
Pulang dengan membawa kemenangan dalam pertempuran dadakan, tak lantas membuat Bapak dan anak berpuas diri. Masih banyak yang harus di selesaikan.
Jika benar musuh yang datang beberapa hari terakhir adalah kiriman Lussio Lee, berarti pemuda mengibarkan bendera perang. Menguak kembali masa lalu yang sudah ia lupakan.
"Sebaiknya mulai sekarang biarkan paman Dimitri yang mengantar Jia, Daddy!" ucap Jio saat keduanya masih berada di dalam jeep. "Paman Dimitri lebih tangguh dari yang lain, bukan?" lanjutnya menato Dimitri yang sedang melajukan Jeep nya.
"Daddy setuju! Kau dengar itu kan Dimitri?"
"Ya, Tuan! Saya berjanji akan menjaga Nona Jia dengan nyawa saya!" jawab Dimitri tegas.
"Kau juga harus hati - hati, Jio! Bahaya bisa datang kapan saja!"
"Aku tau, Daddy!" jawab Jio.
Setelah menjawab itu, Jio tampak diam dan berfikir keras.
"Virginia dalam pengawasan anak buah kita! Jangan di pikirkan!" ucap Michael menepuk pundak anaknya. Ia tau apa yang ada dalam benak putra sulungnya itu.
"Hemm..." jawab Jio. "Daddy? Aku dengar Gerald dan Arfha akan pulang bersamaan?" tanya Jio. "Kenapa? Padahal mereka semua belum genap tujuh tahun di sana!"
"Ya, kamu benar!" jawab Michael mengangguk. "Gerald memang berbeda dengan mu, Jio! Di kuil dia lebih banyak malas berlatih. Setiap Daddy datang, dia selalu merengek pulang. Akhirnya Daddy ingin tau seberapa kuat dirinya untuk bisa mempertahan diri dalam bahaya. Karena Daddy anggap sudah cukup, jadi biarlah dia pulang! Mommy juga terus - terusan membujuk Daddy supaya membawa pulang Gerald." terang Michael sedikit kecewa. "Kata Mommy yang penting sudah ada kamu yang kehebatannya bahkan melampaui Daddy!"
"Jio tidak pernah merasa lebih hebat dari Daddy!" jawab Jio menatap dalam mata lelaki yang merupakan Ayah nya sekaligus ia anggap sebagai idolanya itu. "Bagi Jio, Daddy adalah yang terbaik! Dari darah Daddy yang mengalir di tubuh Jio, membuat Jio seperti sekarang!"
"Kamu benar, Jio! jika kamu bukan anak Daddy, mungkin kamu akan seperti Zee dan Arfha. Zee sudah pulang bulan lalu, namun ia masih dalam masa istirahat."
"Zee tidak betah juga?"
"Ya, padahal kurang satu tahun lagi, dan dia akan lulus meski dengan nilai jauh di bawah nilaimu!"
"Biarkanlah, Daddy! Tidak akan ada musuh yang menyerangnya, bukan? Hanya Daddy yang yang memiliki banyak musuh! Jadi cukup kita yang bertarung untuk menjaga keluarga Xavier tetap aman. Termasuk mereka!"
"Kamu benar, boy!" jawab Michael kembali menepuk pundaknya. Ia bangga pada putra mahkotanya yang sesuai impiannya. Terlahir dengan sangat jenius dan tangguh. Bahkan lebih kuat darinya.
"Daddy tidak tau harus berbuat apa jika kamu tidak ada!" ucap Michael. "Daddy bersyukur memiliki kamu, Jia dan Gerald. Meski kalian tumbuh dengan sifat yang berbeda - berbeda..."
Jio hanya tersenyum datar. Baginya ucapan bangga sang Daddy pada dirinya adalah beban. Ia takut mengecewakan orang - orang yang membanggakan dirinya.
Sementara Michael menatap putranya dengan rasa menyesal. Menyesali masa mudanya yang dulu sempat berfikir untuk tidak ingin memiliki anak. Karena dulu ia mengira memiliki anak adalah sesuatu yang merepotkan.
