SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 137


__ADS_3

Beberapa menit setelah Sania menghilang dari lorong, suara teriakan meminta tolong mengaung dari sana. Membuat semua berhamburan ke arah lorong.


Mendengar suara kekasihnya meminta tolong, membuat Reno segera berlari secepat kilat memasuki lorong. Di ikuti oleh Jack di belakangnya.


Sebagai pengawal keluarga Xavier, sudah kewajibannya untuk mengetahui keselamatan keluarga bosnya.


Michael dan Chania pun akhirnya iku memasuki lorong, bersamaan dengan scurity hotel yang sedang bertugas.


"Toloong!"


"Apa yang terjadi, Sayang!" seru Reno memasuki toilet wanita.


Sebagai seorang pria yang panik akan teriakan tolong kekasihnya, tentu ia tidak akan peduli dengan tanda toilet wanita. Dimana pria di larang masuk. Menurutnya ini adalah kondisi darurat.


Dan Jack pun melakukan hal serupa.


"Gia!" ucap Sania terengah.


"Dimana?"


"Aku yakin dia ada di dalam, tadi dia sempat meminta tolong dengan suara sangat pelan! Tapi pintu ini tidak bisa di buka sama sekali. Dan kemudian suara Gia menghilang!"


"Apa!" pekik Chania yang sudah berada di belakang Reno dan Jack.


"Kita dobrak saja!" seru scurity.


Tak butuh perintah, Jack yang menyadari dirinya sebagai tangan kanan bosnya segera mendobrak pintu toilet berbahan alumunium itu. Tanpa mengandalkan scurity yang tenaganya pasti jauh di bawah dirinya yang sudah terbiasa terjun langsung ke medan perang.


Braakk! Brakk!


Dua kali dobrakan dari lengan sang bodyguard, pintu toilet berhasil di buka. Semua yang berhasil masuk ke dalam toilet di buat menganga tak percaya.


Chania dan Sania menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan. Chania bahkan hampir ambruk, untung saja Michael sigap menangkap tubuhnya.


"Giaa..." lirihnya.


"Bawa ke rumah sakit, Jack!" perintah Michael.


Sontak Jack mengangkat tubuh mungil Gia yang sudah lemas, dimana sepasang mata sudah terpejam. Ia membawa tubuh Gia di depan dada. Darah merah bersimbah di gaun putih yang di pakai Gia. Bahkan darah itu kini mengenai jas hitam dan kemeja yang dikenakan oleh Jack.


Jack berlari keluar, menerobos orang - orang yang ingin tau ada apa gerangan. Dan itu membuatnya kini menjadi pusat perhatian. Sampai ia masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh seorang supir suruhan Dimitri, tepat di depan lobby hotel.


Entah, bagaimana bisa tubuh Gia tertusuk pisau. Gadis itu tak sadarkan diri, dengan pisau tergeletak di samping tangannya. Seolah pisau itu baru ia cabut sendiri.


Dengan bukti Sania yang sempat mendengar Gia meminta tolong dengan suara lemah, membuat semua orang yakin jika Gia tidaklah bunuh diri. Melainkan sesuatu yang naas terjadi padanya dengan di sengaja orang lain.


"Selidiki! siapa yang melakukan semua ini!" desis Michael pada Dimitri yang berdiri di sampingnya.


"Siap, Tuan!" jawab Dimitri mengangguk dan segera merogoh ponsel di saku jasnya.


"Kita harus ke rumah sakit, Honey!" pinta Chania dengan wajah masamnya. Perempuan itu merasa tubuhnya lemas dan lentur bagai jelly. Ia tak sedikitpun melepaskan tubuh Michael.


"Iya, Kak!" sahut Sania, ikut memohon pada kakak iparnya.

__ADS_1


"Hem.. Baiklah" jawab Michael menuruti kemauan istrinya.


Dimitri segera memerintahkan pengawal lainnya untuk menyiapkan sebuah mobil yang akan membawa Michael, Chania, Sania dan Reno menyusul Gia yang sudah di bawa ke rumah sakit bersama Jack.


