
Beberapa anggota keluarga telah berkumpul di salah satu galery kenamaan, yang menjadi kepercayaan pembuatan dress dan jas seluruh anggota keluarga Michael dan Chania. Tentu saja untuk acara pesta pernikahan Sang Mafia.
Sang Maskot, yang tak lain adalah Michael dan Chania telah berdiri di tengah ruangan. Menghadap sebuah cermin berukuran besar. Semua pasang mata tertuju pada mereka.
Chania dengan gaun berwarna biru terang. Perpaduan antara kain tile dengan bertabur mutiara dari atas hingga bawah. Bagian pundak terbuka, hanya ada pita besar yang menutupi sebagian lengan atas, ala - ala gaun biru Cinderella.
Bedanya saat ini tak ada rambut yang di hias ala Cinderella. Rambut pirang kecoklatan Chania yang sempat di buat hitam lurus saat ini tergerai bebas, dengan satu jepit batang berhias mutiara, yang terselip di belakang telinga sebelah kiri.
Di lihat saja sudah bisa di hitung perkiraan harga untuk satu gaun pengantin sang Nyonya Xavier.
Michael berdiri sedikit di belakangnya, dengan memakai tuksedo berwarna senada. sebuah dasi pita dan tak lupa jam tangan rolex melingkar di tangannya. Menatap penuh damba pada cermin yang memantulkan keseluruhan dari sang wanita.
"You're so beautiful..." bisik Michael melingkarkan tangan di pinggang istrinya yang kini perutnya sudah kembali ramping.
"Lihat pipiku, Honey! masih terlihat chubby!"
Ucap Chania mengerucutkan bibirnya, dengan kedua telapak tangan yang menekan pipi kanan dan kiri.
"Itu menggemaskan, Baby..." lirih Michael mengecup puncak kepala istrinya. "Aku tidak sabar memperkenalkan kamu pada dunia!" bisik Michael dengan mesra.
"Dunia hitam mu?" gurau Chania.
"Hahaha!" gelak Michael. "Yaa... begitulah!" Michael memeluk erat tubuh Chania.
"I love you..." ucap Chania menatap dalam dan penuh cinta mata elang sang mafia.
"I love you more..." balas Michael meraih dagu Chania, menolehkan wajah istrinya ke sisi kiri. Untuk kemudian ia berikan sebuah ciuman hangat nan manis.
Sesi fitting baju di lakukan juga oleh Sania dan Oliver yang telah memakai dress dengan warna senada, warna salem berhias taburan mutiara putih. Memastikan gaun mereka juga akan pas saat hari H nanti.
Tak luput pasangan mereka, Reno dan Darrel juga akan memakai setelan jas yang sama, warna abu - abu dengan dalaman kemeja putih, dasi pita berwarna abu - abu pula. Meskipun mereka saat ini tidak hadir, lantaran harus kembali bertugas, dan akan kembali saat hari pesta nanti.
Begitu juga sebuah dress salem yang saat ini masih menggantung. Itu adalah dress yang di siapkan untuk Selena. Namun gadis itu.... entahlah.
Selena menyembunyikan diri dari keramaian. Ia datang atau tidak, tak ada yang bisa memastikan. Bahkan Oliver sekalipun.
"Apa dia sudah bisa berjalan?" tanya Chania pada Oliver yang memakai gaun cantik yang di rancang untuknya.
"Entahlah!" jawab Oliver mengangkat kedua pundaknya. "Setiap aku menjenguknya dia selalu duduk di kursi roda. Seolah enggan untuk belajar berjalan. Tapi Mommy bilang, Selena semangat untuk berlatih."
__ADS_1
Chania menanggapi dengan sebuah anggukan. Ia yakin ada sesuatu yang di rencanakan oleh Selena untuknya. Dari penjelasan Oliver, ia yakin jika Selena mulai tak menganggap Oliver lebih berpihak padanya.
***
Esok adalah pesta pernikahan Michael dan Chania. Merayakan pesta di saat sudah memiliki buah hati rasanya sungguh berbeda. Tapi apalah daya, ini adalah satu - satunya cara memperkenalkan istri Sang Mafia pada dunia.
Bisa saja cukup di perkenalkan, dan mengungkap tanggal pernikahan di catatan sipil.
Tapi itu akan terlihat jika hidup mereka seolah tak ada cinta yang bersemi.
Untuk menghalau kegugupan, Chania meminta sang suami untuk menepati janjinya. Mengajarinya menggunakan senjata.
Berdiri berdua di dalam gedung tembak, dengan posisi Michael menempel di belakang punggung Chania. Tangan merangkul ke depan. Mendampingi jemari lentik memeluk pistol jenis revolver yang di pilih oleh Michael.