Tapi seandainya waktu itu Chania tidak lupa minum obat pencegah kehamilan, mungkin sampai sekarang ia tak juga memiliki keturunan. Lalu siapa yang akan meneruskan Klan Black Hold di masa mendatang. Sementara usianya sendiri beberapa bulan lagi sudah sampai di kepala lima.
***
"Kamu ambil jurusan apa?" tanya Alex Miguel. Lelaki berusia sekitar 21 tahun yang baru saja di kenalkan pada Virginia.
"Kedokteran.." jawab Virginia datar.
Dua pemuda pemudi itu duduk berdua di ruang tengah. Alih - alih keduanya asyik bermain game seperti perintah Irgee, mereka justru tampak duduk seperti dua patung berjarak. Dan hanya mulut saja yang bergerak.
Bahkan Virginia enggan membalas pandangan Alex yang seolah menatapnya nakal.
"Kenapa ambil kedokteran?" tanya Alex, "kamu kan putri tunggal Tuan Irgee Brown."
"Lalu?"
"Harusnya kamu ambil bisnis..."
"Aku tidak tertarik..." jawab Virginia datar membuang pandang ke arah lain.
"Memangnya apa yang membuat kamu memilih kedokteran?" tanya Alex mencoba mengakrabkan diri.
__ADS_1
"Karena banyak orang terluka di bumi ini." jawab Virginia enteng. "Sedangkan ada beberapa tenaga medis yang menganggap sakit seseorang adalah hal enteng, bahkan di sepelekan. Tanpa peduli perasaan keluarganya.." lanjutnya masih dengan nada datar.
"Hanya itu alasannya?"
"Memangnya kenapa kalau iya?"
Virginia menoleh, memicingkan matanya. Apa mungkin lelaki di depannya itu bisa membaca pikiran seseorang?
"Aku memang punya alasan lain.." jawab Virginia lirih.
"Boleh aku tau?" kejar Alex.
"Maaf, cukup aku saja yang tau...." lirihnya lagi.
"Why?" tanya Alex, "kita berteman bukan?"
"Kamu benar, lebih tepatnya kita baru berkenalan..." jawab Virginia secara tidak langsung menyadarkan Alex, bahwa mereka baru saja kenal dan bukan, atau mungkin belum menjadi teman dekat yang bisa di jadikan tempat berbagi cerita.
Menghela nafas berat, Alex hanya mengangguk dengan jawaban - jawaban Virginia yang terkesan cuek dan tak menerima kehadirannya dengan baik.
"Kamu kuliah dimana?"
"Sapienza..."
"Biasa berangkat sendiri atau di antar?"
"Sendiri."
"Besok aku antar jemput mau?" tanya Alex berharap. "Kebetulan besok aku free."
"Tidak usah, aku lebih senang berangkat sendiri." tolak Virginia lembut. Agar pemuda itu tidak tersinggung.
Jawaban Virginia selalu singkat dan jelas. Membuat pemuda itu seperti kutu yang memilih untuk mati saja dari pada harus beternak pinak di helai rambut yang lebat.
"Sekarang?" tanya Alex tak percaya.
"Iya..." jawab Virginia datar.
Dalam hati ia berkata, pamitnya sekarang, masak lelahnya besok!
"Hm... Baiklah, sepertinya Papa dan Mama juga akan pulang... Aku sekalian pamit ya?"
"Iya!" jawab Virginia datar dan segera berjalan cepat ke arah tangga meliuk dengan besi berwarna emas mengkilap, untuk masuk ke dalam kamarnya.
' Susah juga di dekati... '
Gumam Alex dalam hati, menatap tubuh Virginia yang bergerak di antara anak tangga.
***
Sedangkan di tempat lain, empat Mahasiswa tengah berkumpul di Cafe dekat kampus. Membahas tugas kuliah mereka bersama.
Mereka duduk di meja persegi berukuran cukup besar dengan saling berhadapan satu sama lain. Di tengah meja, beberapa jenis minuman tertata tidak beraturan milik masing - masing. Juga ada cemilan ringan di sana.