"Gia harus tetap hidup, Honey!"


"Iya, Sayang!" ia kecup dalam puncak kepala istrinya. Memberinya ketenangan.


***


"Ternyata sangat menyenangkan bermain - main dengan mereka!" desis seseorang yang baru saja mendapat laporan betapa paniknya sasarannya.


"Aku tidak akan bertanggung jawab, jika sampai apa yang kau rencanakan justru akan menjadi buah simalakama untuk mu!" ucap pria yang duduk di sebuah kursi singgasana kantornya.


"Oo... anda tidak perlu khawatir, Tuan!" jawab gadis itu tersenyum culas. "Aku sudah memikirkan ini matang - matang sebelum bertindak!"


"Aku tidak menyangka, saat kau bangun dari tidur panjang mu, kau akan menjadi gadis yang jahat!" ucap pria itu. "Padahal setahuku dulu kau sangat lembut, Selena!"


"Hahaha!" gelak tawa terdengar sangat culas. "Aku? lembut?" tanya menatap pria yang baru pertama kali ia temui sejak ia terbangun kembali ke dunia. "Oh.. Tuan Frank!" ucapnya mendayu - dayu. "Sebenarnya aku ini sudah jahat sejak kecil. Aku sudah liar sejak kecil! kalian saja yang tidak mengenali aku! karena aku pandai menyamar!" ucapnya bangga.


"Apa maksudmu?"


"Papa tau? dulu, saat aku masih kisaran 7 atau 8 tahunan, aku berani mengendap masuk ke kamar seorang anak laki - laki. Sangat sering!" ucapnya. "Sampai pada akhirnya, aku tertangkap basah pada suatu malam!"


"Memangnya apa yang kau lakukan di kamarnya?"


"Aku hanya mencuri kecupan di bibirnya!" ucapnya tersenyum menghadap jendela ruangan di lantai 12 itu.


"Apa!" pekik laki - laki yang di sebut sebagai ayah kandung Selena, Frank.


"Mommy tidak menyangka kamu seliar itu, Selen!" seru suara Deborah memasuki ruang kerja Frank. "Ia mendengar jelas cerita putrinya sebelum ia memutuskan untuk masuk.


"Mommy!" pekik Selena. "Bukankah Selena bilang, Mommy tidak perlu datang!" gerutunya.


"Kalau Mommy tidak datang, Mommy tidak akan tau apa yang kamu ceritakan!"


"Huf... Mom... itu adalah kisah terindah Selena!"


"Kalau saat itu Mommy tau, pasti itu sangat memalukan!" sentaknya. "Sama saja dengan kau melempar tubuhmu ke kandang buaya!"


"Memangnya Mommy tau aku masuk kamar siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan kamar Michael!"


"Hahaha! Mommy benar!" ucap Selena berjalan mendekati ibu yang sudah melahirkan dirinya itu. "Aku sangat mencintainya, Mom! aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan pangeran ku kembali!"


"Termasuk dengan kau menyakiti sahabat Chania?" tanya Deborah mengintimidasi.


"Hah! apa maksud Mommy?"


"Jangan kamu pikir Mommy tidak tau apa yang sudah kamu lakukan pada sahabat Chania!"


"Mom... aku tidak mengerti." ucap Selena santai. "Bagaimana aku bisa melakukan apa yang Mommy tuduhkan, kalau sedari pagi aku ada di sini. Berkenalan dengan Tuan Frank!" menunjuk Frank dengan sebuah lirikan penuh arti.

__ADS_1


Deborah menatap putri keduanya sembari menggelengkan kepalanya pelan. Hidupnya tak pernah jauh dari kejahatan. Karena dirinya sendiri juga sebelumnya seorang penjahat. Atau mungkin sampai saat ini ia masih menjadi penjahat?