Dilihat sekilas saja, mereka sudah terlihat begitu romantis. Apalagi yang melihat berstatus jomblo seperti Jack dan Dimitri yang saat ini hanya bisa berdiri berdua. Menjadi saksi betapa indah sebuah kisah cinta sang Tuan Mafia.
Saling melirik, kemudian tersenyum miris, seolah saling menunjukkan bahwa mereka tidak seberuntung dua orang itu.
"Hahah! aku memang terlalu bodoh, Honey!" gelak Chania saat 5 kali gagal mengenai target. "Sepertinya aku tidak layak menjadi istri Mafia! huh!" mengerucutkan bibir sekilas.
"Tidak ada aturan tertulis untuk menjadi istri Mafia harus bisa menembak, kan?" balas Michael santai.
Michael menghela nafas, mengambil senjata di tangan Chania untuk kembali di isi peluru.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Baby?" tanya Michael menyerahkan kembali pistol pada sang istri.
"Menyembunyikan apa?"
Sembari menggerakkan tangan Chania ke arah depan. Dengan posisi yang masih sama. Namun kali ini telunjuk tangan Michael ikut masuk untuk menarik pelatuk.
"Ulangi! pastikan titik mana yang ingin kamu tembak. Kuatkan tangan, tubuh dan kaki kemudian setelah siap, tarik pelatuknya!"
Alih - alih menjawab, Michael justru mengarahkan Chania untuk kembali berlatih menembak.
"Aku mau menembak kepalanya! seperti kamu yang selalu mengincar kepala mereka!"
Michael tersenyum tipis, rupanya sang istri cukup mengingat hal kecil tentang dirinya.
"Satu.... dua..." bisik Michael.
__ADS_1
Chania menarik nafas dalam, saat mendengar sang suami mulai memberi aba - aba tepat di sebelah kiri kepalanya.
"Tiga!"
Michael menarik pelatuk, di mana sudah ada jari telunjuk Chania di sana. Karena kali ini ada tangan sang Mafia yang mendampingi, maka peluru melesat tanpa bergeser sedikit pun. Dan mendarat tepat di dahi tengah manekin.
"Wow!" seru Chania bergembira. "Semudah itu kamu melakukannya, Honey?"
"Hm.." Michael tersenyum tipis.
Padahal menembak dalam posisi normal seperti itu untuk mencapai tengah dahi musuh bagi Michael sangat mudah untuk di lakukan. Karena bagi Michael, jangankan dalam posisi mengejar musuh, mata terpejam pun ia bisa tau di mana posisi dahi musuh.
"Kamu tidak mungkin mendadak berlatih seperti ini, tanpa satu alasan, bukan?" tanya Michael dari balik tubuh istrinya.
"Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri, saat tak ada kamu, atau pun para bodyguard." jawab Chania menoleh suami tercintanya. "Bisa saja kan kita akan berada dalam keadaan dimana memaksa kita untuk melakukan hal - hal yang tak pernah kita lakukan sebelumnya?"
Tak lagi berkata - kata. Namun Michael tau ada sesuatu di balik keinginan istrinya.
# # # # # #
Sebuah ballroom di hotel termewah di Italia telah di hias begitu cantik dan mewah. Mengambil tema rustic, membuat ballroom di ubah layaknya sebuah pedesaan yang cantik alami.
Ornamen - ornamen yang terbuat dari kayu, batu, dan dedauanan buatan berpadu indah dengan bunga - bunga putih yang di letakkan di beberapa bagian. Kursi - kursi tamu terbuat dari rotan yang di hias bunga putih menambah kesan elegan.
Lantai di lapisi dengan karpet hijau dengan bertabur bunga putih membuat kesan indah menawan.
Nuansa warna cream, putih, coklat, dan sedikit hitam dan hijau menimbulkan kesan hangat, tenang namun romantis. Dan warna biru dari gaun sang pengantin akan menambah kesan lain dari tema kali ini.
Seluruh penghuni keluarga telah hadir di pesta pernikahan fenomenal kali ini. Berbagai media masa mulai memenuhi ballroom. Hanya wartawan dengan kartu undangan khusus saja yang bisa masuk ke sana. Itu artinya tak banyak media masa yang bisa meliput.
Di bangku paling depan, saat ini sudah ada keluarga inti. Dan tak ketinggalan baby twins yang di dandani ala Raja dan Ratu. Masing - masing menggunakan mahkota dengan warna yang berbeda. Ah, lucunya...
Para tamu undangan telah hadir. Penjagaan ketat telah di lakukan. Dimana setiap penjaga sudah memakai alat komunikasi khusu milik mereka. Mengingat ini pesta salah satu konglomerat Italia, maka keamanan juga di lakukan dari pihak kepolisian.
Namun dimanakah sang pengantin?
Kenapa batang hidung mereka tak kunjung terlihat?
...🪴 Happy reading 🪴...
__ADS_1