"Coba lihat hasil karya tanganmu?" Jia menarik kertas putih dari tangan Reena. "Bagus juga!"
"Gambar mu juga bagus!" sahut Diego mengintip kertas gambar Jia yang terpampang di atas meja.
"Ah, biasa saja.." Jia tersenyum kecil.
"Tapi menurutku memang bagus!" ucap Diego tulus.
__ADS_1
"Coba lihat hasil gambar mu!" ucap Jia menarik kertas putih Diego yang duduk di samping kirinya. "Wah, kamu pintar menggambar rupanya!" seru Jia menatap kagum pada hasil desain Diego yang mengambil tema musik di tahun baru.
"Biasa saja..." jawab Diego santai.
"Kamu suka musik?"
"Sedikit!" jawab Diego memicingkan sebelah matanya. "Kalau kamu, kenapa mengambil tema naga langit?" tanya Diego balik.
"Karena aku sangat mengagumi ukiran naga di langit kamar Daddy! Kata Paman Bodyguard, sejak kecil Daddy memiliki julukan Si Naga Hitam." jawab Jia dengan penuh damba pada sang Daddy.
"Naga hitam?" sahut Reena. "Kenapa hitam?"
"Entahlah.. Mungkin karena Daddy orang yang tegas, disiplin dan jika marah, maka seisi rumah akan menjadi angker!" jawabnya memberikan kesan seram pada ketiga temannya.
"Wow!" seru Diego, Reena dan Gladys bersamaan.
"Aku tidak bisa membayangkan jika punya Daddy seperti itu!" ucap Reena.
"Jangan di bayangkan! Meski begitu Daddy sangat menyayangi kami! Satu hal yang dia inginkan, memiliki anak - anak yang disiplin dan tidak membangkang!"
"Pantas kamu dan Jio terlihat sangat tegas!" sahut Gladys.
"Jio?" tanya Diego pada Jia. Merasa aneh, karena nama mereka tak jauh beda.
"Ya, Jio adalah saudara kembar Jia!" sahut Reena.
"Dia mengambil kuliah IT!" Gladys melanjutkan jawaban Reena yang menurutnya kurang lengkap.
"Oo.. Jadi kamu kembar?"
"Iya! Jio adalah kakak ku!" jawab Jia datar. "Baiklah, aku harus pulang! aku akan mewarnai ini di rumah!" pamit Jia sembari mengemasi alat gambarnya.
"Aku juga!" ujar Gladys ikut berkemas.
"Kenapa kalian buru - buru?" tanya Diego.
"Orang tua kami pasti sudah menunggu!" jawab Jia.
"Kamu tida bisa keluar dengan bebas ya?" tanya Diego. "Sampai - sampai kamu di dikuti bodyguard terus!" lanjutnya melirik dua bodyguard yang duduk di salah satu meja Cafe.
"Yaa.. Begitulah Daddy ku! Dia takut putri satu - satunya lecet!" jawab Jia tersenyum jahil.
"Ha?" pekik Diego.
"Sudahlah, bye!" pamit Jia segera beranjak dari meja mereka.
Meninggalkan Gladys dan Reena yang masih berkemas. Sedang Diego sendiri justru masih terpaku menatap punggung Jia yang berjalan ke arah bodyguard yang sigap berdiri saat Nona Muda Xavier mendekat.
"Nona Jia sudah selesai?"
"Sudah!" jawab Jia menyerahkan tas kotak berisi perlengkapan menggambar.
"Nona ingin langsung pulang?"
"Ya, tentu saja!" jawab Jia, berjalan keluar Cafe dengan dua bodyguard di belakang.
Bagi yang tak mengenal Jia, tentulah heran kenapa gadis itu sampai harus di kawal dua orang sekaligus. Siapa dia?
Tapi bagi Gladys dan Reena kehidupan Jia seperti kehidupan para bangsawan. Yang kemanapun harus di kawal oleh beberapa pengawal.
Sedang bagi Diego, ia berfikir akan kesulitan mendekati gadis dengan kecantikan natural seperti Jia.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...