akan memicu letusan - letusan selanjutnya. Entah dari kubu mana yang akan mengawali, dan dari kubu mana yang akan menjadi pembalas.


Deborah memicingkan matanya, sepertinya ia belum tertarik untuk menyerah.


"Hentikan!" teriak Madalena mencoba mengakhiri suasana menegangkan yang tercipta.


Namun sayang, tak ada satupun dari mereka yang mengindahkan teriakan Madalena. Todongan senjata masih pada posisi awal, tanpa bergeser sedikitpun.


Merasa tidak di gubris, Madalena berfikir ulang. Mencari cara lain untuk bisa menghentikan semua ini.


"Supaya adil, bagaimana jika aku dan Deborah saja yang mati. Jadi kita semua impas! Dan akhiri kekacauan yang sudah terjadi bertahun - tahun ini!" ucap Madalena kali ini berhasil mengundang seluruh pasang mata untuk menoleh padanya.


Pihak Madalena tentu tidak terima dengan kalimat yang di ucapkan Nyonya besar Sebastian.


Tidak terkecuali Deborah. Mendengar namanya di sebut sebagai sasaran tembak, tentu saja membuat dirinya tidak terima. Bukan kematian yang ia inginkan. Tapi membalas pengkhianatan Michael dan Papanya kemudian merebut seluruh harta peninggalan Smith Arlington.


"Hah! kau pikir aku mau mati bersama mu, Madalena!" ucap Deborah. Kali ini ia sudah menatap Madalena dengan benci. Namun moncong pistol masih mengarah pada Chania. "Kau saja yang mati!" lanjutnya.


DORR!


Satu letusan terdengar begitu menggema di dalam ruangan. Namun ternyata letusan yang berasal dari senjata di tangan Deborah kali ini tak membuat letusan susulan dari pihak Michael dan Frederick.


Bagaimana tidak, moncong senjata yang semua mengarah ke perut Chania, hanya dalam sepersekian detik sudah mengarah ke arah Madalena yang masih duduk di sofa. Dengan satu tarikan, peluru melesak keluar dari sarangnya.


Namun sungguh sayang, peluru itu tidak mengenai sasaran yang ia inginkan. Melainkan melesak ke dalam perut seorang gadis.

__ADS_1


Pistol yang baru saja meluncurkan pelurunya itupun jatuh menimpa lantai marmer dari tangan gemetar. Melihat darah segar mengalir dari perut putrinya, membuat tubuhnya membeku untuk beberapa saat.


"Oliver...." lirihnya tak percaya. "Tidak Oliver!" gumamnya lagi. Ia angkat kedua tangan. Menatapnya dengan sangat menyedihkan. Tangan seorang ibu yang memasukkan peluru ke dalam perut putrinya sendiri dengan cara paling menyakitkan. Tanpa terasa air mata menetes dari pelupuk matanya.


Di sisi lain, Chania dan Sania sudah kompak menghambur pada Oliver yang terkulai menahan sakit di perutnya.


"Cepat angkat dia!" perintah Chania pada Royce. Bodyguard kepercayaan Deborah.


Tanpa menjawab, Royce segera menyarungkan kembali senjata yang sempat ia todongkan ke arah Michael. Dan langsung mengangkat tubuh Nona mudanya. Membawanya lari keluar untuk segera di bawa ke rumah sakit.


Chania mengajak sang suami juga saudara kembarnya untuk mengikuti Oliver yang berada di gendongan Royce. Tanpa sadar semua senjata sudah turun dengan sendirinya.


Sedangkan Deborah, wanita itu masih terpaku dengan nafas tersengal. Ingin berjalan tapi tak sanggup. Kaki mendadak lemas seperti tak bertulang. Kesadaran entah hilang kemana.


Ia merasa begitu berdosa. Wanita kejam itu memang tak mengenal ampun. Tapi untuk kedua putrinya, ia rela melakukan apapun.


Dan kini, tangannya sendirilah yang melesatkan peluru ke dalam perut putri pertamanya.


"Putrimu saja masih memiliki jiwa yang baik, Deborah!" ucap Frederick. "Harusnya kau malu! Apa kau tidak ingat, jika Selena dulu juga sangat lembut. Bahkan lebih tulus dari Oliver."


Deborah bergeming. Wanita itu masih begitu syok dengan apa yang baru saja terjadi.


Namun Frederick yang merasa Deborah belum sepenuhnya baik, menarik lengan istrinya untuk tidak terlalu dekat dengan Deborah.


"Kita pulang.." lirih Frederick pada istrinya.


"Iya.." jawab Madalena mengikuti apapun kehendak istrinya.


"Tuan, tanda tangan serah terima harta warisan akan di lakukan setelah Nona Oliver sembuh!" sahut Roy sebelum langkah kaki Frederick terdengar.


"Ya, atur saja dengan dia!" Frederick menunjuk pengacara dari pihaknya. Agar lebih mudah dalam berkomunikasi.


"Siap, Tuan!"


***


Brankar pasien di dorong dengan cara berlari oleh beberapa perawat pria dan wanita. Tampak mereka begitu tergesa - gesa.


Di brankar itu, Oliver terbaring dengan mata terpejam. Perutnya terus mengucurkan darah segar. Setiap menit yang berlalu, semakin menambah pucat wajahnya.

__ADS_1


Di belakang brankar, ada Michael, Chania, Sania, juga Jack dan Royce yang terus mengekor majikannya. Sebisa mungkin memberikan perlindungan dalam setiap bahaya yang mengancam tuannya.


Semua yang mengekor berhenti saat sampai di depan pintu ruang Operasi. Hanya pasien dan tenaga medis saja yang boleh masuk.


Semua yang ada di depan ruang operasi hanya bisa diam dan berdo'a. Mereka tampak harap - harap cemas. Melihat Oliver yang sudah banyak kehilangan banyak darah. Mereka menjadi khawatir. Takut jika nyawa gadis itu tak terselamatkan. Mengingat Michael sempat mencari denyut nadinya dan terasa sangat lemah.


Beberapa menit kemudian....


Clekk!


"Pasien membutuhkan golongan darah A+, sedang rumah sakit kehabisan stok! apakah..."


"Ambil darah saya, Sus!" suara merdu dari salah satu orang yang menunggu. Bahkan memotong kalimat suster yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.


"Apa hubungan anda dengan pasien?"


"Kami saudara!" jawab Sania.


Suster itu sempat melirik Sania dan Chania bergantian. Tampak sangat mirip. Karena Sania yang terlihat tidak hamil, sangat pantas jika Sania yang menawarkan diri.


"Cepat lakukan tugasmu! untuk apa kau mengamati kami semua!" sembur Michael pada suster ya g seketika mengalihkan pandangan saat melihat wajah seram Michael.


"Silahkan masuk, Nona!" ucap Suster itu.


Sania menoleh Chania sekilas. Sorot matanya menunjukkan mohon untuk di beri dukungan agar semua baik - baik saja.


Chania mengangguk. Menyempatkan tangannya untuk mengusap lengan Sania yang mulai berjalan maju. Memasuki ruang Operasi untuk mengeluarkan peluru.


***


Dalam keadaan membeku, wanita paruh baya itu duduk di jok limousine. Tubuhnya diam, namun air mata tak henti menetes dari pelupuk matanya.


Bagaimana tidak, kedua putrinya kini terbaring di rumah sakit yang sama. Dalam keadaan yang berbeda.


Selena dengan penyakitnya. Oliver dengan peluru yang di lesatkan oleh ibu kandungnya sendiri.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2