Entahlah, tak ada yang tau isi hati seseorang. Hanya saja, ia tak menyangka semua putrinya bisa menjadi penjahat dalam satu masa mereka. Namun Oliver mengakhiri kejahatan dengan sebuah perdamaian.


Dan siapa sangka, saat putri keduanya bangun, saat itu juga kejahatan itu kembali tumbuh.


"Kamu bukanlah penguasa, Selena. Kamu bukan kakak mu, Oliver!" ucap Deborah. "Jika Oliver saja pada akhirnya berdamai dengannya, kenapa kamu justru membabi buta? apa yang kamu gunakan untuk melawan mereka?" tanya Deborah mengintimidasi. "Jangan kamu pikir, Mommy tidak tau siapa yang menyuruh dua orang itu untuk menusuk sahabatnya Chania!"


Menghela nafas, "Ya..ya..ya... Selen mengaku! Selena yang menyuruh mereka!"


"Hanya dengan bermodalkan bantuan Frank?"


"Kenapa? Tuan Frank sangat baik! Ia menganggap Selen seperti putrinya sendiri." ucap Selena. "Dan Selen yakin Tuan Frank memang Papa kandung Selena! Kalian sudah berselingkuh puluhan tahun lamanya, bukan?"


"Selen!" sentak Deborah membuat Selena kembali membuang muka. "Frank, sebaiknya jangan turuti kemauan Selena. Kamu jangan terjebak urusan dengan Michael!"


"Sayaang... aku hanya ingin membantu Selena. Dari dulu aku sudah curiga, kalau Selen adalah putriku. Apa kamu tidak melihat warna rambut kami yang sama?"


Deborah menggelengkan kepalanya berat. Saat ini ia hanya memiliki kekuatan diri. Tanpa memiliki kekuatan finansial.


"Kau tau seperti apa keluarga Sebastian, Frank!"


"Aku tau, Sayang..." Frank berdiri mendekati Deborah dan memeluknya. "Selena yakin, semua tidak akan berimbas pada perusahaan ku. Dan lagi ini hanya urusan Selena dan Chania. Aku hanya mengeluarkan sedikit uang saja untuk membayar mereka!"


"Jangan menyepelekan kemauan Selena!"


"I know, Honey... I know..." lirih Frank.


"Jadi... bisakah mulai hari ini aku memanggilmu Daddy, wahai Tuan Frank?" Selena mendekati dua orang dewasa yang ia yakini sebagai orang tua nya.


"Tentu saja, girl!" jawab Frank.


Tersenyum puas, "Daddy ku pasti tau cara memberikan kebahagiaan untuk putrinya!" Selena mengecup pipi Frank. Kemudian mengecup pipi Deborah.


"Ok! berbahagialah kalian, Mommy dan Daddy. Putri cantik kalian ini ingin kembali berpura cacat!" Selena kembali duduk di kursi roda. Membuka pintu, dimana sudah ada seorang perawat sewaan yang membantunya mendorong kursi roda.


Tersenyum tipis, "Biarlah, Sayang.. yang penting dia bahagia!" ucap Frank.


Deborah tidak menjawab sepatah katapun. Ia menatap Frank dengan sejuta gundah.


"Sebentar lagi jam makan siang, Sayang.. Bagaimana kalau aku makan kamu duluan?" goda Frank mulai merabai punggung Deborah. "Bukankah sudah beberapa hari kita tidak saling memberi kehangatan?"


"Nanti malam kita menginap di apartemen!" ucap Deborah.


"Baiklah, aku akan menuruti apapun kemauan kamu!"


"Yakin? bagaimana kalau istrimu mencari?"


"Dia tidak akan pernah mencari ku! Dia bahkan sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur!"


"Apa dia semakin parah?"


"Mungkin!" jawab Frank. "Kalau dia mati, makan kamu akan ku jadikan ratu di istanaku!" ucap Frank mencium bibir Deborah.

__ADS_1


Senyum sinis terbit dari bibir Deborah.


...🪴 Happy reading 🪴...


__ADS_2